Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 April 2014

:: ANTARA TAWADU’ DENGAN TAKABBUR ..



Man atsbata linafsihi tawadhu’an fahuwal mutakabbiru haqqan idzlaisat-tawaadhu’u illaa’an rif’atin famtaa atsbata linafsika tawadhu’an fantal mutakbbiru

Artinya : Barangsiapa yang merasa dirinya tawadhu’ (merendahkan diri), maka dengan demikian itu sebenarnya dia adalah orang yang sombong sebab tidaklah ada tawadu’ itu melainkan dirinya sendiri merasa tinggi. Maka apabila ada rasa tawadhu’ di dalam jiwa-Mu, maka berarti kamu adalah orang yang benar-benar takabbur (sombong)”.

Di antara para ulama terdapat perbedaan-perbedaan dalam mendefinisikan kata tawadhu’. Akan tetapi walaupun berbeda-beda namun pada hakekatnya adalah sama saja, yakni yang berarti merendahkan diri.

Beberapa definisi di antaranya adalah :
----------------------------------------------

1. Sikap tidak menganggap perbuatannya lebih tinggi dari yang lain.

2. Bersikap tenang, sederhana, sungguh-sungguh dan menjauhi perbautan takabbur (sombong), ganas, ataupun membangkang. Dan tawadhu ini merupakan salah satu (sifat) yang harus dimiliki oleh setiap orang yang beriman.

◕3. Menurut Fadloil bin Iyyadh, Tawadhu’ adalah tunduk dan taat melaksanakan yang hak (benar) serta mau menerima kebenaran dari siapapun.

4. Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah, hakekat tawadhu’ adalah mengambil kekuasaan yang hak (benar) dengan bersungguh-sungguh mencapainya, taat dalam menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar menjadi hamba Allah (bukan hamba orang banyak)

5. Bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh siapapun dan tanpa menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain.

Adapun kebalikan dari sikap tawadhu’ adalah takabbur. Di dalam Hadits riwayat Muslim disebutkan, bahwa takabbur (sombong) itu adalah menolak hak (kebenaran), dan merendahkan orang lain.
Sedangkan balasan bagi orang-orang yang takabbur (sombong) adalah baginya tidak disediakan tempat sedikitpun di syurga.

Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Qoshosh ayat 83, yang artinya :

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Akan tetapi antara tawadhu’ dan takabbur ini mempunyai perbedaan yang samara. Sehingga tanpa disadari terkadang orang yang tawadhu’ (mutawadli) pun bisa terjebak kedalam sifat takabbur. Hal ini bisa terjadi bilaman mutawadli’ itu merasa bahwa dirinya adalah orang yang tawadhu’. Sebab tidak ada orang yang merasa bahwa dirinya tawadhu’ melainkan perasaan itu timbul dari rasa sombong (takabbur).

Kembali kepada firman Allah dalam Surat Al-Qoshosh ayat 83, di atas tadi, disana bisa terlihat adanya hubunmgan yang seimbang (relevansi) antara kesombongan dengan perbuatan kerusakan di muka bumi. Dan memang hal ini sudah sering terbukti, di mana orang-orang yang sombong yang merasa dirinya paling kuat, paling pandai, paling ditakuti, dan sebagainya, berbuat kesewenang-wenangan menurut kemauannya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain, merasa perbuatannya selalu benar, atau berbuat kerusakan di sana sini sekehendak hatinya sendiri karena merasa tidak akan ada orang lain yang berani menegur atau melarangnya.

Adapun sebab-sebab yang mengakibatkan seorang terjebak ke dalam sifat takabbur dan berbuat kerusakan di muka bumi di antaranya adalah :

1. Tidak adanya iman di dalam jiwanya.

2. Merasa mempunyai kelebihan dibandingkan orang lain, seperti karena kekayaannya, kedudukannya, kepandaiannya dan sebagainya.

3. Keinginan untuk di puji, di sanjung, dihormati, disayangi, menjadi pusat perhatian dan sebagainya.


Adapun obat untuk menyembuhkan penyakit takabbur yang bersarang di dalam (hati) itu antara lain :

1. Selalu merasa bahwa dirinya adalah sebagai hamba Allah yang mempunyai banyak kelemahan dan kekurangan.

2. Membuka lebar-lebar pintu hati untuk dimasuki nasehat-nasehat yang baik dari siapapun juga tanpa memandang kepada yang memberi nasehat, tetapi memandang apa yang dinasehatkan kepadanya.

3. Banyak bercermin atau mengoreksi kesalahan dan kekurangan diri sendiri dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya.

Setiap orang seharusnya mengambil pelajaran dari tanaman padi, yaitu makin berisi makin merunduk. Jadi apabila ada orang yang makin berisi kemudian makin tinggi mengangkat kepalanya agar setiap orang melihat atau memandangnya, maka demikian ini tidaklah dapat disebut tawadhu’ . hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy-Syadzili r.a. berikut ini :

“barang siapa merasa dirinya berharga (terhormat) maka baginya itu tidak dikatakan tawadhu’.

Juga Imam Yazid r.a. pernah mengatakan :

“Selama hamba itu menyangka bahwasanya dikalangan makhluq masih ada orang yang lebih jahat (jelek) dirinya, maka dia itulah orang yang sombong”.

Beberapa tanda atau cirri-ciri orang yang tawadhu’ yaitu “

1. Tidak marah atau sakit hati bila dicemooh orang lain.
2. Tidak merasa benci jika dikatakan sombong.
3. Tidak serakah pada pangkat atau kedudukan.
4. Tidak menganggap dirinya sebagai orang yang dihormati dan disegani.

Baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits terdapat banyak sekali anjuran-anjuran yang memerintahkan pada kaum muslim untuk senantiasa berlaku tawadhu’. Di antaranya adalah :

1. Dalam surat Al-Furqon ayat 63, yang artinya :

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang ialah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang yang jahil mengajak bertengkar dengan mereka, mereka balas dengan ucapan yang bijaksana”.

2. Dalam surat An-Nahl ayat 23, yang artinya :

“Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang sombong (takabbur).

3. Dalam sebuah Hadits Riwayat Abu Nai’m yang bersumber dari Abu Hurairoh, yang artinya :

“Barang siapa yang bertawadhu’ karena Allah niscaya Allah akan mengangkat derajatnya”.

Selain itu ada pula sebuah Hadits yang artinya :

“Apakah kalian ingin memberitahukan (mengenai) orang-orang yang diharamkan api neraka, atau api neraka yang diharamkan baginya?.

(Yaitu) api neraka itu haram bagi orang-orang yang dekat (kepada Tuhannya), merendahkan diri (kepada-Nya), lemah lembut dan taat”

Dalam hal tawadhu’ ini Ibnu Athilah pernah mengatakan:
“Hakekat orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) itu adalah apa yang dia lakukan itu diri penglihatannya akan kebesaran Allah dan kejelekan sifat-sifat-Nya”.

Lebih lanjut Ibnu At-Atho’illah mengatakan :
“Tidak bisa mengeluarkan kamu dari sifat sombong, kecuali (dengan) melihat sifat-sifat Allah”.

Memang benar apa yang dikatakan Ibnu Atho’illah di atas. Sebab dengan hanya melihat kebesaran, keagungan dan kesempurnaan Allah-lah (yakni dengan cara melihat dan memikirkan segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekitar kita), maka kita akan merasa, bahwa kita ini kecil, lemah hina, tidak mempunyai apa-apa dan juga tidak mampu berbuat apa-apa tanpa pertolongan dari-Nya.dan sebagai akhir dari pembahasan bab ini, marilah kita bersama-sama berusaha mentauladani akhlaq rasulullah yang berikut ini :

Beliau tidak segan-segan memberi salam kepada anak-anak, bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan mereka, sehingga kebanyakan di antara mereka menjadi manja kepada beliau

Di dalam rumah tangganya, beliau tidak segan-segan untuk menyapu, mencuci, memberi makan ternak, memeras susu kambing, berbelanja sendiri ke pasar, makan bersama-sama dengan pelayan dan sebagainya.

Dalam bepergian beliau tidak merasa malu untuk memberi salam terlebih dahulu walaupun kepada orang miskin atau kepada orang lebih mudah dari beliau.

Sebagai seorang Penglima Perang beliau juga turut membuat bparit untuk perlindungan (ketika terjadi perang khondaq), ikut mencari kayu baker, memasak makanan dan sebagainya.

Sebagai seorang penguasa beliau tidak mau dibeda-bedakan. Terhadap hal ini hal ini beliau pernah bersabda, yang artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak mau melihat hamba-Nya di beda-bedakan, diantara sesame kawannya”.

Ketika kedatangan tamu, beliau sendirilah yang menerima, melayani dan menyuguhkan hidangan untuk tamunya

Dalam sebuah pertemuan, beliau tidak mau duduk di tempat yang diistimewakan, tetapi bercampur dengan kebanyakan orang. Dalam hal ini beliau bersabda, yang artinya :

“Wahai kalian semua, Allah telah (terlebih dulu) mengambil aku sebagai hamba-Nya sebelum Dia mengambil Nabi dan Rasul-Nya”.

Apabila melakukan perjalanan bersama-sama sahabatnya. Beliau tidak mau berjalan paling depan, juga tidak mau diiringkan. Ketika ada sahabatnya yang memintanya untuk berjalan paling duluan, beliau mengatakan :

“Biarlah dibelakangku ada malaikat yang mengikuti”.

Apabila mendapat undangan, beliau selalu menyempatkan diri untuk hadir, walaupun yang mengundangnya itu dari kalangan orang miskin atau orang yang tidak berkedudukan.

Beliau tidak segan-segan untuk bergaul dengan siapa saja dan duduk-duduk bersama mereka tanpa memandang status dan kedudukannya.

Pakaian yang dikenakannya tidak pernah lebih bagus dari yang dipakai sahabt-sahabatnya.

Jika bersenda gurau, beliau selalu menggunakan kata-kata yang baik dan tidak pernah tertawa dengan terbahak-bahak, melainkan dengan tersenyum saja.

Apabila ada pengaduan dari umatnya, maka beliau akan memperhatikannya dengan teliti dan akan berusaha menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.

Demikian akhlaq terpuji yang telah dicontohkan Rasulullah. Mudah-mudahan kita semua dapat mentauladaninya.

:: CARA-CARA BERSYUKUR KEPADA ALLAH



Man lam yaqbal ‘alallaahi bimulaathafaatil ihsaani quyyida ilaihi bisalaasiilal imtihaani man lam yasykurinni’ama faqad ta’arradha lizawaalihaa waman syakarahaa faqad qayyadahaa bi’iqaaliha.

Artinya : “Barangsiapa yang tidak menghadap kepada Allah ketika diberi kehalusan-kehalusan karunianya, niscaya dia akan dibelenggu dengan berbagai (rantai ujian). Barang siapa yang tak mensyukuri segala nikmat, maka benar-benar dia telah menyodorkan untuk hilangnya nikmat. Dan barangsiapa yang mensyukuri nikmat, benar-benar dia telah mengikatnya dengan tali”.

Sebagai orang mukmin yang telah begitu banyak menerima kenikmatan, kita seharusnya banyak bersyukur pada Yang Memberi Kenikmata (Allah). Bahkan begitu banyaknya, hingga kita tak akan pernah mampu untuk menghitungnya.
Kenikmatan, yang oleh Imam Ghozali dikatakan sebagai kebahagiaan, keutamaan dan segala macam keinginan yang dapat terpenuhi dan kita rasakan, pada hakekatnya terbagi menjadi dua macam yaitu :

1. Kenikmatan yang bersifat fitri atau azazi, yakni kenikmatan yang diberikan Allah sejak manusia dilahirkan. Misalnya telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, hati (akal) untuk berfikir, serta alat-alat tubuh lain yang diper;ukan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 78, yang artinya : “dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

2. Kenikmatan yang dirasakan pada waktu yang akan datang (tidak langsung diberikan ketika lahir). Yang termasuk ke dalam kenikmatan ini adalah seperti diciptakannya macam tanaman, berbagai macam hewan, bumi dan semua yang terkandung di dalamnya untuk manusia.

Demikianlah besar dan terlalu seringgnya kita menerima dan merasakan nikmat dari Allah. Hingga seringkali kita lupa, bahwa apa yang kita terima dan rasakan itu merupakan nikmat. Seperti halnya pada orang yang sehat, karena berhari-hari, berbulan-bulan bertahun-tahun dalam keadaan sehat, maka ia sama sekali tidak merasakan bahwa kesehatannya itu merupakan nikmat. Baru ketika terserang penyakit, ia akan merasakan betapa besar nikmat berupa kesehatan itu.

Kalau Nabi Muhammad sendiri sebagai orang ma’sum atau terpelihara dari dosa saja merasa tidak termasuk kedalam golongan orang-8orang yang bersyukur, apakah lalu kita yang berlumuran dosa ini tidak merasa malu untuk menerima pemberian-Nya tanpa mau bersyukur kepada-Nya? Sebagai seorang mukmin kita tentu tidak ingin mengabaikan perintah Allah, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an Surat An_Nhl ayat 144,

yang artinya :

“Bersyukurlah terhadap nikmat Allah, jika kamu sungguh-sungguh menyembah kepada-Nya”,

Adapun tentang cara-cara bersyukur itu ada tiga macam, yaitu :

1. Bersyukur dengan hati. Maksudnya, ia merasa yaqin bahwa segala macam kenikmatan itu datangnya dari Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat An_Nahl ayat 53, yang artinya : “dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan”.

2. Bersyukur dengan lisan. Maksudnya dengan memperbanyak bacaan Hamdalah (Al-Hamdulillah). Hal ini tersebut dalam Al-Qur’an Surat Adh-Dhuhaa ayat 11, yang artinya : “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebutnya (dengan bersyukur)”.

3. Bersyukur dengan semua anggota badan. Jadi dengan demikian, bersyukur itu tidak hanya cukup dengan lisan atau ucapan saja. Tetapi lebih dari pada itu harus diwujudkan dengan perbuatan perbuatan yang diridhai serta disukai Nya



Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan hamba hambaNya yang bersyukur dalam keridhaan Nya. Aamiin. 

Sabtu, 05 April 2014

:: ORANG ORANG YANG DIWAFATKAN DALAM KEADAAN SHALIH



Apabila seseorang menghadapi ajalnya dalam keadaan kembali kepada modal dasar kesuciannya (fithrah) atau bahkan lebih dari itu (beruntung), maka sesungguhnya walaupun jasadnya dikubur di dalam tanah, namun jiwa (nafs) nya tidaklah mati, ia hidup di sisi Allah dan dapat berjalan-jalan di tengah-tengah manusia, namun kebanyakan manusia tidak menyadarinya.

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al Baqarah [2]:154).

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (QS. Al An’aam [6]:122).

Dan di akhirat nanti ia akan mendapatkan balasan Surga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. Ash Shaff [61]:11-12).

** Berjihad yang dimaksudkan disini adalah dengan taubat sebenar benar taubat , meninggalkan dosa dosa , memperbanyak amal shalih , berjuang menegakkan agama Allah (dakwah) dll

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai ... (QS. At Tahrim [66]:8).

Sabtu, 01 Maret 2014

:: TUHAN MAAF KAMI SEDANG SIBUK



Tuhan..
Harap maklumi kami manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan...
Kami benar-benar sibuk.. sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu..

Tuhan..
Kami sangat sibuk. ..Jangankan berjamaah.. bahkan munfarid pun kami tunda-tunda..
Jangankan rawatib.. zikir..berdoa.. tahajud..bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami..
Jangankan puasa Senin-Kamis.. jangankan ayyaamul baith.. jangankan puasa nabi Daud..bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh..

Tuhan..
Maafkan kami..kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak.. sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu...
Jangankah sedekah.. jangankan jariyah..bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja seringkali terlupa..

Tuhan..
Urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak...
Jadwal kami masih amatlah padat..
Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu..
Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk..menyungkur sujud
.menangis..mengiba..berdoa.. dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu..

Tuhan..
Tolong jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami....


KARENA KAMI MASIH TERLALU SIBUK ....




 Oleh A.R Rifan

Jumat, 14 Februari 2014

:: 4 (EMPAT) HAL YANG BAIK DAN LEBIH BAIK DARINYA (NASEHAT SYAIKH NAWAWI AL BANTANI )



 

Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (1813 - 1897) adalah seorang Ulama Indonesia yang sangat terkenal. Ia mengajar hingga wafat di Mekkah. Ia bergelar al-Bantani karena ia berasal dari Banten. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Jumlah karyanya mencapai tidak kurang dari 115 kitab.

Dalam Kitabnya “Nasha'ihul-'Ibad”, Syaikh Nawawi Al-Bantani menulis : Sebagian Ahli Hikmah mengatkan,"Ada empat perkara yang nilainya baik,namun ada empat perkara lain yang nilainya jauh lebih baik lagi,yakni:

1.Rasa malu pada kaum lelaki adalah baik,tapi lebih baik lagi jika rasa malu itu ada pada kaum wanita.

2.Adil pada setiap orang itu baik,tapi lebih baik lagi jika rasa keadilan itu dimiliki oleh penguasa/pemerintah.

3.Tobatnya kakek-kakek itu baik,tapi yang lebih baik lagi tobatnya kaum muda.

4.Sikap murah hatinya kaum kaya itu baik, tapi lebih baik lagi bermurah hatinya kaum fakir miskin."

(Kitab “Nashaihul Ibad”, Syaikh Nawawi Al-Bantani)

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita dan anak-anak keturunan kita dan semoga Allah golongkan kita dan anak-anak keturunan kita ke dalam golongan orang-orang yang Saleh. Amiin

Allahumma shali ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.



 

Bâraka Allâh fîkum. Amiin
Imam Puji Hartono (IPH)

Jumat, 31 Januari 2014

:: ADAKAH YANG HENDAK KITA SOMBONGKAN ..



Bagaimana bisa kekayaan untuk disombongkan, sedangkan kekayaan itu adalah pinjaman, titipan yang akan ditinggalkan dengan kematian dan akan di hisab di hari kiamat.
Waktu yang kita habiskan untuk mengumpulkannya dan seberapa besar kekayaan yang dipunya , jika Allah berkehendak , dalam sekejap pun sirna .

Adakah harta dan kekayaan menjadi sekutu bagi Nya di hati kita .. ?

Bermegah-megah pun kelak kita akan ditanya ,

Bagaimana bisa kecantikan / ketampanan untuk disombongkan sedangkan keduanya adalah pemberian sementara ( batas tua ) yang akan diminta pertanggung jawabnya.

Bagaimana ilmu bisa disombongkan, sedangkan ilmu dituntut untuk mengamalkanya dan manusia hanya diberi sedikit dalam ilmu.

Adakah yang hendak kita sombongkan ..

Ya Allah, ampunilah kami , selamatkanlah kami.. Dan rahmatilah kami

,, اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

:: KETIKA ALLAH MEMBERIKAN NIKMAT RASA KECUKUPAN DALAM HATINYA




Ketika Allah memberikan nikmat rasa kecukupan pada diri seorang hamba , sesungguhnya Allah sedang memberikan banyak kebaikan kepadanya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang meminta kecukupan, maka Allah akan mencukupinya.” [HR. al-Bukhari: 1427, Muslim: 2471]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Terimalah apa yang Allah berikan padamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya.” [HR. Tirmidzi]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah berkata:
“Barangsiapa yang merasa cukup dengan pemberian Allah, maka dia adalah orang yang kaya sejati Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta, tetapi hakekat kaya adalah kaya hatinya. Dengan menjaga diri dari meminta-minta dan merasa cukup terhadap pemberian Allah Azza wa Jalla, maka sempurnalah kebahagiaan hidup bagi seorang hamba, mendapat nikmat duniawi dan qona’ah dengan apa yang Allah berikan padanya.” (Bahja Qulub al-Abror hal. 73)



Semoga Allah memberikan keberkahan bagi kita semua ,
اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ


:: KITA MASIH DIBERI TANGGUH HINGGA AKHIR MASA ... SEBUAH RENUNGAN ATAS RENTETAN BENCANA




Kaum Nabi Nuh Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat....yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42).

Hingga tak ada makhluk pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118)..

Kaum nabi Syu’aib Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat.. Sampai-sampai Al Quran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami kota tempat yang mereka tinggali....Lantaran begitu hancurnya kota mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).

Kaum Nabi Luth....Allah hancurkan dengan hujan batu..
Al Quran menggambarkan bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).

Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh) ....juga Allah hancurkan dengan gempa..Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri..
(Hud: 67).

Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136).

Qarun beserta pengikutnya Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa...Ini lantaran ia sombong kepada Allah Subhana Wa Ta'ala  (Al-Qashash:81).

Kala umat Nabi Nuh durhaka dibalas air bah..
Kala pengikut Nabi syu'aib durhaka dibalas Gempa dasyat..
Kala bangsa Nabi Luth durhaka dibalas dengan Hujan Batu..
Kala kaum Nabi Shaleh durhaka dibalas gempa..

Namun Umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassallam masih diberi tangguh hinga akhir masa ..

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa.. pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..
Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu.. maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(QS: Al-A'raf Ayat: 96)


“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun..kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak mengambil pengajaran?”..
(QS. at-Taubah: 126).

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya.
Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil..
Dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur..
Dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi..
Dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan..
Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka..
akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S. Al-Ankabut: 40)


Belajar dari kisah Al-Quran yang telah dibuktikan oleh sejarah..seharusnya kita bisa belajar dari semua itu..
Dan dari kisah itu kita bisa berinstrospeksi mungkin memang karena kita banyak dosa sehingga Tuhan menimpakan bencana..

Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib berkata..
“Tidaklah petaka turun.. kecuali karena dosa.. dan tidaklah petaka diangkat.. kecuali dengan taubat.”
[Ad-Dâ` wa Ad-Dawâ` hal. 118]

 
Masihkah kita banyak tertawa, lalai dan enggan bertaubat kembali kepada Nya ...
 
Wahai Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,
Ampuni dosa-dosa kami,
Kami berlindung pada Rahmat Mu atas Kemurkaan MU ..
 

Sabtu, 23 November 2013

:: KEKAYAAN DAN KEMISKINAN SEJATI ..



Kekayaan dan kemiskinan yang sejati terletak pada diri kita.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


ليس الغنى عن ظهر إنما الغنى غنى النفس وإذا أراد الله بعبد خيرا جعل غناه في نفسه وتقاه في قلبه وإذا أراد الله بعبد شرا جعل فقره بين عينيه

Bukanlah kekayaan itu berupa harta yang melimpah, namun kekayaan yang sejati ialah "kekayaan jiwa". Dan bila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah jadikan kekayaannya terletak pada jiwanya, dan ketakwaannya pada hatinya.

Namun bila Allah menghendaki kejelekan bagi seorang hamba, maka Allah jadikan kemiskinannya terletak di depan matanya selalu. (Ibnu Hibban)


Sungguh, Sibuknya MENSYUKURI nikmat yang ada akan lebih MEMBAHAGIAKAN & mendatangkan KARUNIA lainnya, daripada sibuk dengan keinginan-keinginan ..

Jumat, 22 November 2013

:: BAHKAN SEMUT PUN BERTASBIH , SUBHANALLAH


Barangkali di antara kita menganggap remeh makhluk Allah yang mungil ini, yaitu semut. Tidak jarang kita jengkel ketika para semut mulai menggerogoti makanan atau mencicipi minuman segar yang kita simpan atau siap untuk dihidangkan dengan rapi. Dengan aktifitas semut ini, sebagian kita menganggap mereka makhluk yang selalu menyusahkan dan berbagai ekspresi lainnya.

Namun pernahkah kita menyadari bahwa semut terkadang lebih baik daripada segolongan manusia? Mungkin kita bertanya-tanya dan sebagian ada yang menentang perkataan ini, bahkan ada yang menyatakan, “Manusia adalah makhluk Allah yang paling baik di dunia ini di antara berbagai makhluk Allah Subhana wa Ta'ala lainnya, apalagi jika dibandingkan dengan sekelompok semut.”

Marilah kita perhatikan kisah-kisah berikut.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Ada salah seorang Nabi yang singgah di bawah pohon, lalu ia digigit oleh seekor semut. Lalu ia membinasakannya dan mencari tempat persembunyian semut tersebut. Setelah itu, ia menyuruh untuk membakar tempat tinggal semut tersebut. Kemudian Allah menanyakan kepadanya : Apakah hanya karena gigitan seekor semut engkau membakar satu umat yang senantiasa bertasbih, mengapa tidak satu semut saja yang engkau bunuh?” (Shahih, HR. Bukhari dan yang lainnya).

Dalam kisah yang lain, Ahmad menceritakan, bahwa Waki’ memberitahukan kami, Mus’ir memberitahu kami, dari Zaid Al-Ami, dari Abu Shadiq Al-Naji.

Dia bercerita, Nabi Sulaiman bin Dawud as pernah hendak pergi mencari air (maksudnya : shalat istisqa’, meminta hujan kepada Allah Ta'ala), lalu ia melihat seekor semut dengan bersandar ke punggungnya dan mengangkat kedua kaki depannya ke langit mengucapkan,

“Sesungguhnya kami adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhlukMu, kami sangat butuh siraman dan rezekiMu. Baik Engkau akan mengucurkan air dan rezeki kepada kami atau membinasakan kami.” Kemudian Nabi Sulaiman bertutur (kepada kaumnya), “Kembalilah pulang, kalian akan diberi air (hujan) melalui do’a dari makhluk selain kalian.” (HR. Imam Ahmad).



Subhanallah , Allahu Akbar ,,

Lalu bagaimana dengan kita
... ?

Al Quran : (17) Al Israa’ : Ayat 44
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. 17:44)

Al Quran : (24) An Nuur : Ayat 41
Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. 24:41)


Al Quran : (64) At Taghaabun : Ayat 1
Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 64:1)


:: BEGITU LUASNYA NERAKA DAN TINGKATAN-TINGKATANNYA



Bismillahir Rahmanir Rahim ,
Yazid Ar-Raqqsyi meriwayatkan dari Anas bin Malik “Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang tidak biasa dengan raut muka yang berbeda dari biasanya. Rasulullah bertanya: Wahai Jibril, kenapa Aku melihat raut mukamu berbeda?

Jibril menjawab, "Wahai Muhammad, aku datang kepadamu pada saat Allah memerintahkan supaya api neraka dinyalakan. Tidak pantas jika orang yang mengetahui bahwa -- neraka, siksa kubur dan siksa Allah itu sangat dasyat-- untuk bersenang sebelum dirinya merasa aman dari ancaman itu."

Rasulullah menjawab: "Wahai Jibril, lukiskanlah keadaan neraka itu kepadaku."

Jibril berkata: "Baik, ...Ketika Allah swt menciptakan neraka, apinya dinyalakan seribu tahun hingga berwarna hitam pekat, nyala dan baranya tidak pernah padam."

"Demi Dzat yang mengutus engkau kebenaran sebagai Nabi, seandainya neraka itu berlubang sebesar lubang jarum, niscaya segenap penghuni dunia akan terbakar karena panasnya."

"Demi Dzat yg mengutus Engkau dengan kebenaran sebagai Nabi, seandainya ada baju penghuni neraka itu digantung diantara langit dan bumi, niscaya semua penghuni dunia akan mati karena bau busuk dan panasnya."

"Demi Dzat yg mengutus Engkau kebenaran sebagai Nabi, seandainya sehasta dari mata rantai sebagaimana yang disebutkan didalam al qur’an diletakkan di puncak gunung, niscaya bumi sampai kedalamnya akan meleleh."

"Demi Dzat yang mengutus Engkau kebenaran sebagai Nabi, seandainya ada seorang berada di ujung barat dunia ini disiksa, niscaya orang yang berada di ujung timur akan terbakar karena panasnya."

Neraka itu mempunyai 7 pintu dan masing-masing pintu dibagi-bagi untuk laki-laki dan perempuan.

Rasulullah bertanya; “Apakah pintu-pintu itu seperti pintu kami?”

Jibril menjawab; “Tidak.Pintu itu selalu terbuka dan pintu yang satu berada dibawah pintu yang lain. Jarak pintu yang satu dengan pintu yang lain sejauh perjalan 70 tahun. Pintu yang dibawahnya lebih panas 70 x lipat dari pintu yang diatasnya."

"Musuh-musuh Allah diseret kesana dan jika mereka sampai di pintu itu, malaikat Zabaniyah menyambut mereka dengan membawa rantai dan belenggu. Rantai itu dimasukkan ke dalam mulutnya dan keluar dari duburnya, sedangkan tangan kirinya dibelenggu dengan lehernya, dan tangan kanannya dimasukkan ke dalam dada hingga tembus ke bahu.

Setiap orang yang durhaka itu dirantai bersama setan dalam belenggu yang sama, lantas diseret wajahnya tersungkur dan dipukul oleh malaikat dengan palu. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalam neraka."

Rasulullah bertanya, "Siapakah penghuni masing-masing pintu itu?"

Jibril menjawab, "Pintu yang paling bawah namanya Hawiyah. Pintu neraka Hawiyyah ini adalah pintu neraka yang paling bawah (dasar), yang merupakan neraka yang paling mengerikan. Pintu neraka ini ditempati oleh orang-orang munafik, orang kafir termasuk juga keluarga Fir'aun, dalam neraka Hawiyyah.

Hal ini sebagaimana arti dari firman Allah ;"Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyyah" (QS.Al-Qari'ah :9).

Pintu kedua namanya Jahim. Yakni pintu neraka tingkatan ke 6. Tingkatan neraka ini di atasnya neraka Hawiyyah. Di dalamnya ditempati oleh orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah. Hal ini sebagaimana arti firman Allah ini :"Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat" (QS.Asy-Syu'araa :91).

Pintu ketiga namanya Saqar, tempat arang-orang shabi'in. Merupakan pintu neraka pada tingkatan ke 5. Di dalam pintu itu ditempati oleh orang-orang yang menyembah berhala atau menyembah patung-patung yang dibuat bangsanya sendiri.

Tingkatan pintu neraka ini, terletak di atasnya pintu neraka Jahim. Tentang neraka ini, Allah telah berfirman yang artinya :"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)" (QS. Al-Mudatstsir : 42)

Pintu keempat namanya Ladza, berisi iblis dan orang-orang yang mengikutinya, serta orang Majusi. Ladza merupakan pintu neraka pada tingkatan nomor 4. Di dalamnya ditempati Iblis laknatullah beserta orang-orang yang mengikutinya dan orang-orang yang terbujuk rayuannya. Kemudian orang-orang Majusi pun ikut serta menempati neraka Ladza ini. Mereka kekal bersama Iblis di dalamnya. Tingkatan pintu neraka Ladza ini diatasnya pintu neraka Saqar.

Dalam hal ini Allah telah berfirman : Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak". (QS. Al-Ma'arij : 15). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Iblis dan para pengikutnya akan dimasukkan ke dalam neraka Ladza. Seperti apa yang dikatakan oleh Malaikat Maut (malaikat Izrail) ketika Iblis hendak dicabut nyawanya, maka malaikat maut itu berkata, bahwa Iblis akan diberi minum dari neraka Ladza.

Pintu kelima namanya Huthamah, tempat orang-orang Yahudi. Merupakan pintu neraka pada neraka tingkatan ke 3. Di dalamnya ditempati oleh orang-orang Yahudi dan para pengikutnya. Pintu neraka Huthamah ini, tingkatannya di atas pintu neraka Ladza yang dihuni para Iblis. Tentang neraka Huthamah ini, Allah telah berfirman dalam Al-Qur'an : "Dan tahukah kamu, apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan". (QS. Al-Humazah : 5-6).

Pintu keenam namanya Sa'ir, merupakan pintu neraka pada neraka tingkatan ke 2. Di dalamnya ditempati oleh orang-orang Nashrani dan para pengikutnya. Pintu neraka ini berada di atas tingkatan pintu neraka Huthamah. Mengenai neraka ini, Allah Ta'ala telah berfirman :"Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)".(QS. Al-Insyigaq : 12).

Selanjutnya Jibril terdiam karena merasa segan kepada Rasulullah Saw. kemudian Rasulullah bertanya, "Kenapa engkau tidak memberitahukan penghuni pintu yang ketujuh?"

Jibril menjawab : "Pintu ke tujuh namanya pintu neraka Jahanam. Merupakan pintu neraka yang paling atas (pertama). Di dalamnya berisi umatmu yang melakukan dosa-dosa besar dan tidak tobat sampai mereka meninggal dunia."

Rasulullah pingsan mendengar penjelasan Jibril tersebut. Jibril meletakan kepala Rasulullah di pangkuannya sampai Beliau sadar kembali.

Salman Al-Farisi datang dan berdiri di depan pintu seraya berkata, ”Assalaamu'alaikum, yaa ahla baitir rahmah, apakah saya bisa bertemu dengan junjunganku Rasulullah Saw.?" Namun tidak ada yang menjawab, sehingga meraka pun menangis dan terjatuh.

Rasulullah bersabda: "Betapa besar cobaan yang menimpaku dan aku merasa sangat sedih. Jadi, ada di antara umatku yang akan masuk neraka?"

Jibril menjawab, "benar, yaitu umatmu yang mengerjakan dosa-dosa besar.

Kemudian Rasulullah saw. menangis, dan Jibril pun juga ikut menangis. Rasulullah Saw. lantas masuk ke rumahnya dan menyendiri. Beliau hanya keluar rumah jika hendak mengerjakan shalat dan tidak berbicara dengan siapa pun. Dalam shalat beliau menangis dan sangat merendahkan diri kepada Allah Ta’ala.

Fatimah bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana mereka masuk ke neraka itu?" Beliau bersabda, "Mereka digiring ke neraka oleh malaikat. Wajah mereka tidak hitam, mata mereka tidak biru, mulut mereka tidak disumbat, dan mereka tidak dibelenggu ataupun dirantai."
Fatimah bertanya," Wahai Rasulullah, bagaimana sewaktu mereka digiring ke eraka oleh malaikat?" Beliau bersabda, "Laki-laki ditarik jenggotnya, sedangkan perempuan dengan ditarik rambut ubun-ubunnya. Banyak di antara umatku yang masih muda, ketika ditarik jenggotnya untuk digiring ke neraka berkata, ”Betapa sayang kemudaan dan ketampananku.

”Banyak di antara umatku yang perempuan ketika ditarik ke neraka berkata, ”Sungguh aku sangat malu.” Ketika malaikat yang menarik umatku itu sampai ke neraka dan bertemu dengan Malik, Malik bertanya kepada malaikat yang menarik umatku itu, ”Siapakah mereka itu? Aku tidak pernah melihat orang-orang yang tersiksa seperti mereka. Wajah mereka tidak hitam, mata mereka tidak biru, mulut mereka tidak disumbat, mereka tidak dibarengkan dengan golongan setan, dan mereka tidak dibelenggu atau diikat lehernya?”

Malaikat itu menjawab, "Kami diperintahkan untuk membawa mereka kepadamu dalam keadaan seperti itu.” Malik berkata kepada mereka, ”Wahai orang-orang yang celaka, siapakah sebenarnya kalian ini?” (Dalam hadis yang lain disebutkan, bahwa ketika mereka ditarik oleh malaikat, mereka selalu menyebut-nyebut nama Muhammad. Ketika mereka melihat Malik, mereka lupa untuk menyebut nama Muhammad Saw. karena seramnya Malaikat Malik).

Mereka menjawab, ”Kami adalah umat yang diturunkan Al-Quran kepada kami dan termasuk orang yang mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan.” Malik berkata, "Al-Quran hanya diturunkan untuk umat Muhammad Saw .”

Ketika mendengar nama Muhammad, mereka berteriak seraya berkata, 'Kami termasuk umat Muhammad Saw” . Malik berkata kepada mereka, ”Bukankah di dalam Al-Quran ada larangan untuk mengerjakan maksiat-maksiat kepada Allah Ta'ala?”

Ketika mereka berada di tepi neraka dan diserahkan kepada Malaikat Zabaniyah, mereka berkata ”Wahal Malik, izinkanlah kami untuk menangisi nasib kami.”
Malik mengizinkannya, dan mereka lantas menangis dengan mengeluarkan darah.

Malik lantas berkata, ”Alangkah baiknya, seandainya tangis ini kamu lakukan sewaktu berada di dunia. Seandainya sewaktu di dunia kamu menangis seperti ini karena takut kepada siksaan Allah, niscaya sekarang ini kamu tidak akan masuk neraka.”

Malik lalu berkata kepada Zabaniyah, ”Lemparkan, lemparkan mereka ke dalam neraka.” Ketika mereka dilempar ke dalam neraka, mereka berseru secara serempak mengucapkan kalimat: Laa ilaaha illallah...., sehingga api neraka langsung menjadi padam.

Kemudian Malik berkata, ”Wahai api, sambarlah mereka!” Api itu menjawab, ”Bagaimana aku menyambar mereka sementara mereka mengucapkan kalimat: Laa ilaaha illallaah. Malik berkata lagi kepada api neraka, ”Sambarlah mereka”.

Api itu menjawab, ”Bagaimana aku menyambar mereka, sementara mereka mengucapkan kalimat: Laa ilaaha illallah.” Malik berkata, ”Benar, namun begitulah perintah Allah Arasy”. Kemudian api itu pun menyambar mereka. Di antara mereka ada yang disambar sampai dua telapak kakinya, ada yang disambar sampai dua lututnya, dan ada yang disambar sampai lehemya.

Ketika api itu akan menyambar muka, Malik berkata, ”Jangan membakar muka mereka, karena dalam waktu yang cukup lama mereka bersujud Kepada Dzat Yang Maha Kuasa.

Dalam Al-Qur'an, Allah telah mensifati neraka Jahannam sebagai berikut :"Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi gunung".(QS. Al-Mursilat : 32) "Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. (QS. Al-Hijr : 43)

Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak tahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu:

1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat

2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah

3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung

4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah

5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik

6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak

7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum

8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular

9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.

10.Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai

11.Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat

Ya Allah, ampuni dan rahmati kami , jadikanlah kami hamba-hamba Mu yang beriman ,
kami berlindung kepada Mu dari siksa kubur .., dari siksa neraka  ... dari fitnah hidup dan mati.., dan dari fitnah al masih dajjal

اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

Jumat, 08 November 2013

:: MENGAPA MINUS DIKALI MINUS HASILNYA PLUS ? SUBHANALLAH AL QUR'AN PUNYA JAWABANNYA



Mengapa plus dikali plus hasilnya plus & juga kalau minus dikali plus atau sebaliknya plus dikali minus hasilnya minus? Anehnya pula, kenapa minus dikali minus hasilnya plus ?

Hikmahnya adalah:
» Mengatakan/menyatakan ”Benar” terhadap hal-hal yang ”Benar” adalah suatu tindakan yang ”Benar” atau bahasa matematikanya seperti ini”+ x + = +”

»Mengatakan/menyatakan ”Benar” terhadap sesuatu yang ”Salah” adalah suatu tindakan yang ”Salah” atau dgn kata lain
”+ x - = -”

»Mengatakan/menyatakan ”Salah” terhadap sesuatu yang ”Benar” adalah suatu tindakan yang ”Salah” atau penulisan logika matematikanya seperti ini”- x + = -”

» Terakhir, mengatakan/menyatakan ”Salah” terhadap sesuatu yang ”Salah” adalah suatu tindakan yang ”Benar” atau ”- x - = +”

Semua rumus matematika diatas merupakan Ketetapan Allah & terangkum dalam kalimat:

”Qullilhaqqo wa in kaana murron”
(Katakan yang sebenarnya walau itu pahit rasanya).

Subhanallah , Allahu Akbar ,,

Barakallah fiikum…

:: HIKMAH DI BALIK KISAH NABI KHIDIR



Terdapat banyak hikmah dari kisah Khidir , salah satunya, yakni menuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan perkara wajib. Tampak dalam kisah betapa Nabi Musa sangat antusias menuntut ilmu. Bahkan, meski kedudukannya saat itu merupakan nabi ia tak segan untuk terus menuntut ilmu.

Beliau bahkan bersedia menempuh perjalanan panjang demi bertemu sang guru. Beliau yang berstatus tinggi sebagai nabi, bahkan bersedia merendahkan diri dihadapan sang guru. Alasannya, karena ilmu memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.

Allah berfirman dalam surah al-Mujadilah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.”

Banyak ayat yang menyatakan keutamaan ilmu dan kewajiban menuntutnya. Dalam hadis, Rasulullah pun sering mengingatkan umatnya untuk menuntut ilmu. Beliau pun menyatakan keutamaan ilmu bagi para Muslimin.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Abud Darda menceritakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) surga dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu.

Dan, sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan, sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” 




Subhanallah ,
Semoga bimbingan, keberkahan dan rahmat Allah senantiasa menyertai kita selalu ... Aamin ya Rabb

Jumat, 25 Oktober 2013

:: MUTIARA NASEHAT BAGI YANG BERGELAR ISTERI


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ..
"Hai anakku, kini engkau kan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenal dan berkawan pula dengan orang yang belum engkau kenali. Itulah suamimu."

Jadilah engkau tanah bagai suamimu (taati perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan pelbagai kesukaran karena itu akan memungkinkan ia meninggalkanmu.

Janganlah engkau terlampau menjauhinya, agar ia tidak melupaimu. Sekiranya dia menjauhimu, maka jauhilah dia dengan baik. Peliharalah suamimu itu dengan baik. Jagalah mata, hidung dan anggotanya yang lain.

Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu darimu melainkan yang harum. Jangan pula ia mendengar sesuatu darimu melainkan yang enak dan janganlah ia melihatkan melainkan yang indah sahaja pada dirimu.

Kalau wanita ingin menjadi isteri yang baik, dipihak lelaki juga berhasrat memiliki wanita yang begitu. Mereka (para suami ) ingin benar punya isteri yang menyambut kepulangan dari tempat kerja dengan wajah yang manis dan ceria, senyum menawan, pakaian yang bersih dan wangi dan rumahtangga pula berada dalam keadaan bersih kemas dan terurus. Bila mata sedap memandang, tenang dan damailah hati suami.

Bukan itu saja suami juga bercita-cita memiliki seorang isteri yang boleh menjadi penghibur dirinya, bisa berbicara diskusi bersama dengannya, faham apa yang disenangi, tahu mengambil hati suaminya disamping boleh memberi layanan yang menyenangkan dan mengembirakan suami. Itulah wanita idaman setiap lelaki. Pendek kata bagaimana lelaki akan dilayani oleh bidadari di syurga kelak begitu jugalah keinginan lelaki dari seorang isteri seorang bidadari rumahtangga. Oleh sebab itu dikatakan rumahtangga yang bahagia itu ialah syurga tentulah ada bidadarinya. Siapa lagi kalau bukan isteri yang solehah yang layak menyandang gelaran bidadari dunia.

Isteri yang solehah akan berusaha memberi wajah jernih pada rumahtangga. Kasih sayang yang lahir adalah hasil dari masing-masing hendak mencari keridhaan ALLAH,bukannya dorongan nafsu semata- mata. Masing-masing suami isteri meletakkan ALLAH dan akhirat yang lebih besar dan utama.

Isteri yang solehah tidak terasa hina menjadi pelayan suami,malah sebaliknya rasa bangga dan bahagia kalau boleh melakukan tugas-tugas itu dengan baik dan sempurna. Gembira karena yakin dengan janji ALLAH sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah yang bermaksud:

"Apabila seorang perempuan mencuci pakaian suaminya, maka ALLAH mencatat baginya seribu kebaikan dan mengampuni dua ribu kesalahan dosanya, bahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memohon ampun baginya serta ALLAH mengangkat seribu darjat baginya."

"Wahai Fatimah, setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, ALLAH akan membina tujuh parit antara dirinya dengan api neraka. Jarak antara parit itu ialah sejauh bumi dangan langit."

"Wahai Fatimah, setiap wanita yang berair matanya ketika memotong bawang untuk menyediakan makanan keluarganya,ALLAH akan mencatat untuknya pemberian sebanyak yang diberi kepada mereka yang menangis karena takutkan ALLAH."

Siapa yang tidak mau kemuliaan ini hanya dengan melakukan tugas yang ringan? Seorang isteri yang solehah akan sentiasa mencari-cari jalan untuk menyenangkan hati suami dan menutupi ruang-ruang yang menyusahkan dan mencurigakan suami terhadap dirinya. Dia tidak akan membimbangkan suaminya terhadap dirinya. Pandai memelihara dirinya. Karena itu juga yang menjadi syarat untuk dia mendapat keredhaan ALLAH dan keselamatan di akhirat nanti.Setiap rumahtangga yang dihuni oleh isteri yang solehah bererti rumahtangga itu telah memiliki perbendaharaan yang termahal di dunia dan di sisi ALLAH rumahtangga itu mendapat perhatian-Nya.

Sabda Rasulullah yang bermaksud : " Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayani suaminya selama seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapang pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa hisab."

Isteri solehah biasanya menjadi milik lelaki yang soleh. Tetapi ada juga ketikanya isteri solehah bersuamikan lelaki yang tidak/kurang baik. Dapatkah dirasakan kedamaian dan keamanan wujud dalam rumah tangga bilamana suami kufur dengan ALLAH dan buruk akhlak terhadap isterinya?. Isteri yang menghadapi persoalan begini akan tertekan jiwanya. Ada yang tidak sabar.

Dalam hal sebegini, si isteri perlu banyak bersabar dan selalu bermunajat pada ALLAH. Ingatlah mungkin kesusahan yang kita hadapi adalah ujian dari ALLAH.

Ada dua maksud ALLAH mendatangkan ujian yaitu
* Pertamanya ujian itu didatangkan sebagai penghapusan dosa dan
* Keduanya untuk peningkatan darajat disisi ALLAH.

Jadi jika bisa bersabar maka terhapuslah dosa-dosa yang lalu. Sebaliknya tidak mustahil juga itu merupakan peningkatan darjat dari ALLAH. Kalau tidak diuji, mungkin hati kita akan terpaut benar dengan suami, menyayangi suami "LEBIH DARI ALLAH".

Jadi untuk melihat seberapa besar cinta kita kepada Allah, maka lihatlah bagaimana porsi kita apakah lebih besar untuk suami ataukah lebih pada membesarkan ALLAH . Kalau benar hati sayang dan takut pada ALLAH tentu isteri tidak akan ragu ragu untuk bertindak membesarkan dan menyayangi ALLAH daripada suaminya sendiri. Karena ini adalah ujian. Ketika Allah telah ridha dan cinta, maka niscaya akan dimudahkanlah segenap bahtera tenang berjalan serta keridhaanNya.

Ingatlah, seburuk suami/isteri kita, tidaklah seburuk Firaun, sedangkan isteri Firaun, Siti Asiah boleh bersabar menghadapi kesombongan dan keangkuhan Firaun sehinggakan Siti Asiah dimasukkan oleh ALLAH termasuk di dalam barisan antara wanita-wanita solehah yang dijamin syurga.

Demikian juga sebaliknya , bagi seorang suami menghadapi isteri , hendaklah selalu bersabar mendorong dalam ketaatan kepada Allah.

Bila suami /isteri kita masih belum diberi petunjuk janganlah kita jemu untuk mentarbiyah, mendoakan kebaikan dan hidayah Allah untuknya dan bermunajatlah kepada ALLAH agar ALLAH mengubah hatinya untuk semakin dekat dan tunduk pada perintah-Nya.

Rasulullah pernah bersabda : "Wanita yang taat akan suaminya semua burung-burung diudara, ikan- ikan di air, malaikat di langit,matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana ia (isteri) masih taat pada suaminya dan diredhai (serta menjaga sembahyang dan puasanya)."

ALLAH berfirman, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim:6)

Semoga bermanfaat, dan keberkahan, keridhaan serta rahmat Allah senantiasa menyertai keluarga kita juga seluruh saudara- saudara kita semua. 


اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

:: KETAATAN ADALAH MURNI KARUNIA ALLAH




Jangan pernah menyangka bahwa istiqamahmu dan ketegaranmu merupakan produk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu.

Sesungguhnya Allah telah berkata kepada Nabi-Nya :

وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka." (QS.17 (Al-Israa') : 74)

Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu?

Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmat-Nya darimu kapan saja Allah kehendaki.

Karenanya tetaplah tundukkan hati selalu .., kepada Nya lah setiap jiwa kita kembali dan berserah...




Ustadz. Firanda, MA

Jumat, 04 Oktober 2013

:: TEMAN YANG SATU AKAN SALING BERMUSUHAN DI AKHIRAT..... KECUALI YANG BERTAKWA



ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)

Teman adalah cermin bagi pribadi seseorang....
Seseorang itu tidak akan jauh dari pribadi teman dekatnya.....Bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: “Kebiasaan orang itu sama dengan tabiat sahabat-sahabatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang menjadi sahabatnya.” (HR. Ahmad)

Teman dan lingkungan memang memiliki pengaruh yang kuat terhadap sikap dan perilaku seseorang. Bahkan kualitas agama seseorang itu dapat dinilai dari teman-teman pergaulannya. Banyak bergaul dengan orang-orang yang shalih tentu akan mengantarkan kita kepada kebaikan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang itu mengikuti agama temannya, maka setiap orang dari kamu hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Semua pertemanan dan persahabatan yang tidak dilandasi karena ALLAH, kelak pada hari Kiamat akan berbalik menjadi permusuhan dan kebencian. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. Mereka saling berkata kepada sahabatnya: engkaulah yang telah menyesatkan dan membuatku sesat. Mengajak pada kelalaian. Masing-masing mencela yang lain, dan satu orang melaknat temannya yang lain, serta mereka saling membebaskan diri dari masing-masing di hadapan Allah. Begitulah keadaan mereka kelak.

Berbeda dengan pertemanan yang dijalin karena ALLAH, mereka akan menjadi saudara yang saling mengasihi dan saling membantu, dan persaudaraan itu tetap akan berlanjut hingga di akhirat. Sebab pertemanan yang dijalin karena ALLAH adalah pertemanan yang kekal abadi.

Al-Hafidz Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika antara dua orang saling mencintai karena ALLAH, yang seorang di Timur dan yang seorang lagi di Barat, maka pada hari Kiamat ALLAH pasti akan mempersatukan keduanya sambil berfirman : “Inilah orang yang kau cintai karena-Ku…”.

Subhanallah, Jelaslah bagi kita bahwa jika kita memiliki teman dekat atau sahabat, ternyata hakikat itu tidak lama kecuali kita bersama mengerjakan kebaikan dan ketakwaan serta mengingatkan antara satu dengan yang lainnya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berkawan dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya, atau sekurang-kurangnya kamu mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi, akan membakar badan dan bajumu, atau kamu hanya mendapatkan bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (Al Furqaan: 27-29)

Semoga Allah senantiasa mendekatkan kita pada lingkungan orang-orang yang shalih , yang senantiasa mengingatkan kita pada kebaikan dan ketaatan, saling mencintai karena Allah. Dan menyampaikan kita pada rahmat , ridha serta cinta Nya. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

 


Wallahu a'lam bishawab

:: APABILA ENGKAU MEMINTA MAKA MINTALAH KEPADA ALLAH, DAN BILA ENGKAU MINTA TOLONG MAKA MINTA TOLONGLAH KEPADA ALLAH *



Siapa yang ingin kebutuhannya terpenuhi tanpa harus berutang budi kepada seseorang selain Allah saja dan tanpa beroleh kesulitan, hendaknya ia memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala, minta keutamaan, dan bersandar hanya kepada-Nya.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam telah membaiat (mengambil janji) sejumlah sahabat beliau agar tidak meminta apapun kepada manusia. Sampai-sampai ada salah seorang dari mereka yang cambuk atau tali kekang untanya jatuh, namun ia tidak meminta seorang pun untuk mengambilkannya. (HR. Muslim)

Kalaupun kita terpaksa minta tolong kepada makhluk dalam hal yang makhluk mampu melakukannya, yakinlah bahwa itu hanyalah sebab. Adapun yang menetapkannya dan menolong secara hakiki adalah Dia Yang di Atas. Maka dari itu, jangan lupakan Dia ketika Dia menolongmu lewat perantara seseorang dari kalangan hamba-Nya.

Di akhir sabdanya (dari hadits tersebut diatas), Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa umat ini tidak akan mampu memberikan kemanfaatan kepadamu atau memudaratkanmu selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala bagimu. Apa yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu, pasti akan menimpamu karena ketentuan takdir telah selesai. Semuanya telah tercatat.

Setelahnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada sepupunya (Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu) agar ia tahu bahwa pertolongan itu datang bersama kesabaran. Siapa yang bersabar, ia akan menang dan mencapai tujuannya. Kelapangan itu bersama kesulitan. Kapan saja kesulitan itu semakin besar menimpamu dan urusannya terasa sempit bagimu, menghadaplah kepada Rabbmu. Nantikanlah kelapangan dari-Nya karena sungguh kelapangan itu sangat dekat. Dan kesulitan itu bersama kemudahan. Kesulitan itu dilingkupi oleh dua kemudahan, kemudahan yang telah lewat dan kemudahan yang akan datang.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Maka sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5—6)

Oleh karena itu, satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan, kata Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu.

Demikianlah wasiat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam kepada anak pamannya. Hafalkan, realisasikan dan amalkanlah, mudah-mudahan kita termasuk orang yang beruntung.

* Suatu hari Abdullah ibnu Abbas Radhiyallahu anhu yang masih belia beroleh wasiat dari sepupunya yang mulia, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Wahai anak , sungguh aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta (suatu keperluan) maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, andai umat ini berkumpul untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa memberikannya selain sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudaratan kepadamu niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya, selain sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran catatan.”

Dalam riwayat lain, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda kepadanya:

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan engkau lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat engkau dalam kesempitan. Ketahuilah, apa yang telah ditetapkan luput darimu niscaya tidak akan menimpamu dan apa yang ditetapkan menimpamu niscaya tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”




 


Barakallahufikum ,,
SUMBER : Wasiat Nabi Kepada Anak Pamannya (ditulis oleh: Al-
Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Sabtu, 14 September 2013

:: SUKSES MENDIDIK PUTRA PUTRI BAHAGIA DUNIA DAN AKHIRAT



Saudaraku yang dirahmati Allah.


Ketahuilah, bahwa orangtua yang sukses mendididk putra putrinya adalah mereka yang telah berhasil membimbing anaknya menjadi anak yang shalih...
 


Keberhasilan seorang anak di dunia tidak bisa diukur oleh sesuatu yang hebat di dunia...


Bahkan anak yang bersekolah dan bergelar tinggi terkadang tak bisa menjamin keshalihannya ...

Anak yang shalih tentu bisa menempatkan kedua orangtuanya pada kedudukan yang tinggi; dengan mendoakannya, menghormatinya, menjaga perasaannya dan selalu berusaha membahagikan hatinya serta senantiasa memberikan yang terbaik kepadanya...

Membahagiakan orangtua tidak selalu harus dengan materi...

Anak yang shalih sangat mengerti apa yang terbaik bagi orang tuanya, bahkan ia selalu memberi yang terbaik bagi orang tua yang dicintainya tanpa harus diminta...

Bukankah ia selalu mendoakan kedua orangtuanya dengan doa yang sangat dahsyat....

"Wahai Rabbku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku."
"Wahai Rabbku, rahmatilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku sejak kecil."
 

 Ia selalu berdoa siang dan malam untuk kedua orangtuanya...

Baginya apa yang terbaik menurut orangtuanya juga terbaik bagi dirinya...

Apa yang membuat bahagia atau sedih mereka, maka perasaan yang sama juga dapat ia rasakan.

Sungguh kebaikan anak yang shalih tidak hanya mengalir selama di Dunia, bahkan diakhirat pun tetap tercurah kepada kedua orangtuanya...

Simak hadist berikut ini...

Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Dikatakan kepada anak-anak shalih pada hari kiamat, "Masuklah kalian ke dalam Syurga, seraya mereka berkata, "Wahai Rabb, kami tidak akan memasukinya sampai orangtua kami pun turut masuk Syurga bersama kami, lalu mereka hanya mendekati Syurga, dan Allah berkata, "Kenapa mereka belum juga masuk ke Syurga, masuklah ke dalam SyurgaKu" mereka pun berkata," Wahai Rabb, kami tidak mau memasukinya kecuali bersama orangtua kami, akhirnya Allah pun berfirman,"Masuklah kalian ke dalam Syurga bersama orangtua kalian." (HR Ahmad dengan sanad yang hasan)

Ya Allah, karuniakanlah kami putra putri yang saleh salehah mendirikan shalat, penyejuk hati bagi kami dunia dan akhirat serta bermanfaat bagi keluarga, lingkungan serta agama MU.


 اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

Jumat, 13 September 2013

:: ILMU PEMBERSIH HATI



Ada sebait do’a yang pernah diajarkan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do’a tersebut berbunyi : Allaahummanfa’nii bimaa allamtanii wa’allimnii maa yanfa’uni wa zidnii ilman maa yanfa’unii.

Dengan do’a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermanfaat.

Apakah hakikat ilmu yang bermanfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermanfaat apabila mengandung mashlahat – memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, manfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.

Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu yang bermanfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata,

“Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11).

Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun.
Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada manusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya.

Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.

Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor.

Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar pada keburukan , maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.

Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak digunakan untuk menzhalimi sesama.


Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermanfaat.

Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa manfaat.

Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Bila kita sedang mengkaji ilmu tertentu, luruskan niat dan bersihkan hati agar menjadikan rahmat bagi diri dan lingkungan serta selalu rendah hati


Dunia memang Allah halalkan bagi hamba-hamba Nya yang beriman. Namun janganlah berlebih-lebihan dan membuat hati terlalu cinta kepadanya. Bila pada zaman Nabi Ibrahim as , menyembah patung sebagai berhala , maka pada zaman sekarang  bila tidak berhati-hati mengekang nafsu, cinta dunia akan menjadikan tumbuhnya  berhala-berhala penghijab hati kita kepada Allah. 

Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati kotor , akan membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat. Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla.


Di sana kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.
Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita




Begitu luasnya rahmat serta kasih sayang Allah , dan jalan -jalan yang luas untuk meraih rahmat Nya , tidak menjadikan setiap golongan menjadi mengecilkan golongan lainnya

Subhanallaah,  Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk semakin mampu mengenali kekurangan diri dan mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan guna menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya

. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ
 


 Wallahu a'lam bishawab
(KH. Abdullah Gymnastiar

:: SESUNGGUHNYA UJIAN ALLAH ADAKAN SEBAGAI JALAN UNTUK MENGENAL ALLAH



Untuk meringankan kepedihan ujian yang menimpa, hendak kita mengenal Allah yang memberi ujian itu. Kenallah sifat ilmu, kasih-sayang dan belas ihsan Allah yang Maha hebat. Sebagai hamba ilmu kita terbatas, ilmu Allah yang Maha Luas. Kasih sayang kita cuma seraut, kasih sayang Allah selaut. Orang yang mengenal Allah, akan mencintaiNya. Bila sudah cinta, kuranglah derita diuji. Bukankah cinta itu buta?

Orang yang mengenal kasih-sayang Allah punya keyakinan bahwa keputusan (takdir) Allah itu akan memberikan yang terbaik. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, tidak akan memberi sesuatu yang buruk untuk hamba-Nya. Justeru, hamba yang baik tidak akan berburuk sangka terhadap Allah dengan merasakan apa yang ditakdirkanNya (ujian) itu ialah sesuatu yang tidak baik.

Yakinlah bahawa semua ketentuan Allah itu adalah baik. Ujian itu pasti ada kemuslihatan yang tersembunyi untuk setiap kita. Pilihan Allah untuk kita adalah yang terbaik, cuma kita tidak atau belum mengetahuinya. Bila berlaku nanti, barulah kita tersedar, " .. ya Allah beruntung Kau takdirkan begitu." Kata arifbillah (orang yang mengenal Allah), “sekiranya kita merasakan kasih sayang Allah itu terpisah apabila DIA menguji kita, itu petanda tumpulnya akal, butanya mata hati.”

Ujian juga menimbulkan rasa taat kepada Allah. Hati tidak dapat tidak mesti bersabar. Hati akan terdidik untuk redha dan tawakal, karena Qada dan Qadar-Nya mesti berlaku. Manusia akan lebih dekat dengan agama, kepentingan akhirat, cinta kepada Allah. Hikmah ini walaupun sebesar zarah tetapi apabila melekat di hati kebaikannya lebih tinggi dari amal lahiriah walaupun sebesar gunung. Inilah kebaikan di balik kepahitan ujian. Justeru, Allah berfirman:

“… Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu sedangkan sesuatu itu merosakkan kamu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak tahu.” (Surah Al Baqarah : 216)

Dengan ujian juga, Allah ‘membersihkan’ kotoran hati manusia. Ujian itu menghapuskan dosa dan kesalahan terhadap Allah seperti bahan pencuci membersihkan kain yang kotor.

Bila kita benci dengan ujian, artinya kita belum kenal Allah dan (karena ) tidak faham itulah cara (kaedah) Allah mengampunkan dan membersihkan dosa-dosa kita. Ya, seolah-olah orang yang yang benci diuji itu tidak suka dibersihkan daripada dosa-dosa atau apakah dia merasa tidak berdosa? Sebaliknya, apabila kita gembira (menerima dengan baik) ujian itu, karena yakin bahwa yang datangkan ujian itu juga daripada Allah. Kita bukan saja berikhtiar (berusaha) untuk menghilangnya tetapi juga berusaha untuk mendapatkan hikmahnya.

Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

“Barang siapa yang dikehendaki Allah pada orang itu kebaikan, maka Allah akan coba dengan ujian-Nya.”

Tidak ada takdir Allah yang tidak ada hikmahnya. Orang soleh bila diuji, hikmah-hikmah ujian akan semakin terbuka, membawa diri pada muhasabah dan mendekatkan mereka kepada Allah.

Semoga Allah Ta'ala membukakan hikmah dan mengkaruniakan berkah kekuatan, kesabaran serta kasih sayang perlindungan Nya. Aamiin ya Robbal alamin