Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN DAN DOA PENGGUGAH QALBU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN DAN DOA PENGGUGAH QALBU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 April 2014

:: ANTARA TAWADU’ DENGAN TAKABBUR ..



Man atsbata linafsihi tawadhu’an fahuwal mutakabbiru haqqan idzlaisat-tawaadhu’u illaa’an rif’atin famtaa atsbata linafsika tawadhu’an fantal mutakbbiru

Artinya : Barangsiapa yang merasa dirinya tawadhu’ (merendahkan diri), maka dengan demikian itu sebenarnya dia adalah orang yang sombong sebab tidaklah ada tawadu’ itu melainkan dirinya sendiri merasa tinggi. Maka apabila ada rasa tawadhu’ di dalam jiwa-Mu, maka berarti kamu adalah orang yang benar-benar takabbur (sombong)”.

Di antara para ulama terdapat perbedaan-perbedaan dalam mendefinisikan kata tawadhu’. Akan tetapi walaupun berbeda-beda namun pada hakekatnya adalah sama saja, yakni yang berarti merendahkan diri.

Beberapa definisi di antaranya adalah :
----------------------------------------------

1. Sikap tidak menganggap perbuatannya lebih tinggi dari yang lain.

2. Bersikap tenang, sederhana, sungguh-sungguh dan menjauhi perbautan takabbur (sombong), ganas, ataupun membangkang. Dan tawadhu ini merupakan salah satu (sifat) yang harus dimiliki oleh setiap orang yang beriman.

◕3. Menurut Fadloil bin Iyyadh, Tawadhu’ adalah tunduk dan taat melaksanakan yang hak (benar) serta mau menerima kebenaran dari siapapun.

4. Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah, hakekat tawadhu’ adalah mengambil kekuasaan yang hak (benar) dengan bersungguh-sungguh mencapainya, taat dalam menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar menjadi hamba Allah (bukan hamba orang banyak)

5. Bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh siapapun dan tanpa menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain.

Adapun kebalikan dari sikap tawadhu’ adalah takabbur. Di dalam Hadits riwayat Muslim disebutkan, bahwa takabbur (sombong) itu adalah menolak hak (kebenaran), dan merendahkan orang lain.
Sedangkan balasan bagi orang-orang yang takabbur (sombong) adalah baginya tidak disediakan tempat sedikitpun di syurga.

Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Qoshosh ayat 83, yang artinya :

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Akan tetapi antara tawadhu’ dan takabbur ini mempunyai perbedaan yang samara. Sehingga tanpa disadari terkadang orang yang tawadhu’ (mutawadli) pun bisa terjebak kedalam sifat takabbur. Hal ini bisa terjadi bilaman mutawadli’ itu merasa bahwa dirinya adalah orang yang tawadhu’. Sebab tidak ada orang yang merasa bahwa dirinya tawadhu’ melainkan perasaan itu timbul dari rasa sombong (takabbur).

Kembali kepada firman Allah dalam Surat Al-Qoshosh ayat 83, di atas tadi, disana bisa terlihat adanya hubunmgan yang seimbang (relevansi) antara kesombongan dengan perbuatan kerusakan di muka bumi. Dan memang hal ini sudah sering terbukti, di mana orang-orang yang sombong yang merasa dirinya paling kuat, paling pandai, paling ditakuti, dan sebagainya, berbuat kesewenang-wenangan menurut kemauannya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain, merasa perbuatannya selalu benar, atau berbuat kerusakan di sana sini sekehendak hatinya sendiri karena merasa tidak akan ada orang lain yang berani menegur atau melarangnya.

Adapun sebab-sebab yang mengakibatkan seorang terjebak ke dalam sifat takabbur dan berbuat kerusakan di muka bumi di antaranya adalah :

1. Tidak adanya iman di dalam jiwanya.

2. Merasa mempunyai kelebihan dibandingkan orang lain, seperti karena kekayaannya, kedudukannya, kepandaiannya dan sebagainya.

3. Keinginan untuk di puji, di sanjung, dihormati, disayangi, menjadi pusat perhatian dan sebagainya.


Adapun obat untuk menyembuhkan penyakit takabbur yang bersarang di dalam (hati) itu antara lain :

1. Selalu merasa bahwa dirinya adalah sebagai hamba Allah yang mempunyai banyak kelemahan dan kekurangan.

2. Membuka lebar-lebar pintu hati untuk dimasuki nasehat-nasehat yang baik dari siapapun juga tanpa memandang kepada yang memberi nasehat, tetapi memandang apa yang dinasehatkan kepadanya.

3. Banyak bercermin atau mengoreksi kesalahan dan kekurangan diri sendiri dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya.

Setiap orang seharusnya mengambil pelajaran dari tanaman padi, yaitu makin berisi makin merunduk. Jadi apabila ada orang yang makin berisi kemudian makin tinggi mengangkat kepalanya agar setiap orang melihat atau memandangnya, maka demikian ini tidaklah dapat disebut tawadhu’ . hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy-Syadzili r.a. berikut ini :

“barang siapa merasa dirinya berharga (terhormat) maka baginya itu tidak dikatakan tawadhu’.

Juga Imam Yazid r.a. pernah mengatakan :

“Selama hamba itu menyangka bahwasanya dikalangan makhluq masih ada orang yang lebih jahat (jelek) dirinya, maka dia itulah orang yang sombong”.

Beberapa tanda atau cirri-ciri orang yang tawadhu’ yaitu “

1. Tidak marah atau sakit hati bila dicemooh orang lain.
2. Tidak merasa benci jika dikatakan sombong.
3. Tidak serakah pada pangkat atau kedudukan.
4. Tidak menganggap dirinya sebagai orang yang dihormati dan disegani.

Baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits terdapat banyak sekali anjuran-anjuran yang memerintahkan pada kaum muslim untuk senantiasa berlaku tawadhu’. Di antaranya adalah :

1. Dalam surat Al-Furqon ayat 63, yang artinya :

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang ialah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang yang jahil mengajak bertengkar dengan mereka, mereka balas dengan ucapan yang bijaksana”.

2. Dalam surat An-Nahl ayat 23, yang artinya :

“Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang sombong (takabbur).

3. Dalam sebuah Hadits Riwayat Abu Nai’m yang bersumber dari Abu Hurairoh, yang artinya :

“Barang siapa yang bertawadhu’ karena Allah niscaya Allah akan mengangkat derajatnya”.

Selain itu ada pula sebuah Hadits yang artinya :

“Apakah kalian ingin memberitahukan (mengenai) orang-orang yang diharamkan api neraka, atau api neraka yang diharamkan baginya?.

(Yaitu) api neraka itu haram bagi orang-orang yang dekat (kepada Tuhannya), merendahkan diri (kepada-Nya), lemah lembut dan taat”

Dalam hal tawadhu’ ini Ibnu Athilah pernah mengatakan:
“Hakekat orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) itu adalah apa yang dia lakukan itu diri penglihatannya akan kebesaran Allah dan kejelekan sifat-sifat-Nya”.

Lebih lanjut Ibnu At-Atho’illah mengatakan :
“Tidak bisa mengeluarkan kamu dari sifat sombong, kecuali (dengan) melihat sifat-sifat Allah”.

Memang benar apa yang dikatakan Ibnu Atho’illah di atas. Sebab dengan hanya melihat kebesaran, keagungan dan kesempurnaan Allah-lah (yakni dengan cara melihat dan memikirkan segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekitar kita), maka kita akan merasa, bahwa kita ini kecil, lemah hina, tidak mempunyai apa-apa dan juga tidak mampu berbuat apa-apa tanpa pertolongan dari-Nya.dan sebagai akhir dari pembahasan bab ini, marilah kita bersama-sama berusaha mentauladani akhlaq rasulullah yang berikut ini :

Beliau tidak segan-segan memberi salam kepada anak-anak, bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan mereka, sehingga kebanyakan di antara mereka menjadi manja kepada beliau

Di dalam rumah tangganya, beliau tidak segan-segan untuk menyapu, mencuci, memberi makan ternak, memeras susu kambing, berbelanja sendiri ke pasar, makan bersama-sama dengan pelayan dan sebagainya.

Dalam bepergian beliau tidak merasa malu untuk memberi salam terlebih dahulu walaupun kepada orang miskin atau kepada orang lebih mudah dari beliau.

Sebagai seorang Penglima Perang beliau juga turut membuat bparit untuk perlindungan (ketika terjadi perang khondaq), ikut mencari kayu baker, memasak makanan dan sebagainya.

Sebagai seorang penguasa beliau tidak mau dibeda-bedakan. Terhadap hal ini hal ini beliau pernah bersabda, yang artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak mau melihat hamba-Nya di beda-bedakan, diantara sesame kawannya”.

Ketika kedatangan tamu, beliau sendirilah yang menerima, melayani dan menyuguhkan hidangan untuk tamunya

Dalam sebuah pertemuan, beliau tidak mau duduk di tempat yang diistimewakan, tetapi bercampur dengan kebanyakan orang. Dalam hal ini beliau bersabda, yang artinya :

“Wahai kalian semua, Allah telah (terlebih dulu) mengambil aku sebagai hamba-Nya sebelum Dia mengambil Nabi dan Rasul-Nya”.

Apabila melakukan perjalanan bersama-sama sahabatnya. Beliau tidak mau berjalan paling depan, juga tidak mau diiringkan. Ketika ada sahabatnya yang memintanya untuk berjalan paling duluan, beliau mengatakan :

“Biarlah dibelakangku ada malaikat yang mengikuti”.

Apabila mendapat undangan, beliau selalu menyempatkan diri untuk hadir, walaupun yang mengundangnya itu dari kalangan orang miskin atau orang yang tidak berkedudukan.

Beliau tidak segan-segan untuk bergaul dengan siapa saja dan duduk-duduk bersama mereka tanpa memandang status dan kedudukannya.

Pakaian yang dikenakannya tidak pernah lebih bagus dari yang dipakai sahabt-sahabatnya.

Jika bersenda gurau, beliau selalu menggunakan kata-kata yang baik dan tidak pernah tertawa dengan terbahak-bahak, melainkan dengan tersenyum saja.

Apabila ada pengaduan dari umatnya, maka beliau akan memperhatikannya dengan teliti dan akan berusaha menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.

Demikian akhlaq terpuji yang telah dicontohkan Rasulullah. Mudah-mudahan kita semua dapat mentauladaninya.

Sabtu, 01 Maret 2014

:: TUHAN MAAF KAMI SEDANG SIBUK



Tuhan..
Harap maklumi kami manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan...
Kami benar-benar sibuk.. sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu..

Tuhan..
Kami sangat sibuk. ..Jangankan berjamaah.. bahkan munfarid pun kami tunda-tunda..
Jangankan rawatib.. zikir..berdoa.. tahajud..bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami..
Jangankan puasa Senin-Kamis.. jangankan ayyaamul baith.. jangankan puasa nabi Daud..bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh..

Tuhan..
Maafkan kami..kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak.. sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu...
Jangankah sedekah.. jangankan jariyah..bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja seringkali terlupa..

Tuhan..
Urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak...
Jadwal kami masih amatlah padat..
Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu..
Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk..menyungkur sujud
.menangis..mengiba..berdoa.. dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu..

Tuhan..
Tolong jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami....


KARENA KAMI MASIH TERLALU SIBUK ....




 Oleh A.R Rifan

Jumat, 31 Januari 2014

:: ADAKAH YANG HENDAK KITA SOMBONGKAN ..



Bagaimana bisa kekayaan untuk disombongkan, sedangkan kekayaan itu adalah pinjaman, titipan yang akan ditinggalkan dengan kematian dan akan di hisab di hari kiamat.
Waktu yang kita habiskan untuk mengumpulkannya dan seberapa besar kekayaan yang dipunya , jika Allah berkehendak , dalam sekejap pun sirna .

Adakah harta dan kekayaan menjadi sekutu bagi Nya di hati kita .. ?

Bermegah-megah pun kelak kita akan ditanya ,

Bagaimana bisa kecantikan / ketampanan untuk disombongkan sedangkan keduanya adalah pemberian sementara ( batas tua ) yang akan diminta pertanggung jawabnya.

Bagaimana ilmu bisa disombongkan, sedangkan ilmu dituntut untuk mengamalkanya dan manusia hanya diberi sedikit dalam ilmu.

Adakah yang hendak kita sombongkan ..

Ya Allah, ampunilah kami , selamatkanlah kami.. Dan rahmatilah kami

,, اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

:: MENANGISLAH WAHAI DIRI



Tidak berkumpul dua perkara dalam satu masa. Barangsiapa gembira (lalai) di dunia akan berdukacita di akhirat. Barangsiapa yang banyak dukacitanya (takut) di dunia akan gembira di akhirat.

Alangkah sempitnya kuburku, keluh seorang Abid.
Alangkah sedikitnya hartaku, kesal si hartawan.

“Penghuni Syurga itulah orang-orang yang menang.”(al- Hasr: 20)

Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :
“Ada dua titisan yang ALLAH cintai,pertama titisan darah para Syuhada dan titisan air mata yang jatuh karena takut pada ALLAH.”

Nabi Muhammad bersabda lagi : “Tangisan seorang pendosa lebih ALLAH cintai daripada tasbih para wali.”

Nabi bersabda :
“Kejahatan yang diiringi oleh rasa sedih.. ,lebih ALLAH sukai dari satu kebaikan yang menimbulkan rasa takabur.”

Tertawa yang berlebihan tanda lalai dan kejahilan. Tertawa seorang ulama dunia hilang ilmu, hilang wibawanya. Tertawa seorang jahil, semakin keras hati dan perasaannya.

Nabi Muhammad bersabda :
“Jika kamu tahu apa yang aku tahu niscaya kamu banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Seorang Hukama pernah bersyair
“Aku heran, melihat orang tertawa karena perkara-perkara yang akan menyusahkan, lebih banyak daripada perkara yang menyenangkan. ”

Salafussoleh menangis walaupun banyak beramal, takut- takut tidak diterima ibadatnya, dan kita tertawa walaupun sadar diri kosong daripada amalan.

Kita gembira jika apa yang kita idamkan tercapai. Kita menangis kalau yang kita cita-citakan terabai. Nikmat disambut riak, kedukaan menjemput duka.

Nabi pernah bersabda: “Sesungguhnya Neraka dipagari nikmat (kesenangan yang melalaikan), sedangkan syurga dipagari dengan ujian-ujian (amal soleh yang mendekatkan).”

Menangislah wahai diri,
agar senyumanmu banyak di kemudian hari.

Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul dirinya dengan berkata:
“Kalau semua masuk ke dalam syurga kecuali seorang, aku takut akulah orang itu.”

Menangislah sebagaimana Ummu Sulaim apabila ditanya :
“Kenapa engkau menangis?”
“Aku tidak mempunyai anak lagi untuk dihantar berperang,”jawabnya .

Menangislah sebagaimana Ghazwan yang tidak sengaja terpandang wanita rupawan. Diharamkan matanya dari memandang ke langit seumur hidup, lalu berkata :
“Sesungguhnya engkau mencari kesusahan dengan pandangan itu.”

Ibnu Masud r.a.berkata :
“Seorang yang mengerti al Quran dikenali waktu malam ketika orang lain tidur,dan waktu siangnya ketika orang lain tidak berpuasa, sedihnya ketika orang lain sedang gembira dan tangisnya di waktu orang lain tertawa. Diamnya di waktu orang lain berbicara, khusuknya di waktu orang lain berbangga, seharusnya orang yang mengerti al Quran itu tenang,lunak dan tidak boleh menjadi seorang yang keras, kejam, lalai, bersuara keras dan pemarah.

Menangislah di sini wahai diri, sebelum engkau menangis di sana …

:: KITA MASIH DIBERI TANGGUH HINGGA AKHIR MASA ... SEBUAH RENUNGAN ATAS RENTETAN BENCANA




Kaum Nabi Nuh Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat....yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42).

Hingga tak ada makhluk pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118)..

Kaum nabi Syu’aib Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat.. Sampai-sampai Al Quran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami kota tempat yang mereka tinggali....Lantaran begitu hancurnya kota mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).

Kaum Nabi Luth....Allah hancurkan dengan hujan batu..
Al Quran menggambarkan bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).

Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh) ....juga Allah hancurkan dengan gempa..Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri..
(Hud: 67).

Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136).

Qarun beserta pengikutnya Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa...Ini lantaran ia sombong kepada Allah Subhana Wa Ta'ala  (Al-Qashash:81).

Kala umat Nabi Nuh durhaka dibalas air bah..
Kala pengikut Nabi syu'aib durhaka dibalas Gempa dasyat..
Kala bangsa Nabi Luth durhaka dibalas dengan Hujan Batu..
Kala kaum Nabi Shaleh durhaka dibalas gempa..

Namun Umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassallam masih diberi tangguh hinga akhir masa ..

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa.. pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..
Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu.. maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(QS: Al-A'raf Ayat: 96)


“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun..kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak mengambil pengajaran?”..
(QS. at-Taubah: 126).

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya.
Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil..
Dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur..
Dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi..
Dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan..
Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka..
akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S. Al-Ankabut: 40)


Belajar dari kisah Al-Quran yang telah dibuktikan oleh sejarah..seharusnya kita bisa belajar dari semua itu..
Dan dari kisah itu kita bisa berinstrospeksi mungkin memang karena kita banyak dosa sehingga Tuhan menimpakan bencana..

Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib berkata..
“Tidaklah petaka turun.. kecuali karena dosa.. dan tidaklah petaka diangkat.. kecuali dengan taubat.”
[Ad-Dâ` wa Ad-Dawâ` hal. 118]

 
Masihkah kita banyak tertawa, lalai dan enggan bertaubat kembali kepada Nya ...
 
Wahai Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,
Ampuni dosa-dosa kami,
Kami berlindung pada Rahmat Mu atas Kemurkaan MU ..
 

Sabtu, 23 November 2013

:: KEKAYAAN DAN KEMISKINAN SEJATI ..



Kekayaan dan kemiskinan yang sejati terletak pada diri kita.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


ليس الغنى عن ظهر إنما الغنى غنى النفس وإذا أراد الله بعبد خيرا جعل غناه في نفسه وتقاه في قلبه وإذا أراد الله بعبد شرا جعل فقره بين عينيه

Bukanlah kekayaan itu berupa harta yang melimpah, namun kekayaan yang sejati ialah "kekayaan jiwa". Dan bila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah jadikan kekayaannya terletak pada jiwanya, dan ketakwaannya pada hatinya.

Namun bila Allah menghendaki kejelekan bagi seorang hamba, maka Allah jadikan kemiskinannya terletak di depan matanya selalu. (Ibnu Hibban)


Sungguh, Sibuknya MENSYUKURI nikmat yang ada akan lebih MEMBAHAGIAKAN & mendatangkan KARUNIA lainnya, daripada sibuk dengan keinginan-keinginan ..

Jumat, 25 Oktober 2013

:: TINGKATAN IKHLAS , MENATA HATI MERAIH BAHAGIA


Sahabat, setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang bahagia, menikmati hidup ini tanpa merasa terbebani oleh berbagai masalah. dan hal ini hanya akan dirasakan orang yang sungguh-sungguh berupaya ikhlas, menjaga setiap amalnya, baik amal ibadah maupun amal shalih dalam kehidupan bermasyarakatnya, hanya bagi Allah.

Tidak terbersit keinginan untuk dipuji, dihargai, dihormati makhluk. Ringan saja ketika melakukan sesuatu, yang penting baginya adalah ridha dan berkah Allah. Ia tahu bahwa tugasnya di dunia ini hanya dua, pertama luruskan niat selalu, hanya demi meraih cinta Allah, lalu selanjutnya ia harus menyempurnakan ikhtiar agar hasil yang diharapkan betul-betul optimal, terbaik yang dapat dipersembahkannya.

Sehingga ia tidak perduli dengan penghargaan orang lain, ia tetap bersemangat beramal shalih, baginya yang terpenting, apa yang dilakukannya mendapat ridha Allah. Rezeki baginya adalah ketika ia mampu berbuat meluruskan niat dan beramal dengan amal terbaik.

Untuk mencapai tingkatan ikhlas tertinggi, yaitu meraih ridha Allah. Menurut Imam Ali radhiallahu ‘anhu, ada beberapa level ikhlas, antara lain;

✔ PERTAMA, ikhlasnya seseorang untuk meraih kebahagiaan duniawi. Ketika berdoa pun, ia berharap keinginan duniawi semata. Walaupun ini tingkatan terendah, namun lebih baik karena ia hanya meminta hanya kepada Allah saja.

✔ KEDUA, ikhlasnya seorang pedagang, ia berusaha ikhlas namun dengan menghitung-hitung pahala terlebih dahulu. Jika suatu amal banyak mendatangkan pahala, pasti ia semngat mengerjakannya. Berharap amal tersebut dapat menghapuskan dosa serta menguntungkan duniawinya.

✔ KETIGA, ikhlasnya seorang hamba sahaya, ia takut sekali dengan ancaman Allah, sehingga ia berusaha ikhlas dalam berbuat, hanya demi Allah agar Allah tidak murka kepadanya.

✔ KEEMPAT, ikhlasnya orang yang berharap syurga, balasan baik bagi Allah, sehingga amal yang dikerjakannya betul-betul diperuntukkan sebagai bekal hidup diakhirat kelak, agar ia meraih surga; balsan tertinggi dari Allah.

✔ TINGKAT TERAKHIR, KELIMA, ikhlas tingkat tertinggi, ia pasrah dengan ketentuan Allah. baginya ia berbuat terbaik hanya demi keridhaan dan berharap cinta Allah. Ia hanya berkehendak dapat berjumpa Allah kelak, selain itu terserah Allah, ia tidak begitu peduli dengan balasan Allah. Cukup baginya cinta dan perjumpaan dengan Allah nanti.

Subhanaallah, mudah-mudahan suatu saat kita kita dapat meraih tingkatan ikhlas tertinggi ini. Amiin.

Untuk menjadi seorang yang ikhlas pasti memerlukan latihan (riyadhah), berat memang pada awalnya , namun jika sungguh-sungguh berupaya, pasti akan berbuah keikhlasan yang tiada bandingnya dengan kehidupan dunia ini.

Cobalah mulai berusaha melupakan setiap amal yang kita lakukan, seakan-akan kita tidak pernah melakukannya. Dan jangan membeda-bedakan amal besar atau amal kecil, semua amal sama saja, upayakan berbuat terbaik dalam amal apapun juga.

Lupakan pula penghargaan dan celaan orang lain, upayakan bersikap biasa-biasa saja dengan semua yang kita lakukan. serta jangan berharap balasan berbentuk pujian, materi atau penghargaan dari orang lain. Ridha dan pujian Allah lebih menentramkan hati , karena dialah sumber dari segalanya.

Marilah kita senantiasa menata keikhlasan hati, dengan mulai berlatih dalam setiap kesempatan amal. Dengan begitu, mudah-mudahan suatu saat bahagia teraih, dunia akhirat. Aamiin.



 



Oleh KH. Abdullah Gymnastiar

:: CIRI ORANG YANG MENDAPATKAN HIDAYAH



Adapun diantara ciri orang yang mendapatkan hidayah atau petunjuk dan bimbingan Allah adalah sebagai berikut.

1. MERASAKAN KEMUDAHAN DALAM BERAMAL SALEH


Orang yang telah mendapatkan hidayah akan merasa mudah atau ringan dalam melaksanakan amal saleh, rajin dan tekun dalam beribadah, serta sangat takut berbuat kedurhakaan. Sementara orang yang tidak mendapatkan hidayah-Nya akan merasa malas dalam beramal saleh dan tidak merasa bersalah kalau berbuat maksiat.

Allah سبحانه وتعالى. berfirman, “Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapat petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Al An’am 6: 125)

Maksud ayat Dia melapangkan dadanya untuk Islam yaitu mereka yang mendapatkan hidayah akan merasa mudah melaksanakan ajaran-ajaran-Nya, dadanya lapang tanpa beban. Sedangkan yang dimaksud niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit yaitu mereka yang tidak mendapatkan hidayah akan merasa malas dalam beramal saleh karena dadanya merasa sesak saat melaksanakan aturan-aturan Allah سبحانه وتعالى.

2. MERASAKAN KERINDUAN KEPADA ALLAH


Orang yang mendapatkan hidayah, setiap relung hatinya terisi dengan kerinduan kepada Allah سبحانه وتعالى. Jika nama Allah سبحانه وتعالى. disebut, akan bergetar hatinya; kalau dibacakan firman-Nya, akan bertambah imannya; ia bertawakal, mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat sebagai ekspresi syukur atas nikmat yang diterimanya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. Orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (Al Anfal 8: 2-4)

3. KONSISTEN ATAU ISTIQAMAH


Orang yang mendapatkan hidayah akan istiqamah atau konsisten dalam menjalankan perintah-perintah-Nya. Ia akan merasa nikmat saat beribadah kepada-Nya. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut,

“ ... Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran 3: 101)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Sesungguhnya Allah suka apabila seorang hamba mengerjakan suatu pekerjaan dan dia konsisten melakukannya.” (H.R. Baihaqi)

Kekokohan mereka dalam memegang ajaran agama diumpamakan dalam ayat berikut.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (la Ilaha Illallah) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim 14: 24-25)

4. BERSEMANGAT DALAM MEMPELAJARI AJARAN AGAMA

Orang yang mendapatkan hidayah akan memiliki semangat untuk selalu menelaah ajaran-ajaran Allah. Islam itu agama yang harus dipahami, bukan sekadar diyakini. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

”Apabila Allah akan memberikan kebaikan pada seseorang, Dia faqihkan/fahamkan orang tersebut dalam agama Nya.”

Yang dimaksud dengan Dia faqihkan orang tersebut dalam agama yaitu orang tersebut bersemangat untuk menelaah ajaran-ajaran Islam.

5. SABAR MENGHADAPI BERBAGAI UJIAN


Allah سبحانه وتعالى. memberikan kehidupan kepada manusia sebagai ujian. Siapakah di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya. Kehidupan dunia merupakan ladang amal.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al Mulk 67 : 2)

Orang-orang yang mendapatkan hidayah akan tahan menghadapi berbagai ujian kehidupan, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.’ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al Baqarah 2: 155-157)

Begitulah ketika seorang hamba ketika dibukakan kepahaman terhadap agama Allah, ia akan merasa semakin kecil dan banyak dosa serta lalai. Kemudian terbukalah hatinya untuk bertaubat nasuha, berhijrah (menjadi lebih baik dan lebih baik) yang menjadi titik balik langkahnya untuk semakin beramal soleh bagi akhiratnya , mengukur sisa waktu dan sisa usianya dalam ketakwaan.

Semoga Allah senantiasa membukakan pintu hidayah bagi kita semua, dan menyampaikan kita pada rahmat ridha serta cinta Nya. aamiin ya Rabb.




(Ust. DR. H. Aam Amiruddin, Msi)

:: MUTIARA NASEHAT BAGI YANG BERGELAR ISTERI


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ..
"Hai anakku, kini engkau kan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenal dan berkawan pula dengan orang yang belum engkau kenali. Itulah suamimu."

Jadilah engkau tanah bagai suamimu (taati perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan pelbagai kesukaran karena itu akan memungkinkan ia meninggalkanmu.

Janganlah engkau terlampau menjauhinya, agar ia tidak melupaimu. Sekiranya dia menjauhimu, maka jauhilah dia dengan baik. Peliharalah suamimu itu dengan baik. Jagalah mata, hidung dan anggotanya yang lain.

Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu darimu melainkan yang harum. Jangan pula ia mendengar sesuatu darimu melainkan yang enak dan janganlah ia melihatkan melainkan yang indah sahaja pada dirimu.

Kalau wanita ingin menjadi isteri yang baik, dipihak lelaki juga berhasrat memiliki wanita yang begitu. Mereka (para suami ) ingin benar punya isteri yang menyambut kepulangan dari tempat kerja dengan wajah yang manis dan ceria, senyum menawan, pakaian yang bersih dan wangi dan rumahtangga pula berada dalam keadaan bersih kemas dan terurus. Bila mata sedap memandang, tenang dan damailah hati suami.

Bukan itu saja suami juga bercita-cita memiliki seorang isteri yang boleh menjadi penghibur dirinya, bisa berbicara diskusi bersama dengannya, faham apa yang disenangi, tahu mengambil hati suaminya disamping boleh memberi layanan yang menyenangkan dan mengembirakan suami. Itulah wanita idaman setiap lelaki. Pendek kata bagaimana lelaki akan dilayani oleh bidadari di syurga kelak begitu jugalah keinginan lelaki dari seorang isteri seorang bidadari rumahtangga. Oleh sebab itu dikatakan rumahtangga yang bahagia itu ialah syurga tentulah ada bidadarinya. Siapa lagi kalau bukan isteri yang solehah yang layak menyandang gelaran bidadari dunia.

Isteri yang solehah akan berusaha memberi wajah jernih pada rumahtangga. Kasih sayang yang lahir adalah hasil dari masing-masing hendak mencari keridhaan ALLAH,bukannya dorongan nafsu semata- mata. Masing-masing suami isteri meletakkan ALLAH dan akhirat yang lebih besar dan utama.

Isteri yang solehah tidak terasa hina menjadi pelayan suami,malah sebaliknya rasa bangga dan bahagia kalau boleh melakukan tugas-tugas itu dengan baik dan sempurna. Gembira karena yakin dengan janji ALLAH sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah yang bermaksud:

"Apabila seorang perempuan mencuci pakaian suaminya, maka ALLAH mencatat baginya seribu kebaikan dan mengampuni dua ribu kesalahan dosanya, bahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memohon ampun baginya serta ALLAH mengangkat seribu darjat baginya."

"Wahai Fatimah, setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, ALLAH akan membina tujuh parit antara dirinya dengan api neraka. Jarak antara parit itu ialah sejauh bumi dangan langit."

"Wahai Fatimah, setiap wanita yang berair matanya ketika memotong bawang untuk menyediakan makanan keluarganya,ALLAH akan mencatat untuknya pemberian sebanyak yang diberi kepada mereka yang menangis karena takutkan ALLAH."

Siapa yang tidak mau kemuliaan ini hanya dengan melakukan tugas yang ringan? Seorang isteri yang solehah akan sentiasa mencari-cari jalan untuk menyenangkan hati suami dan menutupi ruang-ruang yang menyusahkan dan mencurigakan suami terhadap dirinya. Dia tidak akan membimbangkan suaminya terhadap dirinya. Pandai memelihara dirinya. Karena itu juga yang menjadi syarat untuk dia mendapat keredhaan ALLAH dan keselamatan di akhirat nanti.Setiap rumahtangga yang dihuni oleh isteri yang solehah bererti rumahtangga itu telah memiliki perbendaharaan yang termahal di dunia dan di sisi ALLAH rumahtangga itu mendapat perhatian-Nya.

Sabda Rasulullah yang bermaksud : " Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayani suaminya selama seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapang pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa hisab."

Isteri solehah biasanya menjadi milik lelaki yang soleh. Tetapi ada juga ketikanya isteri solehah bersuamikan lelaki yang tidak/kurang baik. Dapatkah dirasakan kedamaian dan keamanan wujud dalam rumah tangga bilamana suami kufur dengan ALLAH dan buruk akhlak terhadap isterinya?. Isteri yang menghadapi persoalan begini akan tertekan jiwanya. Ada yang tidak sabar.

Dalam hal sebegini, si isteri perlu banyak bersabar dan selalu bermunajat pada ALLAH. Ingatlah mungkin kesusahan yang kita hadapi adalah ujian dari ALLAH.

Ada dua maksud ALLAH mendatangkan ujian yaitu
* Pertamanya ujian itu didatangkan sebagai penghapusan dosa dan
* Keduanya untuk peningkatan darajat disisi ALLAH.

Jadi jika bisa bersabar maka terhapuslah dosa-dosa yang lalu. Sebaliknya tidak mustahil juga itu merupakan peningkatan darjat dari ALLAH. Kalau tidak diuji, mungkin hati kita akan terpaut benar dengan suami, menyayangi suami "LEBIH DARI ALLAH".

Jadi untuk melihat seberapa besar cinta kita kepada Allah, maka lihatlah bagaimana porsi kita apakah lebih besar untuk suami ataukah lebih pada membesarkan ALLAH . Kalau benar hati sayang dan takut pada ALLAH tentu isteri tidak akan ragu ragu untuk bertindak membesarkan dan menyayangi ALLAH daripada suaminya sendiri. Karena ini adalah ujian. Ketika Allah telah ridha dan cinta, maka niscaya akan dimudahkanlah segenap bahtera tenang berjalan serta keridhaanNya.

Ingatlah, seburuk suami/isteri kita, tidaklah seburuk Firaun, sedangkan isteri Firaun, Siti Asiah boleh bersabar menghadapi kesombongan dan keangkuhan Firaun sehinggakan Siti Asiah dimasukkan oleh ALLAH termasuk di dalam barisan antara wanita-wanita solehah yang dijamin syurga.

Demikian juga sebaliknya , bagi seorang suami menghadapi isteri , hendaklah selalu bersabar mendorong dalam ketaatan kepada Allah.

Bila suami /isteri kita masih belum diberi petunjuk janganlah kita jemu untuk mentarbiyah, mendoakan kebaikan dan hidayah Allah untuknya dan bermunajatlah kepada ALLAH agar ALLAH mengubah hatinya untuk semakin dekat dan tunduk pada perintah-Nya.

Rasulullah pernah bersabda : "Wanita yang taat akan suaminya semua burung-burung diudara, ikan- ikan di air, malaikat di langit,matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana ia (isteri) masih taat pada suaminya dan diredhai (serta menjaga sembahyang dan puasanya)."

ALLAH berfirman, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim:6)

Semoga bermanfaat, dan keberkahan, keridhaan serta rahmat Allah senantiasa menyertai keluarga kita juga seluruh saudara- saudara kita semua. 


اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

:: KETAATAN ADALAH MURNI KARUNIA ALLAH




Jangan pernah menyangka bahwa istiqamahmu dan ketegaranmu merupakan produk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu.

Sesungguhnya Allah telah berkata kepada Nabi-Nya :

وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka." (QS.17 (Al-Israa') : 74)

Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu?

Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmat-Nya darimu kapan saja Allah kehendaki.

Karenanya tetaplah tundukkan hati selalu .., kepada Nya lah setiap jiwa kita kembali dan berserah...




Ustadz. Firanda, MA

Sabtu, 12 Oktober 2013

:: MENANGISLAH...KARENA KITA MEMANG HARUS MENANGIS ...


Dalam islam seseorang yang mudah menangis bukanlah aib..Tentu saja bukan sembarang menangis seperti menangis karena cinta, kehilangan harta atau urusan dunia lainnya namun menangis karena takut kepada Allah dalam kesendiriannya akan dosa-dosa yang telah dilakukan. Mudah menangis adalah tanda lembutnya Qalbu .. Semakin lembut qalbu semakin seorang hamba dapat merasakan getaran-getaran lembut kala asma Allah disebut .. Semakin takut akan Keagungan dan tanda-tanda KebesaranNya .. Karenanya jika belum mampu menangis ... Teruslah belajar menundukkan keegoan hati dihadapan Allah .. Perkuat sujud dan taubat kita kepada Nya ....

Dalam sebuah hadits dijelaskan keutamaan mata yang mudah menangis karena takut kepada Allah.

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

Dari Atha' bin Abu Rabah, dari Ibnu Abbas, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

(Ada) dua mata yang tidak akan tersentuh oleh (api) neraka:
(1) mata yang menangis karena takut kepada Allah dan
(2) mata yang tidak terpejam karena berjaga-jaga dijalan Allah
(HR. Tirmidzi )

Sungguh menangis karena takut kepada Allah merupakan diantara sifatnya orang-orang yang shalih terdahulu

Suatu malam al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”

Kalau al-Hasan al-Bashri saja menangis sedemikian keras karena satu dosa yang diperbuatnya, lalu bagaimanakah lagi dengan orang yang mengingat bahwa jumlah dosanya tak dapat lagi dihitung dengan jari tangan & jari kaki .....?

Seharusnya kitalah yang lebih banyak menangis karena banyaknya dosa daripada dirinya

Tidakkah kita malu merasa termasuk golongan orang-orang shalih sementara hati-hati kita begitu keras saat dalam kesendirian kita dan air mata kita hilang entah pergi kemana

Perbanyak istighfar dan membaca surat as Sajdah saat munajat malam Insya Allah dapat melembutkan hati ..

*********

Ya Allah , tiada Tuhan selain Engkau, Wahai Rabb yang mempunyai arasy yang agung.

Ya Allah, Janganlah Engkau biarkan kami termasuk dalam golongan orang-orang yang menyombongkan diri,
Masukkan kami ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang bersujud kepada MU, melaksanakan perintahMu, yang takut terhadap azabMu,
Masukkan kami ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang selalu mengingatMU dan menangis karena kekhusyukan beribadah kepada MU,

Wahai Allah, masukkan kami ke dalam golongan hamba-hambaMu yang bersujud kepada Mu, yang selalu me Maha sucikan Engkau dengan pujian dan lindungilah kami dari keburukan iman serta sebab jauhnya kami kepada MU , dan ampunilah dosa dosa kami wahai Allah Yang Maha Luas ampunan Nya ..
 
 اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

Sabtu, 04 Mei 2013

:: 10 PESAN INSPIRASI USTAD JEFFRY AL BUCHORI DALAM TWITTERNYA


 
Bismillahirrahmanirrahim ..

" Pada akhirnya ... Semua akan menemukan yang namanya titik jenuh.. Dan pada saat itu.. Kembali adalah yang terbaik.. Kembali pada siapa ...??? Kepada "DIA" pastinya .. Bismi_KA Allohumma ahya waamuut.."

" Yang paling banyak aku sembunyikan adalah keburukanku .. Dan yang paling banyak aku tampakkan adalah kebaikanku ..."

" Diri ini selalu ingin kelihatan baik di mata manusia yang lain ... Padahal begitu jelas keburukannya di mataMU .. Ampuni aku.. Ampuni aku ya Allah .."

" Kenapa manusia nggak boleh berlama-lama menanam kebencian, dendam dan kemarahan, khawatir nggak ada umur, kemudian mati membawa itu semua, na'udzu billah "

" Kemarahan bisa membuat seseorang menjadi hina ....Hina dalam perbuatan ... Kemarahan bisa membuat seseorang menjadi buruk .. Buruk dalam sangkaan ..."

" Tak ada satupun manusia yang tak pernah berbuat salah .... Lalu kenapa jadi sulit untuk memaafkan orang yang telah berbuat salah kepada dirinya ..."

" Pada dasarnya manusia itu makhluk yang memiliki sifat lemah lembut & cerdas, hanya saja dalam perjalanannya nafsu yang tidak baik telah mengotorinya .... "

" Kebenaran itu mengajak bukan menginjak, merangkul bukan memukul, memeluk bukan menekuk, munculkan harapan bukan mupuskan harapan, dan tidak merasa lebih baik"

" Berhati-hatilah kepada orang dengki, apapun akan menjadi salah di hadapannya, orang dengki tidak pernah menyadari kedengkiannya, kecuali ada hidayah dan keinginan untuk tetap bersih hati "

" Memberi maaf tidak harus menunggu yang salah meminta maaf ... itulah Kemuliaannya ..."


Barakallahufikum ....

Selamat jalan Bang Uje , selamat beristirahat dengan tenang di haribaan Nya . Semoga Allah memuliakan selalu dan memberikan tempat terbaik di sisi Nya . Aamin. Al Fatihah ..

:: SESUNGGUHNYA NIKMAT DAN REZEKI BUKAN UNTUK MEMULIAKAN MANUSIA



“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.” (Al-Kahf(i): 7)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
 

♥ ♥ “Sesungguhnya bagi tiap umat ada fitnah (ujian yang menyesatkan), dan fitnah umatku adalah harta.” (Shahih Sunan At-Tirmdzi no. 2336)


DUA JENIS NIKMAT


Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu membagi nikmat ke dalam dua bagian.

• PERTAMA, AN-NI’MAH AL-MUTHLAQAH

Yaitu kenikmatan yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan abadi. Seperti nikmat dalam berislam dan mengikuti As-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan untuk memohon meraup nikmat ini. Memohon agar mendapat hidayah untuk menempuh jalan orang-orang yang meraih nikmat ini:

  ♥ ♥ “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa`: 69)

• KEDUA, AN-NI’MAH AL-MUQAYYADAH

Yaitu kenikmatan yang digambarkan seperti nikmat memperoleh kesehatan, kekayaan, kekuatan jasad, kedudukan, banyak anak dan memiliki para istri yang baik, serta nikmat-nikmat yang sejenis.

Kenikmatan semacam ini diberikan kepada orang yang berbuat kebaikan, juga kepada orang yang berbuat kemaksiatan, mukmin maupun kafir. Kenikmatan seperti di atas, bila diberikan kepada orang kafir, merupakan bentuk istidraj (dalam bahasa Jawa: dilulu) dengan kenikmatan itu, mengarahkan dirinya kepada azab, petaka. Hakikatnya dia tidak memperoleh nikmat, tapi sesungguhnya dirinya memperoleh bala (sesuatu yang bisa menyusahkan). 


Sekiranya nikmat semakin bertambah , namun hati semakin jauh dari Allah dan tidak diiringi dengan pertambahan iman, amal /ibadah serta syukur, maka semoga nikmat yang ada bukanlah merupakan istidraj (menghabiskan pahala untuk kebaikan dunia, sehingga pahala untuk akhirat semakin menipis dan lama-lama habis).

************

NIKMAT DAN REZEKI BUKAN UNTUK MEMULIAKAN MANUSIA

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

  ♥ ♥ “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku’. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: ‘Rabbku menghinakanku’.” (Al-Fajr: 15-16) [Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah, hal. 33]

|| Kata Ibnu Katsir rahimahullahu bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (dalam ayat di atas) sebagai bentuk pengingkaran terhadap orang yang berkeyakinan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala meluaskan rezkinya berarti dirinya mendapat kemuliaan. Padahal tidak demikian. Bahkan hal itu merupakan bentuk bala dan ujian. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:

  ♥ ♥ “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Sekali-kali Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Al-Mu`minun: 55-56)

Demikian pula sebaliknya, apabila mengalami bala, ujian dan kesempitan rezki, dirinya berkeyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghinakannya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: كَلاَّ (Sekali-kali tidak demikian). Permasalahannya tidaklah seperti yang dia yakini. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan harta kepada siapa yang Dia suka dan yang tidak Dia suka, serta menyempitkan harta kepada yang Dia suka dan yang tidak Dia suka.




Allah subhana wa Ta'ala berfirman dalam surah Al Qashash :


78. Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? .......

79. Maka tatkala Qarun keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya . Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".

80. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu wahai Qarun, (sesungguhnya) pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali bagi orang-orang yang sabar".

Begitulah dalam kehidupan ketika ada kesempitan rezeki /ujian/sakit/musibah, tanamkan ikhas dan bersabarlah wahai saudaraku, karena sesungguhnya Allah sedang menabungkan pahala atas buah kesabaran tersebut
***********
 

BERSYUKUR KARENA NIKMAT

Sesungguhnya titik pijak dari itu semua adalah ketaatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam (menyikapi) dua keadaan: apabila dia sebagai orang yang berkecukupan (kaya), hendaknya dia BERSYUKUR kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas yang demikian ini. Apabila dia fakir, hendaknya menyikapinya dengan SABAR.” (‘Umdatut Tafsir ‘an Al-Hafizh Ibni Katsir, Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullahu, 3/683)

Karenanya, seseorang yang telah dikaruniai nikmat (harta, anak dan sebagainya) hendaknya memanfaatkan nikmat tersebut di jalan yang diridhoi Allah agar tidak menghadirkan bala dan malapetaka. Kehadiran nikmat agar tidak menjadi fitnah (ujian) yang menyeret penerima kenikmatan tersebut kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan bahwa harta dan anak adalah fitnah (ujian).

 ♥ ♥ “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 15)




Wallahu a'lam bishawab
Barakallahufikum ..


Rujukan (disusun dari berbagai sumber dibawah ini):
- “Menyikapi Nikmat Dunia Sebagai Ujian”, Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad AbdulMu’thi, Lc
- “Anak, Antara Harapan dan Impian”, tulisan Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin.



Sabtu, 27 April 2013

:: NIKMAT MANALAGIKAH YANG AKAN KITA DUSTAKAN ..


Masih memiliki peluang menghirup udara segar di bumi ini sampai detik ini adalah suatu ni'mat ..

Masih memiliki kesehatan yang baik untuk menjalani kehidupan suatu ni'mat...

Masih memiliki waktu untuk menunaikan ibadah itu adalah suatu ni'mat...

Masih memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu syar'i maupun ilmi dunia suatu ni'mat..

Memiliki sumber untuk penghidupan (sedikit/banyak sesuai yang Allah takarkan) namun berkah itu adalah suatu ni'mat ..
 
Memiliki keluarga yang saling menyayangi setiap waktu juga suatu ni'mat ..

Memiliki kebebasan untuk melangkah, untuk bersuara, menuangkan isi hati, itu suatu ni'mat...

Masih memiliki detik untuk merasakan kegembiraan, suatu ni'mat..

Memiliki kesulitan dalam mengarungi kehidupan, itu pun suatu ni'mat...

Memiliki mereka yang sering mengingatkan dan menasehati, suatu ni'mat..

Memiliki ni'mat keimanan dan keislaman yang selalu berdenyut seiring denyutan nadi, yang berhembus seiring hembusan nafas, itu sungguh suatu ni'mat diatas segalanya...
yang tak mungkin di tukar dengan apapun karena merupakan ni'mat terbesar dalam hidup kita ...

Maka ni'mat Tuhanmu manalagikah yang hendak didustakan ..
(Ar Rahman)

Terima kasih wahai Rabb kami, dan segala Puji terindah bagi MU .., dan Limpahkanlah shalawat serta salam kerinduan kami kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabat
—

Senin, 10 Oktober 2011

DOA UNTUK PUTRA-PUTRI KITA ...



... "Yaa Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do'a". QS. Ali Imran (3) : 38



Doa untuk Putra dan Putri Kami...



Bismillaahir'rahmanir'rahim...

Segala puji dan syukur hanya untuk Allah Tuhan alam semesta.



Yaa Rabb... limpahkanlah shalawat dan salam kepada Sayyidinaa Muhammad, pembuka pintu rahmat Allah, Sebanyak pengetahuan Allah, shalawat dan salam yang selalu tercurah sekekal kerajaan Allah, dan juga kepada keluarga dan para sahabatnya.



Yaa Rabb... jadikanlah kami dan keturunan kami orang-orang yang selalu mendirikan shalat, Yaa Allah, kabulkanlah doa kami.



Yaa Rabb... jadikanlah keturunan kami sebagai buah hati kami dan jadikanlah mereka pemimpin orang-orang yang bertakwa.



Yaa Rabb... berilah kami ilham untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau karuniakan kepada kami dan kepada ibu-bapak kami, dan agar kami dapat beramal soleh yang Engkau ridhai, jadikanlah keturunan kami orang-orang yang shalih, sesungguhnya kami bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang berserah diri. Kami serahkan anak-anak kami di bawah perlindungan kalimat Allah yang sempurna dari ganguan setan, mara bahaya dan dari pandangan yang penuh kedengkian.



Yaa Rabb... berkahilah anak-anak kami, janganlah Engkau celakan mereka, karuniailah kami ketaatan mereka, jadikanlah mereka buah hati Nabi Muhammad saw dan kedua orang tua mereka.



Yaa Rabb... berilah mereka ilmu para arifin, jadikanlah mereka faqih (alim) dalam agama, ajarkan kepada mereka pengetahuan ta'wil, dan tuntunlah mereka ke jalan yang lurus dan benar, dan jadikanlah mereka ulama yang mengamalkan ilmunya, dan masukkanlah mereka ke dalam golongan hamba-Mu yang shalih.



Yaa Rabb... tumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, dan jadikanlah mereka orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.



Yaa Rabb... berilah mereka taufik untuk menyintai-Mu, menta'ati-Mu dan mencari keridhaan-Mu. Ajarkanlah kepada mereka semua yang bermanfa'at dan berilah mereka manfa'at dari semua yang Kau ajarkan.



Yaa Rabb... lindungilah mereka dari segala fitnah, baik yang nyata maupun tersembunyi, dan juga dari segala macam kejahatan.



Yaa Rabb... mudahkanlah urusan mereka, dan perbaikilah keadaan, perbuatan dan niat mereka.



Yaa Rabb... berilah mereka kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat.



Yaa Rabb... bantulah mereka agar dapat mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baik amal ibadah.



Yaa Rabb... akhirilah semua urusan mereka dengan keberhasilan dan selamatkanlah mereka dari kehinaan dunia dan akhirat.



Yaa Rabb... Bentuklah anak-anak kami menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan. Menjadi hamba-hamba-Mu yang bangga dan tabah dalam kekalahan. Tetapi Jujur dan rendah hati dalam kemenangan. Bentuklah mereka menjadi umat yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja. Seorang Umat yang sadar bahwa mengenal Engkau Yaa Rabb dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.



Yaa Rabb... Kami mohon, janganlah pimpin anak-anak kami hanya di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah pula mereka di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan. Biarkan mereka belajar untuk tetap bisa berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya. Ajarilah mereka berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain. Berikanlah kami keturunan yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka. Keturunan yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau. Dan, setelah semua menjadi miliknya... Berikan mereka cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya.



Yaa Rabb... Berilah mereka kerendahan hati... Agar ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki... Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna...



Yaa Rabb... jadikanlah pendengaran, pandangan dan kekuatan mereka menyenangi jalan petunjuk-Mu, dan jadikanlah hawa nafsu (keinginan) mereka patuh pada ajaran yang dibawa oleh kekasih-Mu Muhammad saw.



Yaa Rabb... selamatkanlah mereka, berilah kesehatan dan maafkanlah mereka, panjangkan umur mereka dalam keta'atan dan keridhaan-Mu, terimalah amal mereka, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Engkaulah yang patut megabulkan do'a.



Dan limpahkanlah shalawat dan salam kepada Sayyidinaa Muhammad saw serta kepada para keluarga dan sahabatnya.



Dan bila akhirnya semua itu terwujud, kami bersujud dan berujar "tiadalah hidup kami kan sia-sia"



"Yaa Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau." (QS. al-Baqarah: 128)



“Yaa Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. Ya Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan seluruh orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Ibrahim: 40-41)



Di sanalah Zakariya berdo'a kepada Tuhannya seraya berkata: "Yaa Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do'a". QS. Ali Imran (3) : 38

Aamiin Yaa Rabb Yaa Mujibbassaillin.




Muhammad Irvan Ilham - Sabari Muhammad

IZINKAN AKU REGUT CINTA MU YA RABBI