Sabtu, 12 April 2014

:: CARA-CARA BERSYUKUR KEPADA ALLAH



Man lam yaqbal ‘alallaahi bimulaathafaatil ihsaani quyyida ilaihi bisalaasiilal imtihaani man lam yasykurinni’ama faqad ta’arradha lizawaalihaa waman syakarahaa faqad qayyadahaa bi’iqaaliha.

Artinya : “Barangsiapa yang tidak menghadap kepada Allah ketika diberi kehalusan-kehalusan karunianya, niscaya dia akan dibelenggu dengan berbagai (rantai ujian). Barang siapa yang tak mensyukuri segala nikmat, maka benar-benar dia telah menyodorkan untuk hilangnya nikmat. Dan barangsiapa yang mensyukuri nikmat, benar-benar dia telah mengikatnya dengan tali”.

Sebagai orang mukmin yang telah begitu banyak menerima kenikmatan, kita seharusnya banyak bersyukur pada Yang Memberi Kenikmata (Allah). Bahkan begitu banyaknya, hingga kita tak akan pernah mampu untuk menghitungnya.
Kenikmatan, yang oleh Imam Ghozali dikatakan sebagai kebahagiaan, keutamaan dan segala macam keinginan yang dapat terpenuhi dan kita rasakan, pada hakekatnya terbagi menjadi dua macam yaitu :

1. Kenikmatan yang bersifat fitri atau azazi, yakni kenikmatan yang diberikan Allah sejak manusia dilahirkan. Misalnya telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, hati (akal) untuk berfikir, serta alat-alat tubuh lain yang diper;ukan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 78, yang artinya : “dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

2. Kenikmatan yang dirasakan pada waktu yang akan datang (tidak langsung diberikan ketika lahir). Yang termasuk ke dalam kenikmatan ini adalah seperti diciptakannya macam tanaman, berbagai macam hewan, bumi dan semua yang terkandung di dalamnya untuk manusia.

Demikianlah besar dan terlalu seringgnya kita menerima dan merasakan nikmat dari Allah. Hingga seringkali kita lupa, bahwa apa yang kita terima dan rasakan itu merupakan nikmat. Seperti halnya pada orang yang sehat, karena berhari-hari, berbulan-bulan bertahun-tahun dalam keadaan sehat, maka ia sama sekali tidak merasakan bahwa kesehatannya itu merupakan nikmat. Baru ketika terserang penyakit, ia akan merasakan betapa besar nikmat berupa kesehatan itu.

Kalau Nabi Muhammad sendiri sebagai orang ma’sum atau terpelihara dari dosa saja merasa tidak termasuk kedalam golongan orang-8orang yang bersyukur, apakah lalu kita yang berlumuran dosa ini tidak merasa malu untuk menerima pemberian-Nya tanpa mau bersyukur kepada-Nya? Sebagai seorang mukmin kita tentu tidak ingin mengabaikan perintah Allah, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an Surat An_Nhl ayat 144,

yang artinya :

“Bersyukurlah terhadap nikmat Allah, jika kamu sungguh-sungguh menyembah kepada-Nya”,

Adapun tentang cara-cara bersyukur itu ada tiga macam, yaitu :

1. Bersyukur dengan hati. Maksudnya, ia merasa yaqin bahwa segala macam kenikmatan itu datangnya dari Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat An_Nahl ayat 53, yang artinya : “dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan”.

2. Bersyukur dengan lisan. Maksudnya dengan memperbanyak bacaan Hamdalah (Al-Hamdulillah). Hal ini tersebut dalam Al-Qur’an Surat Adh-Dhuhaa ayat 11, yang artinya : “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebutnya (dengan bersyukur)”.

3. Bersyukur dengan semua anggota badan. Jadi dengan demikian, bersyukur itu tidak hanya cukup dengan lisan atau ucapan saja. Tetapi lebih dari pada itu harus diwujudkan dengan perbuatan perbuatan yang diridhai serta disukai Nya



Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan hamba hambaNya yang bersyukur dalam keridhaan Nya. Aamiin. 

Sabtu, 05 April 2014

:: MENGAPA KITA HARUS BERHIAS DENGAN AKHLAK YANG MULIA



1. Akhlak mulia dicintai Allah.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah itu Mulia, Dia menyukai kemuliaan dan ketinggian akhlak, serta membenci akhlak yang hina."
(HR. al-Hakim, sanad shohih)

2. Seorang mukmin yang bersifat dengan akhlak baik adalah mukmin yang paling sempurna imannya.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya."
(HR. Tirmidzi, sanad hasan)

3. Akhlak yang baik adalah jalan untuk masuk surga.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Saya yang menjamin dengan 1/satu rumah di surga yang paling tinggi bagi yang baik akhlaknya."
(HR. Abu Dawud, sanad hasan)

4. Akhlak yang baik merupakan sebab kedekatan dengan Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda pada hari kiamat dan membawa kepada cinta Beliau shallallahu alayhi wasallam.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Orang yang paling aku cintai diantara kalian dan yang paling dekat tempatnya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya."
(HR. Tirmidzi, sanad hasan)

5. Akhlak yang baik memiliki timbangan yang paling berat bagi hamba.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Tidak ada sesuatu yang paling berat di timbangan daripada akhlak yang baik."
(HR. Abu Dawud, sanad shohih)

6. Derajat seorang mukmin yang berakhlak yang baik akan sampai ke derajat orang yang berdiri sholat di malam hari dan berpuasa di siang hari.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya dengan akhlaknya yang baik, seseorang dapat mencapai derajat-derajat orang yang berdiri sholat di malam hari dan berpuasa di siang hari."
(HR. Abu Dawud, sanad shohih)

7. Akhlak yang baik menambah umur dan memakmurkan negeri.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Akhlak yang baik dan bertetangga yang baik memakmurkan kampung dan menambah umur."
(HR. Ahmad, sanad shohih)
(Mukhtasar Syarah Durusul Muhimmah li Amatik Ummah)

Ya Allah, karuniakanlah kami hati yang bersih serta akhlak yang mulia .
Aamin Ya Robbal alamin ..



Kitab Durusul Muhimmah karya Syaikh bin Baz rahimahullah






:: ORANG ORANG YANG DIWAFATKAN DALAM KEADAAN SHALIH



Apabila seseorang menghadapi ajalnya dalam keadaan kembali kepada modal dasar kesuciannya (fithrah) atau bahkan lebih dari itu (beruntung), maka sesungguhnya walaupun jasadnya dikubur di dalam tanah, namun jiwa (nafs) nya tidaklah mati, ia hidup di sisi Allah dan dapat berjalan-jalan di tengah-tengah manusia, namun kebanyakan manusia tidak menyadarinya.

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al Baqarah [2]:154).

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (QS. Al An’aam [6]:122).

Dan di akhirat nanti ia akan mendapatkan balasan Surga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. Ash Shaff [61]:11-12).

** Berjihad yang dimaksudkan disini adalah dengan taubat sebenar benar taubat , meninggalkan dosa dosa , memperbanyak amal shalih , berjuang menegakkan agama Allah (dakwah) dll

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai ... (QS. At Tahrim [66]:8).

:: UTAMANYA AMALAN HATI



Aisyah رضي الله عنه pernah berkata,

“Sungguh kalian melupakan ibadah yang paling utama, yaitu amalan hati .”

Ibnul Qayyim menyatakan, bahwa amaliyah tidak diukur dari tinggi rendahnya kualitas oleh bentuk dan jumlahnya, tetapi hanya diukur dengan apa yang ada didalam hati.

Bisa jadi bentuk amalannya sama tetapi kulitas dihadapan Allah bagaikan jarak langit dan bumi.

Kualitas batin suatu amaliyah sangat menentukan nilai amalan itu sendiri, walaupun ini bukan berarti tata cara (kaifiyah) beramal dan beribadah diabaikan...
Dan ibadah dan perbuatan baik, tidak hanya sebatas gerak fisik, namun substansinya terletak pada kualitas hati.

Dari an-Nu’man bin Basyir beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”.

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan memperbaiki amalan hati, karena kebaikan dan keburukan seluruh anggota badan mengikuti kebaikan dan keburukan hati manusia

Dalam hadits lain yang semakna, Rasulullah bersabda: “Takwa itu (terletak) di sini”, dan beliau menunjuk ke dada (hati) beliau tiga kali

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

- Yang dimaksud dengan amalan hati adalah cinta, takut, berharap, berserah diri, yakin, ridha dan lain-lain, yang semua ini tidak pantas diserahkan kecuali kepada Allah semata-mata.

- Mengusahakan perbaikan amalan hati lebih wajib bagi seorang hamba daripada amalan anggota badan, karena amalan hati inilah yang membedakan orang-orang yang benar dalam keimanannya dari orang-orang yang dusta (munafik)

- Imam an-Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat (anjuran) yang kuat untuk (selalu) mengusahakan perbaikan (amalan) hati dan menjaganya dari kerusakan (keburukan)

- Imam Ibnul Qayyim berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba hanyalah mampu melalui tahapan-tahapan perjalanan menuju (ridha) Allah dengan hati dan keinginannya yang kuat, bukan (cuma sekedar) dengan (perbuatan) anggota badannya. Dan takwa yang hakiki adalah takwa (dalam) hati dan bukan takwa (pada) anggota badan (saja).

Allah berfirman: “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar (perintah dan larangan) Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan (dalam) hati” (QS al-Hajj:32)

(Dalam ayat lain) Allah berfirman
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS al-Hajj:32)”

Lihatlah misalnya orang-orang munafik di jaman Rasulullah, mereka menampakkan Islam secara lahir, dengan tujuan untuk melindungi diri mereka dari kaum muslimin, padahal dalam hati mereka tersimpan kekafiran dan kebencian yang besar terhadap agama Islam.

Ketika menjelaskan makna hadits kedua di atas, imam an-Nawawi berkata:

 “Artinya: sesungguhnya amalan perbuatan yang tampak (pada anggota badan) tidaklah (mesti) menunjukkan adanya takwa (yang hakiki pada diri seseorang), akan tetapi takwa (yang sebenarnya) terwujud pada apa yang terdapat dalam hati (manusia), berupa pengagungan, ketakutan dan (selalu) merasakan pengawasan Allah”

- Hati manusia adalah ibarat raja, sedangkan seluruh anggota badan ibarat bala tentaranya, mereka semua taat kepada sang raja dan tidak berani menyelisihi perintahnya. Maka kalau sang raja baik berarti semua bala tentaranya akan baik dan kalau dia buruk berarti semua bala tentaranya akan buruk

 Allah tidak akan menerima seorang yang menghadap-Nya kecuali dengan membawa hati yang selamat (bersih), sebagaimana dalam firman-Nya: Yaitu) di hari harta dan anak-anak  tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS asy-Syu’araa’: 89).


Hati yang bersih adalah hati yang hanya dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah dan segala sesuatu yang dicintai-Nya, serta rasa takut kepada-Nya dan takut terjerumus kepada segala sesuatu yang dibenci-Nya



Wallahu a'lam bishawab
Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Sabtu, 01 Maret 2014

:: TUHAN MAAF KAMI SEDANG SIBUK



Tuhan..
Harap maklumi kami manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan...
Kami benar-benar sibuk.. sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu..

Tuhan..
Kami sangat sibuk. ..Jangankan berjamaah.. bahkan munfarid pun kami tunda-tunda..
Jangankan rawatib.. zikir..berdoa.. tahajud..bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami..
Jangankan puasa Senin-Kamis.. jangankan ayyaamul baith.. jangankan puasa nabi Daud..bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh..

Tuhan..
Maafkan kami..kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak.. sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu...
Jangankah sedekah.. jangankan jariyah..bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja seringkali terlupa..

Tuhan..
Urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak...
Jadwal kami masih amatlah padat..
Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu..
Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk..menyungkur sujud
.menangis..mengiba..berdoa.. dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu..

Tuhan..
Tolong jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami....


KARENA KAMI MASIH TERLALU SIBUK ....




 Oleh A.R Rifan

:: UBAN ADALAH CAHAYA PADA HARI KIAMAT



Diantara manusia ada yang merasa malu saat uban tumbuh pertama kali dikepalanya serta tidak suka jika dilihat orang lain. Ia pun mencabutnya karena tidak mengetahui bahwa pada hari kiamat uban merupakan cahaya bagi pemiliknya

Diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid r.a bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda “ Barangsiapa yang beruban rambutnya dalam Islam, niscaya uban itu akan menjadi cahayanya pada hari kiamat”

Ketika itu ada seseorang berkata kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam “Sesungguhnya ada orang –orang yang mencabut uban mereka” . Rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam pun bersabda, “Barangsiapa yang ingin melakukannya berarti hendak mencabut cahayanya” (HR Al Bazzar , Ath Thabrani dan di hasankan Al- Albani dalam shahih At –Targhib wat Tarhib (2092).

Diantara keutamaan membiarkan uban dan tidak mencabutnya ialah pada hari kiamat kelak pemiliknya akan diberikan Empat Hal penting :
Cahaya diatas Shirat, setiap rambut putih dibalas satu kebaikan, dihapus darinya satu keburukan, dan Allah mengangkat satu derjat dari rambut itu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Shalallahu Alaihi wasallam bersabda ; “Janganlah kalian mencabut Uban! Sesungguhnya uban itu adalah cahaya pada hari kiamat . Barangsiapa yang tumbuh ubannya ketika Islam niscaya dicatatkan untuknya dengan uban itu satu kebaikan, dihapus dari orang itu satu kesalahan(dosa) dan ia ditinggikan satu derjat baginya dengan uban itu” (HR Ahmad dalam Al-Fath Ar Rabbani 17/315, At Thirmidzi (2821),Ibnu Majah (3721) dan Ibnu Hibban. Sedangkan dalam shahih At-Targhib wat Tarhib Al Albani berkata “hadis ini Hasan shahih”(2096).

Dari sini kita bisa mengetahui bahwa setiap perintah nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dan setiap amal shaleh tidaklah diperintahkan secara sia-sia. Pada hari kiamat amal kebaikan tersebut akan memiliki faedah dan buah sebagai ganjaran bagi setiap orang yang taat kepada Allah dan menjadi pembeda antara orang yang taat dengan orang yang bermaksiat.

Uban merupakan suatu nikmat, sebab uban adalah pemberi peringatan dan pengingat bagi orang yang paham terhadap dekatnya ajal.
Allah SWT berfirman ; “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu “Ya Rabb kami keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih berlainan dengan yang telah kami kerjakan’ dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir , dan (apakah tidak ) datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun “ ( QS Fathir : 37)

Abdul Aziz bin Abu Rawwad berkata kepada seseorang : “Barangsiapa yang tidak bisa mengambil nasehat dari tiga hal, berarti dia tidak akan bisa diperingatkan dengan apapun , yaitu Islam, Al-Quran dan Uban” (Shifatush Shafwah , Ibnu Al- Jauzi : 1/ 470)

Dikutip dari Diatas Titian Jahannam , Rahasia Selamat Diatas Shirat ; 

Karya Dr Muhammad An – Nuaim.
BC05092010

:: BERSABARLAH SESUNGGUHNYA ENGKAU SEDANG DIPILIHNYA


Sesungguhnya setiap kejadian tidaklah ada yang kebetulan ..
Segala yang kecil dan besar yang terjadi tak luput dari kehendak Nya

Ketika Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum / seorang hamba , maka akan diberinya tarbiyah tarbiyah pembelajaran dari Nya ... Allah sucikan dia ... Allah dekatkan pada majelis ilmu ... Allah bukakan kepahaman-kepahaman untuk semakin dekat dan mengenal Nya ...dan Allah ingatkan terus untuk beribadah serta beramal soleh , dengan cara yang Dia kehendaki ...

Maka bersabarlah ..
Karena dengan ujian-ujian itu Allah hendak menabungkan banyak sekali pahala ...

Dan janganlah engkau menjauh dari majelis ilmu

Rasulullah SAW bersabda :
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). 

(HR. Bukhari)

Seorang hamba ketika Allah menghendaki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)

Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)

Bersabarlah sahabat yang dicintai Allah...

Bukankah keimanan membutuhkan ujian, sampai terlihat benar keasliannya

Maka bersabarlah ... Sesungguhnya engkau sedang dalam pilihan Nya ...