Tampilkan postingan dengan label AMAL IBADAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AMAL IBADAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 November 2013

:: SUNGGUH BERUNTUNG ORANG YANG MENDAPATI BANYAK AMALAN TAUBAT DAN ISTIGHFAR DALAM CATATANNYA




 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

طُوْبَى ِلمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيْرًا.

"Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak" (HR Ibnu Maajah)

Istighfar amalan yg mudah... akan tetapi tidak semua orang rajin melakukannya. Perbanyaklah beristighfar dan bertaubat kepada Allah... Terutama pada waktu-waktu mustajab, diantaranya di waktu sahur.

Allah Ta'ala berfirman

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS Ali Imron : 17)

Jumat, 22 November 2013

:: RAHASIA SHALAT MALAM : MENYEMBUHKAN HATI YANG LALAI



Sifat Lalai adalah penyakit berbahaya dan menyimpang. Penyakit ini akan menimpa hati yang selalu tenggelam dalam hal mubah ,bermalasan-malasan dalam ketaatan , dan hanyut dalam segala kenikmatan.
Fokuslah untuk bemunajat kepada Allah , sedangkan ketika itu obat yang ampuh akan datang dengan izin Allah, yakni shalat malam.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
* Barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca sepuluh ayat Qur'an, dia tidak dituliskan termasuk orang-orang yang lalai.
* Barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca 100 ayat Qur'an , dia akan dituliskan termasuk dalam orang yang Qunut nan ikhlas.
* Dan barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca 1000 ayat Qur'an dituliskan dalam sebagai orang yang kaya"


(HR. Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Ibn Hibban, dihasankan oleh Al Albani dalam SHahih Al-Targib wa Al-Tarhib no.635)

Subhanallah ,

Tengoklah Obat HATI ada 5 menurut Yahya Ibn Mu'adz Al-Razi . Obat yang menjadikan hati tenteram. Obat yang membersihkan serta mencerahkan. Serta obat yang menghantarkan pada nikmat Cinta Rabb nya. :

1. Membaca Qur'an dan makna nya sambil mentafakurinya
2. Perut kosong disiang hari
3. Mengerjakan Shalat Malam
4. Merendah diri pada waktu shahur
5. Bergaul dengan orang-orang shaleh

Bangun malam memiliki keistimewaan dalam meredam nafsu dalam diri manusia, seperti keterikatan dengan mewahnya dunia, syahwat, kelezatan , kesombongan diri, dll.

Kedudukannya seperti ANTI TOKSIN.
Obat bagi hati yang cenderung semakin mengeras...
Bila hati semakin mengeras , nikmat ibadah akan semakin menjauh , dan sulit menerima cahaya petunjuk dari Nya.

Semoga bermanfaat membukakan hati ... Dan semoga Allah memberikan kemampuan selalu bagi kita , dan menyampaikan kita pada rahmat serta ridha Cinta Nya. Aamiin ya Rabb

Jumat, 08 November 2013

:: AMALAN YANG DICINTAI ALLAH ADALAH AMALAN YANG RUTIN, IKHLAS, PENUH CINTA WALAUPUN SEDIKIT





"Amalan yang paling dicintai Allâh Ta ’alâ adalah amalan yang kontinyu walaupun sedikit.” (HR. Muslim).

Imam an Nawawi mengatakan: “Sesungguh
nya amal sedikit tapi kontinyu lebih baik daripada amal banyak namun terputus karena dengan kontinyunya amal sedikit akan melanggengkan ketaatan, dzikir, muraqabah (merasa diawasi Allâh ), niat, ikhlas, dan mengharap kepada Sang Pencipta. Dan buah dari amalan sedikit tetapi kontinyu berlipat-lipat lebih banyak daripada amal banyak namun terputus.” (Syarah Shahih Muslim).


Rajin Ibadah Janganlah Sesaat


Wahai saudaraku … Perlu diketahui bahwa ibadah tidak semestinya dilakukan hanya sesaat di suatu waktu.

Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan, sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Ramadhan saja. [ Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, ]


Tanda Diterimanya Suatu Amalan


Saudaraku … Perlulah engkau ketahui bahwa tanda diterimanya suatu amalan adalah apabila amalan tersebut membuahkan amalan ketaatan berikutnya.


Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [HR. Muslim]


Di antaranya lagi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam contohkan dalam amalan shalat malam. Pada amalan yang satu ini, beliau menganjurkan agar mencoba untuk merutinkannya. Dari ’Aisyah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” [HR. Muslim]


Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,

“Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” [HR. Bukhari]



Ibadah seharusnya tidak ditinggalkan ketika dalam keadaan lapang karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalimu ketika susah.” [ HR. Hakim]


“... Tiada cara mendekat (taqarrub) seorang hamba yang lebih Ku-cintai melainkan dengan menunaikan fardhu yang telah Ku-tetapkan. Namun hamba-Ku senantiasa lebih berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan yang nawafil, sampai Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengan itu ia mendengar, penglihatannya yang dengan itu ia melihat, tangannya yang dengan itu ia memukul, kakinya yang dengan itu ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku sungguh akan Ku-karuniakan kepadanya, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku akan melindunginya. Dan Aku tidak pernah ragu-ragu pada sesuatupun di saat Aku akan melakukannya seperti ragu-Ku untuk mengambil jiwa seorang mukmin yang enggan mati, sedangkan Aku tidak suka mengganggunya. (HQR. Bukhari).

Semoga Allah menganugerahi kita kemampuan selalu dalam beramal soleh yang selalu dicintai oleh-Nya. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya setiap kebaikan menjadi sempurna. Aamiin ya Rabb

:: MEMETIK MANFAAT MEMBACA AL KAHFI DI HARI JUMAT



Hari Jum’at merupakan hari yang mulia. Bukti kemuliaannya, Allah mentakdirkan beberapa kejadian besar pada hari tersebut. Dan juga ada beberapa amal ibadah yang dikhususkan pada malam dan siang harinya, khususnya pelaksanaan shalat Jum’at berikut amal-amal yang mengiringinya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. . . . " (HR. Abu Dawud, an Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits Aus bin Aus)

Salah satu amal ibadah khusus yang diistimewakan pelakasanaannya pada hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi. Berikut ini kami sebutkan beberapa dalil shahih yang menyebutkan perintah tersebut dan keutamaannya.

1. Dari Abu Sa'id al-Khudri radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul 'atiq." (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)

2. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu,

"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum'at." (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)

3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”

Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”


Kapan Membacanya?

Sunnah membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada hari Jum’atnya. Dan malam Jum’at diawali sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis. Kesempatan ini berakhir sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’atnya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kesempatan membaca surat Al-Kahfi adalah sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis sore sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’at.


Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jum’at

Dari beberapa riwayat di atas, bahwa ganjaran yang disiapkan bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada siang harinya akan diberikan cahaya (disinari). Dan cahaya ini diberikan pada hari kiamat, yang memanjang dari bawah kedua telapak kakinya sampai ke langit. Dan hal ini menunjukkan panjangnya jarak cahaya yang diberikan kepadanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“ Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. Al-Hadid: 12)

Balasan kedua bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at berupa ampunan dosa antara dua Jum’at. Dan boleh jadi inilah maksud dari disinari di antara dua Jum’at. Karena nurr (cahaya) ketaatan akan menghapuskan kegelapan maksiat, seperti firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114)


Surat Al-Kahfi dan Fitnah Dajjal

Manfaat lain surat Al-Kahfi yang telah dijelaskan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah untuk menangkal fitnah Dajjal. Yaitu dengan membaca dan menghafal beberapa ayat dari surat Al-Kahfi. Sebagian riwayat menerangkan sepuluh yang pertama, sebagian keterangan lagi sepuluh ayat terakhir.

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits al-Nawas bin Sam’an yang cukup panjang, yang di dalam riwayat tersebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Maka barangsiapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi.”


Dalam riwayat Muslim yang lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari permulaan surat al-Kahfi, maka ia dilindungi dari Dajjal.” Yakni dari huru-haranya.

Imam Nawawi berkata, “Sebabnya, karena pada awal-awal surat al-Kahfi itu tedapat/ berisi keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kebesaran Allah. Maka orang yang merenungkan tidak akan tertipu dengan fitnah Dajjal. Demikian juga pada akhirnya, yaitu firman Allah:

“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? . . .” QS. Al-Kahfi: 102. (Lihat Syarah Muslim milik Imam Nawawi: 6/93)


Semoga bermanfaat dan Rahmat Allah menyertai selalu .. Aamiin ya Rabb

Senin, 04 November 2013

:: CARA MENDEKAT DAN MERAIH CINTA ALLAH



“... Tiada cara mendekat (taqarrub) seorang hamba yang lebih Ku-cintai melainkan dengan menunaikan fardhu yang telah Ku-tetapkan. Namun hamba-Ku senantiasa lebih berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan yang nawafil (sunnah) , sampai Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengan itu ia mendengar, penglihatannya yang dengan itu ia melihat, tangannya yang dengan itu ia memukul, kakinya yang dengan itu ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku sungguh akan Ku-karuniakan kepadanya, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku akan melindunginya. Dan Aku tidak pernah ragu-ragu pada sesuatupun di saat Aku akan melakukannya seperti ragu-Ku untuk mengambil jiwa seorang mukmin yang enggan mati, sedangkan Aku tidak suka mengganggunya.
(HQR. Bukhari).


Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda bahwa Allâh subhana wa Ta'ala berfirman,

Tidak ada yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada-Ku yang sebanding dengan menunaikan semua kewajiban yang Kuperintahkan dan senantiasa mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka aku menjadi pendengaran, penglihatan, lidah, hati, tangan, dan kakinya. Ia mendengar melalui Aku, ia melihat melalui Aku, ia berbicara melalui Aku, dan berjalan melalui Aku.'


Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allâh lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar (ayat-ayat dan risalah Dien Nya), tetapi Allâh-lah yang melempar (memberi petunjuk tersebut) … (QS. Al Anfal [8:]17).

"Allâh Subhana wa Ta'ala berfirman:
Aku sampaikan kepada hamba-Ku yang mengharapkan Aku, Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku akan mengingat dia dalam hati-Ku, dan jika dia mengingat Aku dalam suatu majelis, Aku menyebut dia dalam majelis yang lebih baik daripada itu ... " (HQR. Bukhari dan Muslim).


Allâh Yang Maha Tinggi berfirman (Dalam hadits Qudsi):
“Aku terserah persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut nama-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, aku menyebut namanya pada diri-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shalih atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari)”. (HR. Bukhari: 8/171 dan Muslim: 4/2061, lafadz hadits ini dalam shahih Bukhari).


Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pengasih selaku seorang hamba ... (QS. Maryam [19]:93).

Semoga Allah memberikan keberkahan, membimbing kita , menolong kita selalu ketaatan, dan menyampaikan kita pada rahmat serta cinta Nya. aamiin ya Rabb.

:: SUBHANALLAH , MANFAAT ISTIGHFAR SUNGGUH LUAR BIASA



Bacaan Istighfar berbunyi "Astaghfirullah" atau lengkapnya "Astaghfirullahhal'adhim" merupakan kalimat yang sangat pendek dan bisa di ucapkan dengan mudah. Namun demikian kalimat ini jika di baca secara rutin dalam setiap waktu dan kesempatan, lebih-lebih sehabis melaksanakan sholat akan memberikan dampak yang besar bagi si pelakunya.

1. MENGANGKAT DERAJATNYA DI SYURGA

Rasulullah bersabda,"Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di syurga. Hamba itu berkata, "Wahai Allah, dari mana saya dapat kemuliaan ini?" Allah berkata "Karena istighfar anakmu untukmu." (HR.Ahmad dengan sanad hasan)

2. MENGIKUTI SUNNAH RASULULLAH

Abu Hurairah berkata,"Saya telah mendengar Rasulullah bersabda, Demi Allah, Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah (beristighfar) dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR.Bukhari)

3. MENJADI SEBAIK-BAIK ORANG YANG BERSALAH

Rasulullah bersabda,"Setiap anak Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat."(HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim)

4. BERSIFAT SEBAGAI HAMBA ALLAH YANG SEJATI

Allah berfirman,"Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdo'a: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta'at, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah), dan yang memohon ampun (beristighfar) di waktu sahur." (Ali Imran: 15-17)

5. TERHINDAR DARI STEMPEL (bercap; bertera) KEZHALIMAN

Allah berfirman,"....Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Hujurat: 11)

6. MEMPEROLEH RAHMAT ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA

FirmanNya, “Hendaklah kalian meminta ampun kepada Allah Ta'ala, agar kalian mendapat Rahmat” (An-Naml :46)

Didalam firman-Nya yang lain,

“Maka aku katakan kepada mereka, "Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan dengan lebat, dan akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai." (Nuh:10-12)

7. MENGGEMBIRAKAN ALLAH


Rasulullah bersabda,

"Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan ontanya yang hilang di padang pasir." (HR.Bukhari dan Muslim)

8. MENGECEWAKAN SYAITAN DAN MEMBUAT SYAITAN PUTUS ASA


Sesungguhnya syaitan telah berkata, "Demi kemulian-Mu ya Allah, aku terus-menerus akan menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh mereka ada dalam badan mereka (masih hidup). Maka Allah menimpalinya,"Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan (beristighfar) kepada-Ku" (HR. Ahmad dan al-Hakim)

Ali bin Abi Thalib pernah didatangi oleh seseorang,"Saya telah melakukan dosa. "Bertaubatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi", kata Ali. Orang itu menjawab, Saya telah bertaubat, tapi setelah itu saya berdosa lagi. Ali berkata, "Bertaubatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi." Orang itu bertanya lagi, Sampai kapan? Ali menjawab, Sampai syaitan berputus asa dan merasa rugi." (Kitab Tanbihul Ghafilin: 73)

9. DOSA-DOSANYA DIAMPUNI


Rasulullah bersabda, "Allah telah berkata, Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang menyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengampuni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (beberapa banyak dosanya)." (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi)

Imam Qatadah berkata,"Al Qur'an telah menunjukkan penyakit dan ubat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa, dan ubat kalian adalah istighfar." (Kitab Ihya Ulumiddin: 1/410)

10. MEMBEBASKAN DIRI DARI ADZAB

Istighfar merupakan sarana yang paling pokok untuk membebaskan diri dari adzabnya, sebagaimana firman-Nya,

“Dan tidaklah Allah Ta'ala akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al-Anfal: 33)

11. SELAMAT DARI API NERAKA

Hudzaifah pernah berkata, "Saya adalah orang yang tajam lidah terhadap keluargaku, Wahai Rasulullah, aku takut kalau lidahku itu menyebabkan ku masuk neraka. Rasulullah bersabda, Dimana posisimu terhadap istighfar? Sesungguhnya, aku senantiasa beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari semalam." (HR.Nasa'i, Ibnu Majah, al-Hakim dan dishahihkannya)

12. MENDAPAT BALASAN SYURGA

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." (Ali Imran: 135-136)



13. MENGUSIR KESEDIHAN DAN MELAPANGKAN KESEMPITAN

Rasulullah bersabda,"Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

14. MELANCARKAN REZKI

Rasulullah bersabda,"Sesungguhnya seorang hamba bisa tertahan rezkinya karena dosa yang dilakukannya." (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)

15. BERKEPRIBADIAN SEBAGAI ORANG BIJAK

Seorang ulama berkata,"Tanda orang yang arif (bijak) itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristighfar." (Kitab Tanbihul Ghafilin: 67)

16. MUDAH MENDAPATKAN ANAK

Allah berfirman,"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai." (Nuh: 10-12)

17. MENGUSIR KESEDIHAN DAN MELAPANGKAN KESEMPITAN

Rasulullah bersabda,"Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

18. MEMBERSIHKAN HATI

Rasulullah bersabda, "Apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka tercoretlah noda hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkannya dan beristighfar, maka bersihlah hatinya." (HR. Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Tirmidzi)

19. MUDAH MENDAPATKAN AIR HUJAN

Ibnu Shabih berkata,"Hasan al-Bashri pernah didatangi seseorang dan mengadu bahwa lahannya (ladangnya) tandus, ia berkata, "Perbanyaklah istighfar". Lalu ada orang lain yang mengadu bahwa kebunnya kering, ia berkata, “Perbanyaklah istighfar”. Lalu ada orang lain lagi yang mengadu bahwa ia belum punya anak, ia berkata, Perbanyaklah istighfar.” (Kitab Fathul Bari: 11/98)

20. MENJADI ORANG YANG BERUNTUNG

Allah berfirman,"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An-Nur: 31)

Aisyah berkata, "Beruntunglah, orang-orang yang menemukan istighfar yang banyak pada setiap lembar catatan harian amal mereka." (HR. Bukhari)

21. KEBURUKANNYA DIGANTI DENGAN KEBAIKAN


Allah berfirman,"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Furqan: 70)

"Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (Hud: 114)

22. BERCITRA SEBAGAI ORANG MUKMIN

Rasulullah bersabda,"Tidak seorangpun dari umatku, yang apabila ia berbuat baik dan ia menyadari bahwa yang diperbuat adalah kebaikan, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan. Dan tidaklah ia melakukan suatu yang tercela, dan ia sadar sepenuhnya bahwa perbuatannya itu salah, lalu ia mohon ampun (beristighfar) kepada Allah, dan hatinya yakin bahwa tiada Tuhan yang bisa mengampuni kecuali Allah, maka dia adalah seorang Mukmin." (HR. Ahmad)

Nabi Musa as berdoa:

"Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." [Al A'raaf: 155]


 

Mari lafazkan istighfar setelah selesai shalat serta dalam qalbu kita (dalam aktifitas keseharian kita).
Semoga bermanfaat ,
dan semoga keberkahan , ampunan serta rahmat Allah senantiasa menyertai kita ... aamiin ya Rabb

Jumat, 25 Oktober 2013

:: INDAHNYA KASIHSAYANG ALLAH SAAT MENJENGUK ORANG SAKIT




Pada diri orang sakit terdapat keutamaan dan kemuliaan bagi orang yang menjenguknya berdasarkan kabar berita dari baginda Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang diutus menjadi rahmat bagi semesta alam. Allah telah janjikan pahala yang banyak dan ganjaran yang besar bagi orang yang menjenguk orang sakit. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan:

1. Dari Tsauban Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

"Siapa yang menjenguk orang sakit, ia berada dalam kebun surga sehingga dia kembali." (HR. Muslim dan Ahmad. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' no. 6389) tentang maksud kebun surga di sini adalah buah-buahannya.

2. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

"Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya di pagi hari kecuali ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga pagi, dan baginya satu kebun di surga." (HR. al-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi)

3. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ عَادَ مَرِيضًا نَادَى مُنَادٍ مِنْ السَّمَاءِ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنْ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا

"Siapa yang menjenguk orang sakit, maka ada seorang yang berseru dari langit: kamu adalah orang baik, dan langkahmu juga baik dan engkau berhak menempati satu tempat di surga." (HR. Ibnu Majah, al-Tirmidzi, dan ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Misykah no. 5015. Ibnu Hibbad juga menshahihkannya sebagaimana yang disebutkan Ibnul Hajar dalam Al-Fath)

4. Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ يَخُوضُ فِي الرَّحْمَةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ اغْتَمَسَ فِيهَا

"Siapa yang mejenguk orang sakit, ia terus dalam naungan rahmat sehingga duduk. Maka apabila ia duduk, ia tenggelam ke dalamnya." (HR. Ahmad. Dishahihkan Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 2504)

5. Sesungguhnya menjenguk orang sakit adalah salah satu dari jalan surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Siapa di antara kalian yang berpuasa di pagi ini?"

Abu Bakar menjawab, "Saya."

Beliau bertanya, "Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit hari ini?"

Abu Bakar menjawab, "Saya."

Beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang telah menghadiri jenazah di pagi ini?"
▼
Abu Bakar menjawab, "Saya."

Beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin di pagi ini?

Abu Bakar menjawab, "Saya".

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tidaklah semua ini terkumpul dalam diri seseorang ekcuali pasti ia masuk surga." (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 88)

Subhanallah ..

■ Sesungguhnya kita tidak tahu amal kita mana yang menjadi sebab utama datangnya rahmat bagi diri kita. Berapa banyak rahmat Allah dilimpahkan kepada seseorang karena amal-amal kecil yang dilaziminya. Karena itulah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Janganlah engkau remehkan kebaikan sekecil apapun itu, walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berbinar (menyenangkan)." (HR. Muslim dari Abu Dzar Radhiyallahu 'Anhu)

Semoga tulisan ini menyemangati kita untuk menghidupkan akhlak mulia ini (menjenguk orang sakit) yang banyak diremehkan orang. Berusaha ikhlas dan berharap pahala dari Allah serta apa yang dijanjikan-Nya melalui lisan Nabi-Nya. 》Karena ikhlash adalah syarat diterimanya amal kebaikan seseorang dan menjadi penyempurna dari apa yang dilakukan.




Ayahanda Ibrahim  
(semoga Allah karuniakan kemuliaan dan rahmat)

:: DIANTARA BACAAN SARAT MANFAAT YANG BAIK DIBACA ORANG SAKIT/KETIKA DIUJI SAKIT



Saat diuji sakit...?
Jangan mengeluh atau marah ...
Bukankah ketika sakit , Allah sedang menabungkan banyak pahala dan menggugurkan dosa-dosa.. ,
Tentunya bagi mereka yang mampu bersabar.

Lebih baik perbanyak dzikir dan doa ampunan disertai penghayatan dan kepasrahan :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Laa ilaaha illallohu wallohu akbar, Laa ilaaha illallahu wahdahu, Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lahu, Laa ilaaha illallahu lahul mulku wa lahul hamdu, Laa ilaaha illallaahu wa laa hawla wa laa quwwata illaa billah.

Artinya :

"Tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya kecuali hanya Allah, dan Allah Maha Besar. Tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya kecuali hanya Allah semata. Tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya kecuali hanya Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya kecuali hanya Allah, milik-Nya kerajaaan dan pujian. Tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya kecuali hanya Allah dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah."

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ قَالَهَا فِى مَرَضِهِ ثُمَّ مَاتَ لَمْ تَطْعَمْهُ النَّار.

"Barangsiapa yang mengucapkannya ketika sakit kemudian ia meninggal maka ia tidak akan disentuh api neraka."

(HR. Tirmidzi –rahimaullah- dalam sunannya no. 3758 dengan diringkas dan dinilai Shahih lighairihi oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihut Targhiib wat Tarhiib no. 4381. lihat pula Silsilah Ahaaditsish-Shahihah no. 1390).

Semoga risalah sederhana ini bermanfaat, dan semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat, kesehatan, keberkahan usia dalam ketaatan dan istiqomah bagi kita semua.


 اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْـ

:: ALLAH AKAN MENJAGA ORANG SHALIH BAHKAN SAMPAI KETURUNAN KE 7




Apakah kita merasa bahwa putra putri kita terkadang malas beribadah dan sulit diatur? Jika iya maka jangan buru-buru mencari kambing hitam, bahkan carilah kesalahan itu pada diri sendiri. Apakah kita sudah mendidiknya dengan benar dan memberikannya contoh? Apakah nafkah yang kita berikan untuknya adalah harta yang halal dan terbebas dari syubhat bahkan yang haram?

Ketahuilah bahwa secara keumuman diantara rusaknya agama seorang anak karena rusaknya agama orangtua. Ketahuilah juga bahwa keshalihan orangtua adalah salah satu hal utama yang akan berpengaruh pada keshalihan anak. Begitu pula makanan dan minuman yang halal lagi berkah juga akan berkontribusi pada akhlak dan keshalihan sang anak.

Lihatlah perkataan dari Abul Hasan Isma'il bin Ibrahim rahimahullah, ayahanda dari imam al-Bukhaariy seperti diceritakanoleh Ahmad bin Hafsh:

دَخَلْتُ عَلَى أَبِي الْحَسَنِ إِسْمَاعِيْلَ بْنَ إِبْرَاهِيْمَ عِنْدَ مَوْتِهِ فَقَالَ: لاَ أَعْلَمُ فِي جَمِيْعِ مَالِي دِرْهَماً مِنْ شُبْهَةٍ

"Aku masuk menemui Abul Hasan Isma'il bin Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata, "Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat"

(Taariikh At-Tobari 19/239 dan Tobaqoot Asy-Syaafi'iyyah Al-Kubro 2/213)

Keshalihan orangtua selain berpengaruh terhadap keshalihan anak, para ulama juga menjelaskan bahwa orang-orang yang shalih bahkan akan dijaga anak dan keturanannya sampai keturunan ke tujuh.

Allah tabaaraka wata'alaa berfirman di dalam AlQur'an:

وأما الجدار فكان لغلامين يتيمين في المدينة وكان تحته كنز لهما وكان أبوهما صالحا فأراد ربك أن يبلغا أشدهما ويستخرجا كنزهما رحمة من ربك وما فعلته عن أمري ذلك تأويل ما لم تسطع عليه صبرا

"Wa amma al-jidaaru fa kaana li ghulamaini yatiimaini fii al-madiinati wa kaana tahtahu kanzul lahumaa wa kaana abuu-humaa shoolihan fa arooda robbuka an yablughoo asyudda humaa wa yas takhrijaa kanza humaa rohmatam min robbik"

"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu" (QS Al-Kahfi : 82)

Al-Haafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وقد قيل إنه كان الاب السابع وقيل العاشر. وعلى كل تقدير فيه دلالة على أن الرجل الصالح يحفظ في ذريته

"Dikatakan bahwa ayah (yang tersebutkan dalam ayat di atas) adalah ayah/kakek ketujuh, dan dikatakan kakek yang kesepuluh. Dan apapun pendapatnya (kakek ke 7 atau ke 10) maka ayat ini merupakan dalil bahwasanya seseorang yang sholeh akan dijaga keturunannya" (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 1/348)

Lihatlah bagaimana Allah 'Azza wa Jallaa menjaga sampai keturunan yang ketujuh karena kesholehan seseorang.

Semoga Allah menjadikan diri kita orang-orang yang shalih dan selalu menjaga anak dan keturunan kita, dan menyampaikan kita pada rahmat ridha serta CintaNya.


اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ ...





Wallahu a'lam bishawab

Abu Nida Ummu Nida

Sabtu, 05 Oktober 2013

:: KISAH PARA MALAIKAT PUN MENCINTAI RASULULLAH (KELEBIHAN BERSHALAWAT)



Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda bahwa, "Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail telah berkata kepadaku.

Berkata Jibril :
"Wahai Rasulullah, barang siapa yang membaca selawat ke atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar."

Berkata pula Mikail :
"Mereka yang berselawat ke atas kamu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu."

Berkata pula Israfil :
"Mereka yang berselawat kepadamu , maka aku akan bersujud kepada Allah Subhana wa Ta'ala dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah mengampuni orang itu."

Malaikat Izrail pula berkata :
"Bagi mereka yang berselawat ke atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi-nabi."

Subhanallah ,,
Begitu cintanya para malaikat kepada Rasulullah. Cintakah kita umatnya kepada Rasulullah ? Para malaikat memberikan penghormatan masing-masing untuk orang-orang yang berselawat ke atas Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Namun seluruh karunia tersebut tetaplah kembali atas seijin Allah, yang dikaruniakan kepada hamba-hamba Nya yang beriman yang Dia kehendaki. 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَامُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِا مُحَمَّد

Semoga Allah subhana wa Ta'ala kelak mempertemukan kita dengan Baginda Rasul yang kita cintai ... اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

Wallahu a'lam bishawab

Jumat, 04 Oktober 2013

:: MERASA DIPANGGIL ALLAH UNTUK SHALAT MALAM (CARA MEMOTIVASI DIRI)



Cara agar istiqomah menghidupkan shalat malam salah satunya adalah dengan merasa diri dipanggil Allah dan menghadirkan di hati dan pikiran kita bahwa Rabb Yang Maha Besar sedang memanggil untuk sebuah urusan besar yang harus diselesaikan di malam hari, sebelum urusan yang maha besar harus diselesaikan saat hari pembalasan. Artinya dengan shalat malam, kita memohon ampunan keringanan dosa dan besarnya ampunan untuk memperingan perhitungan di hari kiamat.

Allah memerintahkan Nabi Muhammad Salallahu'alaihiwassalam dan sahabat serta semua umatnya untuk mengerjakan shalat malam. Firman Allah :
Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ

73.1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلاً

73.2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari , kecuali sedikit (daripadanya),

نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً

73.3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً

73.4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan.

Sa'd ibn Hisyam ibn Amir bertanya pada Aisyah r.a tentang shalat malam Nabi. Aisyah menjawab :

"Bukankah kamu sudah membaca "Wahai Orang Berselimut (Muhammad) ?", sesungguhnya Allah mewajibkan shalat malam, maka Nabi dan para sahabat terus menerus mengerjakan shalat malam. Allah menahan kewajiban shalat malam itu selama 12 bulan hingga pada akhir surat Al Muzzamiil ini, Allah menurunkan ayat yang mengisyaratkan keringanan. Sejak saat itu shalat malam menjadi shalat sunnah hukumnya, setelah sebelumnya diwajibkan (HR. Muslim)

Ada 2 faedah dalam sebutan al-Muzzammil ini (yang berselimut):

1. Kelembutan dari Allah kepada hambaNya
2. Peringatan kepada setiap orang berselimut pada malam hari agar bangun untuk shalat malam dan zikir kepada Allah.

Sayyd Quthub berkata : Ini adalah seruan dari langit, dari Rabb Maha Tinggu dan Maha Besar, untuk sebuah urusan besar menantimu. Bangunlah dengan bersusah payah. Bangunlah dengan berusaha keras. Untuk sebuah perkara yang agung.

Al-Isra' (17) No. Ayat : : 79

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً

17.79. Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Sayyd Quthb menafsirkan ayat ini. :
Dengan shalat malam, bacaan Qur'an, tahajud dan pertalian yang abadi dengan Allah , itulah jalan yang akan mendatangkan kedudukan terpuji. Rasulullah diperintahkan untuk shalat tahajjud dan membaca Quran agar sampai kepada kedudukan terpuji yang dipersiapkan oleh Rabb Nya.--padahal beliau adalah Manusia Pilihan. Maka betapa ini lebih perlu manusia-manusia lain pada wasilah-wasilah ini untuk meraih kedudukan mulia dipersiapkan bagi mereka. Itulah bekal perjalanan mulia yang harus dimiliki.

Al-Insan (76) No. Ayat : : 26

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلاً طَوِيلاً

76.26. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.

AL Qasimi menafsirkan bahwa ini maksud Allah memotivasi Nabi untuk mengerjakan shalat malam dan seukuran waktu yang baik adalah tengah malam atau lebih dari tengah malam (1/3 malam terkahir).

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda :

"Pada setiap malam, Allah turun ke langit dunia ketika seperlima malam pertama habis. Lalu Dia berfirman : "AKULAH RAJA ! AKULAH RAJA ! SIAPA SAJA BERDOA KEPADA-KU PASTI AKU KABULKAN.
SIAPA MEMINTA KEPADA-KU PASTI AKU BERIKAN
SIAPA MEMOHON AMPUNAN KEPADA-KU AKU AMPUNI.
ALLAH TERUS BERFIRMAN DEMIKIAN SAMPAI FAJAR TIBA (HR. MUSLIM)

Wahai Saudaraku, apabila malam datang, duduklah kalian dalam hati yang terbelah. Masuklah kalian menjadi orang yang hina dan tak bernilai di hadapanNya. Lapangkan genggaman dan bersedekahlah kepada Allah. Mudah-mudahan tidak ada penyesalan hari ini dan esok hari.

Semoga Allah memberi ampunan, kemampuan, keberkahan dan keridhaan selalu , dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambaNya yang terpuji , berkedudukan dekat dengan Nya


. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

Jumat, 11 November 2011

:: MAKNA IBADAH QURBAN


_______________

Rasulullah SAW begitu menekankan akan pentingnya berqurban , seperti dalam sabdanya :
"Barangsiapa yang memiliki kelapangan keuangan, lalu ia tidak berkurban, maka janganlah ia datang ke tempat shalat kami " (HR Ahmad)

Beberapa hikmah berkurban antara lain :

1. Untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena untuk mau berqurban, seorang muslim harus melakukan mujahadah (berjuang keras) terutama dlm melawan hawa nafsunya. Apabila telah tertanam sifat ini pada diri seseorang, ia akan rela berqurban utk mengharap Ridha NYA

Kemauan utk berkurban terkait dgn ketakwaan seseorang. Dan takwa ini pula yg dinilai Allah dalam berkurban :

"Daging-daing unta & darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya (QS Al Hajj (22) : 37)"

2. Sebagai wujud syukur atas nikmat-nikmat Allah.

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yg banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah ( QS Al Kautsar (108) : 1-2)

3. Membantu sesama Muslim yg kurang mampu, & menanamkan rasa cinta kasih persaudaraan.

4. Kurban yg dilakukan dengan menumpahkan darah hewan adalah simbol agar orang berkurban menanggalkan "sifat-sifat kebinatangan" yang melekat pada dirinya. diantaranya : sifat egois, licik, kejam , suka menindas dan penuh tipu daya, dan hendaknya seorang Muslim agar menanggalkan "penghambaan kepada sesama makhluk".
Aisyah meriwayatkan, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Tidak ada amal yang dilakukan oleh anak Adam pada hari nahr yang lebih dicintai Allah, selain mengalirkan darah (menyembelih haiwan). Dan haiwan yang disembelih itu kelak di hari kiamat akan datang (menemui orang yang korban) lengkap dengan tanduk, kuku dan sepatu kakinya. Dan sesungguhnya darah akan diterima Allah sebelum darah itu jatuh ke tanah. Kerana itu lakukanlah korban itu dengan seikhlas mungkin. (Hadis Riwayat Tirmidzi)
Nabi Daud a.s berkata, "Ya Rabb, sebesar apakah pahala orang-orang yang berqurban bagi umatnya nabi Muhammad SAW?"

Jawab Allah Ta'ala, "Aku memberi pahala kepada mereka, setiap helai bulu dari badannya menjadi 10 kebaikan, dan kuhapus 10 keburukan (jiwanya), serta kunaikkan derajatnya 10 tingkat. Baginya setiap rambut sebuah gedung di surga, seorang putri pelayan dari bidadari yang molek, dan kendaraan yang bersayap berkecepatan tinggi sekali melesat sejauh pandangan mata, itu adalah kendaraan ahli surga, mengangkasa dengan kendaraan itu sesukanya."

Allah Ta'ala melanjutkan penjelasannya, "Perlu kau ketahui hai Daud, bahwa hewan qurban itu menjadi kendaraan, dan sebagai perlindungan dari bahaya di hari Kiamat kelak." (Zahratur Riyadl)  -  Sumber Kitab Duratun Nasihin


Jumat, 28 Oktober 2011

KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH



Segala kepujian dan kesyukuran ditujukan kepada Allah Ta’ala, Salawat dan Salam buat Junjungan Nabi Muhammad ‘Alaihis Solatu was Salam dan buat keluarga dan Sahabat Baginda.

Imam al Bukhari Rahimahullah meriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhia Allah ‘anhuma bahawa Baginda Nabi Salla Allah ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tiada suatu haripun, amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada hari-hari ini – iaitu sepuluh hari Zulhijjah-”. Para Sahabat Baginda bertanya : “Apakah juga (pengecualian itu) termasuk jihad pada jalan Allah ?” .

Ujar Baginda : “Tidak juga (termasuk) berjihad pada jalan Allah kecuali bagi seorang yang keluar dengan jiwa raga dan hartanya dan tidak membawa pulang apa-apa pun”. Imam Ahmad Rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhia Allah ‘anhuma bahawa Baginda Salla Allah ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tiada suatu haripun, amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada hari-hari sepuluh Zulhijjah ini, oleh kerana itu perbanyakkanlah padanya tahlil (La Ilaha Illa Allah) , takbir (Allah Akbar) dan tahmid (Alhamdu Lillah)”. Ibnu Hibban di dam kitab Sahihnya meriwayatkan dari Jabir Radhia Allah ‘anhu bahawa Baginda Salla Allah ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seutama-utama hari adalah hari ‘Arafah”.



JENIS AMALAN YANG DIANJURKAN PADANYA.

Pertama : Menunaikan ibadah haji dan ‘umrah yang merupakan sebaik-baik amalan. Banyak hadith yang menyatakan kelebihan ibadah ini di antaranya :
Sabda Nabi Salla Allah ‘alaihi wa sallam :

“Satu ‘umrah ke ‘umrah yang lain menghapuskan (dosa) yang dilakukan di antara keduanya dan haji yang baik (diterima) tiada baginya balasan melainkan Syurga”.

Kedua : Berpuasa pada hari-hari tersebut atau sekadar kemampuannya – terutamanya pada hari ‘Arafah - . Tidak dinafikan bahawa puasa adalah di antara amalan yang terbaik dan ianya adalah pilihan Allah Ta’ala sendiri sebagaimana yang dinyatakan di dalam sebuah hadith qudsi :
“Puasa itu adalah bagiKu dan Akulah yang membalasinya, dia meninggalkan keinginan nafsunya, makanan dan minumannya semata-mata keranaKu”.

Dari Abu Sa’id al Khudri Radhia Allah ‘anhu berkata : ‘Rasulullah Salla Allah ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tiada seorangpun yang berpuasa pada satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkan dengan puasanya itu mukanya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun” (muttafaq ‘alaih).

Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari Abi Qatadah Radhia Allah ‘anhu bahawa Rasulullah Salla Allah ‘alaihi wa sallam bersabda : “Puasa pada hari ‘Arafah, saya mengharap Allah akan menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang mendatang”.

Ketiga : Takbir (Allahu Akbar) dan berzikir padanya, firman Allah Ta’ala yang bermaksud :
“(Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang termaklum)”, hari-hari tersebut dijelaskan sebagai sepuluh hari di bulan Zulhijjah.

Oleh kerana itulah para ‘Ulama menyarankan supaya diperbanyakkan berzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana mafhum hadith Ibnu ‘Umar Radhia Allah ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad Rahimahullah, di antaranya : “Oleh kerana itu perbanyakkanlah padanya tahlil (La Ilaha Illa Allah) , takbir (Allah Akbar) dan tahmid (Alhamdu Lillah)”.

Imam Al Bukhari Rahimahullah meriwayatkan bahawa Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah Radhia Allah ‘anhum kedua mereka pada hari-hari tersebut selalu keluar ke pasar bertakbir dan diikuti oleh orang ramai. Imam Ishaq Rahimahullah meriwayatkan bahawa para Fuqaha’ (ahli feqah) di kalangan Tabi’in (generasi selepas Sahabat Nabi) sentiasa membaca pada hari-hari itu “[Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illa Allah, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa LillahI Hamdu]”.

Adalah amat digalakkan supaya suara ditinggikan ketika bertakbir di pasar, rumah, jalan, masjid dan selainnya berdasarkan firman Allah Ta’ala yang bermaksud : “( Dan supaya kamu membesarkan (bertakbir) Allah di atas ni’matNya menghidayat kamu)”. Dibolehkan juga pada hari-hari tersebut berzikir dengan apa-apa zikir yang lain dan segala do’a yang baik.

Keempat : Bertaubat dan meninggalkan segala ma’siat dan dosa, semoga dengan amalan baik dapat mencapai keampunan dan rahmat Allah. Ini kerana ma’siat adalah punca kepada jauh dan terhindarnya seorang hamba dari rahmat Allah manakala ketaatan pula adalah punca dekat dan kasihnya Allah kepadanya.
Di dalam sebuah hadith yang diriwatkan oleh Abu Harairah Radhia Allah ‘anhu, Baginda Nabi Salla Allah ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah mencemburui (tidak suka) apabila seseorang hambaNya melakukan perkara yang ditegahNya” (muttafaq ‘alaihi).

Kelima : Memperbanyakkan amalan soleh (baik) terutama amalan-amalan sunat tambahan seperti solat sunat, bersedekah, berjihad, mebaca al Quran, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan seumpamanya kerana kesemuanya akan digandakan pada hari-hari tersebut.

Amalan yang dikerjakan ketika itu walaupun ia kecil tetapi ianya lebih disukai oleh Allah Ta’ala jika dibandingkan pada hari-hari lain, begitu juga amalan yang besar seperti berjihad di jalan Allah yang dikatogerikan di antara amalan yang terbaik, tidaklah mendapat kehebatan pahala pada hari-hari itu melainkan apabila kuda (kenderaan) yang ditungganginya terbunuh (binasa) dan darahnya keluar (dia cedera atau mati syahid).

Keenam : Disyari’atkan bertakbir pada beberapa hari yang mulia itu pada waktu siang atau malam terutama selepas menunaikan fardu solat lima waktu yang dikerjakan secara berjamaah. Bagi mereka yang tidak menunaikan ‘ibadah haji, takbir bermula dari waktu subuh hari ‘Arafah (9 Zulhijjah) dan bagi yang menunaikannya takbir bermula pada waktu hari raya haji (10 Zulhijjah), kesemuanya berakhir sehingga waktu ‘Asar pada hari ketiga belas (13) Zulhijjah.

Ketujuh : Disyari’atkan amalan korban (menyembelih hewan ternakan) pada hari raya haji dan hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Zulhijjah). Ia merupakan sunnah (amalan) Nabi Allah Ibrahim ‘Alaihis Solatu was Salam setelah Allah Ta’ala mengujinya dengan perintah menyembelih anaknya Ismail ‘Alaihis Solatu was Salam tetapi ditebus ujian itu dengan digantikan seekor hewan untuk disembelih.

Kedelapan : Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari Ummu Salamah Radhia Allah ‘anha bahawa Nabi Salla Allah ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila kamu telah melihat anak bulan Zulhijjah dan ada di kalangan kamu yang ingin berkorban (sembelih hewan ternakan), hendaklah dia menahan dirinya dari (memotong) rambut dan kukunya”, dan di dalam riwayat lain : “Maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya sehinggalah dia berkorban”.

Perintah (sunat) ini berkemungkinan ada persamaan dengan hukum bagi mereka yang membawa haiwan ternakan (ketika mengerjakan haji) dari kampung mereka yang telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala, maksudnya :

“(Dan janganlah kamu mencukur rambut kamu sehinggalah hewan ternakan (yang dibawa untuk dihadiahkan dagingnya kepada penduduk Makkah) itu sampai ke tempatnya)”. Larangan (memotong rambut dan kuku) ini pada zahirnya adalah khusus kepada pemunya haiwan korban tersebut sahaja dan tidak termasuk isteri dan anak-anaknya melainkan mereka juga mempunyai haiwan seumpamanya, dan tidak mengapa jika yang berkenaan membasuh dan menggosok kepalanya kemudian terjatuh beberapa helai rambutnya.

Kesembilan : Setiap muslim hendaklah berusaha untuk menunaikan solat hari raya secara berjamaah, menunggu mendengar khutbah yang dibaca oleh imam selepas selepas solat tersebut supaya mendapat pengajaran daripadanya. Sepatutnyalah dia mengetahui hikmat di sebalik perayaan ini ; ia merupakan hari menyatakan kesyukuran dengan melakukan kebaikan, janganlah pula dilakukan padanya perkara yang mendatangkan kemurkaan Allah dengan mengerjakan ma’siat, kesombongan, pertengkaran, bermasam muka dan sebagainya yang boleh menjadi sebab kepada terhapusnya amalan-amalan kebaikan yang telah dikerjakannya sebelum itu.

Kesepuluh : Penuhilah hari-hari berkenaan dengan ketaatan kepada Allah, berzikir, bersyukur, menunaikan perintahNya, menjauhi laranganNya, mendekatkan diri kepadaNya semoga mendapat rahmat dan keampunanNya.

 
 

Jumat, 08 Juli 2011

HARTA YANG ENGKAU DERMAKAN , ITULAH KEKAYAAN SEJATIMU

Sahabat ...

Andaikata saja setiap orang tahu tentang kebaikan apa yg ada di dalam berderma, niscaya mereka akan beramai-ramai melakukan derma.


Andai saja setiap orang sadar bahwa berderma adalah kunci pembuka pintu keberkahan, niscaya mereka akan saling berlomba untuk berderma.



Andai saja setiap orang tahu bahwa berderma dapat melepaskan kesulitan dan kesempitan, niscaya mereka tidak akan berat hati untuk berderma



Andai saja setiap orang tahu bahwa berderma adalah sarana pensucian diri dari harta yg dimiliki, niscaya derma akan menjadi kebutuhan diri,



Andai saja mereka tahu bahwa harta benda yg mereka dermakan itulah "KEKAYAAN SEJATI & ABADI", niscaya mereka akan mendermakan sebanyak2nya harta yg dimiliki.



Ya, sebanyak apa harta yang di dermakan, sesungguhnya itulah kekayaan yg sebenarnya. Jika engkau banyak melakukan derma, engkaulah orang kaya yang sesungguhnya. Sebaliknya , jika engkau sedikit berderma, niscaya engkau adalah orang yang paling miskin dan papa, meskipun di dunia engkau bergelimang harta



Mengapa ? Karena segala sesuatu yg engkau miliki akan engkau tinggalkan saat kematian menghampiri dan menjadi tidak berguna saat kematian tiba. Harta yg engkau dermakan itulah yang akan menjadi teman setia menemanimu, bukan harta kekayaan yang engkau tinggalkan untuk anak cucumu di dunia.


Namun sayang, tidak semua orang menyadari dan begitu mencintai harta bendanya seolah-olah harta itu akan dimiliki selamanya. Mereka begitu sulit untuk berderma. Mereka lupa bahwa harta benda hanyalah satu bentuk ujian yg diberikan Allah untuk menguji seberapa besar keimanan dan ketakwaan seseorang kepada NYA, dimana manfaat serta kebaikan dari dermanya akan kembali kepada diri sendiri..



"Apakah kemudharatan bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka ? Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka (QS An Nisa : 39)



Manusia sering berpendapat bahwa harta yg diperoleh saat ini adalah semata-mata hasil dari kerja kerasnya dalam bekerja. Namun yang acapkali diabaikan adalah Sang Penguasa alam semesta yg mengizinkan nya meraih semua itu .



Bukankah sebaik-baik manusia adalah yg paling bermanfaat bagi sesama ...

Alangkah indahnya bila keshalehan seseorang menjelma menjadi keshalehan sosial yang bermanfaat bagi sesamanya.






Barakallahufikum ,
Semoga bermanfaat sahabat ...
@ Seri perkaya hati - Saiful Hadi El Sutha

Sabtu, 05 Maret 2011

MASA MUDA CERMINAN MASA TUA


SEGALA puji bagi ﷲ , Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.



Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas -رضي الله عنه -,

“Jagalah ﷲ , niscaya ﷲ akan menjagamu.” [1]

Yang dimaksud menjaga ﷲ di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan ﷲ . Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah ﷲ, menjauhi larangan-NYA, dan tidak melampaui batas dari batasan-NYA (berupa perintah maupun larangan ﷲ ). Orang yang melakukan seperti ini, merekalah yang menjaga diri dari batasan-batasan ﷲ sebagaimana yang ﷲ puji dalam kitab-NYA,

“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada ﷲ ) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-NYA), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Qaaf: 32-33)

Yang dimaksud dengan menjaga di sini adalah menjaga setiap perintah ﷲ dan menjaga diri dari berbagai dosa serta bertaubat darinya. [2]


Di antara bentuk penjagaan hak ﷲ sebagai berikut:


Yang utama untuk dijaga adalah shalat lima waktu yang wajib sebagaimana yang ﷲ firmankan (artinya),

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar)[3]. Berdirilah untuk ﷲ (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al Baqarah: 238)


Yang dimaksud shalat wustho di sini adalah shalat Ashar menurut kebanyakan ulama. Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم memperingatkan keras orang yang meninggalkan shalat Ashar sebagaimana dalam sabdanya (artinya),

“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka hapuslah amalannya.” [4]

ﷲ Ta’ala pun memuji orang-orang yang menjaga shalatnya dalam ayat lainnya (artinya),

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (Al Ma’arij: 34)

Begitu pula termasuk dalam hal ini adalah dengan menjaga thoharoh (taharah/bersuci) karena thoharoh adalah pembuka shalat. Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda (artinya),

“Tidak ada yang selalu menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.”[5]


Begitu pula kita diperintahkan untuk menjaga kepala dan perut. Sebagaimana Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda (artinya),

“Sifat malu pada ﷲ yang sebenarnya adalah engkau menjaga kepalamu dan setiap yang ada di sekitarnya, begitu pula engkau menjaga perutmu serta apa yang ada di dalamnya.” [6]

Yang dimaksud menjaga kepala dan setiap apa yang ada di sekitarnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga pendengaran, penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman. Sedangkan yang dimaksud menjaga perut dan segala apa yang ada di dalamnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga hati dari terjerumus dalam yang haram.[7] ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Dan ketahuilah bahwasanya ﷲ mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-NYA.” (Al Baqarah: 235)

ﷲ Ta’ala juga berfirman (artinya),

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Isro’: 36)



Dari Abu Hurairah, Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda (artinya),

“Barangsiapa yang menjamin padaku apa yang ada di antara dua janggutnya (yaitu bibirnya) dan antara dua kakinya (yaitu kemaluan), maka ia akan masuk surga.”[8]


ﷲ memuji orang-orang yang menjaga kemaluan dalam beberapa ayat. ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya ﷲ Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat“.” (An Nur: 30)

“Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) ﷲ , ﷲ telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab: 35)

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (Al Mu’minun: 5-6) [9]

Yang lebih penting dari hal di atas dan merupakan hak ﷲ yang paling utama untuk dijaga adalah mentauhidkan ﷲ dan tidak menyekutukan ﷲ dengan selain-NYA (baca: berbuat syirik). Karena syirik adalah kezholiman yang teramat besar. Luqman pernah berkata pada anaknya,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ



“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezholiman yang paling besar.” (Luqman: 13)

Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم ketika membonceng Mu’adz dengan keledai -yang bernama ‘Ufair-, beliau bersabda (artinya),

“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak ﷲ yang wajib ditunaikan oleh hamba-NYA dan apa hak hamba yang berhak ia dapat dari ﷲ ?” Mu’adz mengatakan, ”ﷲ dan Rasul-NYA yang lebih tahu.” Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم pun menjawab, “Hak ﷲ yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba adalah mereka harus menyembah ﷲ dan tidak boleh berbuat syirik pada-NYA dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak hamba yang berhak ia dapat adalah Allahh tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik kepada-NYA dengan sesuatu apa pun.” [10]

Inilah hak ﷲ yang mesti dan wajib ditunaikan oleh setiap hamba sebelum hak-hak lainnya.



Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan penjagaan dari ﷲ Ta’ala.

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ



“Jagalah ﷲ , niscaya ﷲ akan menjagamu.”

Inilah yang dimaksud al jaza’ min jinsil ‘amal, yaitu balasan sesuai dengan amal perbuatan. Sebagaimana ﷲ mengatakan dalam ayat-ayat lainnya.

وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ



“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (Al Baqarah: 40)



فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ



“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (Al Baqarah: 152)



إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ



“Jika kamu menolong (agama) ﷲ , niscaya Dia akan menolongmu.” (Muhammad: 7)



Jika seseorang menjaga hak-hak ﷲ sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka ﷲ pun akan selalu menjaganya. Bentuk penjagaan ﷲ ada dua macam, yaitu:

* ﷲ akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.

* Penjagaan yang lebih dari penjagaan yang diatas, yaitu ﷲ akan menjaga agama dan keimanannya.


Di antara bentuk penjagaan ﷲ adalah ia akan selalu mendapatkan penjagaan dari malaikat ﷲ. Sebagaimana ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah ﷲ .” (Ar Ro’du: 11)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan (artinya),

“Setiap hamba memiliki malaikat yang selalu menemaninya. Malaikat tersebut akan menjaganya siang dan malam. Mereka akan menjaganya danri berbagai kejelekan dan kejadian-kejadian.” [11]

Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه mengatakan (artinya),

“Mereka adalah para malaikat yang akan selalu menjaganya atas perintah ﷲ . Jika datang ajal barulah malaikat-malaikat tadi meninggalkannya.”

Inilah salah bentuk penjagaan ﷲ melalui para malaikat bagi orang yang selalu menjaga hak-hak ﷲ.


Begitu pula ﷲ akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak ﷲ di waktu mudanya. ﷲ akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan dan kecerdasannya. Inilah maksud yang kami singgung dalam judul artikel ini.


Sebagaimana kami pernah membaca dalam salah satu buku fiqh madzhab Syafi’i, matan Abi Syuja’. Dalam buku tersebut diceritakan mengenai penulis matan yaitu Al Qodhi Abu Syuja’ (Ahmad bin Al Husain bin Ahmad Asy Syafi’i rahimahullah Ta’ala). Perlu diketahui bahwa beliau adalah di antara ulama yang meninggal dunia di usia sangat tua. Umur beliau ketika meninggal dunia adalah 160 tahun (433-596 Hijriyah). Beliau terkenal sangat dermawan dan zuhud. Beliau sudah diberi jabatan sebagai qodhi pada usia belia yaitu 14 tahun. Keadaan beliau di usia senja (di atas 100 tahun), masih dalam keadaan sehat wal afiat. Begitu pula ketika usia senja semacam itu, beliau masih diberikan kecerdasan. Tahukah Anda apa rahasianya? Beliau tidakk punya tips khusus untuk rutin olahraga atau yang lainnya. Namun perhatikan apa tips beliau,

“Aku selalu menjaga anggota badanku ini dari bermaksiat pada ﷲ di waktu mudaku, maka ﷲ pun menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”

Cobalah lihat, beliau bukanlah memberikan kita tips untuk banyak olahraga. Namun apa tips beliau? Yaitu taat pada ﷲ dan menjauhi segala maksiat di waktu muda. [12]


Ibnu Rajab rahimahullah juga pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Coba bayangkan bagaimana dengan keadaan orang-orang saat ini yang berusia seperti itu? Diceritakan bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh. Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan (artinya),

“Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, ﷲ menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”

Namun ada orang yang sebaliknya, sudah berusia senja, jompo (Eng: old, infirm) dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun mengatakan tentang orang tersebut, jompo “Inilah orang yang selalu melalaikan hak ﷲ di waktu mudanya, maka ﷲ pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.” [13]

Begitu pula ﷲ akan menjaga keturunan orang-orang sholih dan selalu taat pada ﷲ . Di antaranya kita dapat melihat pada kisah dua anak yatim yang mendapat penjagaan ﷲ karena ayahnya adalah orang yang sholih. ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (Al Kahfi: 82)

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan,

“Barangsiapa seorang mukmin itu mati (artinya: ia selalu menjaga hak ﷲ , pen), maka ﷲ akan senantiasa menjaga keturunan-keturunannya.”

Sa’id bin Al Musayyib mengatakan pada anaknya (artinya),

“Wahai anakku, aku selalu memperbanyak shalatku dengan tujuan supaya ﷲ selalu menjagamu.”[14]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,

“Barangsiapa menjaga (hak-hak) ﷲ , maka ﷲ akan menjaganya dari berbagai gangguan.”

Sebagian salaf mengatakan (artinya), “Barangsiapa bertakwa pada ﷲ , maka ﷲ akan menjaga dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada ﷲ , maka ﷲ tidak ambil peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. ﷲ sama sekali tidak butuh padanya.”

Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan,

“Jika aku bermaksiat pada ﷲ , maka pasti aku akan menemui tingkah laku yang aneh pada budakku bahkan juga pada hewan tungganganku.” [15]


Penjagaan yang lebih dari penjagaan yang semua sebelumnya, yaitu ﷲ akan menjaga agama dan keimanannya. ﷲ akan menjaga dirinya dari pemikiran rancu (Eng: confused)yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan. Inilah penjagaan yang lebih luar biasa dari penjagaan pertama tadi.

Hal ini dapat kita lihat sebagaimana dalam do’a sebelum tidur yang Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم (artinya),

“Dengan menyebut nama-Mu, aku meletakkan lambungku, dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya. Jika engkau ingin menarik jiwaku, maka ampunilah ia. Jika engkau ingin membiarkannya, maka jagalah ia sebagaimana engkau menjaga hamba-hambaMu yang sholih” [16]

Dalam do’a ini terlihat bahwa ﷲ akan senantiasa menjaga orang-orang yang sholih.[17]

Demikian pembahasan yang singkat dari hadits di atas. Semoga hadits ini bisa selalu menjadi pengingat dalam setiap langkah kita. Jagalah hak ﷲ , niscaya ﷲ akan menjagamu.


Segala puji bagi ﷲ yang dengan nikmat-NYA segala kebaikan menjadi sempurna.





Muhammad Abduh Tuasikal

Minggu, 19 Desember 2010

MENCARI KHUSYU' DALAM SHOLAT

(45) Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,

(46) (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
(Al Baqarah, 2: 45-46)



ESENSI SHOLAT ADALAH DOA, BERDIALOG DENGAN ALLAH SECARA LANGSUNG

Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.


SOLAT, TITIK AWAL MENUJU KEBAIKAN
Solat tak sekadar hubungan pribadi antara manusia dan Allah. Solat mengandung dimensi yang sangat luas. Solat yang khusyuk tak hanya mendekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi juga dapat menjadi daya dorong untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang tertib, saling menolong, senang bekerja keras, dan saling mengingatkan di dalam kebaikan.


SEDIKIT PEMIKIRAN TENTANG KHUSYU’
Khusyu’ dalam solat adalah impian setiap Muslim. Keadaan semacam ini telah banyak diceritakan dalam kisah-kisah inspiratif dari masa lampau yang mengundang decak kagum. Sebutlah misalnya tentang seorang sahabat Rasulullah  yang tubuhnya tertembus panah, kemudian ia minta agar panah tersebut dicabut ketika ia sedang solat saja. Ketika anak panah itu dicabut, ia seolah tidak merasakan sakit sama sekali lantaran khusyu’ dalam solatnya.


GERANGAN KONDISI SEMACAM APAKAH KHUSYU’ ITU SEBENARNYA?
Apakah khusyu’ itu berarti tidak memikirkan apa pun selain solat? Apakah kita seharusnya tidak mempedulikan hal-hal duniawi ketika solat?


Anggapan bahwa orang yang solat dengan khusyu’ hanya memfokuskan pikirannya pada satu kegiatan (yaitu solat) agaknya malah terbantahkan dengan berbagai teladan yang dilakukan sendiri oleh Rasulullah Beliau bahkan pernah melakukan solat sambil mengasuh anaknya (cucunya). Ketika berdiri, anak itu digendongnya, dan ketika ruku’ atau sujud, anak itu pun diturunkannya. Tentu saja hal ini menunjukkan bahwa beliau telah membagi pikirannya ketika solat. Di lain pihak, kita tidak mungkin menuduh Rasulullah  telah melaksanakan solat dengan tidak khusyu’. Kalau beliau saja tidak khusyu’, lalu siapa yang bisa melakukannya?



Di lain kesempatan, Rasulullah  juga pernah mempersingkat solat berjamaah yang dipimpinnya karena mendengar tangisan seorang anak. Beliau mempersingkat solat karena sadar bahwa sang ibu pastilah merasa khawatir karena mendengar tangisan anaknya. Artinya, beliau sempat berpikir dan membuat keputusan penting ketika sedang melakukan solat. Sekali lagi, Rasulullah   adalah contoh terbaik dalam hal solat khusyu’. Hal ini tidak bisa dibantah oleh siapa pun.





JADI, BAGAIMANAKAH KHUSYU’ ITU SEBENARNYA?

Memusatkan pikiran kepada satu hal dalam solat agaknya tidaklah dimungkinkan. Solat itu sendiri terdiri dari berbagai gerakan dan bacaan. Kita harus mengendalikan ucapan kita, membaca doa-doa dan ayat-ayat Al-Qur’an menurut aturan tertentu, dan hal itu pasti menuntut pembagian konsentrasi. Demikian pula pengaturan gerakan pastilah memerlukan kesadaran yang cukup. Jika kita melepaskan kesadaran dalam segala hal, maka barangkali solat kita akan tampak seperti tari-tarian orang yang menelan ekstasi atau orang yang sedang kesurupan. Tapi solat tidak seperti demikian. Solat adalah rangkaian perbuatan yang dilakukan secara teratur dengan penuh kesadaran.



“Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan solat. Dan sesungguhnya solat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menjumpai Rabb mereka dan sesungguhnya mereka akan kembali kepada-Nya.” (Al-Baqarah [2] : 45 - 46)



Allah  sendiri mengatakan bahwa solat itu berat (yang artinya memang seharusnya kita merasa bahwa solat itu adalah suatu ibadah yang cukup kompleks). Pada ayat ke-45 di atas, Allah menegaskan bahwa hanya orang-orang yang khusyu’ sajalah yang bisa mendapatkan manfaat terbesar dalam solat. Ayat selanjutnya memberi kita informasi yang kita butuhkan untuk memahami makna khusyu’ yang sebenarnya.





MEREKA YANG KHUSYU’ DITANDAI OLEH SEBUAH SIFAT

Cukup sederhana, ternyata. Mereka yang khusyu’ ditandai oleh sebuah sifat: yakin bahwa dirinya akan menjumpai Allah (dalam solat) dan suatu hari nanti akan kembali kepada-Nya. Sederhana, tapi bukan perkara yang mudah.



Hal ini kemudian membawa kita pada berbagai konsekuensi. Barangkali perlu dibuat berjilid-jilid buku untuk menjabarkan keseluruhan konsekuensi dari khusyu’ tersebut. Yang jelas, mereka yang khusyu’ ditandai oleh sikap khidmatnya yang luar biasa ketika sedang melaksanakan solat, karena mereka yakin bahwa mereka tengah ‘berjumpa’ dengan Rabb-nya, yaitu Dzat yang memiliki dirinya dan menjadi satu-satunya tempat kembali untuknya kelak. Tentu saja masih banyak sikap lainnya yang akan muncul di luar solat sebagai konsekuensi dari keyakinan ini, namun itu masalah lain lagi.





KETIKA SOLAT KITA SEDANG MENGHADAP ALLAH

Sekarang kita telah memiliki sedikit gambaran mengenai sikap khusyu’ dalam solat. Konkretnya, kita harus meyakini bahwa ketika solat kita sedang menghadap Allah , bukan yang lain. Dengan demikian, kita harus mengatur setiap ucapan dan gerakan kita.



Sebagai perbandingan, anggaplah anda sedang berbincang-bincang dengan seorang ulama yang paling Anda hormati. Bagaimanakah sikap Anda? Tentu Anda akan mengatur ucapan anda, khawatir kalau-kalau Anda akan memberikan kesan buruk di hadapannya. Setiap kata yang mengalir dari mulut akan dipilih baik-baik dan diusahakan terucap dengan sejelas mungkin. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak terlalu lambat.





BAGAIMANA DENGAN BAHASA TUBUH ANDA?

Tentu saja anda tidak akan bergerak serampangan. Anda tidak akan mengobrol dengannya sekedar basa-basi. Anda tentu akan berbincang-bincang dengan sangat serius dan tidak membuat gerakan yang tidak perlu. Anda tidak akan menggaruk-garuk ketiak di hadapan seseorang yang amat dihormati, bukan?



Sekarang refleksikanlah sikap tersebut dengan solat Anda! Tentu saja Allah  jauh lebih mulia daripada ulama mana pun, bahkan Dia-lah Yang Maha Mulia, tidak ada bandingannya dengan apa pun. Jika kita mengatur ucapan dan gerak-gerik kita di hadapan seorang ulama, lebih-lebih lagi di hadapan Allah!





KEHADIRAN ALLAH BISA DIRASAKAN DI SELURUH RUANGAN

Kita berdiri tegak untuk solat dengan postur yang sempurna layaknya prajurit yang akan melaksanakan upacara bendera. Kita bersiap untuk melakukan sesuatu yang amat formal. Ketika akan bertemu Allah , tentu saja kita dituntut untuk mengatur sikap. Kita menundukkan wajah kita, menatap ke arah sujud karena rasa takut dan khidmat kepada Allah. Kehadiran-Nya bisa dirasakan di seluruh ruangan, bahkan seluruh alam berkhidmat kepada-Nya.



Kemudian mulailah kita mengangkat tangan untuk takbiratul ihram. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu dilambat-lambatkan. Gunakanlah waktu secukupnya untuk tetap merasakan kehadiran-Nya. Setelah itu, mulailah membaca surah Al-Fatihah dan seterusnya dengan tertib. Tidak boleh ada kata yang salah terucap, huruf yang tidak jelas makhraj-nya, kalimat yang tidak jelas maknanya, bacaan yang kita tidak mengerti maksudnya, dan penuturannya pun harus terlantun dengan indah bagaikan lagu. Kita tengah berhadapan dengan Allah.



Setelah selesai membaca Al-Fatihah dan beberapa ayat tambahan, maka kita mulai melakukan ruku’.

Gerakan ini tidak dimulai jika bacaan kita belum selesai. Sebaliknya, bacaan ruku’ pun tidak dilakukan sebelum kita benar-benar sampai pada posisi akhir ruku’ tersebut. Segalanya harus tertib dan formal. Di hadapan kita ada Allah Yang Maha Melihat.




TIDAK SALING MENGEJAR DAN MEMBURU
Selanjutnya, setiap gerakan dan bacaan harus dilakukan dengan tertib, tidak saling mengejar dan memburu. Selesaikan sebuah gerakan, baru membaca doa. Selesaikan doa, baru melakukan gerakan berikutnya. Tidak boleh ada overlap dalam sebuah ibadah formal. Ini tidak main-main.

Demikian seterusnya hingga akhirnya kita mengucapkan salam sebagai tanda selesainya ibadah solat. Setiap rukun solat harus ditunaikan sebaik mungkin, serapi mungkin, dan tertib.


IA TAHU PERSIS BAHWA SOLAT ADALAH IBADAH YANG BUKAN MAIN-MAIN

Barangkali sahabat yang tertusuk anak panah tadi juga merasa sakit ketika anak panah itu dicabut dari tubuhnya ketika solat. Hanya saja, ia begitu merasa takut di hadapan Allah dan berusaha sedemikian kerasnya untuk bersikap tertib ketika solat. Ia tidak berani untuk sekedar mengaduh atau meringis kesakitan. Ia tahu persis bahwa solat adalah ibadah yang bukan main-main. Ini ibadah serius.

Solat khusyu’ merupakan dambaan setiap kita, bahkan berbagai macam cara yang dilakukan seseorang untuk menggapai Solat khusyu’, diantara mereka ada yang mematikan lampu ketika Solat, ada yang memejamkan matanya, ada yang mengosongkan semua fikirannya, ada yang merasakan terbangnya rohnya ketika Solat, bahkan untuk menggapai kekhusyukan mereka membuat pelatihan-pelatihan Solat khusyu’.

Tentunya semua hal ini menimbulkan suatu pertanyaan, apakah memang seperti itu Solat khusyu’? Apakah cara-cara seperti tersebut sudah sesuai menurut tuntunan Rasulullah  ?

Insya Allah melalui beberapa edisi buletin ini kita akan kupas kenapa pentingnya Solat khusyu’? Apa definisi khusyu’ ? Apa hukumnya dan apa kiat-kiat untuk menggapainya?


PENTINGNYA KHUSYU’ DALAM SOLAT

Khusyu’ merupakan perkara agung, cepat sirnanya dan jarang keberadaanya ditemukan, khususnya di akhir zaman ini yang penuh dengan berbagai macam fitnah dan godaan, baik godaan dari manusia maupun godaan dari syetan yang berupaya memalingkan manusia dari kekhusyukan.

Jauhnya manusia dari kekhusyukan dalam melaksanakan Solat, hal ini adalah benar adanya, bahkan seorang sahabat besar yang bernama Huzaifah ibnu Yaman radhiyallahu ‘anhu telah menggambarkan: “Yang pertama kali yang akan hilang dari agamamu adalah khusyuk’, dan hal yang terakhir yang akan hilang dari agamamu adalah Solat. Betapa banyak orang Solat tetapi tiada kebaikan padanya, hampir saja engkau memasuki masjid, sementara tidak ditemukan diantara mereka orang yang khusyuk.” (Madarijussalikin, Imam Ibnul Qayyim 1/521)

Bila kita tanyakan dan kita pantau Solat yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, maka jawabannya adalah mereka jauh dari kekhusyukan. Fikiran mereka menerawang entah kemana, hati mereka lalai, bahkan was-was dari syetanpun muncul tatkala mereka melaksanakan Solat. Oleh karena itu pembahasan seputar tentang Solat khusyuk ini merupakan pembahasan yang sangat penting sekali, dan dibutuhkan oleh kaum muslimin yang ingin meningkatkan kualitas ibadah Solatnya. Dimana hal ini akan membawa mereka kepada kebahagian dan kemenangan, sebagaimana yang telah disebutkan Allah SWT di dalam al-Qurân:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyu’ dalam Solatnya.” (Al-Mu’minuun: 1-2)



MAKNA KHUSYU’

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan bahwa Khusyu’ adalah: “Ketenangan, tuma’ninah, pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu’, serta merasa takut dan selalu merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa Khusyu’ adalah: “Menghadapnya hati di hadapan Robb ‘Azza wa Jalla dengan sikap tunduk dan rendah diri.” (Madarijusslikin 1/520 )

Definisi lain dari khusyu’ dalam Solat adalah: “Hadirnya hati di hadapan Allah , sambil mengkonsertasikan hati agar dekat kepada Allah  dengan demikian akan membuat hati tenang, tenangnya gerakan-gerakannya, beradab di hadapan Robbnya, konsentrasi terhadap apa yang dia katakan dan yang dilakukan dalam Solat dari awal sampai akhir, jauh dari was-was syaithan dan pemikiran yang jelek, dan ia merupakan ruh Solat. Solat yang tidak ada kekhusyukan adalah Solat yang tidak ada ruhnya.” (Tafsir Taisir Karimirrahman, oleh Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di)


TEMPAT LETAKNYA KHUSYU’
Tempat khusyu’ adalah di hati, sedangkan buahnya akan tampak pada anggota badan. Anggota badan hanya akan mengikuti hati, jika kekhusyukan rusak akibat kelalaian dan kelengahan, serta was-was, maka rusaklah ‘ubudiyah anggota badan yang lain. Sebab hati adalah ibarat raja, sedangkan anggota badan yang lainnya sebagai pasukan dan bala tentaranya. Kepadanya-lah mereka ta’at dan darinya-lah sumber segala perintah, jika sang raja dipecat dengan bentuk hilangnya penghambaan hati, maka hilanglah rakyat yaitu anggota-anggota badan.

Dengan demikian, menampakkan kekhusyukkan dengan anggota badan, atau melalui gerakan-gerakan, supaya orang menyangka bahwa si fulan khusyu’, maka hal itu adalah sikap yang tercela, sebab diantara tanda-tanda keikhlasan adalah menyembunyikan kekhusyukan.

Suatu ketika Huzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jauhilah oleh kalian kekhusyukan munafik, lalu ditanyakan kepadanya: Apa yang dimaksud kekhusyukan munafik? Ia menjawab: “Engkau melihat jasadnya khusyu’ sementara hatinya tidak”.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah membagi khusyu’ kepada dua macam, yaitu khusyu’ nifaq dan khusyuk iman.

Khusyu’ nifaq adalah: “Khusyu’ yang tampak pada permukaan anggota badan saja dalam sifatnya, yang dipaksakan dan dibuat-buat, sementara hatinya tidak khusyuk.”

Khusyuk iman adalah: “Khusyuknya hati kepada Allah  dengan sikap mengagungkan, memuliakan, sikap tenang, takut dan malu. Hatinya terbuka untuk Allah , dengan keterbukaan yang diliputi kehinaan karena khawatir, malu bercampur cinta menyaksikan nikmat-nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dan kejahatan dirinya sendiri. Dengan demikian secara otomatis hati menjadi khusyu’ yang kemudian diikuti khusyu’nya anggota badan.”


HUKUM KHUSYU’ DALAM SOLAT
Menurut pendapat yang kuat, bahwa khusyu’ dalam Solat hukumnya wajib. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam menafsirkan firman Allah Ta’âla:

“Jadikanlah sabar dan Solat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu lebih berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Al-Baqarah: 45)


Beliau rahimahullah mengomentari ayat tersebut dengan mengatakan: “Ayat tersebut mengandung celaan atas orang-orang yang tidak khusyu’ dalam Solat, celaan tidak akan terjadi kecuali karena meninggalkan perkara-perkara penting atau wajib, atau karena keharaman yang dilakukan”.

Kemudian bila kita lihat dalam al-Qurân Allah  menjelaskan sifat-sifat calon penghuni surga firdaus:

“Sungguh beruntunglah orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyu’ dalam Solatnya.” (Al-Mu’minuun: 1-2)


Pada ayat ke 11 Allah  memberikan isyarat, (bagi orang yang khusyu’), dengan mengatakan:

“Mereka itulah, orang-orang yang mewarisi Surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Mu’minuun: 11)

Melalui ayat tersebut Allah  mengabarkan bahwa mereka (orang yang khusyu’) adalah calon pewaris Jannatul Firdaus. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa selain mereka tidak layak mewarisinya. Meraih surga bagi seorang muslim hukumnya adalah wajib, maka jalan atau wasilah untuk mencapai surga tersebut hukumnya juga wajib, dan Solat yang khusyu’ hukumnya ikut menjadi wajib karena merupakan salah satu sarana untuk meraih surga firdaus.






:::: 21 Jamadil Akhir 1431 ::::
Shared By Bicara Hidayah
Dipetik & Disunting Dari:
SHALAT SEBAGAI MEDITAS TERTINGGI DALAM ISLAM
Disarikan dari berbagai sumber oleh Budi Nugroho
http://erosandi.blogspot.com/2010/03/shalat-khusyu.html
SOLAT KHUSYU' MENURUT TUNTUNAN ROSULULLAH
Faishal Abdurrahman, Lc
http://baburrahman.wordpress.com/2008/06/07/sholat-khusyu-menurut-tuntunan-rosulullah/