Tampilkan postingan dengan label TAUHID. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAUHID. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2011

TENTANG RAMALAN

Aisyah ra berkata:

Orang2 bertanya pd Rasul ttg para peramal yg telah ada dizaman Rasul. Beliau bersabda : Mereka tdk ada apa-apanya . Para sahabat bertanya Ya Rasul, mereka kadang2 bisa menceritakan sesuatu yg benar kpd kami. Rasul menjawab : Berita itu berasal dr kebenaran yg dicuri dengar oleh jin, kmdn dibisikkan ke telinga peramal tsb, kmdn dia (jin) menambahnya dgn seratus kebohongan (HR Bukhari Muslim & Ahmad)


Barangsiapa yg mendatangi dukun /peramal kemudian percaya pada apa yg diucapkan , maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yg diturunkan kepada Muhammad.
( HR Tirmidzi, Ibnu Majah & Ahmad)

Termasuk padanya ttg mempercayai ramalan hari lahir, zodiak, hitungan nama , weton, "mama " , "ki" , kartu tarot dan sejenisnya ...


Sahabat ...sesungguhnya sesuatu yg akan datang adalah ghaib, yg sengaja ditutup oleh Allah agar manusia memaksimalkan ikthtiar dlm menjalani kehidupan... Bila ikhtiar gagal , maka hendaknya bersabar & ikhlas, bila berhasil banyaklah bersyukur.. Begitulah yg segala... sesuatu hrs kembali kepada Allah

Dijelaskan setan & jin tdk mengetahui berita ghaib. Al Quran menceritakan dlm (QS Saba : 14), jikalah mereka tahu bila Nabi sulaiman telah lama meninggal, tentu mereka akan lari meninggalkannya... hal itu diketahui dr tongkatnya yg termakan rayap.

Dan tiada seorang pun yg dapat mengetahui (dgn pasti) apa yg diusahakannya besok, dan tiada seorangpun dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetehui lagi Maha Mengenal (QS Lukman : 34)



Marilah kita murnikan keimanan kita dan berikhtiar dengan maksimal ...Insya Allah pertolongan , rezeki dan jodoh akan datang dengan jalan yg Allah kehendaki ...

Sekedar berbagi pengetahuan ya sahabat semua ... semoga bermanfaat & Allah merahmati selalu ....amin ..

Sabtu, 22 Januari 2011

UNTUKMU YANG BERJIWA HANIF

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad): Hendaklah engkau menurut ugama Nabi Ibrahim, yang berdiri teguh di atas jalan yang benar; dan tiadalah ia dari orang-orang musyrik. [An-Nahl:123]


[Then We revealed to you, [O Muhammad], to follow the religion of Abraham, inclining toward truth; and he was not of those who associate with Allah. ]

SUNGGUH HIDAYAH menuju Islam yang hakiki itu merupakan kenikmatan yang terbesar dalam kehidupan manusia, karena ia adalah kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Orang-orang terdahulu telah mengorbankan semua yang ada pada diri mereka untuk meraihnya. Jalan itu pula kiranya yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul dalam mendakwahkan kalimat tauhid untuk mengesakan Allah SWT



TUJUAN HIDUP


Setiap manusia sepakat dengan tujuan hidup, yaitu mencari dan menggapai kebahagian. Semua manusia ingin hidup bahagia, hanya saja kebanyakan manusia salah dalam mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang ia sangka disana ada pantai kebahagian, padahal ia adalah jurang kebinasaan.

Banyak orang menyangka kebahagian itu ada pada harta, karenanya ia berletih-letih dan berpeluh mencari sumber-sumber harta. Setelah ia memperoleh harta tersebut, hatinya tetap gundah dan perasaan selalu gelisah, dalam harta yang banyak itu terdapat jiwa yang rapuh.

Banyak pula yang menyangka bahwa pangkat dan kekuasaan itu adalah kebahagian, tetapi setelah pangkat dan kekuasaan diperoleh kebahagiaan semakin jauh darinya, yang terdengar hanya keluh kesahnya.

Jadi apa kebahagiaan yang sesungguhnya? Apa kebahagian sejati yang harus dicari oleh manusia? Siapa sebenarnya orang yang bahagia? Apa sarana untuk mencapainya?

Manusia diciptakan oleh Allah SWT  Tentu yang paling mengenal tentang seluk-beluk manusia, termasuk tentang sebab bahagia atau sengsara adalah Allah SWT  bukan manusia. Allah SWT  berfirman:

"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Al-Muluk: 14)

Ketika Al-Quran ditadaburi dan syariat Islam dikaji, maka kebahagiaan yang hakiki adalah mengaplikasikan pengHAMBAan diri kepada Allah SWT. Orang yang bahagia adalah orang yang telah berhasil menjadi HAMBA Allah SWT.

Sarana kebahagiaan adalah semua sarana yang telah disediakan oleh-Nya dalam meniti jalan pengHAMBAan diri kepada Allah SWT . Karena pengHAMBAan diri inilah sebab diciptakannya manusia dan jin. Allah SWT berfirman:

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada Ku." (Adz-Dzaaryiat: 56)

Orang yang berpaling dari pengHAMBAan diri, dialah orang yang sengsara, Allah SWT berfirman:

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)

Allah SWT telah menentukan taqdir semua makhluk dan tidak ada yang dapat merubah taqdir selain-Nya. Manusia yang berakal tentu akan bernaung kepada Dzat yang mampu mentaqdirkan segala sesuatu, ia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam menyandarkan diri dan kepasrahan kepada-Nya.



BEBAN AMANAH

Allah SWT menciptakan manusia untuk sebuah tujuan yang mulia, yang akan memikul amanah yang sangat berat. Pantas saja tidak ada yang mau memikul amanah tersebut dari langit yang tinggi, gunung yang menjulang atau bumi yang terbentang, semuanya menyatakan enggan kecuali manusia. Allah menceritakan tentang perihal tersebut,

"Sesungguhnya telah kami sampaikan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh." (Al-Ahzab: 72)

Apa gerangan amanah yang telah diikrarkan itu? Amanah itu adalah Islam dan peraturannya, yaitu janji kepatuhan kepada Allah SWT




AHSANU ‘AMALA


Al-Quran menyebutkan bahwa penciptaan alam, hidup dan mati untuk menguji manusia, siapa yang lebih baik amalnya. Itulah yang disebut dengan "Ahsanu ‘amala". Allah SWT berfirman:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Al-Mulk: 2)

"Sesungguhnya kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi: 7)

Fudhail bin ‘Iyadh radhiyallahu ‘anhu berkata "Ahsanu ‘amala, adalah amalan yang paling ikhlas dan yang paling benar".



Jadi pengHAMBAan diri yang paling sempurna dengan 2 syarat, yaitu hendaklah ‘ubudiyah kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dan sesuai dengan syari'at.





FITRAH BEKAL KEBENARAN


Setiap jiwa manusia diberi fitrah sebagai bekal untuk mencari kebenaran. Karena Allah SWT tahu manusia itu lemah dan membutuhkan Khaliq-nya. Fitrah itu adalah Islam, yaitu penyerahan diri kepada Dzat Yang Maha Kuasa, perasaan kerinduan terhadap kebenaran dan keinginan yang SWT berfirman :

"(Berpegang teguhlah dengan) fitrah Allah SWT  yang telah dirakit (Eng: assemble) manusia dengannya, tidak ada perubahan pada penciptaan Allah SWT. Itulah agama yang lurus" (Ar-Rum: 30)



MUARA KEBENARAN


Semua aktivitas badan yang lahir, perbuatan baik dan buruk, dikuasai oleh satu komando, yaitu HATI. Ia bagaikan raja yang berkuasa mutlak terhadap bala tentaranya, semua tindakan harus dibawah perintah dan larangannya, ia pergunakan sekehendaknya dan ia suruh semaunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah dia adalah hati.” (HR Bukhari 1/126 no.52, Muslim 11/57 no. 1599 dari Nu'man bin Basyir)


HATI yang bisa meraih HIDAYAH Allah SWT adalah HATI yang masih dalam kategori hidup dan HATI yang masih memiliki cahaya sekalipun redup.



TUNJUKI AKU JALAN YANG LURUS

"Ihdinashshirotholmustaqim, Shirotholladzina an'amta'alaihim .... " tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat ... Begitu pentingnya Hidayah, sehingga seorang HAMBA memohon minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam. Ketika Hidayah jauh dari seorang, berarti kebinasaan dan kesengsaraanlah yang akan segera menimpanya. Hajat seorang HAMBA kepada Hidayah seperti hajat badan terhadap udara, ia sangat membutuhkan sejumlah HIDAYAH-nafas yang keluar masuk tubuhnya. Sebagaimana tubuh membutuhkan makan dan minum, hati juga membutuhkan HIDAYAH sebagai makanan dan minumannya.


Imam Ahmad rahimahullah berkata,

"Kebutuhan seorang hamba pada hidayah, melebihi kebutuhannya dari makan dan minum, kalau makan dan minum hanya dibutuhkan satu dua kali saja, sedangkan hidayah dibutuhkan sejumlah nafas." (Miftah Darus sa'adah, 1/61)



JADILAH LENTERA


Orang yang merasakan manisnya HIDAYAH dan lazatnya iman dialah orang yang punya motivasi dalam hidup dan bertabiat tidak pernah puas pada sesuatu, ia tidak puas kalau dirinya saja yang merengkuh kenikmatan dan merasakan kebahagiaan. Ia bagaikan lentera (BM: lampu, pelita) yang menerang dirinya sebagaimana ia menerangi yang lainnya. Allah SWT berfirman:

"Dan apakah orang yang telah mati (hatinya) kemudian Kami hidupkan kembali dan Kami anugerahkan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya dalam gelap gulita yang sekali-kali ia tidak dapat keluar darinya ..." (Al-An'am: 122)

Setelah seseorang dihantarkan oleh Allah SWT ke gerbang HIDAYAH, yaitu "Islam" yakni keinginan untuk mencari kebenaran melalui ilmu dan iman serta usaha dan amal, berarti ia telah mendapatkan setengah kebahagiaan. Akan tetapi, tidak cukup sampai disana, ia menghendaki HIDAYAH kedua dari Allah SWT  . yaitu, taufiq Allah SWT dalam kebenaran pada semua tindakannya. Itulah yang disebut Allah  SWT dalam Al-Quran:

"Dan orang yang berjuang di jalan kami, akan kami beri kepada mereka hidayah jalan-jalan kami ..." (Al-Ankabut : 69)

Para ulama berkata, "kami beri mereka taufiq untuk mendapatkan sarana yang benar menuju jalan yang lurus, jalan itu yang menghantarkan mereka kepada redha Allah  SWT." (Tafsir Baghawi, 404)



Untuk menggapai (BM: mencapai) HIDAYAH yang kedua ini seorang muslim harus memiliki sifat:


BERJIWA HANIF


Orang yang berjiwa Hanif yaitu orang yang condong kepada kebenaran, berkepribadian yang lurus dan istiqamah. Agama Hanif yaitu agama yang jauh dari kesyirikan dan penyembahan berhala, dengan berkhitan dan melakukan manasik haji. (Qamus Muhith, 2/370)


Allah SWT berfirman;

"Tidaklah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukan dari orang musyrik.” (Ali ‘Imran : 67)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“ ... jauh dari syirik dan
condong kepada iman ... " (Tafsir Ibnu Katsir, 2/58)




BERSERAH DIRI


Penyerahan diri dalam syari'at adalah "Islam", atau " taslim", yaitu tunduk, patuh dan menyerahkan diri kepada Allah SWT, serta tidak ada perlawanan, penolakan dan keraguan dalam melaksanakan perintah-Nya.



MEMILIKI MOTIVASI

Seorang yang memperoleh HIDAYAH mempunyai kemauan yang kuat dan motivasi yang tinggi, karena yang dicarinya adalah syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Jika orang yang mencari dunia memerlukan semangat dan motivasi, maka selayaknya orang yang mencari akhirat akan memiliki semangat dan motivasi yang lebih besar untuk meraihnya.


SABAR DAN YAKIN


Sabar dan yakin sebagai syarat kebahagiaan HAMBA di dunia dan di akhirat, ketika dua hal ini telah diperoleh HAMBA, berarti ia telah menjadi INSAN KAMIL.



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

"Dengan sabar dan yakin akan diperoleh kepemimpinan dalam Din"





Mahyudin Ibnu Rusli
Shared By Bicara Hidayah


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. “[Al-Ahzab: 56]

MENJAGA KEIKHLASAN

RAMAI yang bertanya kepada saya bagaimana nak jaga keikhlasan hati ketika beramal atau melakukan kebaikan?

Ada satu perkara yang perlu kita fahami iaitu IKHLAS ini adalah buah atau natijah dari keimanan  dan ketaatan kepada Allah SWT . Ikhlas tidak dibina diatas dasar yang tidak jelas atau diawang-awangan. Apabila kita benar-benar merasai hakikat kebesaran dan keagungan Allah disamping menyakini segala janji-janji dan ancaman-ancamanNya serta meyakini hari pertemuan denganNya maka ketika itu pohon keimanan yang ada pada jiwa kita mula mengeluarkan buahnya untuk kita petik dan menikmati kemanisannya.



IMAN TIDAK TIMBUL SECARA AUTOMATIS
Ya, buah Ikhlas itu manis dan harum. Namun tak semua pohon Iman itu mengeluarkan buah atau hasil. Tidak semua pula yang tahu memetik buahnya untuk menikmati anugerah Allah yang agung ini. Mungkin kita perlu tanya: Adakah benihnya baik, ada tanahnya telah kita gemburkan dan bajai dengan baik, adakah air yang kita sirami cukup dan sebagainya?

Iman tidak akan tumbuh secara mukjizat (Bicara Hidayah; automatis). Kita perlu tanamkan benih yang asli dan baik; kita perlu bangunkan iman itu diatas asas keimanan dan kesedaran yang betul, bukan kerana keturunan atau warisan tetapi kita perlu melalui proses.

Jangan jadikan diri kita seperti 'umang-umang'. Mungkin ada yang tak kenal umang-umang. Lihatlah ditepi pantai, kadang-kadang kita akan temui siput yang berjalan laju. Bukankah berjalan laju itu bukan sifatnya. Kalau kita angkat dan tengok betul-betul rupanya ada ketam yang menumpang kulit siput yang kosong itu.

Mungkinkah iman kita begitu? Kita beriman kerana ibu ayah kita beriman atau orang disekeliling kita beriman. Adakah keimanan kita itu asli dan benar? Apakah proses yang telah kita lalui hingga kita yakin bahawa iman kita itu betul?



IMAN YANG HIDUP

Dr 'Ali Hasyimi dalam bukunya Syakhsiyah Islamiyyah menyebutkan tentang Iman yang celik (Eng: awaked). Katanya iman yang celik atau iman yang hidup adalah iman yang tumbuh diatas dasar makrifatullah atau mengenali Allah dengan sebenar-benarnya kefahaman tentang nama-namaNya, sifat-sifatNya dan sebagainya yang berkaitan dengan Allah.

Kefahaman ini ditingkatkan hingga melahirkan as- syu'ur ma'iyatullah (rasa sentiasa bersama Allah atau mampu menghadirkan Allah dalam diri kita) hingga kita tidak merasakan sesuatu apapun yang tidak diketahui oleh Allah SWT . Kita merasakan dengan seluruh jiwa kita akan pemerhatian Allah, Maha mendengarnya Allah, Maha mengetahuinya Allah dan sebagainya.

Syu'ur atau perasaan ini terus ditingkatkan hingga jiwa kita sentiasa beinteraksi (mukholatah) dengan Allah SWT  . Setiap keluhan kita, setiap aduan dan permohonan kita pertama-tama sekali kita hadapkan kepada Allah, tidak pada selainNya.

Inilah tiga tahap penanaman iman hingga Iman itu tumbuh dan berbuah; Makrifah, Syu'ur dan Mukholatah. Ketiga-tiga unsur ini akan kita tingkatkan melalui ketekunan kita mentaati Allah SWT  . Bagaimana seorang yang tidak melakukan apa-apa mampu berdoa dengan penuh yakin? Adakah sama doa orang yang begitu berbanding seorang yang bekerja bertungkus lumus hingga pecah-pecah kulit tapak tangannya dan diapun menjaga batas-batas yang ditentukan Allah lalu berdoa menadah tangan mengharapkan Rahmat dan PertolonganNya? Semua ini akan menjadikan hati kita lebih peka dan merasai hubungan dengan Allah (Bicara HIdayah: Khusyu').



KEISTIMEWAAN IKHLAS

Bagaimana pula kita nak ikhlas sekiranya kita tidak merasakan pemerhatian Allah SWT bahkan segala bisikan hati kita semuanya dalam ilmu Allah SWT  . Jadi kita tidak akan mampu untuk ikhlas hanya dengan keinginan untuk ikhlas atau dengan memaksa hati kita untuk ikhlas.



Tahukah kita apa yang paling istimewa dari keikhlasan yang benar?



Ya, setiapkali kita berdoa Allah mendengar dan memenuhi permintaan kita, setiap kesempitan hidup Allah lapangkan jiwa kita, setiap kesukaran dan kepayahan Allah akan kuatkan jiwa kita untuk mengharungi, setiap kesedihan Allah akan bahagiakan kita dengan janji-janjiNya, setiap kelalaian kita akan ditegur Allah dengan penuh kebijaksanaan kerana kita adalah hambaNya yang dikasihiNya.


Boleh anda senaraikan perkara yang lebih anda hajati dari semua ini?





Oleh: Azmi Bahari
Shared by Bicara Hidayah

Senin, 20 Desember 2010

ORANG yang BERBUAT BAIK tetapi MASUK NERAKA

Sahabat Hikmah...

Tidak cukup kita menjadi orang yang BAIK.
Karena tidak semua yang masuk NERAKA adalah orang yang TIDAK BAIK.
Ada juga, mereka adalah orang yang menganggap telah berbuat seBAIK-BAIKnya.
Tetapi sesungguhnya dia adalah orang yang PALING MERUGI perbuatannya.
Padahal mereka telah beramal SHOLEH yang banyak kepada orang lain.


Mereka itulah orang yang tidak mendapat HIKMAH dari Allah...
Menganggap telah berbuat seBAIK-BAIKnya.
Tetapi PALING MERUGI perbuatannya.


Kunci yang lain selain AMAL SHOLEH adalah BERIMAN,
Yaitu BEIMAN kepada AYAT-AYAT Allah dengan MENTAATINYA,
dan tidak MENYEKUTUKAN-Nya dengan sesuatupun.


Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan HIKMAH ini :

"Sesungguhnya jika engkau berbuat SYIRIK, niscaya HAPUSlah amalmu, dan benar-benar engkau termasuk orang yang RUGI". (QS. Az-Zumar: 65).

Katakanlah (Muhammad): "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Mereka itu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan mengingkari perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.

Katakanlah (Muhammad): "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

Katakanlah (Muhammad): "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

(QS Al Kahfi : 103-110)

” Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min,

apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,
akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.
Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”
(QS Al Ahzab : 36)

Bahkan menurut Allah subhanahu wa ta’ala...
Do’a mereka tidak akan sampai kepada Allah.
Catatan amal mereka akan tertahan.
Karena PINTU LANGIT telah TERTUTUP untuk mereka.
Dan mereka MUSTAHIL akan masuk SURGA.
Sebagaimana MUSTAHILnya UNTA masuk ke dalam LOBANG JARUM.


”Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami
dan menyombongkan diri terhadapnya,
sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit
dan tidak (pula) mereka masuk surga,
hingga unta masuk ke lobang jarum.
Demikianlah Kami memberi pembalasan
kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.”
(QS Al A’raf : 40)

Sahabat Hikmah...
Telah banyak AYAT Allah yang kita dapatkan...
Telah banyak SABDA Rasul yang kita pelajari...
Apakah kita telah MENGIMANI dengan MENGAMALKANNYA ?
Ataukah kita telah MENGINGKARI dengan MENCAMPAKKANNYA ?
Janganlah kita BERIMAN dengan AYAT yang satu...
Dan INGKAR dengan ayat yang lain.

Janganlah kita BERIMAN dengan AYAT tentang IMAN kepada Allah,
Tetapi INGKAR dengan AYAT tentang larangan SYIRIK kepada-Nya.
Janganlah kita BERIMAN dengan AYAT tentang SHOLAT,
Tetapi INGKAR dengan AYAT tentang ZAKAT.
Janganlah kita BERIMAN dengan AYAT tentang AKHLAQ,
Tetapi INGKAR dengan AYAT tentang JILBAB.

Janganlah kita BERIMAN dengan AYAT tentang HAJI,
Tetapi INGKAR dengan AYAT tentang JIHAD.

SEMUANYA datang dari Allah dan Rasul-Nya,
SEMUANYA kita harus MENERIMANYA.
Masuklah ke dalam ISLAM secara KAFFAH (KESELURUHAN),
Janganlah MENGIKUTI langkah-langkah SYAITHAN.

”Hai orang-orang yang beriman,

masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya,
dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah)
sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran,
maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

(QS Al Baqarah : 208-209)


Atau mereka adalah orang yang beriman kepada Allah,
dan beriman kepada sebagian Rasul dan tetapi ingkar kepada Rasul yang lain.
beriman kepada sebagian ayat Allah dan ingkar kepada ayat yang lain.
Dan mereka hendak membedakan antara mereka.

”Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya,

dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya,
dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian
dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)",
serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah)
di antara yang demikian (iman atau kafir),
merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.
Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu
siksaan yang menghinakan.”

(QS An Nisa:150-151)

Menurut sebagian besar mufassir seperti Ibnu Jarir al-Thabari, al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Fakhruddin al-Razi, al-Syaukani, dll ayat ini turun berkenaan dengan kaum Yahudi dan Nasrani.

Kaum Yahudi meng-aku beriman kepada Nabi Musa dan Taurat,
namun mengingkari Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW.
Dan mereka telah menyekutukan Allah dengan 'Uzair.

Sedangkan kaum Nasrani mengaku beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa,
namun mengingkari Nabi Muhammad SAW.
Dan mereka telah menyekutukan Allah dengan Nabi Isa (Yesus)

Karena kendati mengaku beriman kepada Allah SWT, tetapi beriman dengan sebagian rasul-Nya,
mereka semua dinyatakan ayat ini sebagai orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.


Wallahu a’lam bi showab
O.F.A



Sumber :
http://kata2hikmah0fa.wordpress.com/2010/12/01/orang-yang-berbuat-baik-tetapi-masuk-neraka/

http://kata2-hikmah-ofa.blogspot.com/2010/12/orang-yang-berbuat-baik-tetapi-masuk.html

Minggu, 19 Desember 2010

DERAJAT KEIKHLASAN PENENTU KUALITAS IBADAH

SAAT melakukan amalan muhasabah menilai amalan diri sendiri, perkara pertama penting untuk disoal kepada diri ialah mengenai kesucian amalan. Apakah sudah hadir niat yang ikhlas pada setiap amal dikerjakan? Layakkah amal ibadat itu dipersembahkan kepada-Nya? Apakah sudah sempurna kefahaman mengenai ikhlas?

Ikhlas membawa maksud tidak mencampurkan amal dengan niat meminta pujian manusia atau melakukan amal kerana takut dicela orang, hendak mencari nama, darjat, penghormatan, kerana inginkan perhiasan dunia dan pangkat yang tinggi.

Ramai orang yang beramal tersalah faham mengenai hakikat ikhlas. Mereka memilih untuk tidak beramal jika hati belum dapat membulatkan niat kerana Allah. Kata mereka yang jahil ini, “Buat apa beramal jika Allah akan tolak?”

Masalah utama yang akan muncul selepas timbul persoalan dangkal ini ialah orang ini sudah membuka ruang untuk syaitan duduk dalam hati dan meniupkan rasa was-was sehingga semua kebaikan tidak akan dibuat kerana takut tidak ikhlas.




ANTARA RIYA’ DAN SYIRIK


Untuk menguatkan azam dalam beribadat, al-Fudhail bin Iyadh[1] memberi petuanya:

“Meninggalkan amalan kerana manusia adalah riak (riya’) sedangkan melakukan amalan kerana manusia adalah syirik. Ikhlas itu ialah Allah menyelamatkan kamu daripada kedua-duanya.”



Maknanya dibuat juga amalan itu sambil berjuang memantapkan niat semata-mata kerana Allah. Sesungguhnya niat menjadi penyelamat terhadap rentetan amalan yang kita lakukan setiap hari.

Allah berfirman yang bermaksud: “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan.” (Surah Al-Furqan, ayat 23)



Apabila membaca wahyu ini, terasa hati kita begitu sedih memandangkan amal yang menjadi debu itu dan tiada nilainya di sisi Allah. Mungkinkah sembahyang, puasa, sedekah, zakat, haji atau keelokan budi pekerti yang kita tonjolkan terhadap sesama insan tidak dinilai Allah.



AMAL YANG BERKUALITAS


Hakikatnya dalam beramal, seorang hamba dituntut untuk memenuhkan syarat tertentu. Syarat wajib dilakukan untuk mendapatkan darjat orang yang ikhlas di sisi Allah:



Membuka dua tingkap dalam hati. Tingkap ‘ikhlas’ kerana Allah dan tingkap ‘benar’ caranya mengikut sunnah Rasulullah SAW, bukannya amalan rekaan manusia atau amalan mengikut rasa hati sendiri.


Al-Fudhail bin Iyadh berkata lagi:

“Sesungguhnya amal itu apabila dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar caranya, maka ia tertolak. Dan jika dilakukan secara benar tetapi tidak ikhlas ia tidak akan diterima juga. Kedua-duanya mesti ada iaitu ikhlas dan benar.”


Tatacara ibadah yang benar mestilah seratus peratus ikut cara Nabi Muhammad SAW, bukan cara nenek moyang yang dipengaruhi budaya setempat, bukan cara syeikh yang suka menambah atau mengurang bahkan membuat sesuatu yang baru tidak pernah Rasulullah  amalkan.

Amal yang berkualiti. Bukan sekadar menunaikan kewajipan, tetapi memberi pengaruh ke atas seluruh tubuh badan, jiwa dan raga. Amalan sembahyang (solat) apabila dilakukan dengan berkualiti akan melahirkan sahsiah yang berdisiplin, rajin, jujur, amanah, dekat dengan Tuhan, jauh daripada maksiat, takut kepada akhirat dan berbekal untuk perjalanan ke alam barzakh.

Tetapi sembahyang yang hanya sekadar gerakan tanpa mempengaruhi apapun yang berada dalam jiwa dan raga orang itu maka sembahyangnya amat rendah kualitinya. Jika pun berpahala hanya Allah saja yang berhak menilai.

Kualiti sesuatu amal berkait rapat dengan pengaruh ditimbulkan dalam keperibadian seseorang. Tidak hairanlah jika ada orang yang sembahyang tetapi merampas harta saudaranya, berpuasa tetapi bercakap dusta dan menunaikan haji pun suka mengamuk sakan. Semua itu membuktikan rendahnya kualiti ibadah yang mereka kerjakan.

Beramal kerana mahu berbakti kepada Allah. Alangkah senangnya lidah melafazkan syukur kepada Allah, tetapi amalan dan perlakuan tidak menunjukkan sedemikian. Seorang hamba yang sudah melalui pelbagai rintangan untuk mendekati Allah jiwanya terlalu sensitif apabila menerima kenikmatan ataupun dilanda musibah. Kedua -dua keadaan ini tidak mempengaruhi sedikitpun kualiti amalannya di sisi Allah.

Ketika senang atau susah hatinya tetap dekat kepada Allah. Semua yang berasal daripada Allah baginya hanyalah nikmat belaka. Maka hanya rasa syukurlah yang menghiasi lidah dan hatinya. Jika begitu, dia tidak akan menyurutkan langkah ke belakang ketika susah. Ibadah dilakukan diiringi dengan kegembiraan, reda dan syukur kepada Allah.




TAKBUR DAN SOMBONG

Berhati-hati dengan rasa puas dan bangga. Amal boleh menyebabkan seseorang takbur dan sombong. Pandai menilai dan mengaibkan orang lain kerana kononnya ilmu dan amal yang dilakukannya lebih baik daripada orang lain. Selepas itu dia berasa berpuas hati dan tidak menemukan sebarang kecacatan dalam amalnya, berasa diri paling benar, paling tinggi imannya.

Maka lahirlah manusia yang terlalu yakin dengan kekuatan ilmu dan ibadatnya. Dia lupa siapakah sesungguhnya yang mencampakkan hidayah ke dalam hatinya, menggerakkan tubuh badannya untuk sujud, menuliskan catatan takdirnya hari ini, esok dan di penghujung hidupnya?



Allah berfirman yang bermaksud:

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Surah al-Takwir, ayat 29).



Di sini kita boleh melihat belitan syaitan yang begitu halus merosakkan amal ibadat seorang hamba.


Allah berfirman lagi yang maksudnya:

“Jika tidaklah kerana kurniaan Allah nescaya tidak seorang pun daripada kamu bersih selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (Surah Al-Nuur, ayat 21)


Orang yang sudah berpuas hati dengan amalannya akan dijangkiti penyakit malas untuk melakukan pembaikan. Ia berasa semua baik, jadi tidak perlu menambah ilmu dan amal. Lama-kelamaan dia pun terheret oleh arus semasa yang semakin mencabar. Amal dan ilmunya itu nyata tidak mencukupi untuk melawan kejahatan syaitan dan hawa nafsunya sendiri.



MENGHIASI HATI DENGAN IKHLAS, TAKUT, SEDIH DAN HARAPAN

Menghadirkan rasa takut tidak diterima amal. Ketika melakukan sesuatu kebaikan yang diniatkan kerana Allah, seseorang hendaklah mendampingi niat itu dengan rasa takut, sedih dan harap supaya Allah menerima amalannya.


Keempat-empat perasaan itu bagaikan cahaya yang menghiasi hatinya iaitu, ikhlas, takut, sedih dan harap kepada Allah. Allah berfirman yang maksudnya:

“Dan orang yang memberikan apa yang sudah mereka berikan dengan hati takut, kerana (mereka mengetahui) mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Surah al-Mukminun, ayat 60)




Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda mengenai ayat ini yang maksudnya:

“Mereka ini adalah orang yang berpuasa, solat dan bersedekah tetapi ia takut amalannya itu tidak diterima.” (Hadis riwayat al-Tirmizi)


Untuk apa seseorang itu beramal? Tentu saja kerana dia beriman kepada hari kiamat dan pembalasan yang akan diberikan kepada seluruh makhluk.


Demi mengingati hari pengauditan yang begitu ketat dan mahkamah Allah yang Maha Adil sewajarnya kita mengamati kembali bekalan apa yang sudah dipersiapkan untuk ke sana.




:::: 10 Muharram 1432 ::::
http://drjuanda.protajdid.com/?p=4
Shared By Bicara Hidayah



1] BEKAS PERAMPOK (BM: PEROMPAK) JADI ULAMA - Fudhoil bin 'Iyaadh

Dialah Fudhoil bin 'Iyaadh. Nama lengkap beliau adalah Fudhoil bin 'Iyaadh bin Mas'uud bin Bisyr At-Tamimi Al-Yarbuu'iy. Kunyah beliau adalah Abu 'Ali, seorang ulama dan muhaddits besar yang hidup pada abad kedua, dan beliau wafat pada tahun 187 H.

Banyak ulama besar yang mengambil ilmu dan meriwayatkan hadits dari beliau. Diantaranya adalah Ibnul Mubaarok, Yahyaa bin Sa'iid Al-Qotthoon, Sufyaan bin 'Uyainah, Abdurrohman bin Mahdi, dan Imam As-Syafi'i.


Bagiamanakah kisah taubat beliau?
Abu 'Ammaar Al-Husain bin Huraits berkata, "Aku mendengar Al-Fadhl bin Muusaa berkata, "

“Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya adalah seorang perampok yang menghadang orang-orang di daerah antara daerah Abiwarda dan dan daerah Sarkhos. Sebab beliau bertaubat adalah beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, maka tatkala beliau tengah memanjat tembok untuk menemui wanita tersebut, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca friman Allah:

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (QS Al-Hadid : 16).

Maka tatkala beliau mendengar lantunan ayat tersebut maka beliau langsung berkata: “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah).” Maka beliaupun kembali, dan beliaupun beristirahat di sebuah bangunan rusak, tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata: “Kita jalan terus,” dan sebagian yang lain berkata: “Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, dan ia akan menghadang dan merampok kita.”

(Mendengar hal ini) Fudhoil pun berakta “Kemudian aku merenung dan berkata: ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (yaitu ia berusaha untuk mengintip sang wanita-pent) padahal sebagian dari kaum muslimin di sini ketakutan kepadaku (karena menyangka Fudhoil sedang menghadang mereka, padahal Fudhoil sedang mau mengintip wanita-pent), dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.” (lihat biografi beliau di Siyar A'laam An-Nubalaa 8/421 dan Tahdziib At-Tahdziib dgn tahqiq ; 'Adil Mursyid 3/399)

Di antara petuah-petuah emas Fuhoil bi 'Iyaadh adalah sebagai berikut:

"Kalau seandainya aku memiliki sebuah doa yang mustajab (dikabulkan) maka aku akan mendoakan untuk kebaikan Imam (pemimpin/presiden) karena baiknya imam merupakan kebaikan bagi negeri dan masyarakat" (As-Siyar 8/434)

"Telah sampai berita kepadaku bahwasanya para ulama dahulu jika mereka menuntut ilmu maka mereka mengamalkannya, dan jika mereka beramal maka mereka menjadi sibuk (beramal), dan jika mereka sibuk maka mereka tidak nampak, dan jika mereka tidak nampak maka merekapun dicari-cari, dan jika mereka dicari-cari maka merekapun lari menghindar" (As-Siyar 8/439-440)

"Wahai sungguh kasihan engkau, engkau adalah orang yang buruk namun engkau merasa bahwa engkau adalah orang yang baik, engkau bodoh namun engkau merasa seorang alim, engkau pelit namun engkau merasa dermawan, engkau dungu namun engkau merasa cerdas. Sesungguhnya ajalmu pendek sementara angan-anganmu panjang" (As-Siyar 8/440).





Wallahul Musta'aan …"
Diringkaskan Dari:
http://pas123.blogspot.com/2010/10/bekas-perampok-jadi-ulama.html
Shared by Bicara Hidayah
on Saturday, December 18, 2010 at 5:41pm