Jumat, 18 Juli 2014

:: DAHSYATNYA SEDEKAH, KHUSUSNYA DI BULAN RAMADHAN



Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

Kedatangan bulan Ramadhan setiap tahunnya tak henti menjadi penghibur hati orang mukmin. Bagaimana tidak, beribu keutamaan ditawarkan di bulan ini. Pahala diobral, ampunan Allah bertebaran memenuhi setiap ruang dan waktu. Seorang yang menyadari kurangnya bekal yang dimiliki untuk menghadapi hari penghitungan kelak, tak ada rasa kecuali sumringah menyambut Ramadhan. Insan yang menyadari betapa dosa melumuri dirinya, tidak ada rasa kecuali bahagia akan kedatangan bulan Ramadhan.

Mukmin Sejati Itu Dermawan

Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam sering menganjurkan umatnya untuk banyak bersedekah. Dan bulan Ramadhan, amalan ini menjadi lebih dianjurkan lagi. Dan demikianlah sepatutnya akhlak seorang mukmin, yaitu dermawan. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan bahkan memberi contoh kepada umat Islam untuk menjadi orang yang dermawan serta pemurah. Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, sebagaimana hadits
:إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها“

Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)

Dari hadits ini demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pelit dan bakhil adalah akhlak yang buruk dan bukanlah akhlak seorang mukmin sejati. Begitu juga, sifat suka meminta-minta, bukanlah ciri seorang mukmin. Bahkan sebaliknya seorang mukmin itu banyak memberi.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:


اليد العليا خير من اليد السفلى واليد العليا هي المنفقة واليد السفلى هي السائلة“

Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari no.1429, Muslim no.1033)

Selain itu, sifat dermawan jika di dukung dengan tafaqquh fiddin, mengilmui agama dengan baik, sehingga terkumpul dua sifat yaitu alim dan juud (dermawan), akan dicapai kedudukan hamba Allah yang paling tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

:إنَّما الدنيا لأربعة نفر: عبد رزقه الله مالاً وعلماً فهو يتقي فيه ربه ويصل فيه رحمه، ويعلم لله فيه حقاً فهذا بأفضل المنازل“

Dunia itu untuk 4 jenis hamba:
Yang pertama, hamba yang diberikan rizqi oleh Allah serta kepahaman terhadap ilmu agama. Ia bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan hartanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan hamba yang paling baik.” (HR. Tirmidzi, no.2325, ia berkata: “Hasan shahih”)

Keutamaan Bersedekah


Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar memuliakan orang-orang yang bersedekah. Ia menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi orang-orang yang gemar bersedekah.

Terdapat ratusan dalil yang menceritakan keberuntungan, keutamaan, kemuliaan orang-orang yang bersedekah. Ibnu Hajar Al Haitami mengumpulkan ratusan hadits mengenai keutamaan sedekah dalam sebuah kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa Ja’a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah, meskipun hampir sebagiannya perlu dicek keshahihannya.

Banyak keutamaan ini seakan-akan seluruh kebaikan terkumpul dalam satu amalan ini, yaitu sedekah. Maka, sungguh mengherankan bagi orang-orang yang mengetahui dalil-dalil tersebut dan ia tidak terpanggil hatinya serta tidak tergerak tangannya untuk banyak bersedekah.

Diantara keutamaan bersedekah antara lain:

1. Sedekah dapat menghapus dosa.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار“

Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

Diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar ‘impas’ tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari makar Allah, yang merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman

:أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ“

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99)

2. Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah

:رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه“

Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)

3. Sedekah memberi keberkahan pada harta.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

:ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا“

Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang?

Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal:

Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi ‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan.

Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.”

4. Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.


Allah Ta’ala berfirman

:إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ“

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)5.

5. Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah.

Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”(HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)


 6. Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:والصدقة برهان“

Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim no.223)

An Nawawi menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”

7. Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور“

Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)

8. Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

:يا معشر التجار ! إن الشيطان والإثم يحضران البيع . فشوبوا بيعكم بالصدقة“

Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)

9. Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan yang bagus tentang orang yang dermawan dengan orang yang pelit

:مثل البخيل والمنفق ، كمثل رجلين ، عليهما جبتان من حديد ، من ثديهما إلى تراقيهما ، فأما المنفق : فلا ينفق إلا سبغت ، أو وفرت على جلده ، حتى تخفي بنانه ، وتعفو أثره . وأما البخيل : فلا يريد أن ينفق شيئا إلا لزقت كل حلقة مكانها ، فهو يوسعها ولا تتسع“

Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari no. 1443)

Dan hal ini tentu pernah kita buktikan sendiri bukan? Ada rasa senang, bangga, dada yang lapang setelah kita memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan.Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang mengabarkan tentang manfaat sedekah dan keutamaan orang yang bersedekah. Tidakkah hati kita terpanggil?

10. Pahala sedekah terus berkembang. Pahala sedekah walaupun hanya sedikit itu akan terus berkembang pahalanya hingga menjadi besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

:إنَّ اللهَ يقبلُ الصدقةَ ، ويأخذُها بيمينِه ، فيُرَبِّيها لِأَحَدِكم ، كما يُرَبِّي أحدُكم مُهْرَه ، حتى إنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ“

sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud” (HR. At Tirmidzi 662, ia berkata: “hasan shahih”)

11. Sedekah menjauhkan diri dari api neraka

Sesungguhnya sedekah itu walaupun sedikit, memiliki andil untuk menjauhkan kita dari api neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita darinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaاتَّقوا النَّارَ ولو بشقِّ تمرةٍ ، فمن لم يجِدْ فبكلمةٍ طيِّبةٍ

“jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah” (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016)

12. Boleh iri kepada orang yang dermawanIri atau hasad adalah akhlak yang tercela, namun iri kepada orang yang suka bersedekah, ingin menyaingi kedermawanan dia, ini adalah akhlak yang terpuji.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaلا حسدَ إلا في اثنتين : رجلٌ آتاه اللهُ مالًا؛ فسلَّطَ على هَلَكَتِه في الحقِّ ، ورجلٌ آتاه اللهُ الحكمةَ؛ فهو يَقضي بها ويُعلمُها

“tidak boleh hasad kecuali pada dua orang: seseorang yang diberikan harta oleh Allah, kemudian ia belanjakan di jalan yang haq, dan seseorang yang diberikan oleh Allah ilmu dan ia mengamalkannya dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 73, Muslim 816)

Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan

Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma

:كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة“

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Dari hadits di atas diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dasarnya adalah seorang yang sangat dermawan. Ini juga ditegaskan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu

:كان النبي صلى الله عليه وسلم أشجع الناس وأجود الناس“

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling berani dan paling dermawan.” (HR. Bukhari no.1033, Muslim no. 2307)

Namun bulan Ramadhan merupakan momen yang spesial sehingga beliau lebih dermawan lagi.

Bahkan dalam hadits, kedermawanan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan melebihi angin yang berhembus. Diibaratkan demikian karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat. Dalam hadits juga angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.Oleh karena itu, kita yang mengaku meneladani beliau sudah selayaknya memiliki semangat yang sama. Yaitu semangat untuk bersedekah lebih sering, lebih banyak dan lebih bermanfaat di bulan Ramadhan, melebihi bulan-bulan lainnya.

Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

Salah satu sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk lebih bersemangat dalam bersedekah di bulan Ramadhan adalah karena bersedekah di bulan ini lebih dahsyat dibanding sedekah di bulan lainnya.

Diantara keutamaan sedekah di bulan Ramadhan adalah:

1. Puasa digabungkan dengan sedekah dan shalat malam sama dengan jaminan surga.

Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang agung, bahkan pahala puasa tidak terbatas kelipatannya.

Sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadits qudsi:كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال عز و جل : إلا الصيام فإنه لي و أنا الذي أجزي به

“Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim no.1151)Dan sedekah, telah kita ketahui keutamaannya. Kemudian shalat malam, juga merupakan ibadah yang agung, jika didirikan di bulan Ramadhan dapat menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه“

Orang yang shalat malam karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.37, 2009, Muslim, no. 759)

Ketiga amalan yang agung ini terkumpul di bulan Ramadhan dan jika semuanya dikerjakan balasannya adalah jaminan surga. Sebagaimana sabda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إن في الجنة غرفا يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله لمن ألان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام“

Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur.” (HR. At Tirmidzi no.1984, Ibnu Hibban di Al Majruhin 1/317, dihasankan Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/47, dihasankan Al Albani di Shahih At Targhib, 946)

2. Mendapatkan tambahan pahala puasa dari orang lain.

Kita telah mengetahui betapa besarnya pahala puasa Ramadhan. Bayangkan jika kita bisa menambah pahala puasa kita dengan pahala puasa orang lain, maka pahala yang kita raih lebih berlipat lagi.

Subhanallah!
Dan ini bisa terjadi dengan sedekah, yaitu dengan memberikan hidangan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا

“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)

Padahal hidangan berbuka puasa sudah cukup dengan tiga butir kurma atau bahkan hanya segelas air, sesuatu yang mudah dan murah untuk diberikan kepada orang lain.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء“

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering), jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi, 696)

Betapa Allah Ta’ala sangat pemurah kepada hamba-Nya dengan membuka kesempatan menuai pahala begitu lebarnya di bulan yang penuh berkah ini.

3. Bersedekah di bulan Ramadhan lebih dimudahkan.Salah satu keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan adalah bahwa di bulan mulia ini, setiap orang lebih dimudahkan untuk berbuat amalan kebaikan, termasuk sedekah. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya manusia mudah terpedaya godaan setan yang senantiasa mengajak manusia meninggalkan kebaikan, setan berkata:

فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ“

Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Qs. Al A’raf: 16)

Sehingga manusia enggan dan berat untuk beramal. Namun di bulan Ramadhan ini Allah mudahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan, sebagaimana dikabarkan oleh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة ، وغلقت أبواب النار ، وصفدت الشياطين“

Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no.3277, Muslim no. 1079)

Dan pada realitanya kita melihat sendiri betapa suasana Ramadhan begitu berbedanya dengan bulan lain. Orang-orang bersemangat melakukan amalan kebaikan yang biasanya tidak ia lakukan di bulan-bulan lainnya. Subhanallah.Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar. Karena yang mendasari keyakinan ini adalah hadits yang lemah, yaitu hadits:

Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu’). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan buka kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun.” Kemudian para Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai buka orang yang berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan buka dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau susu.

Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah (no. 1887) dan Al Ash-habani dalam At Targhib (178).

Ringkasnya, walaupun tidak terdapat kelipatan pahala 70 kali lipat pahala ibadah wajib di luar bulan Ramadhan, pada asalnya setiap amal kebaikan, baik di luar maupun di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah 10 sampai 700 kali lipat. Berdasarkan hadits

:إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة“

Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan: “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.” (HR. Muslim no.1955)

Oleh karena itu, orang yang bersedekah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya 10 sampai 700 kali lipat karena sedekah adalah amal kebaikan, kemudian berdasarkan Al A’raf ayat 16 khusus amalan sedekah dilipatkan-gandakan lagi sesuai kehendak Allah. Kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan sedekah. Lalu jika ia mengiringi amalan sedekahnya dengan puasa dengan shalat malam, maka diberi baginya jaminan surga. Kemudian jika ia tidak terlupa untuk bersedekah memberi hidangan berbuka puasa bagi bagi orang yang berpuasa, maka pahala yang sudah dilipatgandakan tadi ditambah lagi dengan pahala orang yang diberi sedekah. Jika orang yang diberi hidangan berbuka puasa lebih dari satu maka pahala yang didapat lebih berlipat lagi.



Semoga Allah memberikan hidayah dan taufik bagi kita semua. Amin.




Sabtu, 03 Mei 2014

:: AL MUQSITH , YANG MAHA PEMBERI KEADILAN



Dia adalah Dzat yang mengambil hak orang yang teraniaya dari orang yang menganiaya. Dan kesempurnaan Nya adalah dengan menjadikan orang yang teraniaya merelakan perbuatan orang yang menganiaya Nya. Ini merupakan puncak dari sifat adil tanpa pandang bulu , dan tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah SWT.

 ********

Dari Umar bin Khattab ra, ketika Nabi SAW duduk, tiba-tiba beliau tertawa hingga tampak giginya yang putih berseri. Umar ra bertanya : Wahai rasulullah apa yang menyebabkan tuan tertawa ?

Rasul SAW menjawab : 2 dari umatku berlutut di hadapan Allah SWT , lalu salah seorang berkata : Ya Rabb , ambillah hakku dari orang yang menganiayaku ini.

Lalu Allah SWT berkata kepada orang yang menganiayanya itu : Kembalikan kepada saudaramu semua yang kau ambil darinya dengan aniaya !

Orang itu menjawab : Ya Rabb , tidak ada lagi kebaikan yang tersisa padaku .

Lalu orang yang teraniaya itu berkata : Ya Rabb , timpakan dosa-dosaku kepadanya ! 

Kemudian Rasulullah SAW menangis seraya berkata : " Itulah hari maha dahsyat , sehingga orang perlu minta supaya dosanya ditanggungkan kepada orang lain."

Beliau melanjutkan : "'Kemudian Allah berkata : angkatlah pandanganmu dan lihatlah ke dalam surga. "

Lantas orang itu berkata : Ya Rabb , aku melihat kota kota terbuat dari perak dan istana istana terbuat dari emas dihiasi permata, untuk siapakah ia gerangan ? Untuk nabi yang mana , atau untuk shiddiq yang mana , atau untuk syahid yang mana ?

Allah SWT menjawab : Ia Aku berikan kepada orang yang memberikan harganya !

Orang itu bertanya : Ya Rabb , siapakah yang mampu membayar harganya ?

Allah menjawab : Engkau bisa memberikan harganya.

Tanya : Dengan apa ?

Jawab : Dengan pemberian maafmu kepada saudaramu !

Orang itu berkata : Ya Rabb , aku telah memaafkannya

Lalu Allah SWT berkata : Peganglah tangan saudaramu itu dan bawalah masuk bersamamu ke dalam surga.

Kemudian Nabi SAW bersabda : Takutlah kamu sekalian kepada Allah, dan
berdamailah diantara sesama kamu, karena sesungguhnya Allah kelak pada hari kiamat juga akan memperdamaikan antara sesama kaum mukminin.

SUBHANALLAH , ALLAHU AKBAR ,,



Sumber
Rahasia 99 nama Allah yang Indah
Al Ustadz Mahmud Samiy



Sabtu, 12 April 2014

:: ANTARA TAWADU’ DENGAN TAKABBUR ..



Man atsbata linafsihi tawadhu’an fahuwal mutakabbiru haqqan idzlaisat-tawaadhu’u illaa’an rif’atin famtaa atsbata linafsika tawadhu’an fantal mutakbbiru

Artinya : Barangsiapa yang merasa dirinya tawadhu’ (merendahkan diri), maka dengan demikian itu sebenarnya dia adalah orang yang sombong sebab tidaklah ada tawadu’ itu melainkan dirinya sendiri merasa tinggi. Maka apabila ada rasa tawadhu’ di dalam jiwa-Mu, maka berarti kamu adalah orang yang benar-benar takabbur (sombong)”.

Di antara para ulama terdapat perbedaan-perbedaan dalam mendefinisikan kata tawadhu’. Akan tetapi walaupun berbeda-beda namun pada hakekatnya adalah sama saja, yakni yang berarti merendahkan diri.

Beberapa definisi di antaranya adalah :
----------------------------------------------

1. Sikap tidak menganggap perbuatannya lebih tinggi dari yang lain.

2. Bersikap tenang, sederhana, sungguh-sungguh dan menjauhi perbautan takabbur (sombong), ganas, ataupun membangkang. Dan tawadhu ini merupakan salah satu (sifat) yang harus dimiliki oleh setiap orang yang beriman.

◕3. Menurut Fadloil bin Iyyadh, Tawadhu’ adalah tunduk dan taat melaksanakan yang hak (benar) serta mau menerima kebenaran dari siapapun.

4. Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah, hakekat tawadhu’ adalah mengambil kekuasaan yang hak (benar) dengan bersungguh-sungguh mencapainya, taat dalam menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar menjadi hamba Allah (bukan hamba orang banyak)

5. Bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh siapapun dan tanpa menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain.

Adapun kebalikan dari sikap tawadhu’ adalah takabbur. Di dalam Hadits riwayat Muslim disebutkan, bahwa takabbur (sombong) itu adalah menolak hak (kebenaran), dan merendahkan orang lain.
Sedangkan balasan bagi orang-orang yang takabbur (sombong) adalah baginya tidak disediakan tempat sedikitpun di syurga.

Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Qoshosh ayat 83, yang artinya :

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Akan tetapi antara tawadhu’ dan takabbur ini mempunyai perbedaan yang samara. Sehingga tanpa disadari terkadang orang yang tawadhu’ (mutawadli) pun bisa terjebak kedalam sifat takabbur. Hal ini bisa terjadi bilaman mutawadli’ itu merasa bahwa dirinya adalah orang yang tawadhu’. Sebab tidak ada orang yang merasa bahwa dirinya tawadhu’ melainkan perasaan itu timbul dari rasa sombong (takabbur).

Kembali kepada firman Allah dalam Surat Al-Qoshosh ayat 83, di atas tadi, disana bisa terlihat adanya hubunmgan yang seimbang (relevansi) antara kesombongan dengan perbuatan kerusakan di muka bumi. Dan memang hal ini sudah sering terbukti, di mana orang-orang yang sombong yang merasa dirinya paling kuat, paling pandai, paling ditakuti, dan sebagainya, berbuat kesewenang-wenangan menurut kemauannya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain, merasa perbuatannya selalu benar, atau berbuat kerusakan di sana sini sekehendak hatinya sendiri karena merasa tidak akan ada orang lain yang berani menegur atau melarangnya.

Adapun sebab-sebab yang mengakibatkan seorang terjebak ke dalam sifat takabbur dan berbuat kerusakan di muka bumi di antaranya adalah :

1. Tidak adanya iman di dalam jiwanya.

2. Merasa mempunyai kelebihan dibandingkan orang lain, seperti karena kekayaannya, kedudukannya, kepandaiannya dan sebagainya.

3. Keinginan untuk di puji, di sanjung, dihormati, disayangi, menjadi pusat perhatian dan sebagainya.


Adapun obat untuk menyembuhkan penyakit takabbur yang bersarang di dalam (hati) itu antara lain :

1. Selalu merasa bahwa dirinya adalah sebagai hamba Allah yang mempunyai banyak kelemahan dan kekurangan.

2. Membuka lebar-lebar pintu hati untuk dimasuki nasehat-nasehat yang baik dari siapapun juga tanpa memandang kepada yang memberi nasehat, tetapi memandang apa yang dinasehatkan kepadanya.

3. Banyak bercermin atau mengoreksi kesalahan dan kekurangan diri sendiri dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya.

Setiap orang seharusnya mengambil pelajaran dari tanaman padi, yaitu makin berisi makin merunduk. Jadi apabila ada orang yang makin berisi kemudian makin tinggi mengangkat kepalanya agar setiap orang melihat atau memandangnya, maka demikian ini tidaklah dapat disebut tawadhu’ . hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy-Syadzili r.a. berikut ini :

“barang siapa merasa dirinya berharga (terhormat) maka baginya itu tidak dikatakan tawadhu’.

Juga Imam Yazid r.a. pernah mengatakan :

“Selama hamba itu menyangka bahwasanya dikalangan makhluq masih ada orang yang lebih jahat (jelek) dirinya, maka dia itulah orang yang sombong”.

Beberapa tanda atau cirri-ciri orang yang tawadhu’ yaitu “

1. Tidak marah atau sakit hati bila dicemooh orang lain.
2. Tidak merasa benci jika dikatakan sombong.
3. Tidak serakah pada pangkat atau kedudukan.
4. Tidak menganggap dirinya sebagai orang yang dihormati dan disegani.

Baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits terdapat banyak sekali anjuran-anjuran yang memerintahkan pada kaum muslim untuk senantiasa berlaku tawadhu’. Di antaranya adalah :

1. Dalam surat Al-Furqon ayat 63, yang artinya :

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang ialah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang yang jahil mengajak bertengkar dengan mereka, mereka balas dengan ucapan yang bijaksana”.

2. Dalam surat An-Nahl ayat 23, yang artinya :

“Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang sombong (takabbur).

3. Dalam sebuah Hadits Riwayat Abu Nai’m yang bersumber dari Abu Hurairoh, yang artinya :

“Barang siapa yang bertawadhu’ karena Allah niscaya Allah akan mengangkat derajatnya”.

Selain itu ada pula sebuah Hadits yang artinya :

“Apakah kalian ingin memberitahukan (mengenai) orang-orang yang diharamkan api neraka, atau api neraka yang diharamkan baginya?.

(Yaitu) api neraka itu haram bagi orang-orang yang dekat (kepada Tuhannya), merendahkan diri (kepada-Nya), lemah lembut dan taat”

Dalam hal tawadhu’ ini Ibnu Athilah pernah mengatakan:
“Hakekat orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) itu adalah apa yang dia lakukan itu diri penglihatannya akan kebesaran Allah dan kejelekan sifat-sifat-Nya”.

Lebih lanjut Ibnu At-Atho’illah mengatakan :
“Tidak bisa mengeluarkan kamu dari sifat sombong, kecuali (dengan) melihat sifat-sifat Allah”.

Memang benar apa yang dikatakan Ibnu Atho’illah di atas. Sebab dengan hanya melihat kebesaran, keagungan dan kesempurnaan Allah-lah (yakni dengan cara melihat dan memikirkan segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekitar kita), maka kita akan merasa, bahwa kita ini kecil, lemah hina, tidak mempunyai apa-apa dan juga tidak mampu berbuat apa-apa tanpa pertolongan dari-Nya.dan sebagai akhir dari pembahasan bab ini, marilah kita bersama-sama berusaha mentauladani akhlaq rasulullah yang berikut ini :

Beliau tidak segan-segan memberi salam kepada anak-anak, bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan mereka, sehingga kebanyakan di antara mereka menjadi manja kepada beliau

Di dalam rumah tangganya, beliau tidak segan-segan untuk menyapu, mencuci, memberi makan ternak, memeras susu kambing, berbelanja sendiri ke pasar, makan bersama-sama dengan pelayan dan sebagainya.

Dalam bepergian beliau tidak merasa malu untuk memberi salam terlebih dahulu walaupun kepada orang miskin atau kepada orang lebih mudah dari beliau.

Sebagai seorang Penglima Perang beliau juga turut membuat bparit untuk perlindungan (ketika terjadi perang khondaq), ikut mencari kayu baker, memasak makanan dan sebagainya.

Sebagai seorang penguasa beliau tidak mau dibeda-bedakan. Terhadap hal ini hal ini beliau pernah bersabda, yang artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak mau melihat hamba-Nya di beda-bedakan, diantara sesame kawannya”.

Ketika kedatangan tamu, beliau sendirilah yang menerima, melayani dan menyuguhkan hidangan untuk tamunya

Dalam sebuah pertemuan, beliau tidak mau duduk di tempat yang diistimewakan, tetapi bercampur dengan kebanyakan orang. Dalam hal ini beliau bersabda, yang artinya :

“Wahai kalian semua, Allah telah (terlebih dulu) mengambil aku sebagai hamba-Nya sebelum Dia mengambil Nabi dan Rasul-Nya”.

Apabila melakukan perjalanan bersama-sama sahabatnya. Beliau tidak mau berjalan paling depan, juga tidak mau diiringkan. Ketika ada sahabatnya yang memintanya untuk berjalan paling duluan, beliau mengatakan :

“Biarlah dibelakangku ada malaikat yang mengikuti”.

Apabila mendapat undangan, beliau selalu menyempatkan diri untuk hadir, walaupun yang mengundangnya itu dari kalangan orang miskin atau orang yang tidak berkedudukan.

Beliau tidak segan-segan untuk bergaul dengan siapa saja dan duduk-duduk bersama mereka tanpa memandang status dan kedudukannya.

Pakaian yang dikenakannya tidak pernah lebih bagus dari yang dipakai sahabt-sahabatnya.

Jika bersenda gurau, beliau selalu menggunakan kata-kata yang baik dan tidak pernah tertawa dengan terbahak-bahak, melainkan dengan tersenyum saja.

Apabila ada pengaduan dari umatnya, maka beliau akan memperhatikannya dengan teliti dan akan berusaha menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.

Demikian akhlaq terpuji yang telah dicontohkan Rasulullah. Mudah-mudahan kita semua dapat mentauladaninya.

:: CARA-CARA BERSYUKUR KEPADA ALLAH



Man lam yaqbal ‘alallaahi bimulaathafaatil ihsaani quyyida ilaihi bisalaasiilal imtihaani man lam yasykurinni’ama faqad ta’arradha lizawaalihaa waman syakarahaa faqad qayyadahaa bi’iqaaliha.

Artinya : “Barangsiapa yang tidak menghadap kepada Allah ketika diberi kehalusan-kehalusan karunianya, niscaya dia akan dibelenggu dengan berbagai (rantai ujian). Barang siapa yang tak mensyukuri segala nikmat, maka benar-benar dia telah menyodorkan untuk hilangnya nikmat. Dan barangsiapa yang mensyukuri nikmat, benar-benar dia telah mengikatnya dengan tali”.

Sebagai orang mukmin yang telah begitu banyak menerima kenikmatan, kita seharusnya banyak bersyukur pada Yang Memberi Kenikmata (Allah). Bahkan begitu banyaknya, hingga kita tak akan pernah mampu untuk menghitungnya.
Kenikmatan, yang oleh Imam Ghozali dikatakan sebagai kebahagiaan, keutamaan dan segala macam keinginan yang dapat terpenuhi dan kita rasakan, pada hakekatnya terbagi menjadi dua macam yaitu :

1. Kenikmatan yang bersifat fitri atau azazi, yakni kenikmatan yang diberikan Allah sejak manusia dilahirkan. Misalnya telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, hati (akal) untuk berfikir, serta alat-alat tubuh lain yang diper;ukan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 78, yang artinya : “dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

2. Kenikmatan yang dirasakan pada waktu yang akan datang (tidak langsung diberikan ketika lahir). Yang termasuk ke dalam kenikmatan ini adalah seperti diciptakannya macam tanaman, berbagai macam hewan, bumi dan semua yang terkandung di dalamnya untuk manusia.

Demikianlah besar dan terlalu seringgnya kita menerima dan merasakan nikmat dari Allah. Hingga seringkali kita lupa, bahwa apa yang kita terima dan rasakan itu merupakan nikmat. Seperti halnya pada orang yang sehat, karena berhari-hari, berbulan-bulan bertahun-tahun dalam keadaan sehat, maka ia sama sekali tidak merasakan bahwa kesehatannya itu merupakan nikmat. Baru ketika terserang penyakit, ia akan merasakan betapa besar nikmat berupa kesehatan itu.

Kalau Nabi Muhammad sendiri sebagai orang ma’sum atau terpelihara dari dosa saja merasa tidak termasuk kedalam golongan orang-8orang yang bersyukur, apakah lalu kita yang berlumuran dosa ini tidak merasa malu untuk menerima pemberian-Nya tanpa mau bersyukur kepada-Nya? Sebagai seorang mukmin kita tentu tidak ingin mengabaikan perintah Allah, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an Surat An_Nhl ayat 144,

yang artinya :

“Bersyukurlah terhadap nikmat Allah, jika kamu sungguh-sungguh menyembah kepada-Nya”,

Adapun tentang cara-cara bersyukur itu ada tiga macam, yaitu :

1. Bersyukur dengan hati. Maksudnya, ia merasa yaqin bahwa segala macam kenikmatan itu datangnya dari Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat An_Nahl ayat 53, yang artinya : “dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan”.

2. Bersyukur dengan lisan. Maksudnya dengan memperbanyak bacaan Hamdalah (Al-Hamdulillah). Hal ini tersebut dalam Al-Qur’an Surat Adh-Dhuhaa ayat 11, yang artinya : “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebutnya (dengan bersyukur)”.

3. Bersyukur dengan semua anggota badan. Jadi dengan demikian, bersyukur itu tidak hanya cukup dengan lisan atau ucapan saja. Tetapi lebih dari pada itu harus diwujudkan dengan perbuatan perbuatan yang diridhai serta disukai Nya



Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan hamba hambaNya yang bersyukur dalam keridhaan Nya. Aamiin. 

Sabtu, 05 April 2014

:: MENGAPA KITA HARUS BERHIAS DENGAN AKHLAK YANG MULIA



1. Akhlak mulia dicintai Allah.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah itu Mulia, Dia menyukai kemuliaan dan ketinggian akhlak, serta membenci akhlak yang hina."
(HR. al-Hakim, sanad shohih)

2. Seorang mukmin yang bersifat dengan akhlak baik adalah mukmin yang paling sempurna imannya.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya."
(HR. Tirmidzi, sanad hasan)

3. Akhlak yang baik adalah jalan untuk masuk surga.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Saya yang menjamin dengan 1/satu rumah di surga yang paling tinggi bagi yang baik akhlaknya."
(HR. Abu Dawud, sanad hasan)

4. Akhlak yang baik merupakan sebab kedekatan dengan Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda pada hari kiamat dan membawa kepada cinta Beliau shallallahu alayhi wasallam.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Orang yang paling aku cintai diantara kalian dan yang paling dekat tempatnya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya."
(HR. Tirmidzi, sanad hasan)

5. Akhlak yang baik memiliki timbangan yang paling berat bagi hamba.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Tidak ada sesuatu yang paling berat di timbangan daripada akhlak yang baik."
(HR. Abu Dawud, sanad shohih)

6. Derajat seorang mukmin yang berakhlak yang baik akan sampai ke derajat orang yang berdiri sholat di malam hari dan berpuasa di siang hari.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya dengan akhlaknya yang baik, seseorang dapat mencapai derajat-derajat orang yang berdiri sholat di malam hari dan berpuasa di siang hari."
(HR. Abu Dawud, sanad shohih)

7. Akhlak yang baik menambah umur dan memakmurkan negeri.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda,
"Akhlak yang baik dan bertetangga yang baik memakmurkan kampung dan menambah umur."
(HR. Ahmad, sanad shohih)
(Mukhtasar Syarah Durusul Muhimmah li Amatik Ummah)

Ya Allah, karuniakanlah kami hati yang bersih serta akhlak yang mulia .
Aamin Ya Robbal alamin ..



Kitab Durusul Muhimmah karya Syaikh bin Baz rahimahullah






:: ORANG ORANG YANG DIWAFATKAN DALAM KEADAAN SHALIH



Apabila seseorang menghadapi ajalnya dalam keadaan kembali kepada modal dasar kesuciannya (fithrah) atau bahkan lebih dari itu (beruntung), maka sesungguhnya walaupun jasadnya dikubur di dalam tanah, namun jiwa (nafs) nya tidaklah mati, ia hidup di sisi Allah dan dapat berjalan-jalan di tengah-tengah manusia, namun kebanyakan manusia tidak menyadarinya.

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al Baqarah [2]:154).

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (QS. Al An’aam [6]:122).

Dan di akhirat nanti ia akan mendapatkan balasan Surga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. Ash Shaff [61]:11-12).

** Berjihad yang dimaksudkan disini adalah dengan taubat sebenar benar taubat , meninggalkan dosa dosa , memperbanyak amal shalih , berjuang menegakkan agama Allah (dakwah) dll

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai ... (QS. At Tahrim [66]:8).

:: UTAMANYA AMALAN HATI



Aisyah رضي الله عنه pernah berkata,

“Sungguh kalian melupakan ibadah yang paling utama, yaitu amalan hati .”

Ibnul Qayyim menyatakan, bahwa amaliyah tidak diukur dari tinggi rendahnya kualitas oleh bentuk dan jumlahnya, tetapi hanya diukur dengan apa yang ada didalam hati.

Bisa jadi bentuk amalannya sama tetapi kulitas dihadapan Allah bagaikan jarak langit dan bumi.

Kualitas batin suatu amaliyah sangat menentukan nilai amalan itu sendiri, walaupun ini bukan berarti tata cara (kaifiyah) beramal dan beribadah diabaikan...
Dan ibadah dan perbuatan baik, tidak hanya sebatas gerak fisik, namun substansinya terletak pada kualitas hati.

Dari an-Nu’man bin Basyir beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”.

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan memperbaiki amalan hati, karena kebaikan dan keburukan seluruh anggota badan mengikuti kebaikan dan keburukan hati manusia

Dalam hadits lain yang semakna, Rasulullah bersabda: “Takwa itu (terletak) di sini”, dan beliau menunjuk ke dada (hati) beliau tiga kali

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

- Yang dimaksud dengan amalan hati adalah cinta, takut, berharap, berserah diri, yakin, ridha dan lain-lain, yang semua ini tidak pantas diserahkan kecuali kepada Allah semata-mata.

- Mengusahakan perbaikan amalan hati lebih wajib bagi seorang hamba daripada amalan anggota badan, karena amalan hati inilah yang membedakan orang-orang yang benar dalam keimanannya dari orang-orang yang dusta (munafik)

- Imam an-Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat (anjuran) yang kuat untuk (selalu) mengusahakan perbaikan (amalan) hati dan menjaganya dari kerusakan (keburukan)

- Imam Ibnul Qayyim berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba hanyalah mampu melalui tahapan-tahapan perjalanan menuju (ridha) Allah dengan hati dan keinginannya yang kuat, bukan (cuma sekedar) dengan (perbuatan) anggota badannya. Dan takwa yang hakiki adalah takwa (dalam) hati dan bukan takwa (pada) anggota badan (saja).

Allah berfirman: “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar (perintah dan larangan) Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan (dalam) hati” (QS al-Hajj:32)

(Dalam ayat lain) Allah berfirman
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS al-Hajj:32)”

Lihatlah misalnya orang-orang munafik di jaman Rasulullah, mereka menampakkan Islam secara lahir, dengan tujuan untuk melindungi diri mereka dari kaum muslimin, padahal dalam hati mereka tersimpan kekafiran dan kebencian yang besar terhadap agama Islam.

Ketika menjelaskan makna hadits kedua di atas, imam an-Nawawi berkata:

 “Artinya: sesungguhnya amalan perbuatan yang tampak (pada anggota badan) tidaklah (mesti) menunjukkan adanya takwa (yang hakiki pada diri seseorang), akan tetapi takwa (yang sebenarnya) terwujud pada apa yang terdapat dalam hati (manusia), berupa pengagungan, ketakutan dan (selalu) merasakan pengawasan Allah”

- Hati manusia adalah ibarat raja, sedangkan seluruh anggota badan ibarat bala tentaranya, mereka semua taat kepada sang raja dan tidak berani menyelisihi perintahnya. Maka kalau sang raja baik berarti semua bala tentaranya akan baik dan kalau dia buruk berarti semua bala tentaranya akan buruk

 Allah tidak akan menerima seorang yang menghadap-Nya kecuali dengan membawa hati yang selamat (bersih), sebagaimana dalam firman-Nya: Yaitu) di hari harta dan anak-anak  tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS asy-Syu’araa’: 89).


Hati yang bersih adalah hati yang hanya dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah dan segala sesuatu yang dicintai-Nya, serta rasa takut kepada-Nya dan takut terjerumus kepada segala sesuatu yang dibenci-Nya



Wallahu a'lam bishawab
Abdullah bin Taslim al-Buthoni