Sabtu, 30 Juli 2011

TERBANGLAH KE TEMPAT YANG TINGGI



TAK ada yang tidak berubah dalam hidup ini. Tak ada kondisi yang tetap. Bumi ini berputar, alam bergerak, manusia, hewan, dan tumbuhan semuanya hidup. PERUBAHAN merupakan sunnatullah yang tidak akan pernah berubah. Keadaan suatu bangsa juga pasti mengalami PERUBAHAN. Peta kejayaan dan kekalahan suatu umat pasti bergilir, seperti silih bergantinya malam, seperti perputaran roda. Itulah siklus  PERUBAHAN yang tunduk pada sunatullah.

Apa rahasia di balik sunnatullah tersebut? Al-Qur’an mengajarkan, bahwa semua itu agar kita tidak jatuh dalam kubang kekecewaan dan keputusasaan. Supaya kita tidak terjerembab (Eng: fall headlong) dan terlibas arus yang tak menentu dalam berjuang menegakkan kebenaran dan menjalani kenyataan hidup.

Saudaraku,

Saat ini adalah masa-masa genting. Rentang waktu yang banyak membuat kita resah, sedih, prihatin dan gelisah. Resah akan ketidakberdayaan dunia dan umat Islam di hadapan kepongahan (Eng: egostistic, conceited, stuck up) orang-orang yang pongah. Kesedihan dan keprihatinan karena ketidakmampuan dunia dan umat Islam menghadapi kezaliman orang-orang yang zalim.

Benar, tak ada yang tak berubah dalam hidup ini. Tapi yang lebih penting kita renungi sekarang adalah PETUNJUK  ALLAH SWT, bahwa PERUBAHAN itu tidak berdiri sendiri. PERUBAHAN nasib dan keadaan bukan hadiah. "Allah  tidak mengubah kondisi atau nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah keadaannya," begitu firman  ALLAH SWT.


Saudaraku,

Ada dua unsur terpenting dari PERUBAHAN menurut Al-Bukhturi:

HATI YANG BERKILAU DAN SEMANGAT YANG BERGELORA. Ia menyebutnya dalam ungkapan, "nafsun tadhi‘ wa himmah tatawaqqad" (Diwan al Bukhturi 1/269).


NIAT YANG BERSIH

HATI yang berkilau adalah kiasan dari NIAT YANG BERSIH dari beban noda dan kotoran. NIAT YANG BERSIH dari hawa nafsu, ambisi dan kepentingan pribadi, apapun bentuknya.

Itulah yang menjadi prinsip dan pegangan Umar bin Abdul Aziz - khalifatul mu’minin yang dijuluki khulafa ur rasyidin kelima. Hisyam bin Abdul Malik menggambarkan hal itu dalam ungkapannya,

★★★★ "Aku tak mendapati Umar melangkah, satu langkah sekalipun, kecuali Umar telah meneguhkan niatnya." (Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam, 30/29)

Kuat dan lurusnya NIAT Umar lah yang menjadikannya berhasil dalam waktu lebih sedikit dari dua tahun, melakukan PERBAIKAN besar yang menyeluruh ke semua wilayah Islam. Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang amat kita rindu dan dambakan itu, memang pernah mengatakan NIAT dan tekadnya saat ia menggantikan posisi khalifah yang sebelumnya dipegang oleh Sulaiman bin Abdul Malik. Ketika itu Umar mengatakan,

★★★★ "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikitpun tempat untuk syaitan." (Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam). Itulah NIAT dan TEKAD Umar. BERSIH, TULUS DAN KOKOH. ITULAH JIWA YANG BERKILAU.


Saudaraku,

NIAT YANG BERSIH juga menjadi indikator prestasi dan kualitas amal yang dilakukan pemiliknya. Abdullah bin Mubarak menyebutkan:

★★★★ "Berapa banyak amal yang kecil tapi dibesarkan oleh NIAT, berapa banyak amal yang banyak namun dikecilkan karena NIAT …."

Juga ungkapan tokoh Tabi’in Mutharrif bin Jalil Abdullah,

★★★★ "Baiknya amal tergantung baiknya HATI. Baiknya HATI tergantung dengan baiknya NIAT. Siapa yang niatnya baik maka ia akan baik, dan siapa yang NIAT nya bercampur dan kotor, maka ia menjadi kotor dan bercampur."

Mari bersama, tanamkan keyakinan bahwa NIAT DAN KEBERSIHAN HATI ini harusnya kita letakkan pada tempat paling TINGGI yang paling kita perhatikan. Jangan sampai, berbagai aktivitas lain menjadikan kita lupa dari memelihara NIAT dan kesucian HATI. Inilah yang disinggung oleh Mushthofa Shadiq ar Rafi’i,

★★★★ "Kesalahan terbesar adalah bila engkau berusaha meluruskan dan membenahi kehidupan yang ada di sekitarmu, tapi engkau meninggalkan kekacauan dalam hatimu." (Wahyul Qalam, 2/44)


SEMANGAT YANG TINGGI

Saudaraku,

Syarat PERUBAHAN yang kedua, adalah himmah tatawaqqadu, SEMANGAT YANG TINGGI. NIAT YANG BERSIH akan menjadi kekuatan dahsyat bila bersanding dengan KETINGGIAN dan KEKUATAN SEMANGAT.

Menurut Ibnul Qoyyim,

★★★★ “HATI itu seperti burung, bila terbang meninggi maka ia akan jauh dari bahaya, tapi bila ia semakin dekat ke bumi, ia semakin terancam oleh bahaya," (Al-Jawabul Kafi, 80, Ibnul Qoyyim).

Kekuatan burung untuk terbang lebih TINGGI harus didukung dengan kekuatan NIAT dan SEMANGAT. Korelasinya begini, setiap kali jiwa seseorang meninggi SEMANGAT-nya maka HATI pun akan bersih dari berbagai kontaminasi dan selalu sibuk dengan urusan yang besar. Sekaligus SEMANGAT itu pula yang akan menjadikan HATI terpelihara dari penyakit dan panah syaithan.


Saudaraku,

SEMANGAT dan obsesi yang TINGGI ini yang menjadikan seorang salafussalih di hadapan murid-muridnya mengatakan,

★★★★ "Demi ALLAH  aku tidak menyukai kehidupan dunia untuk mencari uang atau untuk berdagang, tapi untuk dzikir kepada Allah dan membacakan kepada kalian hadits Rasulullah." (Tarikh Baghdad, 1/352).


Saudaraku,

Tak ada jiwa yang tak disibukkan dengan perkara besar, kecuali ia akan disibukkan oleh perkara kecil. Tak ada jiwa yang tidak disibukkan dengan kebaikan, kecuali ia pasti disibukkan dengan keburukan.

★★★★ "Jiwa itu selalu cenderung pada yang enak dan santai. Tidak berselera kepada sesuatu yang tidak disukai dan berat. Maka angkatlah jiwamu sejauh engkau bisa mengangkatnya ke tempat yang TINGGI," begitu pesan Muhammad Ahmad Rasyid dalam ar-Raqaiq.

Begitulah indah dan idealnya kekuatan IMAN. Tapi ingat, SEMANGAT YANG TINGGI, mempersembahkan hidup untuk urusan urusan besar, berjuang untuk kepentingan akhirat, bukan berarti tak menapakkan kaki di bumi. Bukan berarti menolak segala kebutuhan sarana dan prasarana hidup. Sebab justru bekal ketinggian SEMANGAT untuk mengarungi perjuangan panjang, harus juga ditopang (Eng: prop, support) dengan perbekalan hidup yang cukup.


Saudaraku,

Jiwa ini perlu tantangan dan perlu benturan . Dalam suasana ada tantangan dan benturan yang memunculkan MUJAHADAH atau upaya keraslah akan muncul kualitas IMAN yang baik.


Wallahu’alam

___________________
Disunting dari:
http://beranda.blogsome.com/2008/08/11/t​erbanglah-ke-tempat-ang-tinggi/

 

MARHABAN YA RAMADHAN

Bulan Ramadhan akan datang. Bulan yang oleh Allah SWT dihimpun di dalamnya rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan), dan itqun minan naar (terselamatkan dari api neraka). Bulan Ramadhan juga disebut dengan "shahrul Qur'an", bulan diturunkannya al-Qur'an yang merupakan lentera hidayah ketuhanan yang sangat dibutuhkan umat manusia dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat.


Melalui puasa Ramadhan, Allah SWT menguji hamba-Nya untuk mengendalikan nafsu dan perutnya, serta memberikan kesempatan kepada kalbu untuk menembus wahana kesucian dan dan kejernihan rabbani. Puasa Ramadhan merupakan pokok pembinaan iman Islami, untuk menyempurnakan amal ibadah, untuk mendapatkan maghfirah (ampunan) dan ridlwan (keridlaaan) dari Allah Yang Maha Agung.


Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa, Allah SWT mengistemewakan bulan Ramadhan di atas bulan-bulan lainnya dengan menurunkan Al-Qur'an di dalamnya. Bahkan dalam riwayat-riwayat mashur juga dikatakan bahwa kitab-kitab suci yang diturunkan kepada nabi-nabi terdahulu juga diturunkan pada bulan Ramadhan.Kitab nabi Ibrahim (suhuf) diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, kitab Zabur diturunkan kepada nabi Dawud pada malam kedua belas bulan Ramadhan, kitab Taurat diturunkan kepada nabi Musa pada malam keenam bulan Ramadhan dan kitab Injil kepada nabi Isa diturunkan pada malam ketiga belas bulan Ramadhan. Kitab-kitab tersebut merupakan petunjuk bagi umat manusia ke jalan yang benar dan penyelamat dari jalan yang sesat. Maka bulan Ramadhan dalam sejarahnya merupakan bulan dimulainya gerakan membasmi kemusyrikan di muka bumi, menghancurkan kekufuran, menepis kedengkian, melawan kebatilan dan kemungkaran, hawa nafsu serta kesombongan.


Ramadhan pada masa ini merupakan media utama pembinaan iman seorang mukmin, melalui ibadah puasa yang mempunyai dimensi pelatihan fisik (jasadiyah) dan metafisik (ruhiyah) yang diharapkan akan mengantarkannya menjadi seorang muslim yang sempurna.


Firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah: 183-185, kutiba alaikumush shiyam (telah difardhukan puasa atasmu), dan faman syahida min kumusy syahra fal yashum (maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan hilal bulan Ramadhan, maka berpuasalah), merupakan dalil pokok bagi kewajiban berpuasa.


Puasa Ramadhan juga merupakan pengendalian diri dari hegemoni nafsu syahwat dan pemisahan diri dari kebiasaan buruk dan maksiat, sehingga memudahkan bagi seorang hamba untuk menerima pancaran cahaya ilahiyah.


Fakhruddin al-Razi menjelaskan dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib, bahwa cahaya ketuhanan tak pernah redup dan sirna, namun nafsu syahwat kemanusiaan sering menghalanginya untuk tetap menyinari sanubari manusia, puasa merupakan satu-satunya cara untuk menghilangkan penghalang tersebut.



Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa puasa adalah seperempat iman, berdasar hadis Nabi: Ash shaumu nisfush shabri, dan hadis Nabi saw: Ash Shabru Nisful Iman. Puasa itu seperdua sabar, dan sabar itu seperdua iman. Dan puasa itu juga ibadah yang mempuyai posisi istimewa di mata Allah.



Allah berfirman dalam hadis Qudsi: "Tiap-tiap kebajikan dibalas dengan sepuluh kalilipat, hingga 700 kali lipat, kecuali puasa, ia untuk-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya".




Imam Ghozali juga menjelaskan bahwa puasa mempunyai tiga tingkatan.


Pertama puasa kalangan umum, yaitu menjaga perut dan alat kelamin dari memenuhi shawatnya sesuai aturan yang ditentukan.


Kedua adalah puasa kalangan khusus, yaitu selain puasa umum tadi dengan disertai menjaga pendengaran, penglihatan, mulut, tangan dan kaki serta seluruh anggota tubuh lainnya dari perbuatan maksiat.


Ketiga, yang paling tinggi, adalah puasa kalangan khususnya khusus, yaitu puasa dengan menjaga hati dan pemikiran dari noda-noda hati yang hina dan dari hembusan pemikiran duniawi yang sesat serta memfokuskan keduanya hanya kepada Allah. Inilah puncak kontemplasi hamba dengan Allah SWT.



Marilah kita bersiap-siap memasuki bulan Ramadhan ini dengan kesiapan diri yang prima, dengan perasaan yang tulus ikhlas untuk menjalankan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan. Marilah kita mantapkan hati dan jiwa kita dalam memperoleh kemuliaan puasa Ramadhan, sehingga mengantarkan kita pada satu format kehidupan yang lebih baik. Bulan Ramadhan kita jadikan momentum pembersihan diri dari dosa dan angkara murka dan penyadaran hati nurani kemanusiaan kita. Puasa jangan hanya kita laksanakan dengan menahan diri untuk tidak makan dan minum, namun yang paling substansial adalah menjadikannya upaya pengekangan diri dari segala bentuk hawa nafsu yang merugikan manusia dan kemanusiaan itu sendiri.




Puasa Ramadhan merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas dimensi keagamaannya.


Pertama, dimensi teologis dan spiritualitas yang tercermin dalam komunikasi antara manusia dan Tuhannya, sehingga memungkinkan dalam diri semakin berkembang sifat-sifat ketuhanan yang sebenarnya sudah kita miliki, yakni sifat-sifat positif untuk berbuat kebajikan dan tertanam kepekaan hati nurani dlam bertingkah laku.

Kedua, dimensi sosial. Yaitu tumbuhnya kesadaran sosial dalam batin kita untuk peduli bukan saja pada hal yang hanya berkaitan dengan aspek transendental dan ritual keagamaan, tetapi juga peduli dengan aspek-aspek sosial kemanusiaan. Kepedulian sosial bisa direfleksikan dengan keprihatinan terhadap kondisi sosial yang terdapat dalam realitas empiris. Kualitas kesadaran batin dapat diukur dengan tingkat kepedulian terhadap realitas sosial tersebut, seperti ketaatan kepada pemimpin, hormat dan berbakti kepada orang tua, menyantuni anak yatim dan orang-orang miskin, membela orang yang tertindas hak dan martabatnya, keberanian melakukan kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


Ketiga,
dimenisi mental. Dengan berpuasa akan terwujud dalam diri kita mental tegar dan tahan banting, sehingga mampu untuk mengahadapi berbagai tantangan, cobaan, godaan, dan ujian dalam kehidupan ini. Kita senantiasa mampun untuk optimistis dalam berikhtiar dan berusaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik dengan tetap mengacu pada nilai-nilai etika dan moral agama. Puasa juga akan melatih mentalitas kita untuk sportif dan jujur dalam menerima amanat dan mengemban tugas, menjauhi sikap pengecut dan khianat dan tidak mudah mengumbar emosi amarah dan permusuhan.


Keempat
, dimensi etika. Dengan menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan benar dan berkualitas, maka akan tercermin dalam diri kita nilai-nilai etika dan moral agama yang sangat positif untuk diaktualisasikan dalam pola kehidupan kita sehari-hari, seperti:

(1) kemampuan menghadirkan alternatif-alternatif terbaik, dalam pola berpikir, bersikap, dan bertingkah laku;

(2) kemampuan dalam mengendalikan diri terhadap keinginan-keinginan negatif, subjektivitas, maupun emosional destruktif. Dan kemampuan mengarahkan diri sendiri kepada kebenaran, sifat obyektif dan konstruktif;

(3) kemampuan untuk menahan diri dari jebakan materialistik dan hedonistik;

(4) kemampuan moralitas dalam melakukan tugas dan kewajiban melalui pertimbangan rasionalitas dan hati nurani.



Bulan Ramadhan adalah bulan untuk mendidik, melatih, menggembleng kepribadian seorang muslim untuk menjadi lebih baik dan pada gilirannya untuk menjadi seorang muslim yang sejati.

Rasulullah bersabda: 'Rugilah seorang hamba yang menemukan bulan Ramadhan dan ia tidak mendapatkan ampunan-Nya".




Wallahu a'lam
Pesantren Virtual


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Rindu kami pada MU ya Allah ..
Sampaikanlah kami pada Rahmat, ampunan, & Cinta MU ..
amin ..Allahu ya Karim ...

Untuk seluruh sahabat fillah yg tak mampu terkirim semua ... Mohon maaf atas segala khilaf & kekurangan diri ...


Marhaban Ya Syahru Ramadhan ..
Marhaban Ya Syahrul maghfirah...
Marhaban Ya syahrul Quran
Marhaban Ya Syahrul Ibadah...
Marhaban Ya Ramadhan...



Puti melati,
July 26, 2011

Jumat, 08 Juli 2011

WAHAI ALLAH KEKASIH HATIKU ...

Kekasih...
lewat senja, rindu mulai bertamu
menyesali atas dosa-dosa silam
lalu aku bertasbih di Mahgrib ini
menuju Isyak yang menanti
ditengah malam ku yang sepi
aku terlena dalam doa yang panjang
mengharap Engkau mendengar
karena Engkau Maha Mendengar
mengharap Engkau mengerti
karena Engkau Maha Mengerti


Tuhanku,
Rebahkanlah daku dalam pangkuanMu
dakaplah daku dalam pelukan petujuk-Mu
kerana tiada yang lain tempatku berserah
melainkan kepada-Mu


Allahu ya kariim,,,



Dari seorang sahabat , smg Allah merahmati selalu ..amin

:: KISAH SEPOTONG ROTI TAUBAT



Bismillahirrahmannirahim,

TERKADANG, kita sering berharap begitu banyak balasan dari Allah , atas sedekah dan pemberian kita.

Memang TIDAK SALAH jika kita bersedekah agar mendapat balasan yang berlipatganda di Dunia ini karena memang itu adalah JanjiNYA, namun apakah kita tidak takut, kalau nanti di Akhirat kita tidak dapat lagi Syafa’at/Penolong dari Sedekah kita ? Bukankah SELAMAT dari Siksa Neraka yang tiada batas JAUH LEBIH BERHARGA dari pada Balasan yang besar di Dunia tapi hanya SESAAT.

Bukankah sudah sewajarnya kita bersyukur kepada Allah, atas berbagai ni'mat yang tak terhitung , mulai dari ni'mat sehat , ni'mat rezeki, ni'mat ibadah serta ni'mat-ni'mat lainnya yang tak mampu kita menghitungnya ..

Sahabat,
Semoga kisah dibawah ini bermanfaat dan dapat membuka hati kita , masihkah kita memaksa Allah SWT menyegerakan balasanNYA atas sedekah yang kita berikan ...
dan betapa sesuatu yang kecil dan kurang berharga itu juga mampu menjadi PENYELAMAT terhadap kehidupan kita kelak ...


KISAH SEPOTONG ROTI TAUBAT


Abu Burdah bin Musa Al-Asy'ari meriwayatkan, bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: "Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti."

Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah SWT. Ibadah yang dilakukannya itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita yang menggairahkan nafsunya sehingga diapun tergoda dalam bujuk rayunya hingga terperangkap dalam dosa perzinaan selama tujuh malam.


Setelah ia sadar, ia lalu bertaubat, tempat ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi mengembara dan terus tekun mengerjakan solat dan bersujud.


Akhirnya dalam pengembaraannya itu ia sampai ke sebuah pondok yang di dalamnya sudah terdapat dua belas orang fakir miskin, sedangkan lelaki itu juga bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, karena sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu.


Rupanya di samping pondok tersebut hidup seorang Kyai yang setiap malamnya selalu mengirimkan beberapa potong roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu dengan masing-masingnya mendapat sepotong roti. Pada waktu yang lain, datang pula orang lain yang membagi-bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut, begitu juga dengan lelaki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bagian, karena disangka sebagai orang miskin.


Rupanya salah seorang di antara orang miskin itu ada yang tidak mendapat bagian dari orang yang membagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membagikan roti itu ia berkata: "Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku."


Orang yang membagikan roti itu menjawab: "Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari satu potong roti."


Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka lelaki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Sedangkan keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.


Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadah yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sepotong roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu.

Subhanallah ..


Sebagai renungan bagi kita adalah firman Allah subhana waTa'ala:

Sesungguhnya barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS. 11:15-16)

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu'min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’: 19)

“Barang siapa yang menghendaki "keuntungan di akhirat" akan "Kami tambahkan keuntungan itu baginya (untuk dunia) " dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)


Maka kepada anaknya Abu Musa berpesan:

"Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu " ( bahwa sesungguhnya sesuatu yang kita sedekahkan dengan Ikhlas, akan menjadi kekayaan sejati kita kelak dan mampu menjadi Penyelamat dari kesengsaraan yang tiada batas di akhirat / hisab yang buruk )




Wallahu a'lam bishawab

HARTA YANG ENGKAU DERMAKAN , ITULAH KEKAYAAN SEJATIMU

Sahabat ...

Andaikata saja setiap orang tahu tentang kebaikan apa yg ada di dalam berderma, niscaya mereka akan beramai-ramai melakukan derma.


Andai saja setiap orang sadar bahwa berderma adalah kunci pembuka pintu keberkahan, niscaya mereka akan saling berlomba untuk berderma.



Andai saja setiap orang tahu bahwa berderma dapat melepaskan kesulitan dan kesempitan, niscaya mereka tidak akan berat hati untuk berderma



Andai saja setiap orang tahu bahwa berderma adalah sarana pensucian diri dari harta yg dimiliki, niscaya derma akan menjadi kebutuhan diri,



Andai saja mereka tahu bahwa harta benda yg mereka dermakan itulah "KEKAYAAN SEJATI & ABADI", niscaya mereka akan mendermakan sebanyak2nya harta yg dimiliki.



Ya, sebanyak apa harta yang di dermakan, sesungguhnya itulah kekayaan yg sebenarnya. Jika engkau banyak melakukan derma, engkaulah orang kaya yang sesungguhnya. Sebaliknya , jika engkau sedikit berderma, niscaya engkau adalah orang yang paling miskin dan papa, meskipun di dunia engkau bergelimang harta



Mengapa ? Karena segala sesuatu yg engkau miliki akan engkau tinggalkan saat kematian menghampiri dan menjadi tidak berguna saat kematian tiba. Harta yg engkau dermakan itulah yang akan menjadi teman setia menemanimu, bukan harta kekayaan yang engkau tinggalkan untuk anak cucumu di dunia.


Namun sayang, tidak semua orang menyadari dan begitu mencintai harta bendanya seolah-olah harta itu akan dimiliki selamanya. Mereka begitu sulit untuk berderma. Mereka lupa bahwa harta benda hanyalah satu bentuk ujian yg diberikan Allah untuk menguji seberapa besar keimanan dan ketakwaan seseorang kepada NYA, dimana manfaat serta kebaikan dari dermanya akan kembali kepada diri sendiri..



"Apakah kemudharatan bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka ? Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka (QS An Nisa : 39)



Manusia sering berpendapat bahwa harta yg diperoleh saat ini adalah semata-mata hasil dari kerja kerasnya dalam bekerja. Namun yang acapkali diabaikan adalah Sang Penguasa alam semesta yg mengizinkan nya meraih semua itu .



Bukankah sebaik-baik manusia adalah yg paling bermanfaat bagi sesama ...

Alangkah indahnya bila keshalehan seseorang menjelma menjadi keshalehan sosial yang bermanfaat bagi sesamanya.






Barakallahufikum ,
Semoga bermanfaat sahabat ...
@ Seri perkaya hati - Saiful Hadi El Sutha

KRITERIA AMALAN YANG TERBAIK

KITA telahpun diperingatkan الله سبحانه وتعالى bahawa setiap masa dan setiap keadaan kita didalam UJIAN bagi mencapai darjat insan yang TERBAIK amalannya. Firman الله سبحانه وتعالى di dalam ayat 2 Surah al Mulk, bermaksud:

♥ ♥ ♥ ♥ “ الله yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapakah di kalangan kamu yang terbaik amalan. Dan Dialah (الله) Maha perkasa lagi Maha Pengampun. “


أبو على الفضيل بن عياض telah ditanya tentang ayat أحسن عملا (AHSANA AMALAN - TERBAIK AMALAN) di dalam ayat tersebut.

Maka beliau berkata “ أحسن العمل أخلصه وأصوبه “ - ‘ TEBAIK AMALAN itu adalah penuh keikhlasan dan betul amalan itu ‘

Kemudian beliau ditanya lagi (ما أخلصه وما أصوبه ؟ ) ‘ apakah maksud penuh keikhlasan dan betul amalan itu ? ‘ Beliau menjawab:

ان الله لا يقبل العمل ما لم يكن خالصا صوابا ، فاذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل ، واذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل ، واخلاصه أن يكون لله وصوابه أن يكون على السنة .

‘Sesungguhnya الله tidak menerima amalan yang tidak ada PENUH KEIKHLASAN DAN BETUL AMALAN ITU. Sekiranya amalan itu betul tetapi perlaksanaan tidak ikhlas, maka tidak diterima. Demikian juga sekiranya perlaksanaannya ikhlas, tetapi amalan tidak betul, maka tidak juga diterima. Keikhlasan maksudnya dilakukan semata-mata kerana الله سبحانه وتعالى . Dan betul amalan maksudnya itu mengikut Sunnah Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم.‘


❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿

Seseorang itu disukat dan dinilai ilmu, iman dan amalan yang lahir daripada keimanan tersebut. Dan amalan pula disukat dan dinilai sejauh mana mencapai darjat أحسن عملا.

TERBAIK amalan yakni penuh keikhlasan dan betul amalannya, yakni ikhlas semata-mata kerana الله dan mengikut Sunnah Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم

Di dalam al Quran al Karim terdapat banyak ayat yang menyeru dan mengajak kepada amalan di tahap ( الأحسن ) – TERBAIK. Antaranya firman الله dalam ayat 55 Surah az Zumar, bermaksud:

♥ ♥ ♥ ♥ “Hendaklah anda semua ikut sebaik-baik (panduan hidup) diturunkan kepada anda semua daripada الله سبحانه وتعالى “

Dan firman الله سبحانه وتعالى lagi di dalam ayat 17 – 18 Surah az Zumar, bermaksud:

♥ ♥ ♥ ♥ “Maka berilah berita gembira kepada hamba-hambaKu (hamba-hamba الله) yang penuh perhatian mendengar perkataan-perkataan (perintah الله) , lalu mereka mengikut SEBAIK-BAIKnya. Mereka itulah orang yang telah diberi Hidayah oleh الله سبحانه وتعالى. Dan mereka itulah orang-orang yang beraqal sempurna “

Bahkan di dalam al Quran, الله سبحانه وتعالى memerintah supaya menolak السيئة (keburukan) dengan cara TERBAIK, di dalam ayat 34 Surah Fussilat, bermaksud:

♥ ♥ ♥ ♥ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih BAIK, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. “

Demikian juga الله سبحانه وتعالى melarang mendekati / menggunakan hartabenda anak-anak yatim melainkan dengan cara yang TERBAIK. Firman الله سبحانه وتعالى di dalam ayat 152 Surah al An’am, bermaksud:

♥ ♥ ♥ ♥ “Dan janganlah kamu hampiri (gunakan) hartabenda anak yatim melainkan dengan cara yang TERBAIK (untuk mengawal dan mengembangkannya) sehingga ia baligh (dewasa serta layak mengurus harta bendanya sendiri ) “



❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿

Oleh itu setiap Mukmin sewajarnya rasa terpanggil untuk sentiasa melaksanakan semua amalan dan semua perkara dalam bentuk yang TERBAIK, bahkan Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم telah bersabda :

عن شداد بن أوس ، ان رسول الله (ص) يقول : ان الله كتب الاحسان على كل شئ فاذا قتلتم فأحسنوا القتلة واذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته .


♥ ♥ ♥ ♥ Maksudnya: Daripada Syadad bin Aus bahawa Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda, " Sesungguhnya الله telah menentukan (memfardhukan) “الأحسان “ dalam semua perkara. Jika kamu membunuh maka bunuhlah dengan cara yang TERBAIK dan jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang terbaik. Tajamkanlah pisau sembelihan dan berilah kerehatan kepada binatang yang disembelih itu “ (Hadis riwayat Imam Muslim)


Asal makna kalimah “ كتب “ mengandungi makna wajib dan fardhu kerana itu kebanyakan ulama’ menjelaskan bahawa “الأحسان “ TERBAIK di dalam amalan menurut kacamata Islam adalah sesuatu yang fardhu yang ditentukan oleh الله سبحانه وتعالى ke atas orang-orang yang beriman.


Lebih jelas lagi tafsiran “الأحسان “ di dalam عبودية kepada الله telah disebutkan oleh Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم di dalam hadis yang panjang, hadis “ متفق عليه “ Daripada Abi Hurairah r.a menceritakan tentang Jibril a.s datang berjumpa Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم, bertanya tentang Islam, Iman dan ‘ihsan’. Apabila ditanya tentang احسان, maka Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم menjawab:

‘ أن تعبد الله كأن نك تراه, فان لم تكن تراه فانه يراك ‘

♥ ♥ ♥ ♥ maksudnya, “Hendaklah anda beribadah kepada الله seolah-olah anda melihat-NYA, dan jika anda tidak melihat-NYA pun maka (yakinlah) الله سبحانه وتعالى melihat anda.”

Semoga kita mampu melahirkan tindakan amal yang TERBAIK dan diterima oleh الله سبحانه وتعالى., insyaAllah.


Petikan isi penting dari Khutbah Jumaat yang disampaikan oleh Ustaz Hj Omar Hj Salleh

__________________________

Disunting dari:
http://www.haluan.org.my/v3/index.php/ik​hlas-dalam-beramal.html

Shared By: Bicara Hidayah

SEMPURNANYA SEORANG WANITA YANG MEMANCARKAN CAHAYA

Bismillaahir rohmanir rohiim
Assalamu’alaykum wr wb

Sahabat, seringkali ketika kita merenung tentang keindahan segala ciptaan Yang Maha Indah. Subhanallah. Tak terkatakan dengan bahasa yang seindah apapun ketika kita merenungkan ciptaan-ciptaan Allah SWT. Bersyukurlah kita sebagai wanita yang telah diciptakan Allah begitu sempurna dengan segala keindahannya. Wanita tidak sekedar ciptaan tetapi sebuah maha karya yang begitu mulia jika kita mau berpikir dan menjadikan diri kita benar-benar mulia. Kelembutannya, kebaikannya, ketulusannya, keikhlasannya, keteguhan hatinya, kebijakannya….. Allah telah meniupkan sifat-sifat yang mulia dalam diri wanita. Bagaimana tidak sang Adam tunduk kepada Hawa? Dan bagaiaman tidak seorang panglima perang yang bengis sekalipun dapat tunduk patuh dalam pesona dan kelemah lembutan seorang wanita.

Sahabat, kita bisa menjadi wanita yang berbahagia dalam menggapai surga di hati kita dan InsyaAllah mampu meraih surga’Nya. Menjadi wanita yang layak di cintai dan dimuliakan. Wanita yang akan dirindukan oleh sesamanya karena kedamaian yang diciptakannya. Benar sekali tidak ada yang sempurna di dalam hidup ini akan tetapi ada keimanan yang kuat bisa dijadikan modal abadi, yang tidak akan habis dimakan waktu dan tidak bisa luntur oleh kondisi apapun. Kemuliaan akhlaq akan menjadi mahkota baginya yang senantiasa diupayakan untuk memilikinya.

Bagaimana kita bisa menjadi cantik, bahagia dan memancarkan cahaya tentusaja diperlukan keteguhan, keyakinan dan implementasi total dengan tulus ikhlas hanya berharap ridho Allah SWT :


1. RENDAH HATI

Kerendahan hati mampu mengangkat derajat kita. Yang membedakan kemuliaan manusia dengan manusia lain di mata Allah adalah pada ketaqwaannya pada akhlaqnya. Wanita yang memegang teguh kecintaan pada Rabb akan selalu mengingat’Nya di setiap gerak langkahnya. Sehingga buah dari pikirannya, perkataannya dan perbuatannya menghasilkan kebaikan bagi diri, sesama dan lingkungannya. Cahaya Ilahi akan menerangi kegelapan hati jika kita senantiasa membersihkan jiwa. Dengan berendah hati pada makhluk ciptaan Allah SWT dan berendah diri serendah rendahnya kepada Allah SWT akan senantiasa mengingatkan kebesaran’Nya sehingga tidak aka nada kesombongan, ketamakan, keangkuhan dan segala yang negative akan selalu diganti dengan hal-hal yang positif.

Firman Allah:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS AL Hujuurat : 13)


2. TENANG


Baik dan buruk hanya pada sudut pandang manusia. Banyak wanita yang berkeluh kesah karena wajahnya tidak cantik, badannya kurang indah, kehidupannya kurang beruntung dsb. Tidakkan kita pernah berpikir bahwa tidak ada ciptaannya yang sia-sia. Allah telah menganugrahkan segala bakat, potensi dan kelebihan pada setiap manusia. Manusia tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi satu ovum.. Sebuah fenomena yang tidak bisa kita ingkari bahwa sebenarnya kita telah sukses dari awal diciptakan oleh Allah SWT. Berprasangka baik kepada Allah terhadap segala hal. Bahkan kondisi yang terburuk sekalipun yakinlah bahwa Allah memiliki tujuan yang baik. Manusia wajib berikhtiar karena jika kita menginginkan akibat yang baik tentu saja kita harus membuat sebab yang baik pula. Sikap yang tenang akan melahirkan sikap yang baik pula. Seorang wanita yang bahagia akan selalu berwudhu, menunaikan sholat, membaca Al Qur’an agar dirinya selalu tenang.

Firman Allah:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar Ra’d : 28)



3. BERWIBAWA DAN FEMININ


Wanita yang anggun, penuh pesona dengan pancaran keimanan dalam hatinya akan menarik begitu banyak keberkahan dalam kehidupannya. Perilakunya penuh cinta dalam pandangan matanya yang selalu terjaga. Bibir yang tersenyum manis dan kejujuranlah yang dikatakannya. Senantiasa menyambung silaturahmi dan memberi maaf pada orang lain yang menyakitinyta. Menghargai diri dan menghargai orang lain dengan berbusana muslimah. Harga diri seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia berkata-kata yang baik dan santun, bagaimana dia berbusana dan bagaimana dia memuliakan sesama. Menegur dengan kelembutan, menyuruh dengan kelembutan, melarang dengan kelembutan dan menolak dengan kelembutan.

Firman Allah:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An Nur : 31)

Firman Allah:

“Ta'at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka." (QS Muhammad : 21)


4. BERSIKAP MULIA

Wanita yang berbahagia akan selalu bersikap mulia dalam kondisi apapun, dimanapun dia berada dan dengan siapapun dia bergaul. Senantiasa menepati janji, dapat dipercaya, pemurah, sabar, terbuka dengan perubahan yang bersifat positif, memberikan inspirasi bagi keluarga dan lingkungan dimana dia berada dan istiqomah.
Wanita yang mulia lebih senang menyibukkan diri dengan aibnya sendiri, senatiasa memperbaiki kekurangannya dan memperbaikinya menjadi lebih baik sehingga menjadi benar dan baik mengikuti fitrah Allah SWT pada jalan yang lurus.

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS Al Fatihah : 5-6)


5. BERPERILAKU MULIA

Wanita yang berperilaku mulia merupakan wujud kepatuhan terhadap Rabb’Nya. Ketaatan ibadah merupakan bukti syukur akan segala nikmat dan karunia’Nya. Kesetiaannya lahir dan batin pada pasangan jiwanya demi kecintaan’Nya pada Allah yang dicintainya. Menjaga kesehatan lahir batin. Mengkonsumsi makanan yang sehat, halal dan toyib, menjaga kebugaran dengan selalu berolah raga, senyum yang tulus, senantiasa berbuat kebaikan tak putus putus dapat memberikan kesehatan jasmani dan rohani. Allah menyukai keindahan dan keindahan yang harus ditampilkan seorang wanita yang mulia adalah keindahan yang terjaga dalam penampilan diri yang rapi, sehat, harum dan tujuan yang benar. Bukan pada apa yang dikenakan, bukan pada kemewahan yang ditampilkan justru pada kesederhanaan yang memancarkan nilai luhurnya. Kearifan budi dimana dapat meletakkan dirinya menjadi panutan bagi orang-orang disekitarnya. Mampu mewujudkan perbuatan-perbuatan yang mengajak pada kebaikan sesuai dengan tuntunan agama ikhlas semata-mata karena Allah SWT.

Firman Allah:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al’ Ashr 1-3)


6. BERPIKIR POSITIF


Optimis, bersyukur, berorientasi masa depan, mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, membaca buku, membaca Al Qur’an n Al Hadist dan menghadiri Majlis taklim. Senantiasa berusaha menjadi istri yang taat dan ibu yang bijak bagi buah hatinya.

Firman Allah:
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim:7)

Sahabat muslimahku, Rasulullah bersabda, "Dunia adalah perhiasan dn sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita sholeha.” (HR Muslim). Bukankan kita semua ingin menjadi bagian dari perhiasan yang indah tersebut. Menjadi kebanggan orang tua kita, suami kita, anak-anak kita, saudara kita dan juga sahabat kita. Memulai dari diri sendiri dan kita dapat memulainya dari yang terkecil. Jangan pernah menunda untuk berbuat kebaikan. Dalam ikhtiar yang tulus Allah akan bersama kita mewujudkan segala niat baik. Menjadi bidadari yang memberikan sinar cinta, mampu memberikan berkah pada sesama dalam hati yang bersih dan memancarkan cahaya Ilahi.
Amin ya Rabbal’alamiin.



⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̥̈̊ SYAIR UNTUK SAHABAT MUSLIMAH ✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Duhai akhwat,
Tanamkan dihatimu bahwa kecantikan wajahmu bukan modal utama,
Beningkan hatimu,
Mahkota diri ada dlm akhlaq yang mulia,
Keimanan kepada Allah adalah cahaya hidup,
Senantiasa menghidupkan Allah dalam jiwa,
Membahana dalam sanubari,
Meluap dari setiap ucapan,
Tercermin dalam perilaku,
Itulah kecantikan sejati,
Subhanallah...


Barakallohu fikum
Waalaykumsalam wr wb





Ira Dyah Loka M : September 29, 2010