Tampilkan postingan dengan label TAZKIYATUN NAFS / MENJERNIHKAN HATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAZKIYATUN NAFS / MENJERNIHKAN HATI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Mei 2014

:: AL MUQSITH , YANG MAHA PEMBERI KEADILAN



Dia adalah Dzat yang mengambil hak orang yang teraniaya dari orang yang menganiaya. Dan kesempurnaan Nya adalah dengan menjadikan orang yang teraniaya merelakan perbuatan orang yang menganiaya Nya. Ini merupakan puncak dari sifat adil tanpa pandang bulu , dan tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah SWT.

 ********

Dari Umar bin Khattab ra, ketika Nabi SAW duduk, tiba-tiba beliau tertawa hingga tampak giginya yang putih berseri. Umar ra bertanya : Wahai rasulullah apa yang menyebabkan tuan tertawa ?

Rasul SAW menjawab : 2 dari umatku berlutut di hadapan Allah SWT , lalu salah seorang berkata : Ya Rabb , ambillah hakku dari orang yang menganiayaku ini.

Lalu Allah SWT berkata kepada orang yang menganiayanya itu : Kembalikan kepada saudaramu semua yang kau ambil darinya dengan aniaya !

Orang itu menjawab : Ya Rabb , tidak ada lagi kebaikan yang tersisa padaku .

Lalu orang yang teraniaya itu berkata : Ya Rabb , timpakan dosa-dosaku kepadanya ! 

Kemudian Rasulullah SAW menangis seraya berkata : " Itulah hari maha dahsyat , sehingga orang perlu minta supaya dosanya ditanggungkan kepada orang lain."

Beliau melanjutkan : "'Kemudian Allah berkata : angkatlah pandanganmu dan lihatlah ke dalam surga. "

Lantas orang itu berkata : Ya Rabb , aku melihat kota kota terbuat dari perak dan istana istana terbuat dari emas dihiasi permata, untuk siapakah ia gerangan ? Untuk nabi yang mana , atau untuk shiddiq yang mana , atau untuk syahid yang mana ?

Allah SWT menjawab : Ia Aku berikan kepada orang yang memberikan harganya !

Orang itu bertanya : Ya Rabb , siapakah yang mampu membayar harganya ?

Allah menjawab : Engkau bisa memberikan harganya.

Tanya : Dengan apa ?

Jawab : Dengan pemberian maafmu kepada saudaramu !

Orang itu berkata : Ya Rabb , aku telah memaafkannya

Lalu Allah SWT berkata : Peganglah tangan saudaramu itu dan bawalah masuk bersamamu ke dalam surga.

Kemudian Nabi SAW bersabda : Takutlah kamu sekalian kepada Allah, dan
berdamailah diantara sesama kamu, karena sesungguhnya Allah kelak pada hari kiamat juga akan memperdamaikan antara sesama kaum mukminin.

SUBHANALLAH , ALLAHU AKBAR ,,



Sumber
Rahasia 99 nama Allah yang Indah
Al Ustadz Mahmud Samiy



Sabtu, 12 April 2014

:: ANTARA TAWADU’ DENGAN TAKABBUR ..



Man atsbata linafsihi tawadhu’an fahuwal mutakabbiru haqqan idzlaisat-tawaadhu’u illaa’an rif’atin famtaa atsbata linafsika tawadhu’an fantal mutakbbiru

Artinya : Barangsiapa yang merasa dirinya tawadhu’ (merendahkan diri), maka dengan demikian itu sebenarnya dia adalah orang yang sombong sebab tidaklah ada tawadu’ itu melainkan dirinya sendiri merasa tinggi. Maka apabila ada rasa tawadhu’ di dalam jiwa-Mu, maka berarti kamu adalah orang yang benar-benar takabbur (sombong)”.

Di antara para ulama terdapat perbedaan-perbedaan dalam mendefinisikan kata tawadhu’. Akan tetapi walaupun berbeda-beda namun pada hakekatnya adalah sama saja, yakni yang berarti merendahkan diri.

Beberapa definisi di antaranya adalah :
----------------------------------------------

1. Sikap tidak menganggap perbuatannya lebih tinggi dari yang lain.

2. Bersikap tenang, sederhana, sungguh-sungguh dan menjauhi perbautan takabbur (sombong), ganas, ataupun membangkang. Dan tawadhu ini merupakan salah satu (sifat) yang harus dimiliki oleh setiap orang yang beriman.

◕3. Menurut Fadloil bin Iyyadh, Tawadhu’ adalah tunduk dan taat melaksanakan yang hak (benar) serta mau menerima kebenaran dari siapapun.

4. Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah, hakekat tawadhu’ adalah mengambil kekuasaan yang hak (benar) dengan bersungguh-sungguh mencapainya, taat dalam menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar menjadi hamba Allah (bukan hamba orang banyak)

5. Bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh siapapun dan tanpa menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain.

Adapun kebalikan dari sikap tawadhu’ adalah takabbur. Di dalam Hadits riwayat Muslim disebutkan, bahwa takabbur (sombong) itu adalah menolak hak (kebenaran), dan merendahkan orang lain.
Sedangkan balasan bagi orang-orang yang takabbur (sombong) adalah baginya tidak disediakan tempat sedikitpun di syurga.

Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Qoshosh ayat 83, yang artinya :

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Akan tetapi antara tawadhu’ dan takabbur ini mempunyai perbedaan yang samara. Sehingga tanpa disadari terkadang orang yang tawadhu’ (mutawadli) pun bisa terjebak kedalam sifat takabbur. Hal ini bisa terjadi bilaman mutawadli’ itu merasa bahwa dirinya adalah orang yang tawadhu’. Sebab tidak ada orang yang merasa bahwa dirinya tawadhu’ melainkan perasaan itu timbul dari rasa sombong (takabbur).

Kembali kepada firman Allah dalam Surat Al-Qoshosh ayat 83, di atas tadi, disana bisa terlihat adanya hubunmgan yang seimbang (relevansi) antara kesombongan dengan perbuatan kerusakan di muka bumi. Dan memang hal ini sudah sering terbukti, di mana orang-orang yang sombong yang merasa dirinya paling kuat, paling pandai, paling ditakuti, dan sebagainya, berbuat kesewenang-wenangan menurut kemauannya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain, merasa perbuatannya selalu benar, atau berbuat kerusakan di sana sini sekehendak hatinya sendiri karena merasa tidak akan ada orang lain yang berani menegur atau melarangnya.

Adapun sebab-sebab yang mengakibatkan seorang terjebak ke dalam sifat takabbur dan berbuat kerusakan di muka bumi di antaranya adalah :

1. Tidak adanya iman di dalam jiwanya.

2. Merasa mempunyai kelebihan dibandingkan orang lain, seperti karena kekayaannya, kedudukannya, kepandaiannya dan sebagainya.

3. Keinginan untuk di puji, di sanjung, dihormati, disayangi, menjadi pusat perhatian dan sebagainya.


Adapun obat untuk menyembuhkan penyakit takabbur yang bersarang di dalam (hati) itu antara lain :

1. Selalu merasa bahwa dirinya adalah sebagai hamba Allah yang mempunyai banyak kelemahan dan kekurangan.

2. Membuka lebar-lebar pintu hati untuk dimasuki nasehat-nasehat yang baik dari siapapun juga tanpa memandang kepada yang memberi nasehat, tetapi memandang apa yang dinasehatkan kepadanya.

3. Banyak bercermin atau mengoreksi kesalahan dan kekurangan diri sendiri dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya.

Setiap orang seharusnya mengambil pelajaran dari tanaman padi, yaitu makin berisi makin merunduk. Jadi apabila ada orang yang makin berisi kemudian makin tinggi mengangkat kepalanya agar setiap orang melihat atau memandangnya, maka demikian ini tidaklah dapat disebut tawadhu’ . hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy-Syadzili r.a. berikut ini :

“barang siapa merasa dirinya berharga (terhormat) maka baginya itu tidak dikatakan tawadhu’.

Juga Imam Yazid r.a. pernah mengatakan :

“Selama hamba itu menyangka bahwasanya dikalangan makhluq masih ada orang yang lebih jahat (jelek) dirinya, maka dia itulah orang yang sombong”.

Beberapa tanda atau cirri-ciri orang yang tawadhu’ yaitu “

1. Tidak marah atau sakit hati bila dicemooh orang lain.
2. Tidak merasa benci jika dikatakan sombong.
3. Tidak serakah pada pangkat atau kedudukan.
4. Tidak menganggap dirinya sebagai orang yang dihormati dan disegani.

Baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits terdapat banyak sekali anjuran-anjuran yang memerintahkan pada kaum muslim untuk senantiasa berlaku tawadhu’. Di antaranya adalah :

1. Dalam surat Al-Furqon ayat 63, yang artinya :

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang ialah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang yang jahil mengajak bertengkar dengan mereka, mereka balas dengan ucapan yang bijaksana”.

2. Dalam surat An-Nahl ayat 23, yang artinya :

“Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang sombong (takabbur).

3. Dalam sebuah Hadits Riwayat Abu Nai’m yang bersumber dari Abu Hurairoh, yang artinya :

“Barang siapa yang bertawadhu’ karena Allah niscaya Allah akan mengangkat derajatnya”.

Selain itu ada pula sebuah Hadits yang artinya :

“Apakah kalian ingin memberitahukan (mengenai) orang-orang yang diharamkan api neraka, atau api neraka yang diharamkan baginya?.

(Yaitu) api neraka itu haram bagi orang-orang yang dekat (kepada Tuhannya), merendahkan diri (kepada-Nya), lemah lembut dan taat”

Dalam hal tawadhu’ ini Ibnu Athilah pernah mengatakan:
“Hakekat orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) itu adalah apa yang dia lakukan itu diri penglihatannya akan kebesaran Allah dan kejelekan sifat-sifat-Nya”.

Lebih lanjut Ibnu At-Atho’illah mengatakan :
“Tidak bisa mengeluarkan kamu dari sifat sombong, kecuali (dengan) melihat sifat-sifat Allah”.

Memang benar apa yang dikatakan Ibnu Atho’illah di atas. Sebab dengan hanya melihat kebesaran, keagungan dan kesempurnaan Allah-lah (yakni dengan cara melihat dan memikirkan segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekitar kita), maka kita akan merasa, bahwa kita ini kecil, lemah hina, tidak mempunyai apa-apa dan juga tidak mampu berbuat apa-apa tanpa pertolongan dari-Nya.dan sebagai akhir dari pembahasan bab ini, marilah kita bersama-sama berusaha mentauladani akhlaq rasulullah yang berikut ini :

Beliau tidak segan-segan memberi salam kepada anak-anak, bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan mereka, sehingga kebanyakan di antara mereka menjadi manja kepada beliau

Di dalam rumah tangganya, beliau tidak segan-segan untuk menyapu, mencuci, memberi makan ternak, memeras susu kambing, berbelanja sendiri ke pasar, makan bersama-sama dengan pelayan dan sebagainya.

Dalam bepergian beliau tidak merasa malu untuk memberi salam terlebih dahulu walaupun kepada orang miskin atau kepada orang lebih mudah dari beliau.

Sebagai seorang Penglima Perang beliau juga turut membuat bparit untuk perlindungan (ketika terjadi perang khondaq), ikut mencari kayu baker, memasak makanan dan sebagainya.

Sebagai seorang penguasa beliau tidak mau dibeda-bedakan. Terhadap hal ini hal ini beliau pernah bersabda, yang artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak mau melihat hamba-Nya di beda-bedakan, diantara sesame kawannya”.

Ketika kedatangan tamu, beliau sendirilah yang menerima, melayani dan menyuguhkan hidangan untuk tamunya

Dalam sebuah pertemuan, beliau tidak mau duduk di tempat yang diistimewakan, tetapi bercampur dengan kebanyakan orang. Dalam hal ini beliau bersabda, yang artinya :

“Wahai kalian semua, Allah telah (terlebih dulu) mengambil aku sebagai hamba-Nya sebelum Dia mengambil Nabi dan Rasul-Nya”.

Apabila melakukan perjalanan bersama-sama sahabatnya. Beliau tidak mau berjalan paling depan, juga tidak mau diiringkan. Ketika ada sahabatnya yang memintanya untuk berjalan paling duluan, beliau mengatakan :

“Biarlah dibelakangku ada malaikat yang mengikuti”.

Apabila mendapat undangan, beliau selalu menyempatkan diri untuk hadir, walaupun yang mengundangnya itu dari kalangan orang miskin atau orang yang tidak berkedudukan.

Beliau tidak segan-segan untuk bergaul dengan siapa saja dan duduk-duduk bersama mereka tanpa memandang status dan kedudukannya.

Pakaian yang dikenakannya tidak pernah lebih bagus dari yang dipakai sahabt-sahabatnya.

Jika bersenda gurau, beliau selalu menggunakan kata-kata yang baik dan tidak pernah tertawa dengan terbahak-bahak, melainkan dengan tersenyum saja.

Apabila ada pengaduan dari umatnya, maka beliau akan memperhatikannya dengan teliti dan akan berusaha menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.

Demikian akhlaq terpuji yang telah dicontohkan Rasulullah. Mudah-mudahan kita semua dapat mentauladaninya.

Jumat, 14 Februari 2014

:: MENANGIS SAAT MEMBACA ALQURAN



Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah (wafat 130 H), ketika sedang shalat malam, beliau menangis dengan keras sampai beliau pingsan. Ketika beliau sadar, keluarganya bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Beliau tidak menjawab dan tetap menangis.

Kemudian keluarganya mengirim utusan kepada Abu Hazim rahimahullah (wafat 135 H) untuk menanyakannya. Abu Hazim datang dan mendapati beliau sedang menangis. Abu Hazim bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, apa yang menyebabkanmu menangis? Sungguh engkau telah membuat keluargamu khawatir?” Muhamamd bin Al-Munkadir menjawab,“Aku membaca sebuah ayat dari al-Qur’an.” Abu Hazim bertanya lagi, “Ayat apakah itu?” Muhammad bin Al-Munkadir menjawab,“Firman Allah Azza wa Jalla (yang artinya),

“Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan nampaklah bagi mereka adzab dari Allah yang dahulu tidak pernah mereka perkirakan.” (QS az-Zumar: 47)

Abu Hazim menangis juga dan tangisan mereka berdua semakin keras. Keluarga Ibnu Al-Munkadir berkata kepada Abu Hazim, “Kami membawamu agar menghentikan tangisannya, tetapi engkau justru malah menambahnya menangis.” Abu Hazim menceritakan kepada mereka apa yang menyebabkan beliau berdua menangis.” (Sumber: Mukhtashar "Hilyatul Auliya" juz 2 halaman 367)

Kisah di atas merupakan petikan khutbah Jumat yang disampaikan oleh Syaikh Syakir Al Hudzaifi di sebuah masjid di Jeddah.

Semoga Allah melembutkan hati kami yang keras dan gersang agar dapat menangis saat membaca Al Quran dan mengamalkannya.


Ustadz Fariq Gasim Anuz

Jumat, 31 Januari 2014

:: ADAKAH YANG HENDAK KITA SOMBONGKAN ..



Bagaimana bisa kekayaan untuk disombongkan, sedangkan kekayaan itu adalah pinjaman, titipan yang akan ditinggalkan dengan kematian dan akan di hisab di hari kiamat.
Waktu yang kita habiskan untuk mengumpulkannya dan seberapa besar kekayaan yang dipunya , jika Allah berkehendak , dalam sekejap pun sirna .

Adakah harta dan kekayaan menjadi sekutu bagi Nya di hati kita .. ?

Bermegah-megah pun kelak kita akan ditanya ,

Bagaimana bisa kecantikan / ketampanan untuk disombongkan sedangkan keduanya adalah pemberian sementara ( batas tua ) yang akan diminta pertanggung jawabnya.

Bagaimana ilmu bisa disombongkan, sedangkan ilmu dituntut untuk mengamalkanya dan manusia hanya diberi sedikit dalam ilmu.

Adakah yang hendak kita sombongkan ..

Ya Allah, ampunilah kami , selamatkanlah kami.. Dan rahmatilah kami

,, اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

:: KETIKA ALLAH MEMBERIKAN NIKMAT RASA KECUKUPAN DALAM HATINYA




Ketika Allah memberikan nikmat rasa kecukupan pada diri seorang hamba , sesungguhnya Allah sedang memberikan banyak kebaikan kepadanya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang meminta kecukupan, maka Allah akan mencukupinya.” [HR. al-Bukhari: 1427, Muslim: 2471]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Terimalah apa yang Allah berikan padamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya.” [HR. Tirmidzi]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah berkata:
“Barangsiapa yang merasa cukup dengan pemberian Allah, maka dia adalah orang yang kaya sejati Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta, tetapi hakekat kaya adalah kaya hatinya. Dengan menjaga diri dari meminta-minta dan merasa cukup terhadap pemberian Allah Azza wa Jalla, maka sempurnalah kebahagiaan hidup bagi seorang hamba, mendapat nikmat duniawi dan qona’ah dengan apa yang Allah berikan padanya.” (Bahja Qulub al-Abror hal. 73)



Semoga Allah memberikan keberkahan bagi kita semua ,
اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ


:: MENGINGAT ALLAH DI SETIAP KEADAAN MEMBUAHKAN KETENTRAMAN JIWA ..



Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku. (Al Baqarah 152)

Mari hidupkan hati dengan berdzikir mengingat Allah dimanapun kita berada ketika berdiri, duduk dan berbaring, insya Allah semua urusan menjadi mudah dan ringan, karena Allah selalu ikut terlibat dalam semua urusan yang kita kerjakan.

Orang yang selalu berdzikir dalam kegiatan sehari hari dijamin oleh Allah hatinya menjadi tenang nyaman dan tentram sebagaimana disebutkan dalam surat Ar Ra’d 28

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar Ra’d 28)


 

Manfaat dzikir mengingat Allah

  • Mendapat ketenangan hati dan bebas dari perasaan jengkel,kecewa, sedih, duka, dendam dan stress berkepanjangan ( Ar Raad 28)
  • Dikeluarkan dari kegelapan dan kesempitan hidup kepada cahaya terang benderang serta mendapat salam penghormatan (sholawat) dari Allah dan para MalaikatNya (Al Ahzab 43)
  • Terpelihara dan terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar (Al Ankabut 45) serta tipudaya syetan yang berusaha menyesatkan (An Nahl 99)
  • Selalu mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan yang datang menghadang dan mendapat rezeki dari tempat yang tidak pernah diduga, serta selalu dicukupkan semua kebutuhan hidupnya ( At Thalaq 2-3)
  • Dibukakan baginya pintu kemenangan, diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang, ditambahkan baginya berbagai kenikmatan hidup, ditunjuki jalan yang lurus , dan diberi pertolongan dengan kekuatan yang dahsyat. ( Al Fath 1-3)

  • Selalu mendapat perhatian istimewa dari Allah dimanapun ia berada , selama ia ingat pada-Nya (Al Baqarah 152)
  • Terhindar dari beban hidup yang berat dan tidak sanggup dipikul serta terhindar dari siksa dan azab yang melampaui batas ( Al Baqarah 286)
  • Diampuni segala dosanya, dihapuskan segala kesalahannya dan diwafatkan bersama orang yang berbuat kebaikan ( husnul khotimah) (Ali Imran 193)
  • Mendapat kehidupan yang baik sampai datang ajal yang telah ditetapkan (Hud 3, An-Nahl 97)
  • Dibalasi dan dilipat gandakan amal kebaikannya dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan ( An Nahl 96-97)
  • Selalu disertai Allah dimanapun mereka berada (Al Baqarah 153, Al Hadit 4)
  • Mendapat pertolongan dari ribuan tentara malaikat dalam menghadapi berbagai hal dan masalah didunia maupun akhirat ( Ali imran 124-125, Fushilat 30-31)
  • Dimudahkan semua urusannya dan diberi bimbingan menempuh jalan yang mudah (Al Lail 7, Al A’la 8)
  • Dibukakan baginya keberkahan dan pintu rahmat dari langit dan bumi (Al A’raaf 96)
  • Diwafatkan dalam keadaan baik dan disambut oleh para malaikat dengan salam penghormatan ( An Nahl 32, Ar Raad 23-24, Al Ahzab 44 )
  • Mendapat kehidupan yang baik selama masa menanti dialam barzakh ( Ali Imran 169)
  • Memiliki wajah yang putih berseri dihari berbangkit ( Ali Imran 106-107)
  • Memiliki wajah dan tubuh yang bercahaya terang dihari berbangkit ( Al Hadit 12-13 dan At Tahrim 8)
  • Menerima buku catatan amal dari sebelah kanan dan dimudahkan saat dihisab dan ditimbang semua amalnya (Al Haqqah 19-21 )
  • Memiliki timbangan kebaikan yang lebih banyak dan berat (Al Qori’ah 6-7,Al A’raaf 8)
  • Diselamatkan Allah dari ganas dan panasnya api neraka (Maryam 72-73, Al Lail 17)
  • Dimasukan kedalam taman syurga dan hidup kekal selamanya disana (Az zumar 73)
  • Rasulullah membuat perumpamaan antara orang yang berdzikir mengingat Allah dengan orang yang tidak berdzikir seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.
  • Insya Allah dengan banyak berdzikir dilindungi Allah dari berbagai kejahatan mahluk ciptaannya yang terlihat maupun tidak terlihat, yang diketahui maupun tidak diketahui.

Mari kita hidupkan seluruh waktu kita dengan berdzikir mengingat Allah dimanapun kita berada ketika berdiri, duduk dan berbaring .., Insya Allah hidup menjadi mudah dan ringan... hatipun tenang dan tentram bersama Nya

Semoga rahmat Allah senantiasa terlimpah untuk kita , keluarga kita dan seluruh saudara-saudara muslim kita semua ,, aamin ya Rabb

Sabtu, 23 November 2013

:: KEKAYAAN DAN KEMISKINAN SEJATI ..



Kekayaan dan kemiskinan yang sejati terletak pada diri kita.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


ليس الغنى عن ظهر إنما الغنى غنى النفس وإذا أراد الله بعبد خيرا جعل غناه في نفسه وتقاه في قلبه وإذا أراد الله بعبد شرا جعل فقره بين عينيه

Bukanlah kekayaan itu berupa harta yang melimpah, namun kekayaan yang sejati ialah "kekayaan jiwa". Dan bila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah jadikan kekayaannya terletak pada jiwanya, dan ketakwaannya pada hatinya.

Namun bila Allah menghendaki kejelekan bagi seorang hamba, maka Allah jadikan kemiskinannya terletak di depan matanya selalu. (Ibnu Hibban)


Sungguh, Sibuknya MENSYUKURI nikmat yang ada akan lebih MEMBAHAGIAKAN & mendatangkan KARUNIA lainnya, daripada sibuk dengan keinginan-keinginan ..

Jumat, 22 November 2013

:: YANG MEMBERATKAN DALAM MIZAN KELAK DI HARI PENGHITUNGAN .



Rasulullah shalallahu alaihi wassallam bersabda : " Sesuatu terberat yang ditimbang dalam neraca ialah "akhlak yang baik" (HR, Ahmad)

Yang memberatkan neraca adalah "akhlak yang baik", zikir , tasbih dan Al Quran Al Karim.


 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : 

Akan datang surah Al Baqarah dan Ali Imran pada hari kiamat seakan-akan keduanya ialah dua gumpalan awan atau dua naungan yang antara keduanya ada sinar. Dari dua kawanan burung yang membentangkan sayapnya di udara yang akan membela pembacanya ..... (Maksudnya pahala kedua surat tersebut pada hari kiamat akan datang membela pembacanya) (HR Muslim no 804)

Ilmu yang bermanfaat bagi manusia akan diletakkan di neraca orang berilmu yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.

Ibnu Mubarak meriwayatkan dalam kitab az Zuhd, juga dalam kitab Ad Durr Al Mantsur , dari Hammad bin Abu Sulaiman : Akan datang seorang manusia pada hari kiamat , lalu ia melihat perbuatannya ada di hadapannya. Dan pada saat ia dalam keadaan seperti itu , muncullah gumpalan awan yang kemudian jatuh pada neraca. Maka dikatakan kepadanya ; Inilah apa yang engkau ajarkan kepada manusia berupa kebaikan dan diwariskan setelah kepergianmu maka kamu pun dibalas karenanya .

Ya Allah karuniakan kami akhlak yang mulia, ilmu yang bermanfaat, hati yang semakin khusyu' dan tunduk , dan sampaikan kami pada rahmat serta ridha cinta Mu .


 اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ



 


Wallahu a'lam bishawab
Ensiklopedi Hari Kiamat 2,
Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi


Jumat, 25 Oktober 2013

:: TINGKATAN IKHLAS , MENATA HATI MERAIH BAHAGIA


Sahabat, setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang bahagia, menikmati hidup ini tanpa merasa terbebani oleh berbagai masalah. dan hal ini hanya akan dirasakan orang yang sungguh-sungguh berupaya ikhlas, menjaga setiap amalnya, baik amal ibadah maupun amal shalih dalam kehidupan bermasyarakatnya, hanya bagi Allah.

Tidak terbersit keinginan untuk dipuji, dihargai, dihormati makhluk. Ringan saja ketika melakukan sesuatu, yang penting baginya adalah ridha dan berkah Allah. Ia tahu bahwa tugasnya di dunia ini hanya dua, pertama luruskan niat selalu, hanya demi meraih cinta Allah, lalu selanjutnya ia harus menyempurnakan ikhtiar agar hasil yang diharapkan betul-betul optimal, terbaik yang dapat dipersembahkannya.

Sehingga ia tidak perduli dengan penghargaan orang lain, ia tetap bersemangat beramal shalih, baginya yang terpenting, apa yang dilakukannya mendapat ridha Allah. Rezeki baginya adalah ketika ia mampu berbuat meluruskan niat dan beramal dengan amal terbaik.

Untuk mencapai tingkatan ikhlas tertinggi, yaitu meraih ridha Allah. Menurut Imam Ali radhiallahu ‘anhu, ada beberapa level ikhlas, antara lain;

✔ PERTAMA, ikhlasnya seseorang untuk meraih kebahagiaan duniawi. Ketika berdoa pun, ia berharap keinginan duniawi semata. Walaupun ini tingkatan terendah, namun lebih baik karena ia hanya meminta hanya kepada Allah saja.

✔ KEDUA, ikhlasnya seorang pedagang, ia berusaha ikhlas namun dengan menghitung-hitung pahala terlebih dahulu. Jika suatu amal banyak mendatangkan pahala, pasti ia semngat mengerjakannya. Berharap amal tersebut dapat menghapuskan dosa serta menguntungkan duniawinya.

✔ KETIGA, ikhlasnya seorang hamba sahaya, ia takut sekali dengan ancaman Allah, sehingga ia berusaha ikhlas dalam berbuat, hanya demi Allah agar Allah tidak murka kepadanya.

✔ KEEMPAT, ikhlasnya orang yang berharap syurga, balasan baik bagi Allah, sehingga amal yang dikerjakannya betul-betul diperuntukkan sebagai bekal hidup diakhirat kelak, agar ia meraih surga; balsan tertinggi dari Allah.

✔ TINGKAT TERAKHIR, KELIMA, ikhlas tingkat tertinggi, ia pasrah dengan ketentuan Allah. baginya ia berbuat terbaik hanya demi keridhaan dan berharap cinta Allah. Ia hanya berkehendak dapat berjumpa Allah kelak, selain itu terserah Allah, ia tidak begitu peduli dengan balasan Allah. Cukup baginya cinta dan perjumpaan dengan Allah nanti.

Subhanaallah, mudah-mudahan suatu saat kita kita dapat meraih tingkatan ikhlas tertinggi ini. Amiin.

Untuk menjadi seorang yang ikhlas pasti memerlukan latihan (riyadhah), berat memang pada awalnya , namun jika sungguh-sungguh berupaya, pasti akan berbuah keikhlasan yang tiada bandingnya dengan kehidupan dunia ini.

Cobalah mulai berusaha melupakan setiap amal yang kita lakukan, seakan-akan kita tidak pernah melakukannya. Dan jangan membeda-bedakan amal besar atau amal kecil, semua amal sama saja, upayakan berbuat terbaik dalam amal apapun juga.

Lupakan pula penghargaan dan celaan orang lain, upayakan bersikap biasa-biasa saja dengan semua yang kita lakukan. serta jangan berharap balasan berbentuk pujian, materi atau penghargaan dari orang lain. Ridha dan pujian Allah lebih menentramkan hati , karena dialah sumber dari segalanya.

Marilah kita senantiasa menata keikhlasan hati, dengan mulai berlatih dalam setiap kesempatan amal. Dengan begitu, mudah-mudahan suatu saat bahagia teraih, dunia akhirat. Aamiin.



 



Oleh KH. Abdullah Gymnastiar

:: SIFAT ON-OFF MANUSIA KEPADA TUHANNYA (ALLAH AZZA WA JALLA)


Ath Thobari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.”[QS Al Fajr : 15]

Kemudian Ath Thobari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rizki, yaitu rizkinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rizki berupa nikmat sehat pada jasadnya.”[QS Al Fajr : 16]

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rizki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai UJIAN. Namun dia menyangka dengan luasnya rizki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun: 55-56)




Sabtu, 12 Oktober 2013

:: MENANGISLAH...KARENA KITA MEMANG HARUS MENANGIS ...


Dalam islam seseorang yang mudah menangis bukanlah aib..Tentu saja bukan sembarang menangis seperti menangis karena cinta, kehilangan harta atau urusan dunia lainnya namun menangis karena takut kepada Allah dalam kesendiriannya akan dosa-dosa yang telah dilakukan. Mudah menangis adalah tanda lembutnya Qalbu .. Semakin lembut qalbu semakin seorang hamba dapat merasakan getaran-getaran lembut kala asma Allah disebut .. Semakin takut akan Keagungan dan tanda-tanda KebesaranNya .. Karenanya jika belum mampu menangis ... Teruslah belajar menundukkan keegoan hati dihadapan Allah .. Perkuat sujud dan taubat kita kepada Nya ....

Dalam sebuah hadits dijelaskan keutamaan mata yang mudah menangis karena takut kepada Allah.

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

Dari Atha' bin Abu Rabah, dari Ibnu Abbas, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

(Ada) dua mata yang tidak akan tersentuh oleh (api) neraka:
(1) mata yang menangis karena takut kepada Allah dan
(2) mata yang tidak terpejam karena berjaga-jaga dijalan Allah
(HR. Tirmidzi )

Sungguh menangis karena takut kepada Allah merupakan diantara sifatnya orang-orang yang shalih terdahulu

Suatu malam al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”

Kalau al-Hasan al-Bashri saja menangis sedemikian keras karena satu dosa yang diperbuatnya, lalu bagaimanakah lagi dengan orang yang mengingat bahwa jumlah dosanya tak dapat lagi dihitung dengan jari tangan & jari kaki .....?

Seharusnya kitalah yang lebih banyak menangis karena banyaknya dosa daripada dirinya

Tidakkah kita malu merasa termasuk golongan orang-orang shalih sementara hati-hati kita begitu keras saat dalam kesendirian kita dan air mata kita hilang entah pergi kemana

Perbanyak istighfar dan membaca surat as Sajdah saat munajat malam Insya Allah dapat melembutkan hati ..

*********

Ya Allah , tiada Tuhan selain Engkau, Wahai Rabb yang mempunyai arasy yang agung.

Ya Allah, Janganlah Engkau biarkan kami termasuk dalam golongan orang-orang yang menyombongkan diri,
Masukkan kami ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang bersujud kepada MU, melaksanakan perintahMu, yang takut terhadap azabMu,
Masukkan kami ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang selalu mengingatMU dan menangis karena kekhusyukan beribadah kepada MU,

Wahai Allah, masukkan kami ke dalam golongan hamba-hambaMu yang bersujud kepada Mu, yang selalu me Maha sucikan Engkau dengan pujian dan lindungilah kami dari keburukan iman serta sebab jauhnya kami kepada MU , dan ampunilah dosa dosa kami wahai Allah Yang Maha Luas ampunan Nya ..
 
 اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

Jumat, 13 September 2013

:: ILMU PEMBERSIH HATI



Ada sebait do’a yang pernah diajarkan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do’a tersebut berbunyi : Allaahummanfa’nii bimaa allamtanii wa’allimnii maa yanfa’uni wa zidnii ilman maa yanfa’unii.

Dengan do’a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermanfaat.

Apakah hakikat ilmu yang bermanfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermanfaat apabila mengandung mashlahat – memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, manfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.

Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu yang bermanfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata,

“Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11).

Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun.
Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada manusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya.

Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.

Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor.

Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar pada keburukan , maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.

Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak digunakan untuk menzhalimi sesama.


Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermanfaat.

Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa manfaat.

Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Bila kita sedang mengkaji ilmu tertentu, luruskan niat dan bersihkan hati agar menjadikan rahmat bagi diri dan lingkungan serta selalu rendah hati


Dunia memang Allah halalkan bagi hamba-hamba Nya yang beriman. Namun janganlah berlebih-lebihan dan membuat hati terlalu cinta kepadanya. Bila pada zaman Nabi Ibrahim as , menyembah patung sebagai berhala , maka pada zaman sekarang  bila tidak berhati-hati mengekang nafsu, cinta dunia akan menjadikan tumbuhnya  berhala-berhala penghijab hati kita kepada Allah. 

Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati kotor , akan membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat. Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla.


Di sana kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.
Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita




Begitu luasnya rahmat serta kasih sayang Allah , dan jalan -jalan yang luas untuk meraih rahmat Nya , tidak menjadikan setiap golongan menjadi mengecilkan golongan lainnya

Subhanallaah,  Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk semakin mampu mengenali kekurangan diri dan mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan guna menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya

. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ
 


 Wallahu a'lam bishawab
(KH. Abdullah Gymnastiar

:: 10 SAMPAH JIWA MENURUT IBNUL QAYYIM



“Ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat, layaknya sampah buangan bagi seorang insan”:

(1)
علم لا يعمل به

Ilmu yang mengendap lantas mati, tidak terhidupkan dalam wujud amal yang shalih.

(2)
وعمل لا إخلاص فيه ولا اقتداء

Amal yang kosong dari ruh keikhlasan dan sunyi dari spirit mutaaba’ah kepada sunnah.

(3)
ومال لا ينفق منه فلا يستمتع به جامعه في الدنيا ولا يقدمه أمامه في الآخرة

Harta yang tidak di-infaq-kan di jalan Allaah, tidak pula mampu dinikmati oleh para penimbunnya di dunia, dan tidak juga akan dihadirkan di hadapannya kelak di akhirat.

(4)
وقلب فارغ من محبة الله والشوق إليه والأنس به

Hati yang kosong dari Mahabbatullaah (cinta pada Allaah), melompong dari rasa kerinduan dan kesukaan pada-Nya.

(5)
وبدن معطل من طاعته وخدمته

Badan yang kosong dari ketaatan dan pengkhidmatan pada-Nya subhaanahu wata’aalaa.

(6)
ومحبة لا تتقيد برضاء المحبوب وامتثال أوامره

Rasa cinta pada Allaah yang tidak terikat dengan keridhaan dan kepatuhan pada perintah-Nya.

(7)
ووقت معطل عن استدراك فارط أواغتنام به وقربة

Waktu yang kosong dari koreksi terhadap kealpaan diri, hampa dari amalan yang bermanfaat, dan sunyi dari ibadah yang bisa mendekatkan pada Ilahi.

(8)
وفكر يجول فيما لا ينفع

Pikiran yang berkelana, lalu singgah pada hal-hal yang tidak bermanfaat

(9)
وخدمة من لا تقربك خدمته إلى الله ولا تعود عليك بصلاح دنياك

Pengkhidmatan kepada mereka yang tidak bisa mendekatkan dirimu pada Allaah, dan tidak pula pengkhidmatan tersebut kembali padamu dalam wujud kemaslahatan dunia bagimu.

(10)
وخوفك ورجاؤك لمن ناصيته بيد الله وهو أسير في قبضته ولا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا.

Rasa takut dan harapmu yang engkau peruntukkan bagi selain Allaah, padahal Allaah adalah Dzat yang memegang ubun-ubun mereka yang memiliki dan menguasai mereka secara mutlak.

Sementara mereka, adalah tawanan dalam kekuasaan-Nya.
Sementara mereka, tidak mampu mendatangkan manfaat bagi diri mereka sendiri sekalipun, tidak juga mampu menolak mudharat, tidak sanggup menolak maut, kehidupan dan kebangkitan.

(Nukilan dari kitab Mausuu’atul Akhlaaq waz Zuhdi war Raqaa-iq: 1/10-11, Yaasir Abdurrahmaan, cet.-1 Mu-assasah Iqraa’, tahun 1428).

***

Semoga Allaah senatiasa mengampuni kita, memberi berkah kemampuaan dalam taat dan membersihkan sampah-sampah jiwa kita, yang menyampaikan kita pada ridha rahmat serta cinta Nya. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

Jumat, 19 Juli 2013

:: HATI YANG KERAS AKAN JAUH DARI ALLAH



Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:


أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّن رَّبِّهِ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
 

“Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22)

Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. An-Naar (neraka) adalah diciptakan untuk melunakkan qalbu yang keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah adalah qalbu yang keras, dan jika qalbu sudah keras mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.

Sebagaimana jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian pula qalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan padanya nasehat.

Barangsiapa hendak mensucikan qalbunya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding keinginan dan nafsu jiwanya.

Karena qalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah subhanahu wa ta’ala, sekadar tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya.

Banyak orang menyibukkan qalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dan negeri akhirat tentu qalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang nampak ini, dan ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah. Jika qalbu disuapi dengan berdzikir dan disirami dengan berfikir serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.

Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka menghidupkan qalbu dan mematikan hawa nafsunya.

Adapun mereka yang membunuh qalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, maka tak akan muncul hikmah dari lisannya.

Rapuhnya qalbu adalah karena lalai dan merasa aman, sedang makmurnya qalbu karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dzikir. Maka jika sebuah qalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat. Sebaliknya jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.

Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa ta’ala adalah angin semilir yang menerpa qalbu, membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapapun yang menempatkan qalbunya disisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tentram. Dan siapapun yang melepaskan qalbunya di antara manusia, ia akan semakin gundah gulana.

Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam qalbu yang mencintai dunia kecuali seperti masuknya unta ke lubang jarum (sesuatu yang sangat mustahil).

Jika Allah subhanahu wa ta’ala cinta kepada seorang hamba, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya, dan Ia akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah. Lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.

Qalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Qalbu pun bisa berkarat sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Qalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa. Qalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, cinta, tawakkal, bertaubat dan berkhidmat untuk-Nya.

(Diterjemahkan dan diringkas dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim rahimahullah hal 111-112)



Wallahu a'lam bishawab
Barakallahufikum

Sabtu, 06 Juli 2013

:: ALLAH MEMBERSIHKAN HAMBA-NYA DENGAN TIGA TANDA






Bismillahirrahmanirrahim ,


Tipu daya syaitan dan bisikan hawa nafsu sentiasa mempermain-mainkan kehidupan seorang insan, setiap saat kedua-duanya bersatu tenaga merancang untuk merobohkan benteng iman di hati manusia. Namun begitu tidaklah Allah Taala menyerahkan sebulat-bulatnya diri orang mukmin untuk menjadi hidangan syaitan dan hawa nafsu mereka, bahkan Allah Taala membersih jiwa orang mukmin itu setiap saat hingga mereka kembali kepada-Nya dalam keadaan sebersih-bersihnya.

APAKAH TANDA-TANDA ALLAH MENSUCIKAN DIRI SEORANG HAMBA?

1. Diturunkan musibah kepadanya lalu dia redha.
2. Dihidupkan jiwanya lalu dia bertaubat.
3. Dituntun hatinya lalu dia suka beribadat

Tiga perkara yang amat besar fungsinya untuk memastikan hamba yang beriman tetap terjaga dan terlindung dari jenayah hawa nafsu dan tipu daya syaitan. Sehingga dia bertemu Allah dalam keadaan suci, bersih lagi diredai.

•☆.•*´¨`*••♥ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ♥••*´¨*•.☆•

|| DITURUNKAN MUSIBAH KEPADANYA LALU DIA REDHA

Sesunggguhnya musibah akan membentuk tiga karakter manusia.

1. Jiwa yang unggul, teruji dan benar cintanya kepada Allah Taala.

Musibah amat berkait rapat dengan perasaan kejiwaan manusia,

• Apakah dia redha dan akur atas kehendak Allah kemudian percaya dengan ganjaran bagi orang yang sabar?

• Apakah dia menerima musibah itu sebagai hadiah terindah dari kekasih Yang Maha mengasihani?

• Apakah musibah itu mampu melonjakkan imannya ke tahap yang lebih tinggi sehingga dia sentiasa meneliti kekurangan diri? Kemudian bertanya: “Mengapakah Allah memilih diriku?

• Apakah dosa-dosaku yang harus disucikan dengan datangnya musibah ini, bagaimanakah aku harus memperbaiki diri dan amalku?”

Akhirnya, lahir satu keyakinan bahawa Allah akan mengganti musibah itu dengan kebaikan yang akan datang selepasnya. Sesuai dengan Firman-Nya:

☆ ☆ ☆ ☆ “Sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan.” (Surah Al-Insyirah ayat 5)


2. JIWA YANG MEMBERONTAK.

Apabila seseorang menerima musibah dengan hati yang berprasangka buruk kepada Allah. Dia berkata:

“Tuhan telah menghinakan aku", menyerahkan aku kepada orang-orang yang jahat lalu mereka menzalimiku. Tuhan menolak doa-doaku, mencampakkan ibadatku sehingga empat puluh hari, Dia tidak menerima amal salehku. Dia menghukum, menutup pintu langit, menahan rezeki dan mengazabku dengan musibah ini. Nauzu billahimin dzalik, betapa bijaknya syaitan meniupkan penyakit putus harapan yang mematikan jiwa redha seorang hamba. Hal ini amat bertentangan dengan suruhan Allah kepada orang yang berdosa didalam surah al-Zumar ayat: 53.

☆ ☆ ☆ ☆ “Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


3. JIWA YANG MUDAH BERPALING.

Kesetiaan menjadi faktor terpenting dalam perhubungan, sebagaimana seorang hamba mesti membuktikan setianya kepada Allah dalam setiap keadaan. Susah atau senang, sibuk atau lengang, kaya atau miskin, terkenal atau terlupakan, diatas atau dibawah, disanjung atau dijatuhkan. Bagaimanapun situasi yang terjadi, hubungan hati dengan Allah Taala tetap terjaga. Tidak pernah melupakan Allah saat senang sebagaimana dia mengingati-Nya di kala susah. Tetapi Al-Quran telah merakamkan keadaan orang yang mudah berpaling ketika dilanda musibah dalam hidupnya. Sebagaimana firman-Nya:

☆ ☆ ☆ ☆ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Surah al-Hajj ayat: 11)

Sudah selayaknya setiap hamba Allah memandang musibah sebagai satu tanda bahawa Allah Taala mahu membersihkan dirinya, memberi jaminan kafarah atas segala dosanya sehingga dia bertemu Allah dengan jiwa yang redha lagi diredai. Sebagaimana sabda Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam:

☆ ☆ ☆ ☆ “Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan, atau penyakit atau kesusahan hati bahkan gangguan berupa duri yang menyakitinya melainkan semua itu menjadi penebus dosa-dosanya.” (Hadis riwayat al-Bukhari Muslim)

•☆.•*´¨`*••♥ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ♥••*´¨*•.☆•

|| KEMUDIAN TANDA YANG KEDUA, IALAH: DIHIDUPKAN JIWANYA LALU DIA BERTAUBAT

Setiap kali berbuat dosa hati akan tersiksa, takut, sedih dan putus asa mengingati kejahatan diri. Disitulah rahmat bagi orang beriman yang melakukan dosa, dia sentiasa ingat untuk bertaubat, merayu dan memohon maaf kepada Allah, merintih dan menangis, sesal yang tidak terperi sakitnya, lalu dia mendekat serapat-rapatnya kepada Allah dan mengetuk pintu taubat setiap kali melakukan kesilapan.

Kemudian hatinya berbisik: “Siapakah yang berkuasa membuka relung hatiku dan membersihkannya dari karat dan noda maksiat? Siapakah yang memberi cahaya ke jiwaku dan menggetarkan perasaan dengan ilmu-Nya sehingga menitislah airmata penyesalanku? Engkaulah Tuhan Yang Maha Menerima Taubat yang telah berfirman:

☆ ☆ ☆ ☆ “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku katakanlah bahawa Aku adalah dekat.” (Surah al-Baqarah ayat: 186)

Bagaikan mati hidup semula, begitulah perumpamaan tentang jiwa orang mukmin yang kembali kepada Allah, sebagaimana perumpamaan Al-Quran:

☆ ☆ ☆ ☆ “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (Surah Al-An’am ayat: 122)

Selain menghidupkan jiwa orang mukmin, taubat juga menjadi cara dan kaedah termudah untuk diterima kembali oleh Allah Taala dalam pelukan rahmat-Nya. Namun kadang-kadang jiwa manusia bersikap angkuh, merasa diri telah sempurna dan tidak pernah terseleweng walau sesaat, memandang orang lain dengan pandangan kehinaan, seolah-olah aib dan kelemahan itu hanya milik orang sedang dirinya tiada cela.

Beristighfarlah untuk masa yang dibuang percuma tanpa mengingati Allah. Beristighfarlah untuk diri yang kurang amanah terhadap keluarga dan kerjaya. Beristighfarlah untuk membersihkan hati dari sangka buruk, riya, tamak, dengki, cemburu dan lidah yang menyengat perasaan orang lain. Beristighfarlah kerana rela menjadi sahabat syaitan angkara kejahilan diri dan ketandusan ilmu. Beristighfarlah untuk diri yang tidak merasa perlu untuk beristighfar. Lakukanlah sepanjang masa hingga bertemu Allah dalam keadaan bersih lagi diredai.

•☆.•*´¨`*••♥ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ♥••*´¨*•.☆•

|| YANG KETIGA, TANDA ALLAH MENSUCIKAN SEORANG HAMBA IALAH DITUNTUN HATINYA LALU DIA SUKA BERIBADAT

Sepatutnya para ahli ibadat bersyukur kepada Allah kerana mereka telah dipilih sebagai orang-orang yang dekat di sisi-NYa. Roh ibadah itu telah menjadi darah dan daging mereka, kemana saja mereka melangkah semuanya diniatkan untuk ibadah kepada Allah. Tetapi berhati-hatilah dengan tipu daya syaitan yang suka memuji diri kita kerana ibadah kita itu sehingga membuat diri lupa bahawa semua itu atas sebab pertolongan Allah Taala. Syaitan juga memujuk diri manusia supaya cepat berpuas hati dengan ibadahnya . Sehingga roh ibadat itu hilang dalam diri nya.

Ya, apabila ibadat yang dilakukan tidak ditujukan untuk mengubat diri, memperbaiki akhlak, meluruskan moral, membangkitkan kekuatan supaya cemerlang sebagai mukmin berjaya di arena dunia yang mencabar dan ibadah itu tidak mampu memaparkan gambaran hidup tentang siksa kubur dan nikmatnya, syurga dan neraka, peristiwa hari kebangkitan. Apabila ibadat hanya dianggap sekadar melunaskan hutang, membayar kewajipan, mendirikan rukun dan syaratnya saja tanpa diselami dengan penghayatan.

Bagaimanakah ibadah Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam? Aisyah radhiallahuanha berkata,

☆ ☆ ☆ ☆ “Rasulullah bangun sembahyang di waktu malam, sehingga pecah-pecah kaki baginda. Saya bertanya: Mengapakah kamu berbuat begini Ya Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang kemudian? Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur (atas nikmat Allah tersebut).” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Tergeraknya hati untuk melakukan ibadah merupakan tuntunan Allah kepada hamba-Nya semata-mata mahu mensucikan kita dan memberi ganjaran yang baik di sisi-Nya. Bukankah sembahyang menjadi pengapus dosa-dosa kecil selama tidak dilakukan dosa besar? Jummat ke Jumaat, Ramadhan ke Ramadhan merupakan proses pergiliran penghapusan dosa yang sepatutnya disyukuri. Jauh sekali melahirkan jiwa yang sombong dan suka memuji diri sendiri dengan ibadah yang masih masin lagi (tidak sedap untuk dinikmati)

Ya Allah , bimbinglah kami agar dapat senantiasa bersyukur kepadaMu dan untuk beribadah lebih baik lagi. Sampaikan kami pada rahmat serta ridha Mu. Aamiin.



Wallahu a'lam bishawab

Djuanda.com

Jumat, 11 November 2011

ZUHUD - MENGGAPAI CINTA ALLAH TA'ALA

Sahabat Hikmah...
Ketahuilah bahwa cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, sedangkan zuhud terhadap dunia merupakan maqom yang mulia. Zuhud adalah memalingkan diri dari sesuatu yang disukai demi untuk sesuatu yang lebih baik dan lebih dicintai.  Zuhud merupakan buah dari kalimat syahadat LAA ILAAHA ILLALLAAH. Bahwa tidak ada yang dijadikan ILAAH (Sesuatu yang DICINTAI, DITAKUTI dan DIHARAPKAN) kecuali HANYA Allah.

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al Baqarah:165)


Hakikat Dunia

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 686)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau.

Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:
مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)

Bukanlah yang disebut Zuhud itu meninggalkan harta, tetapi yang disebut zuhud itu meninggalkan dunia karena tahu kerusakannya dan berpaling pada akhirat yang kekal.
Firman Allah SWT:
“Apa-apa yang di sisimu akan sirna, dan apa yang disisi ALLAH akan kekal” (QS An-Nahl 16/96).

Berkata al-Fudhail: "Allah menciptakan keburukan dalam satu rumah dan menjadikan cinta dunia sebagai kuncinya, dan ALLAH menciptakan kebaikan dalam satu rumah dan menjadikan Zuhud sebagai kuncinya."
Bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam zuhud.
Zuhud akan sangat nyata bila dilakukan oleh orang yang kaya,  orang miskin akan zuhud dari apa? Sedangkan Allah tidak banyak memberikan kekayaan? Dan  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan manusia, beliau adalah orang kaya yang zuhud. Sebelum menjadi Rasul beliau seorang pedagang yang sukses, beliau menikahi Siti Khodijah RA dengan mahar  100 ekor unta. Beliau memiliki unta terbaik dan kuda tercepat (berapa harga kuda tercepat sekarang ini? atau kendaraan tercepat?). Dan setelah menjadi kepala negara sebenarnya beliau lebih kaya lagi. Tetapi karena beliau sebagai kepala negara adalah pemimpin dan pelayan, beliau tidak akan makan sebelum rakyatnya makan, dan berusaha tidak lebih enak keadaannya dari rakyatnya.

Dalam hadits disebutkan:
“Tidaklah beriman seseorang bila ia dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan”.(Al-Adabul Mufrad no 112, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani).

Lalu apakah juga dikatakan beriman bila seorang PENGUASA kenyang, sementara RAKYATNYA kelaparan? Inilah yang dilakukan Rasulullah dalam hidupnya:
  1. Zuhud terhadap makanan, dalam hadits Nabi SAW disebutkan kata A’isyah ra kepada keponakannya ‘Urwah: “Telah berlalu atas kami bulan baru, bulan baru, bulan baru (3 bulan) sementara tidak pernah menyala api di dapur rumah Nabi SAW dan keluarganya, maka ditanyakan oleh ‘Urwah: Wahai bibinda maka dengan apa kalian makan? Dijawab: Dengan air dan kurma.” (HR Bukhari 8/121 dan Muslim 8/217)
  2. Zuhud terhadap pakaian, diriwayatkan dari Abi Bardah: “Telah keluar A’isyah ra pada kami membawa sehelai selendang kasar dan selembar kain keras sambil berkata: Telah dibungkus jasad Nabi SAW dengan kain seperti ini.” (HR Bukhari 7/195, Muslim 6/145, Abu Daud 4036 dan Turmudzi 1733) Dan berkata Al-Hasan ra: Umar ra pernah berkhutbah saat ia menjabat presiden sementara di bajunya aku hitung ada 12 bekas jahitan.
  3. Zuhud terhadap tempat tinggal, dalam hadits disebutkan: “Seorang muslim diberi pahala dari semua harta yang dinafkahkannya, kecuali dari apa yang dibuatnya dari tanah ini (bangunan).” (HR Ibnu Maajah 4163), berkata al-Hasan ra: "Aku jika memasuki rumah Nabi SAW, maka kepalaku menyentuh atap daun kurmanya."
  4. Zuhud dalam alat rumah tangga, dalam hadits disebutkan kata Umar ra: “Saya masuk ke dalam rumah Nabi SAW, sedang ia bertelekan pada sebuah tikar kasar sehingga berbekas pada tubuhnya, maka aku melihat pada perabotannya hanya kulihat segenggam tepung sebanyak 1 sha’.” (HR Bukhari 7/38, Muslim 4/189, 191) 
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْحَصِيْرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيْكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيْمَا هُمَا فِيْهِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا اْلآخِرَةُ؟

Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, –pent.) dan Kaisar (raja Romawi –pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah.” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)

Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw dan bertanya, "Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia." Rasulullah Saw menjawab, "Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia." (HR. Ibnu Majah).

Jadi dalam kehidupan ini, yang kita utamakan adalah mengupayakan segala sesuatunya untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat, kebutuhan di dunia ini juga penting sehingga jangan dilupakan (sekedarnya saja)

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS Al Qashash : 77)


ZUHUD YANG TERBAIK

Menurut Ibnul Mubarak adalah yang menyembunyikan kezuhudannya dari manusia, ciri-cirinya adalah:
1. Ia tidak merasa senang dengan adanya sesuatu dan tidak merasa sedih dengan ketiadaannya, sebagaimana firman ALLAH SWT: “Agar engkau tidak berputus asa atas apa yang hilang darimu dan merasa senang dengan apa yang ada padamu.” (QS al-Hadiid 23) Dan inilah zuhud dalam harta.
2. Sama baginya dicela atau dipuji, ini merupakan tanda zuhud terhadap kedudukan.
3. Sangat dekat ia dengan ALLAH, dan hatinya dikuasai kelezatan taat pada ALLAH SWT.

Ketahuilah bahwa antara cinta pada ALLAH dengan cinta pada dunia sebagaimana air dengan udara dalam sebuah bejana, jika air masuk maka udara akan keluar dari bejana itu sebanyak air yang masuk, maka ada bejana yang dipenuhi air, 2/3 nya, 1/2 nya, dan seterusnya sampai ada yang kosong sama sekali dari air. Maka dimanakah letak hatimu ?!

Sesungguhnya banyak diantara kita yang berusaha zuhud dengan sebenar-benarnya. Ia berusaha meninggalkan segala harta bendanya. Namun ternyata hal itu hanya terbatas pada sisi lahiriahnya saja. Sedangkan batinnya masih ada sisi untuk tetap menyintai isi dunia tersebut. Lahiriahnya menghindari harta kekayaan (tidak begitu memburu harta benda) namun hatinya tetap saja sibuk memikirkannya. Pikirannya tenggelam dalam pergulatan dan penderitaan yang sangat payah. Padahal yang dimaksud zuhud ialah harus menyeluruh, yaitu bersikap acuh tak acuh terhadap harta dan batinnya sama sekali tak tertarik terhadap kekayaan.

Orang yang benar-benar bisa mencapai amalan zuhud sudah tertanam keyakinan dihatinya yang seyakin-yakinnya bahwa surga itu dipersiapkan untuk orang-orang yang tidak menganggap kemuliaan dunia dan segala sesuatu isi dunia (harta benda) yang sebentar saja rusak. Keyakinan yang demikian ini dianggapnya sebagai syarat untuk mendapatkan syurga kelak diakhirat. Firman Allah :

“Aku jadikan surga itu, untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian (kesombongan) dan kerusakan di muka bumi ini”. (QS Al Qashash :83)

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Maka jelaslah bagimu wahai saudaraku, uraian diatas baik firman Allah maupun yang lainnya adalah suatu isyarat agar kita bisa mengekang keinginan-keinginan yang berlebihan terhadap harta kekayaan. Sebab itulah urusan dan perkara keinginan ini penting sekali untuk dibicarakan agar kita mampu mengendalikan nafsu kita sendiri.

Marilah kita membiasakan hidup untuk mencari harta atau rejeki dengan keridhoan Allah dan jangan mengharapkan yang berlebihan. Harapan kita hanyalah sekedar sesuai takaran yang dibagikan Allah kepada kita. Kemudian jika kita mendapatkan rejeki, hendaknya suka membagi-bagikan kepada orang lain yang membutuhkannya. Sedekah adalah jalan utama dalam hidup ini. Jika kita sudah terbiasa hidup yang demikian itu dalam menjalankan ibadah, insya Allah Tuhan akan memberikan taufiq dan karunianya kepada kita. Yaitu kita akan mampu menghalau keinginan dan khayalan dalam hati tentang harta kekayaan dan kemewahan dunia. Pada akhirnya kita akan mendapatkan ketenangan hati dan ketenangan raga, sehingga bisa berkonsentrasi menunaikan ibadah dengan baik.

Agar engkau tergerak untuk memberikan sedekah dari harta/rejeki yang kau dapatkan serta tidak mengharapkan rejeki berlebih-lebihan dari Allah, maka hendaknya engkau senantiasa ingat bahwa harta dan isi dunia itu terdapat cela dan membahayakan, juga tidak akan dibawa mati.

‎Nasehat seorang ulama sufi :
"Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu", tulis Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, "tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia."



Wallahu a'lam bishsowab

OFA

KIAT MERAIH KEIKHLASAN

Ruhnya amal shaleh adalah Keikhlasan
------------------------------
-------------------

"Amal itu beragam, lantaran beragamnya keadaan yang menyelinap ke dalam hati (jiwa). Amal itu merupakan kerangka yang tetap (mati, tidak bergerak), dan ruhnya ialah keikhlasan yang ada (melekat) padanya" ( Ibn 'Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam)









Unsur terpenting dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Ikhlas,Yakni kemurnian dari ketaatan yang dilakukan hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan terlepas dari seluruh faktor selain-Nya. Sebagaimana dinyatakan,

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, yakni dalam Menjalankan agama, dengan lurus”.(Q.S. Al Bayyinah : 5)

Allah pun mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati setiap hamba.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”." (QS. Ali Imran: 29)

Diriwayatkan dari’Alqamah bin Waqqas Al Laitsi, dari Umar bin Al Khathab Radhiyallahu Anhu,dimana beliau berkata,

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam Bersabda :

“Sesungguhnya sempurnanya amal-amal perbuatan hanya dengan niat-niatnya.Dan sesungguhnya bagi setiap orang terantung pada apa yang di niatkannya.Barangsiapa yan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya,maka hijrahnya itu dinilai karena Allah dan Rasul-Nya.Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ia cari atau karena wanita yang dinikahinya,maka hijrahnya itu dinilai karena apa ia berhijrah kepadanya”.

Menurut Hudzaifah Al Mar’asyi”Bahwa ikhlas adalah adanya keseimbangan atas perbuatan seseorang pada lahir maupun batinnya.Al Imam Al Ustadz Abu Al Qashim Al Qusyairi bahwa
“Ikhlas adalah memurnikan ketaatan kepada Al Haq Allah Subhanahu wa Ta’ala,dengan meyengaja melakukan suatu ibadah kepada-Nya,ketaatan ditunjukan untuk Ber-Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas,

“Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”

Karena ikhlas adalah merupakan syarat diterimanya ibadah,maka apapun yang dikerjakan hanya mengharap dan mendapatkan ke Ridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala,dengan niat baik yang terpelihara dalam hati.

Keikhlasan berarti memenuhi semua perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala,setiap perbuatan,langkah,kata-kata dan Doa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mencari ridha-Nya. Untuk mendapatkan itu semua keikhlasan tidak datang dengan sendirinya,keikhlasan adalah suasana hati yang harus diusahakan setiap Muslim.

Tidak mudah memperoleh keikhlasan dalam diri seorang muslim.Diatara cara untuk mendapatkanya adalah dengan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,dan dengan kecintaan yang mendalam, setelah memahami kebesaran-Nya.Bahwa tidak ada kekuatan lain selain Allah Subhanahu wa Ta’ala,bahwa hanya Allah yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan dan yang memelihara makhluk hidup penuh dengan Rahman dan Rahim-Nya,oleh karena itu keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya pengakuan yang harus dicari.

Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, muncul dari pemahaman dan penghargaan akan kebesaran dan kekuatan-Nya,seseorang yang memahami kebesaran kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kekuatan abadi-Nya,akan mengetahui bahwa ia bisa saja menghadapi murka dan hukuman-Nya, sebagai bagian dari keadilan Ilahi Rabb,jika ia tidak mampu mengarahkan hidupnya seseuai dengan keinginan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Disamping itu juga untuk memperoleh keikhlasan adalah dengan mengharapkan balasan hanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.Ibadah apapun bila dilakukan hanya untuk mencari ridha-Nya,pasti akan membuahkan balasan syurga.Seseorang harus berpikir yang membuat ikhlas dalam perbuatannya adalah melakukannya dengan murni dan tulus karena perintah Allah dan tujuan adalah mencapai keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keikhlasan juga dapat diperoleh dengan cara menguatkan hati nurani.Kata hati adalah kekuatan yang dipercayakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia,untuk menunjukkan jalan yang benar,kata hati akan mengingatkan manusia akan syehtan yang ada dalam jiwa mereka dan segala macam sikap serta tingkah laku yang tidak sesuai dengan Al Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya”.(Q.S. Al Qiyaamah : 14-15)

Setiap manusia secara naluri mengetahui,bisikan yang terdengar adalah suara hati nuraninya dan alasan-alasan yang ia ajukan untuk mengabaikan suara tersebut,yang lebih penting adalah keikhlasan diharapkan dapat diperoleh dengan memahami,kehidupan dunia adalah sementara dan sangat singkat, sementara kehidupan di akhirat adalah kekal abadi.

Kedudukan Ikhlas adalah sebagaimana, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda yang artinya, “Ikhlaslah dalam beragama, cukup bagimu amal yang sedikit.” Dalam hadist lain Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”


Ciri-Ciri Orang Ikhlas


1. Terjaga dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik sedang bersama dengan manusia atau sendiri. Disebutkan dalam hadits,

“ Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

2. Senantiasa beramal di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang orang lain, baik ada pujian ataupun celaan.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu Berkata :

“ Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

3. Selalu menerima apa adanya yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

4. Mudah memaafkan kesalahan orang lain.


Pengelompokan Ikhlas


1. Ikhlas Mubtadi

Yakni orang yang beramal karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi di dalam hatinya terbesit keinginan pada dunia. Ibadahnya dilakukan hanya untuk menghilangkan kesulitan dan kebingunan. Ia melaksanakan shalat tahajud dan bersedekah karena ingin usahanya berhasil. Ciri orang yang mubtadi’ bisa terlihat dari cara dia beribadah. Orang yang hanya beribadah ketika sedang butuh biasanya ia tidak akan istiqamah. Ia beribadah ketika ada kebutuhan. Jika kebutuhannya sudah terpenuhi, ibadahnyapun akan berhenti.


2. Ikhlas Abid

Yakni orang yang beramal karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hatinya bersih dari riya’ serta keinginan dunia. Ibadahnya dilakukan hanya karena Allah dan demi meraih kebahagiaan akhirat, menggapai syurga, takut neraka, dengan dibarengi keyakinan bahwa amal ini bisa menyelamatkan dirinya dari siksaan api neraka. Ibadah seorang abid ini cenderung berkesinambungan, tetapi ia tidak mengetahui mana yang harus dilakukan dengan segera (mudhayyaq) dan mana yang bisa diakhirkan (muwassa’), serta mana yang penting dan lebih penting. Ia menganggap semua ibadah itu adalah sama.


3. Ikhlas Muhibb

Yakni orang yang beribadah hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan ingin syurga atau takut neraka. Semuanya dilakukan karena bakti dan memenuhi perintah dan mengagungkan-Nya

.
4. Ikhlas Arif,

Yaitu orang yang dalam ibadahnya memiliki perasaan bahwa ia digerakkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia merasa bahwa yang beribadah itu bukanlah dirinya. Ia hanya menyaksikan ia sedang digerakkan Allah karena memiliki keyakinan bahwa tidak memiliki daya dan upaya melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Semuanya berjalan atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Manfaat dan Keutamaan Ikhlas

1. Membuat hidup menjadi tenang dan tenteram
2. Amal ibadahnya akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Dibukanya pintu ampunan dan dihapuskannya dosa serta dijauhkan dari api neraka.
4. Diangkatnya derajat dan martabat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Doa kita akan diijabah.
6. Dekat dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala
7. Mendapatkan perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
8. Akan mendapatkan naungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .di hari kiamat.
9. Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan memberi hidayah (petunjuk) sehingga tidak tersesat ke jalan yang salah.
10. Allah akan membangunkan sebuah rumah untuk orang-orang yang ikhlas dalam membangun masjid
11. Mudah dalam memaafkan kesalahan orang lain
12. Dapat memiliki sifat zuhud (menerima dengan apa adanya yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala)

Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikian semoga manfaat buat kita semua, Yang benar haq semua datang-Nya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,yang kurang dan khilaf mohon sangat dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr “.
Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala . senantiasa menunjukkan kita pada sesuatu yang di Ridhai dan di Cintai-NYA...aamin
By  Menata Akhlak Menuju Cinta Nya
Aamiin Allahuma AAmiin.