Minggu, 13 Februari 2011

NIKMATNYA MENUTUP AURAT

Nikmatnya Menutup Aurat, Demi menjalankan yang wajib
Sehingga.....
Aku ingin menjadi wanita shalehah
Aku ingin ta'at menjalankan perintahnya untuk mencapai ridho Allah semata
Aku ingin mewujudkan rasa syukur atas nikmat yang tak terhingga


Nikmatnya Menutup Aurat, Demi memuliakannya
Sehingga.....
Selalu ingin memperlihatkan keindahan dan kecantikan dari dalam
Selalu ingin lebih dekat dan rindu bertemu dengannya
Selalu takut kapan ajal menjemput


Nikmatnya Menutup Aurat, Demi meninggikan derajat
Sehingga....
Dapat menundukkan pandangan hingga Allah memasukkan cahaya kedalam hati.
Dapat merubah pandangan tidak menjadi maksiat
Dapat menutup jalannya setan yang mudah menyalakan api syahwat


Nikmatnya Menutup Aurat, Demi menapak jalan ke surga
Sehingga.....
Menjadikan tubuhku dilindungi pakaian taqwa
Menjadikan malu sebagai perhiasan jiwaku
Menjadikan ketakutan akan azab panasnya api neraka


Nikmatnya Menutup Aurat, Demi meninggikan izzah(kemuliaan) diri sebagai muslimah
Sehingga...
Lebih terhormat dengan tidak mengumbar aurat
Lebih merasa aman dari berbagai gangguan fitnah
Lebih membuat khusyu dan bersahaja


Nikmatnya Menutup Aurat
"Aku Ingin Selalu Dapat Menjadikan Lebih Baik"
amin.



Endah Parvaty

TIPS BERSABAR

SABAR KETIKA DISAKITI ORANG LAIN

TERDAPAT beberapa faktor yang... dapat membantu seorang hamba untuk dapat melaksanakan kesabaran jenis kedua (yaitu bersabar ketika disakiti orang lain, ed). [Di antaranya adalah sebagai berikut:]

PERTAMA

Hendaknya dia mengakui bahwa ALLAH سبحانا وتعاﱃ adalah Zat yang menciptakan segala perbuatan hamba, baik itu gerakan, diam dan keinginannya. Maka segala sesuatu yang dikehendaki ALLAH untuk terjadi, pasti akan terjadi. Dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki ALLAH untuk terjadi, maka pasti tidak akan terjadi. Sehingga, tidak ada satupun benda meski seberat dzarrah (semut kecil, ed) yang bergerak di alam ini melainkan dengan izin dan kehendak ALLAH. Oleh karenanya, hamba adalah ‘alat’. Lihatlah kepada Zat yang menjadikan pihak lain menzalimimu dan janganlah anda melihat tindakannya terhadapmu. (Apabila anda melakukan hal itu), maka anda akan terbebas dari segala kedongkolan dan kegelisahan.


KEDUA

Hendaknya seorang mengakui akan segala dosa yang telah diperbuatnya dan mengakui bahwasanya tatkala ALLAH menjadikan pihak lain menzalimi (dirinya), maka itu semua dikarenakan dosa-dosa yang telah dia perbuat sebagaimana firman ALLAH سبحانا وتعاﱃ,

•••• “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan ALLAH memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syuura: 30).
Apabila seorang hamba mengakui bahwa segala musibah yang menimpanya dikarenakan dosa-dosanya yang telah lalu, maka dirinya akan sibuk untuk bertaubat dan memohon ampun kepada ALLAH atas dosa-dosanya yang menjadi sebab ALLAH menurunkan musibah tersebut. Dia justru sibuk melakukan hal itu dan tidak menyibukkan diri mencela dan mengolok-olok berbagai pihak yang telah menzaliminya.

(Oleh karena itu), apabila anda melihat seorang yang mencela manusia yang telah menyakitinya dan justru tidak mengoreksi diri dengan mencela dirinya sendiri dan beristighfar kepada ALLAH, maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang dia alami justru adalah musibah yang hakiki. (Sebaliknya) apabila dirinya bertaubat, beristighfar dan mengucapkan, “Musibah ini dikarenakan dosa-dosaku yang telah saya perbuat.” Maka (pada kondisi demikian, musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi kenikmatan.

Ali bin Abi Thalib radliALLAHu ‘anhu pernah mengatakan sebuah kalimat yang indah,

“Hendaknya seorang hamba hanya berharap kepada Rabb-nya dan hendaknya dia takut terhadap akibat yang akan diterima dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya.” [1]

Dan terdapat sebuah atsar yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib dan selainnya, beliau mengatakan,

“Musibah turun disebabkan dosa dan diangkat dengan sebab taubat.”


KETIGA


Hendaknya seorang mengetahui pahala yang disediakan oleh ALLAH سبحانا وتعاﱃ bagi orang yang memaafkan dan bersabar (terhadap tindakan orang lain yang menyakitinya). Hal ini dinyatakan dalam firman-NYA,

•••• “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) ALLAH. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy Syuura: 40).


Ditinjau dari segi penunaian balasan, manusia terbagi ke dalam tiga golongan, yaitu
[1] golongan yang zalim karena melakukan pembalasan yang melampaui batas,
[2] golongan yang moderat yang hanya membalas sesuai haknya dan
[3] golongan yang muhsin (berbuat baik) karena memaafkan pihak yang menzalimi dan justru meniggalkan haknya untuk membalas.

ALLAH سبحانا وتعاﱃ menyebutkan ketiga golongan ini dalam ayat di atas, bagian pertama bagi mereka yang moderat, bagian kedua diperuntukkan bagi mereka yang berbuat baik dan bagian akhir diperuntukkan bagi mereka yang telah berbuat zalim dalam melakukan pembalasan (yang melampaui batas).

(Hendaknya dia juga) mengetahui panggilan malaikat di hari kiamat kelak yang akan berkata,

أَلاَ لِيَقُمْ مَنْ وَجَبَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

•••• “Perhatikanlah! Hendaknya berdiri orang-orang yang memperoleh balasan yang wajib ditunaikan oleh ALLAH!” [2]


(Ketika panggilan ini selesai dikumandangkan), tidak ada orang yang berdiri melainkan mereka yang (sewaktu di dunia termasuk golongan) yang (senantiasa) memaafkan dan bersabar (terhadap gangguan orang lain kepada dirinya).

Apabila hal ini diiringi dengan pengetahuan bahwa segala pahala tersebut akan hilang jika dirinya menuntut dan melakukan balas dendam, maka tentulah dia akan mudah untuk bersabar dan memaafkan (setiap pihak yang telah menzaliminya).


KEEMPAT

Hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dia memaafkan dan berbuat baik, maka hal itu akan menyebabkan hatinya selamat dari (berbagai kedengkian dan kebencian kepada saudaranya) serta hatinya akan terbebas dari keinginan untuk melakukan balas dendam dan berbuat jahat (kepada pihak yang menzaliminya). (Sehingga) dia memperoleh kenikmatan memaafkan yang justru akan menambah kelezatan dan manfaat yang berlipat-lipat, baik manfaat itu dirasakan sekarang atau nanti.

Manfaat di atas tentu tidak sebanding dengan “kenikmatan dan manfaat” yang dirasakannya ketika melakukan pembalasan. Oleh karenanya, (dengan perbuatan di atas), dia (dapat) tercakup dalam firman ALLAH سبحانا وتعاﱃ,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

••• “ALLAH menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134).

(Dengan melaksanakan perbuatan di atas), dirinya pun menjadi pribadi yang dicintai ALLAH. Kondisi yang dialaminya layaknya seorang yang kecurian satu dinar, namun dia malah menerima ganti puluhan ribu dinar. (Dengan demikian), dia akan merasa sangat gembira atas karunia ALLAH yang diberikan kepadanya melebihi kegembiraan yang pernah dirasakannya.


KELIMA

Hendaknya dia mengetahui bahwa seorang yang melampiaskan (BM: melepaskan)dendam semata-mata untuk kepentingan nafsunya, maka hal itu hanya akan mewariskan kehinaan di dalam dirinya. Apabila dia memaafkan, maka ALLAH justru akan memberikan kemuliaan kepadanya. Keutamaan ini telah diberitakan oleh Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم melalui sabdanya,

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

•••• “Kemuliaan hanya akan ditambahkan oleh ALLAH kepada seorang hamba yang bersikap pemaaf.”[3]
(Berdasarkan hadits di atas) kemuliaan yang diperoleh dari sikap memaafkan itu (tentu) lebih disukai dan lebih bermanfaat bagi dirinya daripada kemuliaan yang diperoleh dari tindakan pelampiasan dendam. Kemuliaan yang diperoleh dari pelampiasan dendam adalah kemuliaan lahiriah semata, namun mewariskan kehinaan batin. (Sedangkan) sikap memaafkan (terkadang) merupakan kehinaan di dalam batin, namun mewariskan kemuliaan lahir dan batin.


KEENAM

Dan hal ini merupakan salah satu faktor yang paling bermanfaat-, yaitu hendaknya dia mengetahui bahwa setiap balasan itu sesuai dengan amalan yang dikerjakan. (Hendaknya dia menyadari) bahwa dirinya adalah seorang yang zalim lagi pendosa. Begitupula hendaknya dia mengetahui bahwa setiap orang yang memaafkan kesalahan manusia terhadap dirinya, maka ALLAH pun akan memaafkan dosa-dosanya.

Dan orang yang memohonkan ampun setiap manusia yang berbuat salah kepada dirinya, maka ALLAH pun akan mengampuninya. Apabila dia mengetahui pemaafan dan perbuatan baik yang dilakukannya kepada berbagai pihak yang menzalimi merupakan sebab yang akan mendatangkan pahala bagi dirinya, maka tentulah (dia akan mudah) memaafkan dan berbuat kebajikan dalam rangka (menebus) dosa-dosanya. Manfaat ini tentu sangat mencukupi seorang yang berakal (agar tidak melampiaskan dendamnya).


KETUJUH

Hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dirinya disibukkan dengan urusan pelampiasan dendam, maka waktunya akan terbuang sia-sia dan hatinya pun akan terpecah (tidak dapat berkonsentrasi untuk urusan yang lain-pent). Berbagai manfaat justru akan luput dari genggamannya. Dan kemungkinan hal ini lebih berbahaya daripada musibah yang ditimbulkan oleh berbagai pihak yang menzhaliminya. Apabila dia memaafkan, maka hati dan fisiknya akan merasa “fresh” untuk mencapai berbagai manfaat yang tentu lebih penting bagi dirinya daripada sekedar mengurusi perkara pelampiasan dendam.


KEDELAPAN


Sesungguhnya pelampiasan (pelepasan) dendam yang dilakukannya merupakan bentuk pembelaan diri yang dilandasi oleh keinginan melampiaskan hawa nafsu.

Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم tidak pernah melakukan pembalasan yang didasari keinginan pribadi, padahal menyakiti beliau termasuk tindakan menyakiti ALLAH سبحانا وتعاﱃ dan menyakiti beliau termasuk di antara perkara yang di dalamnya berlaku ketentuan ganti rugi.

Jiwa beliau adalah jiwa yang termulia, tersuci dan terbaik. Jiwa yang paling jauh dari berbagai akhlak yang tercela dan paling berhak terhadap berbagai akhlak yang terpuji. Meskipun demikian, beliau tidak pernah melakukan pembalasan yang didasari keinginan pribadi (jiwanya) (terhadap berbagai pihak yang telah menyakitinya).

Maka bagaimana bisa salah seorang diantara kita melakukan pembalasan dan pembelaan untuk diri sendiri, padahal dia tahu kondisi jiwanya sendiri serta kejelekan dan aib yang terdapat di dalamnya? Bahkan, seorang yang arif tentu (menyadari bahwa) jiwanya tidaklah pantas untuk menuntut balas (karena aib dan kejelekan yang dimilikinya) dan (dia juga mengetahui bahwa jiwanya) tidaklah memiliki kadar kedudukan yang berarti sehingga patut untuk dibela.


KESEMBILAN

Apabila seorang disakiti atas tindakan yang dia peruntukkan kepada ALLAH (ibadah-pent), atau dia disakiti karena melakukan ketaatan yang diperintahkan atau karena dia meninggalkan kemaksiatan yang terlarang, maka (pada kondisi demikian), dia wajib bersabar dan tidak boleh melakukan pembalasan. Hal ini dikarenakan dirinya telah disakiti (ketika melakukan ketaatan) di jalan ALLAH, sehingga balasannya menjadi tanggungan ALLAH.

Oleh karenanya, ketika para mujahid yang berjihad di jalan ALLAH kehilangan nyawa dan harta, mereka tidak memperoleh ganti rugi karena ALLAH telah membeli nyawa dan harta mereka.

Dengan demikian, ganti rugi menjadi tanggungan ALLAH, bukan di tangan makhluk. Barangsiapa yang menuntut ganti rugi kepada makhluk (yang telah menyakitinya), tentu dia tidak lagi memperoleh ganti rugi dari ALLAH. Sesungguhnya, seorang yang mengalami kerugian (karena disakiti) ketika beribadah di jalan ALLAH, maka ALLAH berkewajiban memberikan gantinya.

Apabila dia tersakiti akibat musibah yang menimpanya, maka hendaknya dia menyibukkan diri dengan mencela dirinya sendiri. Karena dengan demikian, dirinya tersibukkan (untuk mengoreksi diri dan itu lebih baik daripada) dia mencela berbagai pihak yang telah menyakitinya.

Apabila dia tersakiti karena harta, maka hendaknya dia berusaha menyabarkan jiwanya, karena mendapatkan harta tanpa dibarengi dengan kesabaran merupakan perkara yang lebih pahit daripada kesabaran itu sendiri.

Setiap orang yang tidak mampu bersabar terhadap panas terik di siang hari, terpaan hujan dan salju serta rintangan perjalanan dan gangguan perampok, maka tentu dia tidak usah berdagang.

Realita ini diketahui oleh manusia, bahwa setiap orang yang memang jujur (dan bersungguh-sungguh) dalam mencari sesuatu, maka dia akan dianugerahi kesabaran dalam mencari sesuatu itu sekadar kejujuran (dan kesungguhan) yang dimilikinya.


KESEPULUH

Hendaknya dia mengetahui kebersamaan, kecintaan ALLAH dan ridl(h)a-NYA kepada dirinya apabila dia bersabar. Apabila ALLAH membersamai seorang, maka segala bentuk gangguan dan bahaya -yang tidak satupun makhluk yang mampu menolaknya- akan tertolak darinya. ALLAH سبحانا وتعاﱃ berfirman,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

•••• “ALLAH menyukai orang-orang yang bersabar.” (Ali ‘Imran: 146).


KESEBELAS

Hendaknya dia mengetahui bahwa kesabaran merupakan sebagian daripada iman. Oleh karena itu, sebaiknya dia tidak mengganti sebagian iman tersebut dengan pelampiasan dendam. Apabila dia bersabar, maka dia telah memelihara dan menjaga keimanannya dari aib (kekurangan). Dan ALLAH-lah yang akan membela orang-orang yang beriman.


KEDUA BELAS


Hendaknya dia mengetahui bahwa kesabaran yang dia laksanakan merupakan hukuman dan pengekangan terhadap hawa nafsunya. Maka tatkala hawa nafsu terkalahkan, tentu nafsu tidak mampu memperbudak dan menawan dirinya serta menjerumuskan dirinya ke dalam berbagai kebinasaan.

Tatkala dirinya tunduk dan mendengar hawa nafsu serta terkalahkan olehnya, maka hawa nafsu akan senantiasa mengiringinya hingga nafsu tersebut membinasakannya kecuali dia memperoleh rahmat dari Rabb-nya.

Kesabaran mengandung pengekangan terhadap hawa nafsu berikut setan yang (menyusup masuk di dalam diri). Oleh karenanya, (ketika kesabaran dijalankan), maka kerajaan hati akan menang dan bala tentaranya akan kokoh dan menguat sehingga segenap musuh akan terusir.


KETIGA BELAS

Hendaknya dia mengetahui bahwa tatkala dia bersabar , maka tentu ALLAH-lah yang menjadi penolongnya. Maka ALLAH adalah penolong bagi setiap orang yang bersabar dan memasrahkan setiap pihak yang menzaliminya kepada ALLAH.

Barangsiapa yang membela hawa nafsunya (dengan melakukan pembalasan), maka ALLAH akan menyerahkan dirinya kepada hawa nafsunya sendiri sehingga dia pun menjadi penolongnya.

Jika demikian, apakah akan sama kondisi antara seorang yang ditolong ALLAH, sebaik-baik penolong dengan seorang yang ditolong oleh hawa nafsunya yang merupakan penolong yang paling lemah?


KEEMPAT BELAS

Kesabaran yang dilakukan oleh seorang akan melahirkan penghentian kezhaliman dan penyesalan pada diri musuh serta akan menimbulkan celaan manusia kepada pihak yang menzalimi. Dengan demikian, setelah menyakiti dirinya, pihak yang zhalim akan kembali dalam keadaan malu terhadap pihak yang telah dizaliminya. Demikian pula dia akan menyesali perbuatannya, bahkan bisa jadi pihak yang zalim akan berubah menjadi sahabat karib bagi pihak yang dizhalimi. Inilah makna firman ALLAH سبحانا وتعاﱃ,

ô ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

•••• “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilaat: 34-35).


KELIMA BELAS

Terkadang pembalasan dendam malah menjadi sebab yang akan menambah kejahatan sang musuh terhadap dirinya. Hal ini juga justru akan memperkuat dorongan hawa nafsu serta menyibukkan pikiran untuk memikirkan berbagai bentuk pembalasan yang akan dilancarkan sebagaimana hal ini sering terjadi.

Apabila dirinya bersabar dan memaafkan pihak yang menzhaliminya, maka dia akan terhindar dari berbagai bentuk keburukan di atas. Seorang yang berakal, tentu tidak akan memilih perkara yang lebih berbahaya.

Betapa banyak pembalasan dendam justru menimbulkan berbagai keburukan yang sulit untuk dibendung oleh pelakunya. Dan betapa banyak jiwa, harta dan kemuliaan yang tetap langgeng (Eng: permanent, BM: kekela, tetap) ketika pihak yang dizalimi menempuh jalan memaafkan.


KEENAM BELAS

Sesungguhnya seorang yang terbiasa membalas dendam dan tidak bersabar mesti akan terjerumus ke dalam kezaliman. Karena hawa nafsu tidak akan mampu melakukan pembalasan dendam dengan adil, baik ditinjau dari segi pengetahuan (maksudnya hawa nafsu tidak memiliki parameter yang pasti yang akan menunjukkan kepada dirinya bahwa pembalasan dendam yang dilakukannya telah sesuai dengan kezaliman yang menimpanya, pent-) dan kehendak (maksudnya ditinjau dari segi kehendak, hawa nafsu tentu akan melakukan pembalasan yang lebih, pent-).

Terkadang, hawa nafsu tidak mampu membatasi diri dalam melakukan pembalasan dendam sesuai dengan kadar yang dibenarkan, karena kemarahan (ketika melakukan pembalasan dendam) akan berjalan bersama pemiliknya menuju batas yang tidak dapat ditentukan (melampaui batas, pent-). Sehingga dengan demikian, posisi dirinya yang semula menjadi pihak yang dizalimi, yang menunggu pertolongan dan kemuliaan, justru berubah menjadi pihak yang zalim, yang akan menerima kehancuran dan siksaan.


KETUJUH BELAS

Kezaliman yang diderita akan menjadi sebab yang akan menghapuskan berbagai dosa atau mengangkat derajatnya. Oleh karena itu, apabila dia membalas dendam dan tidak bersabar, maka kezaliman tersebut tidak akan menghapuskan dosa dan tidakpula mengangkat derajatnya.


KEDELAPAN BELAS


Kesabaran dan pemaafan yang dilakukannya merupakan pasukan terkuat yang akan membantunya dalam menghadapi sang musuh.

Sesungguhnya setiap orang yang bersabar dan memaafkan pihak yang telah menzaliminya, maka sikapnya tersebut akan melahirkan kehinaan pada diri sang musuh dan menimbulkan ketakutan terhadap dirinya dan manusia. Hal ini dikarenakan manusia tidak akan tinggal diam terhadap kezaliman yang dilakukannya tersebut, meskipun pihak yang dizalimi mendiamkannya. Apabila pihak yang dizalimi membalas dendam, seluruh keutamaan itu akan terluput darinya.

Oleh karena itu, anda dapat menjumpai sebagian manusia, apabila dia menghina atau menyakiti pihak lain, dia akan menuntut penghalalan dari pihak yang telah dizaliminya. Apabila pihak yang dizalimi mengabulkannya, maka dirinya akan merasa lega dan beban yang dahulu dirasakan akan hilang.


KESEMBILAN BELAS

Apabila pihak yang dizalimi memaafkan sang musuh, maka hati sang musuh akan tersadar bahwa kedudukan pihak yang dizalimi berada di atasnya dan dirinya telah menuai keuntungan dari kezaliman yang telah dilakukannya. Dengan demikian, sang musuh akan senantiasa memandang bahwa kedudukan dirinya berada di bawah kedudukan pihak yang telah dizaliminya. Maka tentu hal ini cukup menjadi keutamaan dan kemuliaan dari sikap memaafkan.


KEDUA PULUH

Apabila seorang memaafkan, maka sikapnya tersebut merupakan suatu kebaikan yang akan melahirkan berbagai kebaikan yang lain, sehingga kebaikannya akan senantiasa bertambah.

Sesungguhnya balasan bagi setiap kebaikan adalah kontinuitas kebaikan (kebaikan yang berlanjut), sebagaimana balasan bagi setiap keburukan adalah kontinuitas keburukan (keburukan yang terus berlanjut). Dan terkadang hal ini menjadi sebab keselamatan dan kesuksesan abadi. Apabila dirinya melakukan pembalasan dendam, seluruh hal itu justru akan terluput darinya.

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات[4]


Diterjemahkan dari risalah Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga ALLAH merahmati beliau-



Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Dan sifat sabar termasuk salah satu ciri yang melekat pada diri para Rasul manusia-manusia paling mulia di atas muka bumi. Allah Ta’ala berfirman, :::: “Sungguh para Rasul sebelum engkau (Muhammad) telah didustakan maka mereka pun bersabar terhadap pendustaan itu, dan mereka disakiti hingga tibalah pertolongan Kami.” (Al An’am: 34) :::: Demikianlah betapa agungnya sabar. Sampai-sampai Rasul bersabda, :::: “Sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran.” (Arba’in no. 19) ::::


Shared by Bicara Hidayah

Sabtu, 22 Januari 2011

HATI YANG KERAS PUNCA HILANGNYA خُشُوْعُ (KHUSYU’)

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, agar tunduk hati mereka untuk mengingat Allah dan tunduk pada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya yang telah diturunkan Al Kitab kepadanya, setelah berlalu masa yang panjang lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.“(al Hadid :16)

خُشُوْعُ berarti tenang, tunduk, merendahkan hati, lunak dan rasa takut. Fiil madhinya khasya’a dan mudhari’nya yakhsya’u.

خُشُوْعُ adalah sifat dan suasana hati dimana ia memiliki pengaruh yang kuat terhadap gerak gerik seluruh anggota badannya, karena itu خُشُوْعُ -nya hati akan nampak pada perilaku dan ucapan lisan. Al Hakim meriwayatkan hadith dari Abu Hurairah dari Nabi وسلم علي ﷲ صلى, beliau bersabda: “andaikata hati ini خُشُوْعُ, maka akan خُشُوْعُ -lah seluruh anggota tubuhnya.” (Jami’s Shaghir 130)

Hati menjadi tempat dimana Allah memandang dan menilai seseorang, karena bukan pakaian, bentuk tubuh, atau warna kulit yang dipandangNya, tetapi Allah memandang suasana hatinya, apakah خُشُوْعُ atau tidak. Walaupun seorang muslim secara syariat sudah melaksanakan solat tapi bila tidak terdukung dengan خُشُوْعُ nya hati, akan mengurangi nilai ibadahnya.

Imam Muslim dan Ibnu Majah meriwayatkan hadith dari Abu Hurairah dengan sanad sahih bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat bentuk tubuhmu dan harta bendamu tetapi sungguh Dia melihat pada hati dan amal perbuatan kalian.” (Jami’us Shaghir 74)

خُشُوْعُ berada di kedalaman hati, dan hati berada dalam dada, karena ia berada jauh di tempat yang dalam dan tak terlihat, sering kali manusia kurang peduli terhadap suasana hatinya, apakah خُشُوْعُ atau tidak, kebanyakan mengamalkan secara lahiriyyah tetapi tidak melibatkan suasana hati yang خُشُوْعُ, padahal nilai dari apa yang terlahir itu bergantung kepada apa yang ada dalam hatinya, walaupun antara lahir dan batin itu juga harus sinkron (Eng: synchronise, BM: selari).

خُشُوْعُ memiliki sifat bertambah atau berkurang, bertambahnya kekhusyu’kan disebabkan oleh amal soleh yang selalu dijaga dan berpaling dari segala bentuk kemaksiyatan. Sebaliknya bila mencampur aduk antara ketaatan dan kemungkaran akan mengurangi bahkan menghilangkan kekhusyu’kan.

خُشُوْعُ mengandung rasa takut kepada Allah سبحانا وتعاﱃ, yang mendorong seorang mukmin untuk serius (mujahadah) mengendalikan hawa nafsunya, rasa takut kepada Allah juga menjadi modal untuk menjauhi perbuatan dosa yang menjadi sumber murka Allah. Bila rasa takut kepada Allah telah benar maka akan hilanglah ketakutan pada mahluk lainnya. Bila rasa takut dari kebanyakan manusia ini kita bandingkan dengan rasa takut kepada Allah yang dimiliki alam semesta tentu sangat berbeda.

Gunung yang gagah menjulang tinggi kelangit memiliki rasa takut yang hebat kepada Allah سبحانا وتعاﱃ sedangkan kebanyakan manusia takut miskin, takut kehilangan jabatan, takut merugi tetapi tidak takut pada murka Allah. Bagaimana takutnya gunung kepada Allah digambarkan dalam ayat berikut:

“Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.” (al Hasyr: 21)

Pada akhir zaman ini menjaga خُشُوْعُ bagi kebanyakan orang muslim termasuk urusan yang sulit, karena banyaknya fitnah akhir zaman yang dihadapi hingga mempengaruhi pemikiran dan emosi yang terbawa pada palaksanaan ritual ibadah. Kerana itu bersabda:



Abu Darda’ meriwayatkan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

أَوَّلُ شَيْئٍ يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ الْخُشُوْعُ حَتَّى لاَ تَرَى فِيْهَا خَاشِعًا

“Hal pertama yang diangkat dari ummat ini adalah khusyu’sampai-sampai kamu tidak menemukan seorang pun yang khusyu’.” (Thabrani dengan sanad baik dan dinilai shahih oleh Albani).

Pengertian خُشُوْعُ yang terkandung dalam surat Al Hadid ayat 16 tersebut juga berarti lunak atau lembutnya hati, artinya hati yang خُشُوْعُ adalah hati yang lembut/lunak, sebaliknya hati yang tidak خُشُوْعُ adalah hati yang keras membatu yang mengarah pada bentuk fasik, yang merusak iman seorang mukmin.

Hati yang خُشُوْعُ dapat dicapai dengan beberapa amalan pendukung seperti memperbanyak solat berjamaah di masjid, mengamalkan solat lail (solat sepertiga akhir malam), berpuasa sunat memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala hal ini ditegaskan Allah dengan firmanNya :

“… gemetar kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi lunak kulit dan hati mereka lantaran Dzikrullah” (az Zumar: 23)

Ketika Abu Dzar ditanya Nabi صلى الله عليه وسلم tentang apa yang disukainya dari kehidupan dunia ini Abu Dzar menjawab: saya suka lapar (artinya ia suka puasa sunat) karena dengan lapar itu hatiku akan menjadi lembut. Salah satu dari kekhusyu’kan adalah lunak atau lembutnya hati.

Dengan hati yang lembut ini dapat kita rasakan betapa banyaknya kesalahan dan dosa yang dilakukan, kemudian mengalirlah air mata penyesalan.

Tetesan air mata bukan tangisan karena tidak mampu membayar hutang, atau karena urusan duniawi,tetapi tangisan karena ingat kepada Allah سبحانا وتعاﱃ maka tetesan air mata yang tidak ada nilainya dihadapan manusia, tetapi dihadapan Allah akan dapat menyelamatkan dari lautan api neraka, dan ini adalah salah satu tanda hati yang خُشُوْعُ. Allah berfirman :

“Dan muka mereka menyungkur bersujud sambil menangis yang menambah خُشُوْعُ mereka.”” (al Isra : 109)




SOLAT DAN خُشُوْعُ


Allah berfirman :
“Jadikanlah sabar dan صلاة sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 45-46)

خُشُوْعُ dapat dipantau dari perasaan hati, bila kita melaksanakan solat terasa ringan kemudian sesudahnya kita rasakan kedamaian dan ketenteraman hati ini adalah kesan dari خُشُوْعُ -nya hati.

Sebaliknya bila melaksanakan solat terasa berat, tergesa-gesa dan bergerak-gerak selain gerakan solat, kemudian sesudahnya tidak merasakan dampak ketenteraman dan kedamaian ini pertanda hilangnya ke خُشُوْعُ kan.


Shared by bicara Hidayah

RABB , KU INGIN SELALU BERSAMAMU

Ya Allah,
Jadikan kami di antara orang-orang yang dambaannya
adalah mencintai dan merindukan-MU
yang mampu merintih dan menangisi dosa-dosa diri ..
yang memiliki dahi-dahi yang bersujud karena kebesaranMU
yang memiliku mata-mata terjaga dalam mengabdi kepadaMU
yang air matanya mengalir karena takut padaMU
yang hatinya terikat pada cintaMU



Ya Rahman ,
Jadikan...
Engkau lebih kami cintai dari pada selainMU
Jadikan cinta kami padaMU membimbing kami pada RidhaMU
Jadikan kerinduan kami padaMU
mencegah dari maksiat atasMU
Anugerahkan pada kami nikmat indah memandangMU
Tataplah diri kami dengan tatapan kasih dan sayang
Jangan palingkan wajahMU dari kami
Jadikan kami termasuk penerima anugerah dan karuniaMU


Wahai Allah kekasih hati ..
Peliharalah nikmat iman di dada
Jangan biarkan sedikit saja
kami lalai dalam mengingatMU
Penuhilah qalbu kami
nikmat dengan asma KeagunganMU


Ya Rabbi,
Hanya Engkau pemberi ijabah
Pembuka mata hati, karunia, Rahmat dan Nikmat
Allahu ya Arhamar Raahimin ...
Amin ya Mujib, Ya Rahman Ya Rahim
ya Robbal alamin ...


Puti Melati
23.01.11

LA TAHZAN, JANGANLAH BERSEDIH SAHABATKU

LA TAHZAN

Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya) jika kamu orang-orang yang beriman. [Surah Ali Imran : Ayat 139]

:::: Asbabul(n) Nuzul ::::

Allah berfirman kepada hamba-hambaNya yang mu’min tatkala mereka mendapat musibah dalam perang Uhud dan gugur tujuh puluh orang di antara mereka sebagai syuhada’, bahawa hal yang serupa telah terjadi pada umat-umat yang sebelum mereka. Para pengikut nabi-nabi yang akhirnya mereka yang beruntung dan orang-orang kafirlah yang binasa. Kerananya Allah memerintahkan hamba-hambaNya mengadakan perjalanan untuk melihat dan menyaksikan bagaimana akibat yang dideritai oleh umat-umat yang mendustakan nabi-nabiNya.

Allah berfirman bahawa di dalam Al-Quran terdapat keterangan sejelas-jelasnya bagi umat manusia,juga mengenai umat-umat yang dahulu. Di samping itu, ia adalah petunjuk dan pencegah dari segala perbuatan dosa dan ma’siat.

Allah سبحانا وتعاﱃ melarang hamba-hambaNya janganlah menjadi lemah dan sedih hati kerana apa yang mereka derita dalam perang Uhud. Sebab kemenangan terakhir adalah bagi orang yang mu’min. Dan jika mereka telah mendapat luka-luka dan banyak yang gugur dalam perang Uhud, maka hal yang serupa telah dialami pula oleh musuh-musuh mereka dalam perang Badar. Dan memang demikianlah sunnah Allah yang menggilirkan kehancuran dan kejayaan di antara manusia.


KAFFARAH DOSA DAN PENINGKAT DARJAT

Allah berfirman bahawa dengan penderita yang dialami dalam perang Uhud, Allah hendak membersihkan orang-orang yang beriman dari dosa-dosa mereka dan atau mengangkat darjat mereka sesuai dengan penderitaannya. Sedang orang-orang kafir akan dibinasakan, walaupun untuk sementara mereka memperolehi kemenangan.

Allah سبحانا وتعاﱃ berfirman: "Adakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga sebelum kamu dicuba (uji) dengan berjihad di jalan Allah dan bersabar menghadapi musuh?"

Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 214 yang maksudnya:

"Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cubaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cubaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."

Dan ayat:

“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang yang dusta.” (Al-Ankabut, ayat 2-3)

Sumber: Tafsir Ibnu Kathir

::::

KEHIDUPAN ini adalah permainan dalam pelbagai acara yang mencabar dan penuh ujian Allah, bertujuan menguji kesabaran dan tahap keimanan seseorang. Ada kalanya kita berupaya melepasi ujian itu, namun ada juga yang tidak berupaya menghadapinya lantas merungut dengan apa yang berlaku.

Harus diakui ada ketika kita tidak mampu mengelak daripada menghadapi tekanan dalam menjalani kehidupan. Pelbagai tekanan dihadapi menyebabkan kita hilang semangat disebabkan cabaran dan dugaan yang datang silih berganti dan setengahnya pula secara bertimpa-timpa. Ujian yang akan dihadapi oleh manusia di dunia ini adalah dalam dua bentuk iaitu ujian kesusahan dan ujian kesenangan. Kedua-dua ujian itu benar-benar menguji kita sebagai hambanya. Ingatlah bahawa kehidupan di dunia yang meliputi kemewahan dengan segala pangkat kebesaran hanya kesenangan bagi mereka yang terpedaya kalau kita hanyut dengannya.

Firman Allah yang bermaksud:

“Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams, ayat 8-10)

Dalam menghadapi kedua-dua ujian itu, elemen spiritual dalam diri individu hendaklah diperkasakan bagi membantu seseorang menghadapi apa saja dalam kehidupannya, sama ada kesusahan dan kesenangan. Justeru, apa pun bentuk ujian yang melanda, perkara pokoknya adalah kita sentiasa reda dan bersyukur kepada Allah.

Sebenarnya, ujian yang kita tempuhi dapat melatih kita untuk memperoleh sifat terpuji. Sabar, reda, tawakal, baik sangka, mengakui diri sebagai hamba yang lemah, mendekatkan diri dengan Allah di samping mengharapkan pertolonganNya, merasai dunia hanya nikmat sementara dan sebagainya.

Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda yang bermaksud:

“Allah pasti akan menguji salah seorang dari kamu dengan sesuatu kesusahan, seperti halnya salah seorang dari kamu menguji emasnya dengan api. Sebahagian dari mereka ada yang berjaya keluar dari cubaan Allah seperti emas murni dan sebahagian yang lain ada yang keluar seperti emas yang hitam.” (Riwayat Tabrani)

Berasa diri berdosa adalah juga sifat terpuji. Sebab itu bagi orang yang sudah banyak melakukan dosa atau lalai daripada mengingati Allah, maka Allah datangkan ujian kesusahan kepadanya.

Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم pernah membayangkan melalui sabda Baginda bahawa:

“Akan datang suatu zaman atas umatku, bahawa mereka sangat sukakan lima perkara dan melupakan lima perkara yang berlainan dengannya. Mereka sukakan penghidupan lalu melupakan mati, mereka sukakan dunia dan melupakan akhirat, mereka sukakan harta kekayaan dan melupakan hari perhitungan, mereka sukakan rumah besar dan melupakan kubur, mereka sukakan manusia dan melupakan Tuhan Penciptanya.” (Riwayat Bukhari)

Sesungguhnya pilihan itu terletak di tangan kita. Adakah dugaan dan ujian yang tidak berupaya untuk kita menghadapinya. Adakah kita berterusan untuk mengakui kegagalan dan menjadikan alasan itu untuk terus putus asa. Akhirnya kita menjauhkan diri kita daripada Allah atau adakah ujian dan dugaan itu akan kita hadapi melalui jiwa besar lagi perkasa.

Kita laluinya dengan rasa reda dan tunduk kepada Allah. Suatu rumusan daripada ramuan kehidupan yang akhirnya berupaya mengangkat martabat keimanan kita. Bagi orang yang dikasihi Allah, kehidupan di dunia sarat dengan ujian yang didatangkan-Nya seperti kesusahan, penderitaan, kesakitan, kemiskinan, kehilangan pengaruh dan sebagainya.

Sekiranya kita boleh bersabar dan reda, maka itulah ganjaran pahala untuk kita. Firman Allah bermaksud:

“Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, pada hal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang yang bersabar.” (Ali Imran , ayat 142)


LA TAHZAN, JANGANLAH BERSEDIH SAHABATKU

La Takhaf Wa La Tahzan. Innallaha Ma’ana

“Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya Allah ada bersama kita”

Inilah kata-kata Nabi Muhammad صلیﷲ علیﻪ و سلم kepada Saidina Abu Bakar r.a ketika mereka bersembunyi di dalam gua tsur. Kata-kata inilah yang menjadi semangat dan penenang hati Abu Bakar r.a di dalam kegusaran diburui musuh.

Innallaha ma’ana.
Allah itu ada bersama kita. InsyaAllah.



Shared by Bicara Hidayah

KHUSYUK DAHULU, BARU MUDAH SABAR DAN SHOLAT

Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu.
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,
kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
(QS: Al Baqarah 2: 45)

Saya selalu mengingatkan sahabat-sahabat saya bahawa miliki dahulu khusyuk itu di luar solat (di dalam setiap aktiviti kita), maka dengan mudah khusyuk itu akan diperolehi dalam apa jua keadaan termasuk ketika solat.

Khusyuk itu maknanya MENYEDARI (tidak sekadar tahu dan ingat) bahawa Allah سبحانا وتعاﱃ itu dekat dengan kita dan MENYEDARI bahawa Allah سبحانا وتعاﱃ sentiasa melihat setiap apa yang kita lakukan. Kita sentiasa berada di dalam sedar hal yang dikatakan Ihsan ini.

Ayat Al-Baqarah 2:45 tersebut selalu disalah ertikan di mana kita selalu MENCARI KHUSYUK DI DALAM SOLAT. Sedangkan jelas Allah سبحانا وتعاﱃ berfirman bahawa sabar dan solat itu mudah dilakukan bagi mereka yang khusyuk.

Bermakna khusyuk dahulu, sedar Allah itu dekat, sedar Allah sedang melihat diri kita dalam apa jua keadaan kita, di dalam setiap aktiviti yang kita lakukan, SEDAR KEHIDUPAN KITA INI ADALAH KETENTUAN ALLAH سبحانا وتعاﱃ dan barulah kita mampu mencapai sabar dan mendirikan solat dengan penuh ikhlas.

Bagi orang yang khusyuk, sabar dan solat merupakan penolongnya. Maka orang yang TIDAK KHUSYUK di dalam kehidupannya, MANA MUNGKIN AKAN SABAR DAN TIDAK AKAN MENJADIKAN SOLAT ITU SEBAGAI PENOLONGNYA.

Menjadi kesulitan kita apabila kita ingin mencari khusyuk di dalam solat. Kita belajar cara-cara solat yang khusyuk. Kita tidak mencari bagaimana untuk khusyuk di dalam kehidupan kita. Maka sebab itu apabila kita mendirikan solat, kita terasa penat, letih dan makin tertekan kerana kita cuba mendapatkan khusyuk itu di dalam solat.

Orang yang sentiasa khusyuk dalam setiap aktiviti kehidupannya, tidak akan gelisah, sentiasa tenang, bersemangat, jiwanya positif dan segala kebaikan mudah dicapai. Orang yang khusyuk di dalam setiap aktivitinya akan sentiasa sabar walau apa pun menimpa. Sentiasa bersemangat dan tertunggu-tunggu waktu solat. Solat dirasakan ringan dan asyik kerana itulah saat kemuncak mikraj kepada Allah سبحانا وتعاﱃ .

Orang yang khusyuk di dalam setiap aktivitinya akan lebih pasrah, redha dan berserah kerana jiwanya sudah terkunci dengan kesedaran yang tertinggi bahawa setiap apa yang dilakukan adalah kehendak Allah سبحانا وتعاﱃ . Setiap kehendak Allah سبحانا وتعاﱃ pasti yang terbaik untuk dirinya walaupun jika mengikut akal fikiran mungkin tidak baik bagi dirinya.


[Fuad Latip]

Shared by Bicara Hidayah

UNTUKMU YANG BERJIWA HANIF

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad): Hendaklah engkau menurut ugama Nabi Ibrahim, yang berdiri teguh di atas jalan yang benar; dan tiadalah ia dari orang-orang musyrik. [An-Nahl:123]


[Then We revealed to you, [O Muhammad], to follow the religion of Abraham, inclining toward truth; and he was not of those who associate with Allah. ]

SUNGGUH HIDAYAH menuju Islam yang hakiki itu merupakan kenikmatan yang terbesar dalam kehidupan manusia, karena ia adalah kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Orang-orang terdahulu telah mengorbankan semua yang ada pada diri mereka untuk meraihnya. Jalan itu pula kiranya yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul dalam mendakwahkan kalimat tauhid untuk mengesakan Allah SWT



TUJUAN HIDUP


Setiap manusia sepakat dengan tujuan hidup, yaitu mencari dan menggapai kebahagian. Semua manusia ingin hidup bahagia, hanya saja kebanyakan manusia salah dalam mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang ia sangka disana ada pantai kebahagian, padahal ia adalah jurang kebinasaan.

Banyak orang menyangka kebahagian itu ada pada harta, karenanya ia berletih-letih dan berpeluh mencari sumber-sumber harta. Setelah ia memperoleh harta tersebut, hatinya tetap gundah dan perasaan selalu gelisah, dalam harta yang banyak itu terdapat jiwa yang rapuh.

Banyak pula yang menyangka bahwa pangkat dan kekuasaan itu adalah kebahagian, tetapi setelah pangkat dan kekuasaan diperoleh kebahagiaan semakin jauh darinya, yang terdengar hanya keluh kesahnya.

Jadi apa kebahagiaan yang sesungguhnya? Apa kebahagian sejati yang harus dicari oleh manusia? Siapa sebenarnya orang yang bahagia? Apa sarana untuk mencapainya?

Manusia diciptakan oleh Allah SWT  Tentu yang paling mengenal tentang seluk-beluk manusia, termasuk tentang sebab bahagia atau sengsara adalah Allah SWT  bukan manusia. Allah SWT  berfirman:

"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Al-Muluk: 14)

Ketika Al-Quran ditadaburi dan syariat Islam dikaji, maka kebahagiaan yang hakiki adalah mengaplikasikan pengHAMBAan diri kepada Allah SWT. Orang yang bahagia adalah orang yang telah berhasil menjadi HAMBA Allah SWT.

Sarana kebahagiaan adalah semua sarana yang telah disediakan oleh-Nya dalam meniti jalan pengHAMBAan diri kepada Allah SWT . Karena pengHAMBAan diri inilah sebab diciptakannya manusia dan jin. Allah SWT berfirman:

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada Ku." (Adz-Dzaaryiat: 56)

Orang yang berpaling dari pengHAMBAan diri, dialah orang yang sengsara, Allah SWT berfirman:

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)

Allah SWT telah menentukan taqdir semua makhluk dan tidak ada yang dapat merubah taqdir selain-Nya. Manusia yang berakal tentu akan bernaung kepada Dzat yang mampu mentaqdirkan segala sesuatu, ia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam menyandarkan diri dan kepasrahan kepada-Nya.



BEBAN AMANAH

Allah SWT menciptakan manusia untuk sebuah tujuan yang mulia, yang akan memikul amanah yang sangat berat. Pantas saja tidak ada yang mau memikul amanah tersebut dari langit yang tinggi, gunung yang menjulang atau bumi yang terbentang, semuanya menyatakan enggan kecuali manusia. Allah menceritakan tentang perihal tersebut,

"Sesungguhnya telah kami sampaikan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh." (Al-Ahzab: 72)

Apa gerangan amanah yang telah diikrarkan itu? Amanah itu adalah Islam dan peraturannya, yaitu janji kepatuhan kepada Allah SWT




AHSANU ‘AMALA


Al-Quran menyebutkan bahwa penciptaan alam, hidup dan mati untuk menguji manusia, siapa yang lebih baik amalnya. Itulah yang disebut dengan "Ahsanu ‘amala". Allah SWT berfirman:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Al-Mulk: 2)

"Sesungguhnya kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi: 7)

Fudhail bin ‘Iyadh radhiyallahu ‘anhu berkata "Ahsanu ‘amala, adalah amalan yang paling ikhlas dan yang paling benar".



Jadi pengHAMBAan diri yang paling sempurna dengan 2 syarat, yaitu hendaklah ‘ubudiyah kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dan sesuai dengan syari'at.





FITRAH BEKAL KEBENARAN


Setiap jiwa manusia diberi fitrah sebagai bekal untuk mencari kebenaran. Karena Allah SWT tahu manusia itu lemah dan membutuhkan Khaliq-nya. Fitrah itu adalah Islam, yaitu penyerahan diri kepada Dzat Yang Maha Kuasa, perasaan kerinduan terhadap kebenaran dan keinginan yang SWT berfirman :

"(Berpegang teguhlah dengan) fitrah Allah SWT  yang telah dirakit (Eng: assemble) manusia dengannya, tidak ada perubahan pada penciptaan Allah SWT. Itulah agama yang lurus" (Ar-Rum: 30)



MUARA KEBENARAN


Semua aktivitas badan yang lahir, perbuatan baik dan buruk, dikuasai oleh satu komando, yaitu HATI. Ia bagaikan raja yang berkuasa mutlak terhadap bala tentaranya, semua tindakan harus dibawah perintah dan larangannya, ia pergunakan sekehendaknya dan ia suruh semaunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah dia adalah hati.” (HR Bukhari 1/126 no.52, Muslim 11/57 no. 1599 dari Nu'man bin Basyir)


HATI yang bisa meraih HIDAYAH Allah SWT adalah HATI yang masih dalam kategori hidup dan HATI yang masih memiliki cahaya sekalipun redup.



TUNJUKI AKU JALAN YANG LURUS

"Ihdinashshirotholmustaqim, Shirotholladzina an'amta'alaihim .... " tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat ... Begitu pentingnya Hidayah, sehingga seorang HAMBA memohon minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam. Ketika Hidayah jauh dari seorang, berarti kebinasaan dan kesengsaraanlah yang akan segera menimpanya. Hajat seorang HAMBA kepada Hidayah seperti hajat badan terhadap udara, ia sangat membutuhkan sejumlah HIDAYAH-nafas yang keluar masuk tubuhnya. Sebagaimana tubuh membutuhkan makan dan minum, hati juga membutuhkan HIDAYAH sebagai makanan dan minumannya.


Imam Ahmad rahimahullah berkata,

"Kebutuhan seorang hamba pada hidayah, melebihi kebutuhannya dari makan dan minum, kalau makan dan minum hanya dibutuhkan satu dua kali saja, sedangkan hidayah dibutuhkan sejumlah nafas." (Miftah Darus sa'adah, 1/61)



JADILAH LENTERA


Orang yang merasakan manisnya HIDAYAH dan lazatnya iman dialah orang yang punya motivasi dalam hidup dan bertabiat tidak pernah puas pada sesuatu, ia tidak puas kalau dirinya saja yang merengkuh kenikmatan dan merasakan kebahagiaan. Ia bagaikan lentera (BM: lampu, pelita) yang menerang dirinya sebagaimana ia menerangi yang lainnya. Allah SWT berfirman:

"Dan apakah orang yang telah mati (hatinya) kemudian Kami hidupkan kembali dan Kami anugerahkan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya dalam gelap gulita yang sekali-kali ia tidak dapat keluar darinya ..." (Al-An'am: 122)

Setelah seseorang dihantarkan oleh Allah SWT ke gerbang HIDAYAH, yaitu "Islam" yakni keinginan untuk mencari kebenaran melalui ilmu dan iman serta usaha dan amal, berarti ia telah mendapatkan setengah kebahagiaan. Akan tetapi, tidak cukup sampai disana, ia menghendaki HIDAYAH kedua dari Allah SWT  . yaitu, taufiq Allah SWT dalam kebenaran pada semua tindakannya. Itulah yang disebut Allah  SWT dalam Al-Quran:

"Dan orang yang berjuang di jalan kami, akan kami beri kepada mereka hidayah jalan-jalan kami ..." (Al-Ankabut : 69)

Para ulama berkata, "kami beri mereka taufiq untuk mendapatkan sarana yang benar menuju jalan yang lurus, jalan itu yang menghantarkan mereka kepada redha Allah  SWT." (Tafsir Baghawi, 404)



Untuk menggapai (BM: mencapai) HIDAYAH yang kedua ini seorang muslim harus memiliki sifat:


BERJIWA HANIF


Orang yang berjiwa Hanif yaitu orang yang condong kepada kebenaran, berkepribadian yang lurus dan istiqamah. Agama Hanif yaitu agama yang jauh dari kesyirikan dan penyembahan berhala, dengan berkhitan dan melakukan manasik haji. (Qamus Muhith, 2/370)


Allah SWT berfirman;

"Tidaklah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukan dari orang musyrik.” (Ali ‘Imran : 67)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“ ... jauh dari syirik dan
condong kepada iman ... " (Tafsir Ibnu Katsir, 2/58)




BERSERAH DIRI


Penyerahan diri dalam syari'at adalah "Islam", atau " taslim", yaitu tunduk, patuh dan menyerahkan diri kepada Allah SWT, serta tidak ada perlawanan, penolakan dan keraguan dalam melaksanakan perintah-Nya.



MEMILIKI MOTIVASI

Seorang yang memperoleh HIDAYAH mempunyai kemauan yang kuat dan motivasi yang tinggi, karena yang dicarinya adalah syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Jika orang yang mencari dunia memerlukan semangat dan motivasi, maka selayaknya orang yang mencari akhirat akan memiliki semangat dan motivasi yang lebih besar untuk meraihnya.


SABAR DAN YAKIN


Sabar dan yakin sebagai syarat kebahagiaan HAMBA di dunia dan di akhirat, ketika dua hal ini telah diperoleh HAMBA, berarti ia telah menjadi INSAN KAMIL.



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

"Dengan sabar dan yakin akan diperoleh kepemimpinan dalam Din"





Mahyudin Ibnu Rusli
Shared By Bicara Hidayah


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. “[Al-Ahzab: 56]